
Disclaimer⚠ BAB ini mengandung adegan dewasa, di mohon untuk bijak dalam membacanya😊
Hari menjelang petang, Gemintang dan Raden baru turun dari kamar, mereka turun sambil bergandengan tangan dan tersenyum. "Di mana Laura?" tanya Raden.
"Entahlah," mereka berdua tidak melihat Laura dan Adit sampai mereka tiba di teras rumah.
“Adit ingin bicara denganmu, kak,” Laura memberitahu. Tingkah Laura seperti gadis kecil yang tidak sabar hendak membuka kado ulang tahunnya. Matanya berbinar-binar, namun terlihat sedikit resah.
Raden menatap adik perempuannya, kemudian beralih ke Adit, yang dengan gelisah memutar-mutar topi jeraminya. “Gemintang dan aku sudah lapar sekali, kami sudah melewatkan sarapan dan makan siang. Bisakah kita membicarakannya setelah makan?”
“Ya.” “Tidak.” Mereka menjawab serentak.
“Aku yakin akan lebih baik jika kita bicara setelah makan," ucap Gemintang sembari memandang mesra ke arah Raden, kemudian ia melepaskan gandengan tangannya dan menghampiri Laura. “Apakah Heny sudah menyiapkan makanan untuk kita?” Diajaknya gadis itu ke ruang makan.
"Ya, Heny sudah menyiapkan sarapan dan makan siang untuk kalian, tapi kalian belum turun juga dari tadi," jawab Laura.
Gemintang tak mungkin mengatakan jika sejak pagi tadi dirinya dan Raden tengah sibuk bercinta, ia kemudian mengalihkan topik pembicaraan. “Apa yang akan disampaikan Adit kepada Raden?” tanya Gemintang lembut.
“Kami akan menikah,” Laura menjawab.
“Kalau begitu, kusarankan kalian menunggunya sampai Raden selesai mengisi perut.” Gemintang menggenggam tangan Laura, memberi dukungan.
Selagi mereka berdua makan, Heny membawa telepon ke ruang makan. “Dari kepala Kapolres.”
Kepala Kapolres menelepon hendak memberitahu mereka sudah menangkap orang‐orang yang membakar pabrik. Salah seorang di antaranya adalah yang menelepon Andi dan memperingatkannya soal kebakaran. Ia mengaku sakit hati dan menghasut yang lain. “Kami mendapat pengakuan resmi dari tiga orang lainnya siang ini."
“Terima kasih, pak. Tetapi usahakan keluarga mereka tetap aman, terjamin makan, dan kebutuhan lainnya selama suami atau ayah mereka berada dalam penjara, kirimkan tagihannya pada saya," ucap Raden di akhir perbincangannya dengan kepala Kapolres.
Gemintang memandangi Raden dengan penuh kekaguman, ia merasa tak salah menjatuhkan hatinya pada pria sebaik Raden. Raden masih memikirkan nasib anak serta istri yang jelas-jelas telah berbuat jahat kepada pabriknya.
Raden meletakkan telepon dan menyampaikan berita itu kepada yang lain. Begitu acara makan selesai, meja langsung dibereskan, Laura dengan gembira meminta semua orang ke ruang baca. “Ayo, Adit,” ajaknya sambil menggandeng Adit.
Sesampainya di ruang baca, Adit menelan ludah. “Raden, dengan restumu, aku ingin menikahi Laura.”
Raden duduk di kursi kulit di belakang meja lebar, ia menyeruput es teh yang dibawanya dari ruang makan. “Jika aku tidak merestui kalian?”
Mata Adit tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. “Aku akan tetap menikahinya.”
Raden menatap Adit lama, suasana tegang. Tak satu pun mengalihkan pandangan, hingga akhirnya Raden berkata, “Ladies, maafkan aku. Kami ingin bicara empat mata. Gemintang, boleh aku minta tolong untuk menutup pintu?”
Gemintang mengangguk. "Tentu saja Raden," ia menggandeng Laura keluar dari ruang baca, kemudian ia menutup pintu dan membiarkan Raden berbicara e,pat mata dengan Adit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Bagaimana kau tahu aku ada di sini?”
__ADS_1
“Feeling.” Raden menepis ranting pohon dan berjalan ke arah tempat terbuka.
