
"Sudah bangun?” Raden memiringkan tubuh dan memberikan ciuman manis di dahi Gemintang.
“Dari tadi kau di sini?” Gemintang tertidur dengan tangan digenggam Raden.
“Setiap detik.”
“Berapa lama aku tidur?” Gemintang menggeliat.
“Beberapa jam. Tidak terlalu lama. Aku malah ingin kau tetap di tempat tidur ini sampai beberapa hari lagi.”
Mata Gemintang membelalak. “Hanya tidur?”
“Salah satunya,” jawab Raden penuh arti dan mendekap Gemintang erat-erat. Sejenak ia membenamkan wajah di leher Gemintang yang wangi serta lembut, kemudian ia mengangkat kepala untuk menciumnya.
Bibir Raden menyentuh bibir Gemintang dengan lembut. Dengan lidahnya ia menelusuri garis bibir Gemintang. Ketika bibir Gemintang agak membuka, lidahnya segera dimasukkan ke mulut kekasihnya itu. Gemintang melingkarkan tangan di leher Raden, dan menarik tubuh pria itu lebih rapat ke tubuhnya.
Raden tak kuasa menahan desakan yang sejak beberapa jam yang lalu ditahannya karena takut membahayakan Gemintang. Ia berbaring di samping wanita itu di tempat tidur, dan memeluk tubuh Gemintang yang hangat dan masih mengantuk. Bibir mereka saling mel*mat. Tak henti-hentinya mereka tersenyum. Tetapi akhirnya Raden menatap Gemintang dengan wajah serius.
“Rencananya kapan kau akan memberitahu aku soal bayi ini, Gemintang?”
Raden masih berpakaian lengkap, tetapi kancing kemejanya sudah dibuka. Gemintang menyelipkan tangannya ke balik kemeja, mengelus dadanya yang bidang. “Setelah akhir pekan ini. Bila kau tidak pulang aku akan meneleponmu.”
“Begitukah?”
“Atau aku akan menyuruh Heny meneleponmu”
“Apa dia tahu?”
“Kurasa dia sudah curiga, dan bukan hanya Heny tapi Adit pun. Mereka memang tidak mengatakan apa-apa, tetapi aku merasa mereka selalu memerhatikan aku.”
“Mungkin bukan curiga, tapi mereka merasa ada yang tidak beres denganmu. Berat badanmu terlihat berkurang.” Tangan Raden yang diletakkan di rusuk pindah ke paha.
“Kata dokterku kehamilanku normal. Hanya saja selera mKanku berkurang. Sedikit saja aku makan, selalu keluar lagi.”
__ADS_1
“Mengapa kau tidak mengatakannya padaku? Aku tak tahu apa aku harus memukulmu atau menciummu.”
“Menciumku.”
Raden mengabulkan permintaan Gemintang. Raden mengelus perut wanita itu. “Ada anakku di dalam sana. Oh Tuhan, mukjizat yang sangat indah,” ucap Raden sambil memeluk Gemintang. Sekali lagi diciumnya Gemintang dengan lembut dan hasrat menggelora.
Tangan Raden menyelinap ke payud*ra Gemintang, Raden hanya menyisakan pakaian dalam ketika membuka pakaian wanita itu dan menyuruhnya segera berbaring ditempat tidur begitu mereka tiba di rumah.
Bahan sutra itu terasa hangat karena pancaran panas dari tubuh Gemintang. Raden menyentuh payud*ra Gemintang, melepas b*a berenda yang menutupinya. Diciuminya bagian itu. “Gemintang, maukah kau menikah denganku?”
Gemintang tersentak. Bibir Raden dengan panas terus beraksi. “Bagaimana bisa aku menolak? Kau memintanya dengan begitu manis.”
Raden menindih tubuh Gemintang dan memegangi wajahnya dengan dua tangan. “Aku ingin kau tahu sesuatu, yang tidak kusadari sampai hari ini.” Matanya tajam menatap Gemintang. “Seandainya kau benar-benar menjadi istri Daddy, aku akan tetap mencintaimu dan menginginkanmu seperti sekarang ini.”
Raden melihat mata Gemintang berkaca-kaca. Ia juga melihat air mata menitik jatuh di pipinya. “Aku cinta padamu.” Gemintang memegang kepala Raden dan menekannya ke bawah, minta dicium. “Ya, aku mau menikah denganmu.”
“Secepatnya.” desak Raden.
“Baru empat bulan Daddy meninggal. Orang akan menggunjingkan kita," ucap Gemintang.
"Benarkah?"
"Ya, jadi tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Jadi kapan kau bersedia menikah denganku? Minggu ini?”
“Besok,” bisik Gemintang, dan Raden tersenyum. “Apa yang ingin kita lakukan setelah kita menikah? Di mana kita akan tinggal?”
