
“Adit?”
Tak ada cahaya lampu di dalam kamar Adit, tetapi televisi yang menyala, memantulkan cahayanya di dinding.
“Laura,” ujar Adit, terkejut.
“Apa kau ada di sini? Atau kau sudah tidur?”
Adit segera menarik selimut putih menutupi dadanya yang telanjang. Ia berbaring telentang di tempat tidurnya yang kecil, ketika Laura masuk ke kamarnya.
Adit berbaring sambil menopang tubuhnya dengan siku. “Tidak, aku tidak tidur, tetapi apa yang kau lakukan di sini? Kalau kakakmu tahu kau ada di sini dia akan...”
“Tidak mungkin. Aku baru saja melihatnya pergi dengan mobil barunya. Ia dan Gemintang… Oh, Adit. Aku jadi tak mengerti semua ini!” Laura menjatuhkan dirinya ke pelukan Adit. Secara otomatis tangan Adit menyambut tubuh Laura.
Laura menangis dan membenamkan wajahnya di dada Adit.
“Ada apa? Apa yang terjadi, Laura?” tanya Adit cemas
“Kak Raden. Aku tak mengerti sama sekali. Dia berkelahi denganmu gara-gara kau menciumku, dia membuatku merasa seakan kita melakukan perbuatan yang sangat memalukan. Tetapi, kalau yang kau lakukan salah, mengapa ia dan Gemintang melakukan hal yang sama? Kalau hal itu tidak boleh kita lakukan, mengapa mereka lakukan? Mereka kan juga tidak menikah.”
“Kau melihat mereka? Berciuman?” Adit mencoba menebaknya.
“Ya. Di sana, di dekat ayunan tua. Mereka tidak melihat aku ketika aku melihat mereka.”
Adit menyibakkan rambut dengan jari-jarinya, ia menjawab pertanyaan Laura dengan hati-hati, “Kurasa, kau melihat sesuatu yang seharusnya.tidak boleh kau lihat.”
Laura mengangkat kepala. “Memang, seharusnya aku tidak diam di situ dan melihat mereka, bukan? Heny bilang kita tidak boleh menguping percakapan orang.
“Ya, itu tidak sopan," Adit membenarkan.
“Aku tahu aku salah. Tetapi aku mendengar suara mereka, lalu kuikuti suara itu. Ketika aku sampai di sana, kulihat Raden mencium Gemintang. Mereka bersandar di pohon sambil berpelukan.”
__ADS_1
Ketika jari-jari Laura memainkan rambut yang tumbuh lebat di dadanya, baru Adit menyadari ia hanya mengenakan ****** ***** di balik selimut. Laura duduk di pinggir ranjang, pinggul gadis itu menyentuh pinggangnya.
Laura menceritakan bagaimana Gemintang mengakhiri ciuman mereka. “Gemintang bilang mereka seharusnya tidak berciuman karena orang-orang akan menganggap mereka tidak bermoral. Kak Raden hanya berdiri tak bergerak, ia terlihat seperti ingin terus menciumi Gemintang.”
Suara Laura bergetar. “Gemintang bilang, begitu pembacaan surat wasiat selesai, ia akan meninggalkan rumah.” ucap Laura sembari bersandar di dada Adit. “Aku tak ingin Gemintang pergi meninggalkan rumah ini. Aku sayang Gemintang. Aku sayang Kak Raden. Aku ingin kami tinggal bersama-sama seperti sekarang selamanya.”
Dengan satu tangannya Adit memegang pinggang Laura, untuk menenangkannya. Tangan yang satu lagi mengelus punggung gadis itu. Adit berhasil menyambungkan potongan-potongan cerita menjadi satu cerita utuh.
Ia ingat, ia pernah tak sengaja mendengar Gemintang tengah berbicara dengan Raden tentang perbuatan Guntur yang memisahkan mereka. Mungkin saja dulu mereka saling mencintai. Tetapi kemudian Raden pergi dari rumah, dan Gemintang menikah dengan Guntur. Kini mereka berdua masih saling mencintai, keduanya terperangkap dalam situasi yang sulit untuk dipisahkan. “Ya, semuanya terlihat kacau,” gumam Adit di balik rambut Laura.
Laura mengangkat kepala dan memandang Adit. “Kau tahu apa yang kuharapkan?”
Jari telunjuk Adit menelusuri wajah gadis itu, mengagumi kecantikannya yang tak tercemar perasaan dengki. Adit tidak pernah menemukan orang sebaik Laura. Dulu Adit menganggap pikiran semua manusia penuh kebusukan, termasuk pikirannya sendiri, tapi melihat Laura, ia percaya orang baik itu ada. “Apa yang kau harapkan dari mereka berdua?” tanya Adit lembut.
