Dalam Derasnya Hujan

Dalam Derasnya Hujan
BAB 40


__ADS_3

“Gemintang," ucap Raden dengan suara yang hampir tak terdengar saking takjubnya. “Kau masih per*wan?"


“Ya, Raden!” pekik Gemintang gembira. Ia memegangi leher Raden, mencegah pria itu mengangkat tubuhnya. “Aku selalu milikmu, Raden. Hanya kau. Aku milikmu.”


Raden terdiam sejenak, kemudian ia menggeram senang, dan kembali memeluk Gemintang serta menindihnya di tempat tidur. Gerakan tubuhnya kali ini lebih lembut namun mantap. Pemanasan panjang tadi membuat Gemintang siap menerimanya, ia hanya merasakan kesakitan sesaat. Namun jeritannya dibungkam oleh bibir Raden. Keduanya mendesah serentak ketika akhirnya tubuhnya dan tubuh Raden menyatu sempurna.


Tubuh Gemintang mendekap Raden lama, keduanya tak bergerak. Mereka menikmati perasaan menyatu, keintiman yang melebur karena cinta, dan hasrat yang sudah lama terpendam.


“Aku tak percaya. Betapa nikmatnya. Oh, Gemintang, jangan sampai ini hanya sekedar mimpi.”


“Ini bukan mimpi, Raden,” bisik Gemintang. “Aku bisa merasakan tubuhmu menyatu dengan tubuhku.”


Sambil mengangkat kepala, Raden tersenyum. Dikecupnya bibir Gemintang. “Betulkah?” bisik Raden, ia memastikan Gemintang bisa merasakannya


Gemintang menengadah sambil menggeram pelan. “Ya, Raden.”


Raden mulai bergerak, gerakannya tak terlalu dalam dan pelan, tetapi kenikmatannya sama sekali tidak berkurang, ia menarik Gemintang ke dunia yang menghanyutkan. “Apakah aku menyakitimu?”


“Tidak, Sayang, tidak.”


“Gemintang… Gemintang…” Raden tak lagi mampu menahan gairahnya yang terus meninggi. Ketika mencapai puncaknya, Raden merasakan kenikmatan paling dahsyat yang pernah dirasakannya selama hidupnya. Dan ketika akhirnya kenikmatan itu berlalu, Raden terkulai di pelukan cinta Gemintang dalam keadaan lelah, puas, dan bahagia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Lama sekali kak Raden dan tante Gemintang turun,” keluh Laura, ia khawatir sarapan yang disiapkannya bersama Heny menjadi dingin dan tak bisa dinikmati Adit lagi.


“Kalian sarapan saja dulu,” saran Heny.


“Aku tak keberatan menunggu mereka,” jawab Adit.


“Jangan, kau sudah kelaparan. Aku tahu kau sudah lapar.” Laura menuangkan sesendok telur orak‐arik ke piring Adit. “Berapa lembar daging asap, apa kau mau?”


“Dua,” jawab Adit.


“Tiga saja,” ujar Laura.


Heny meletakkan teko kopi di meja. “Aku akan naik, menyuruh mereka segera turun. Aku yakin mereka tertidur, tapi mereka perlu makan setelah begadang semalaman.” Heny naik sambil mengoceh, namun Adit dan Laura tidak memedulikannya. Mereka berdua asyik sendiri.


Dari anak tangga paling atas, Heny melirik pintu kamar Raden yang terbuka, ia melongokkan kepala ke dalam, ia tidak melihat ada Raden di sana. Begitu pun di kamar mandi, ia tak menemukan Raden.


“Hmmm!” Heny mendengus. “Di mana kau berada?" Heny melirik kamar tidur Gemintang, pintunya tertutup rapat.


Heny menyipitkan mata. “Tadi aku meminta tolong kepada Raden untuk membawakan nampan minuman untuk Gemintang. Sekarang, nampan itu tidak ada, ia pun lenyap. Pintu kamar Gemintang tertutup, aku yakin mereka berduaan di kamar.”


Heny berbalik ke arah tangga lagi. “Hmmm, aku tak mau tahu apa yang mereka lakukan di dalam sana, tetapi aku tidak mendengar mereka bercengkrama.” Ketika sampai di anak tangga paling bawah, Heny mengangguk gembira. “Memang lebih pantas dia dengan Raden dari pada menikah dengan ayahnya, si bandot tua itu,” gumam Heny sambil melangkah balik ke dapur.


“Mereka akan turun?” tanya Laura.

__ADS_1


“Tidak. Sebentar lagi barangkali.” Heny berbalik, hendak mencuci piring.