“Di sini, di rumah ini. Aku harus bolak-balik, ke Jakarta dan ke sini untuk bisnisku.”
“Aku ikut bolak-balik bersamamu.”
“Tidak takut naik pesawat denganku?”
“Aku tidak pernah takut melakukan apa pun bersamamu.”
__ADS_1
Pernyataan itu mendorong Raden kembali mendaratkan ciumannya. “Sementara kita tinggal di sini, apa yang akan kita lakukan, pindah tempat tidur setiap beberapa malam?” goda Raden.
“Bagaimana kalau kita tidur di kamarmu saja, dan kamar ini kita jadikan kamar anak kita?”
Raden memandang ke sekeliling kamar, kemudian kembali menatap Gemintang dengan penuh kemesraan. “Andai mommy masih hidup, ia pasti senang sekali.”
Bibir mereka kembali saling mel*mat. “Aku tidak bosan-bosan menciummu. Oh, Gemintang, aku sangat merindukanmu.”
Raden menggenggam tangan Gemintang yang diletakkan di perut bagian bawahnya. Gelora seperti merembes masuk ke perut lalu menuju paha Gemintang, seperti mentega yang meleleh. Sambil menciumi leher Raden, Gemintang bergumam, “Raden, buka pakaianmu.”
Pipinya memerah, dan jantungnya berdebar cepat. “Aku tidak bisa melakukannya sekarang. Aku sudah bilang pada Heny akan mengajakmu turun makan malam begitu kau bangun.”
“Oh, astaga!” Gemintang menyibakkan selimut dan menurunkan kaki dari tempat tidur. “Baru aku ingat. Kita akan kedatangan tamu saat makan malam.”
“Tamu? Siapa?”
“Kejutan. Tolong ambilkan pakaianku.” Gemintang segera beranjak ke meja rias, mengambil sisir dan merapikan rambutnya. “Apakah aku kelihatan seperti habis… "
Dengan cemas Gemintang memerhatikan wajahnya di cermin ketika ia menepukkan bedak di bibirnya yang habis diciumi Raden.
Raden memberinya baju dari bahan wol, pilihan yang diambilnya dari lemari. Dipeluknya Gemintang dari belakang, tangannya menggenggam pay*dara kekasihnya. Jari‐jarinya beraksi. “Iya, kau kelihatan seperti habis….”
Raden membenamkan wajah di leher Gemintang, tepat di belakang telinga, dan menciumi bagian yang sensitif itu. Sambil mengerang, Gemintang menarik napas, “Raden, aku tidak akan siap bila kau tidak berhenti.”
“Aku siap.” Raden menekankan kejantanannya ke bok*ng Gemintang. “Aku sudah siap sejak beberapa jam yang lalu. Kau tahu betapa cantiknya dirimu ketika sedang tidur?”
“Siap untuk makan malam, sayang. Bukan siap untuk itu...”
“Oh, makan malam.” Raden pura-pura menarik napas, menarik tangannya dan menjauh dari Gemintang.
Setelah tenang, mereka turun untuk bergabung dengan Adit dan Laura di teras. Tanpa bertanya, Adit menuangkan minuman untuk Raden yang tengah mendudukkan Gemintang di tempat duduk dengan sangat hati-hati.
“Terima kasih,” ucap Raden sambil menerima gelas minuman. Ia menatap adik iparnya dan tersenyum. Andai masih ada keraguan dalam hati Raden tentang pernikahan Laura, yang ia perlu ia lakukan hanya memandang Laura dan Adit. Kebahagiaan terpancar di wajah Laura seperti lampu mercusuar yang memancarkan sinar terang benderang di lautan pada malam hari.
__ADS_1
Adit terlihat rileks, tidak lagi tegang. Dia sudah melakukan perubahan untuk kandang kuda yang sangat produktif, dengan izin Gemintang ia membuat lapangan pacuan kuda yang akan di buka untuk umum di sebelah kediamannnya, rencananyanya bulN depan akan di adakan festival pacuan kuda. Adit mendapat banyak sponsor dariperusahaan swasta untuk acara tersebut, dan Laura terlihat lebih senang menerima uang yang di berikan Adit ketimbang uang yang di berikan Gemintang dari hasil pabrik, Laura tahu bagaimana caranya menghargai kerja keras suami,dan Adit tahu bagaimana cara bagaimana menjadi suami yang bertanggung jawab. Menikahi putri bungsu Guntur yang memiliki banyak warisan, serta tinggal di rumah mewah bukan lantas membuat Adit bermalas-malasan, ia tetap menunjukan tanggung jawabnya sebagai suami, dan tidak pernah mau menyentuh uang istrinya, ia bahkan dengan terang-terangan meminta biaya pengeluaran rumah, dan membaginya bersama Gemintang.
Kini Adit berbicara dengan Raden pada posisi yang sederajat. Kedua pria itu makin saling mengenal dan saling menyukai.