“Aku berharap mereka berdua saling mencintai seperti kita.”
Adit tertawa sembari menarik tubuh Laura dengan lembut ke dekatnya, diciumnya bibir perempuan itu dengan lembut.
“Adit?” bisik Laura.
“Kau tidak memakai kaki palsumu?”
Seketika Adit menghentikan ciumannya dan mengikuti arah pandangan Laura sampai ke ujung ranjang, ke tempat ia meletakkan kaki palsunya. “Ya,” jawab Adit tegas. “Aku tidak memakainya.”
“Coba kulihat kakimu. Ayolah.” Laura menjulurkan tangan hendak menarik seprai yang menutupi tubuh Adit.
Adit langsung menyambar kaki palsunya dan memeganginya. “Jangan.”
Suara Adit terdengar dingin, keras, tidak seperti biasanya kalau ia bicara dengan Laura. Sejenak sikap Adit membuat gadis itu takut, tetapi hanya sesaat. Berikutnya Laura meletakkan tangannya di atas tangan Adit dan jarinya mencoba menarik seprai yang menutupi badan Adit. “Ayolah, Adit. Aku ingin melihatnya.”
Dengan marah Adit menepiskan tangan Laura, ia berpikir sejenak apa lebih baik membiarkan Laura melihat kakinya. Ya kebih baik membiarkan Laura jijik melihatnya sekarang sebelum ia jatuh cinta lebih dalam padanya. Lebih baik Laura lari meninggalkannya sambil berteriak ketakutan dan jijik melihatnya sekarang dari pada nanti. Ia sudah lama menyembunyikan cacatnya, akan lebih baik bila Laura tahu lebih cepat, akan lebih baik untuk mereka berdua.
__ADS_1
Dengan hati pedih, Adit membiarkan Laura menyingkapkan selimut dari tubuhnya. Matanya menatap langit-langit, berusaha memusatkan pandangan pada pola yang dibentuk cahaya yang dipancarkan televisi. Ia tidak ingin melihat wajah Laura yang ketakutan. Ia berharap dapat menutup telinganya agar tidak mendengar respons yang di ucapkan Laura.
Adit tidak menyalahkan Laura, bila Laura tak menerima kondisinya. Dunia Laura adalah dunia penuh kelembutan dan keindahan, seperti kepompong yang lembut dan anggun. Sementara dunianya, dunia hutan belantara dengan hukum rimba, dunia asing bagi Laura.
“Oh, Adit.”
Reaksi Laura ternyata tidak seperti yang dibayangkan Adit. Suara Laura membuat napasnya seperti berhenti sesaat, suara Laura penuh kelembutan. Adit menundukkan kepala, memandang tubuhnya tepat ketika tangan Laura terjulur hendak menyentuh pahanya yang buntung.
Adit merasakan sentuhan malu-malu dan lembut, saat tangan Laura menelusuri kulitnya yang kasar dan berbulu, Adit tetap tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Sikap Laura yang manis, membuatnya seperti mau meledak.
“Adit, kau sangat menawan,” ucap Laura.
Adit menatap mata Laura yang berkaca-kaca, ia mencari-cari, kesan jijik di mata gadis itu tapi tak ada, tak ada pula rasa iba, yang ada hanya cinta dan sayang.
Adit menarik tubuh Laura ke dadanya, tangannya memegang kedua pipi gadis tersebut, merema* rambut Laura ketika Laura menyentuhkan bibirnya ke bibir Adit.
“Oh, Laura.” Adit mendekap kepala gadis itu di bahunya untuk menghentikan ciuman Laura yang penuh gairah,
“Aku merasa ada yang aneh dalam tubuhku,” ucap Laura sembari mengelus dada dan perut Adit.
“Aku juga Laura.”
“Jantungku berdetak cepat.” Laura meraih tangan Adit, lalu ditekankannya ke dada kirinya.
Tangan Adit menyentuh payud*ra Laura yang lembut. Ia mengertakkan gigi. “Begitu pun jantungku.”
“Apakah begini rasanya kalau orang bercinta?” bisik Laura, bertanya.
Adit tidak mampu menjawab dengan kata-kata, tetapi dengan anggukan.
“Kita tidak bisa bercinta karena kita belum menikah, bukan?”
__ADS_1
Adit mendekap Laura erat‐erat. “Ya, Sayang, tidak boleh. Kita tidak boleh melakukannya."
Laura yang kini duduk, meletakkan tangannya di pipi Adit. “Kalau begitu, Adit,” ucapnya, ia berpikir sederhana, “Bagaimana jika kita menikah?”