“Mengapa tidak sekarang?”


“Mereka lagi tidur, itulah sebabnya.”


“Tetapi mereka harus mengisi perut dulu. Kau tadi yang bilang begitu. Biar aku yang membangunkan mereka dan menyuruh mereka…”


“Jangan,” cegah Heny, membalikkan tubuh dari bak cucian dan membersihkan air sabun dari jarinya. “Mereka sangat letih. Sudahlah, kau urus saja pria kelaparan yang ada di sebelahmu."


Perlahan Laura kembali ke tempat duduknya. Adit menangkap sorot mata Heny, jeduanya saling tatap dan perlahan, Adit memahami apa yang terjadi dengan Raden dan Gemintang lewat sorot mata Heny.


Mata Adit berbinar jail. “Laura, bagaimana kalau sesudah sarapan kau ikut aku ke kandang kuda? Sudah beberapa hari kau tidak menengok anak kudanya.”


Laura memandang Adit dengan gembira. “Tetapi kurasa kau butuh tidur pagi lni.”


“Tidak,” jawab Adit santai. “Aku tidak letih. Bila Heny mengizinkan, aku ingin kau bersamaku seharian ini, membantuku mengurus kuda.”


“Oh, Adit,” ujar Laura. “ Tentu saja aku mau.”


Heny bertukar pandang dengan Adit, dan Adit mengedipkan mata.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Mengapa kau tidak berterus terang padaku?” tanya Raden, ia berbaring telentang sementara Gemintang menelungkup, bersandar di tubuh Raden.


Gemintang menarik beberapa helai rambut di dada Raden dan memainkannya dengan jari-jarinya. “Karena aku ingin tahu seberapa dalam cintamu padaku. Bila aku memberitahumu, jika aku dan daddymu tidak pernah berhubungan intim, apa kau akan langsung percaya?”


Gemintang menggeleng. “Aku tidak ingin hubungan intimku pertama kita hanya untuk pembuktian apa aku masih peraw*n atau tidak."


Mata Raden menatap wajah Gemintang dengan penuh kasih sayang. “Aku paham maksudmu. Tetapi bagaimana bila aku memercayaimu dengan seluruh jiwa ragaku?”


Gemintang menyentuh dada Raden dan melihatnya bereaksi. “Tetapi aku tidak akan pernah tahu seberapa dalam cintamu padaku. Aku mau tahu apa kau masih mencintaiku walau aku sudah ternoda."


Sambil menarik tubuh Gemintang, Raden mengecup bibirnya. "Ceritakan mengapa kau tidak pernah tidur dengan Guntur? Jangan bilang dia begitu baik sehingga membiarkanmu tetap per*wan.”


“Tidak, aku tidak ingin bilang seperti itu. Dia ingin meniduriku pada malam pengantin kami.” Gemintang memejamkan mata dan tubuhnya gemetar. “Dia masuk ke kamar ini. Waktu itu aku tidak tahu harus berbuat apa, aku masih sangat mencintaimu.” Gemintang meletakkan tangan Raden di pipinya, ia menggosok-gosokkan punggung jari-jari Raden ke pipinya. “Tetapi aku telah menikah dengannya, tentu aku harus menjalani kewajibanku sebagai istrinya."


Raden menatap langit-langit, tidak ingin sedikit pun membayangkan Gemintang berada di tempat yang sama, menghirup udara yang sama dengan bandit tua itu. “Apa yang terjadi kemudian?”


“Ia menciumku beberapa kali. Hanya itu. Kemudian ia meninggalkan aku tanpa sepatah kata pun. Aku bingung, aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Baru beberapa hari kemudian aku tahu, waktu itu dia sedang sakit. Aku melihat dia menelan banyak obat, sepertinya obat sakit perut, aku kurang tahu"


“Aku sadar ketika dia tidak datang ke kamarku lagi, dia rupanya impoten dan itu akibat penyakit di perutnya. Aku baru tahu fakta sesungguhnya setelah kemarin doa masuk rumah sakit. Tapi yang jelas kami tidak pernah membicarakannya, kami hidup secara platonis dalam tiga tahun pernikahan kami.”


Gemintang menelusuri hidung Raden dengan jari. “ Aku ingin kau mencintaiku lebih dari pada apa pun, untuk itulah alu tidak buru-buru menceritakan semuanya padamu."


“Aku sangat mencintaimu. Aku sangat menginginkanmu. Tetapi setiap kali aku membayangkan dirimu dan laki-laki itu, aku....”

__ADS_1


“Ssst,” ujar Gemintang, menghentikan kata-kata Raden dengan meletakkan jari telunjuknya di bibir pria itu. “Aku tahu. Aku tahu siksaan yang harus kau tanggung.”


“Kau tahu apa yang di katakan padaku setelah kau meninggalkan kamar rumah sakit di hari di meninggal?” tanya Raden. Gemintang menggeleng.


“Guntur bilang jika aku tidak akan pernah bisa memilikimu karena harga diriku tidak akan membiarkan aku melakukan hal itu.” Mata Raden penuh cinta menatap Gemintang, dan bibirnya bergerak, menyunggingkan senyum. “Ia keliru, bukan? la tidak mengira cintaku sedemikian besar padamu, aku tidak peduli kau sudah tidur dengannya atau belum aku tetap mencintaimu,” Raden mengelus wajah Gemintang. “Kemudian ia mengatakan aku harus selalu ingat kau sudah jadi istrinya, bahwa dialah yang memilikimu.”


Gemintang menatap Raden, terkejut. “Maksudmu, ia dengan sengaja membuat kesan agar kau percaya bahwa...”


“Ya.”


“Oh, sayangku.” Gemintang mencium pipi Raden dengan lembut dan menepiskan rambut yang jatuh di atas alisnya. “Tidak kusangka ia benar-benar ingin kau memercayainya.”


Raden tertawa sinis. “Ia kenal benar siapa aku. Hampir saja ia berhasil memisahkan kita.”


“Aku senang kita tidak berpisah.”


"Begitu pun aku,” gumam Raden sembari memutar-mutar sejumput rambut Gemintang. “Kalau kuingat detik-detik yang sangat menyiksaku itu. Kubayangkan dirimu bersama dia, hatiku sakit sekali. Ternyata, kau tetap orang yang sama.” Raden menyentuh bibir Gemintang. “Gemintang, kekasih yang kukenal di pinggir hutan. Tetap sama. Selalu sama.”


Raden menarik tubuh Gemintang dan menciuminya sampai mereka berdua kehabisan napas. “Tetap sama, tapi tidak serupa.”


Gemintang menangkap kesan, bahwa Raden menganggap pernikahannya dengan Guntur sudah berakhir. “Tidak serupa? maksudmu?” tanya Gemintang nakal, sambil menekuk lutut dan menjulurkan kaki ke udara.


Dijulurkannya kakinya seperti penari balet. Raden memerhatikannya. Kaki itu indah sekali, ramping, panjang. Kuku kakinya dipoles cat kuku warna cokelat muda Raden membayangkan hal-hal yang erot*k melihat ibu jari tersebut.


Raden menanggapi godaan Gemintang, ia menyelipkan tangannya ke bawah tubuh Gemintang. “Payud*ramu.” Ia memegang salah satunya dan merem*snya.


“Kenapa dengan payud*raku?”


“Lebih besar.” Ia menggelitik puncaknya. “Lebih gelap sedikit."


“Ada yang lain?”


“Kau lebih lembut, lebih berisi, lebih dewasa, tetapi sikapmu tetap malu-malu seperti gadis remaja. Kau seperti yang kukhayalkan selama bertahun-tahun. Bahkan lebih.”


“Apa kau kecewa dengan perubahan tubuhku?”


Raden menelusuri tulang leher Gemintang dengan lidah lalu menciumi lekuk ***********. “Tentu tidak, aku menyukai setiap inci tubuhmu.”


Tangan Raden erat mendekap tubuh Gemintang. “Aku sangat mencintaimu, kau tahu itu. Mencintaimu. Tingkahku seperti bajingan beberapa minggu ini, mencemoohmu, menyakitimu. Semakin aku mencintaimu, semakin buruk kelakuanku.”


Sambil tertawa kecil, Gemintang merebahkan kepala di dada Raden dan meletakkan tangannya di bagian bawah perut laki-laki itu. “Kau memang menyakitiku kadang-kadang. Tetapi aku tahu apa sebabnya. Dan aku memaafkanmu. Aku mencintaimu.”


Raden memegang tangan Gemintang dan menurunkannya. “Berat?”


Gemintang menggenggam tubuh Raden. “Sama sekali tidak. Aku juga suka menyentuh tubuhmu.”


Tangan Raden langsung ke dada Gemintang dan mengelusnya. “Ayo tidur sebentar.”

__ADS_1


“Kau ingin tidur?”


“Ya sebentar. Tetapi aku ingin kau di sampingku ketika aku bangun.”


__ADS_2