Gemintang duduk di bawah pohon, sebuah buku tergeletak di pangkuannya. Ia belum selesai membacanya, matanya tertuju pada Raden yang muncul di antara pepohonan.
Raden berjalan ke dekat pohon, meletakkan tangannya di batang pohon, dan menatap Gemintang yang mendongakkan wajah. “Tidak tahukah kau, berbahaya bagimu berada di hutan sendirian?”
“Mengapa? Ini hutanku.”
“Tetapi pemerkosa bisa muncul dan memperkosamu.”
“Itulah yang kumau, karena pemerkosanya adalah dirimu,” ucap Gemintang sambil tertawa.
Raden duduk di sisinya dan memeluknya. Beberapa kali Raden mengecup wajah Gemintang, menekankan bibirnya, menyiratkan kepemilikannya atas Gemintang. Gemintang membiarkan pria itu melakukannya beberapa saat, baru kemudian mendorong tubuh Raden. “Tunggu. Pertama, aku ingin tahu apa yang kau katakan pada Adit.”
“Kukatakan padanya, bila ia sekali saja menyakiti Laura, aku akan membunuhnya.”
“Kau tidak boleh begitu!”
Raden mengangkat bahu dan tersenyum jail. “Yah, aku mengatakannya dengan baik-baik.”
“Tetapi kau setuju mereka menikah?”
“Ya, aku setuju,” jawab Raden.
Gemintang mendekap Raden erat-erat. “Raden, aku bahagia sekali.”
“Ya, aku yakin. Laura sangat mencintainya. Dan kau tidak perlu khawatir Adit menyakitinya. Adit sangat memuja Laura, aku yakin sosok Laura bak peri baginya."
“Kelihatannya ia juga orang yang tulus,” ucap Raden. “Aku mengajukan syarat bahwa Laura harus tetap tinggal di rumah itu, karena aku tidak yakin Laura bisa betah tinggal di rumah lain, dan aku pun tak ingin jauh darinya. Adit setuju, tetapi ia minta diberi tanggung jawab lebih. Ia tidak mau dianggap menikahi Laura karena harta warisannya, sementara dia hanya karyawan biasa.”
“Itu yang aku harapkan darinya. Ia bekerja lebih keras, meskipun ia memiliki kekurangan.”
“Adit sangat setuju, akan ada beberapa ide project yang dia utarakan dan aku rasa cukup bagus, nanti dia akan meminta menjabarkan project tersebut secara langsung kepadamu, sekaligus meminta persetujuanmu.” Alis Raden berkerut. “Menurutmu, apa Laura bisa tidur dengan pria?”
Gemintang tertawa dan membenamkan hidungnya ke leher Raden. “Aku malah berpikir selama ini justru Laura lah yang mengejar-ngejar Adit, dan justru Adit yang mencoba menjauh demi kebaikannya.”
“Tetapi apakah Laura mengerti tanggung jawab seorang istri dan mengerti soal se*s?”
“Raden.” Sambil meletakkan tangan di pipi Raden dan meminta seluruh perhatiannya, Gemintang berkata, “Laura dilahirkan dengan kekurangan dalam hal akademis. Tetapi emosi dan tubuhnya tetap perempuan. Tak ada yang bisa menghilangkan kebutuhan biologisnya, sama halnya dengan kebutuhan makanan atau udara. Laura pasti akan lebih bahagia karena Adit sangat mencintainya. Ia akan mengasihi Laura. Mereka bisa mengatasi kekurangan di antara mereka.”
Gemintang melihat ketegangan Raden menyurut, raut wajahnya tampak lebih santai.
“Lalu bagaimana denganmu?”
“Aku?” tanya Gemintang.
__ADS_1
“Bagaimana dengan kebutuhan se*smu selama bertahun-tahun menikah dengan Guntur, apa yang kau lakukan pada dirimu sendiri?”
“Aku hidup dalam kenangan dan mimpi. Kenangan akan dirimu di tempat ini. Mimpi yang kutahu tidak akan pernah terwujud.”
Raden duduk di rumput yang lembut bersama Gemintang dan membuka kancing baju wanita itu. “Kau memikirkan aku? seberapa sering?”
“Setiap hari. Setiap jam. Meskipun tak pernah bisa berjumpa denganmu lagi, aku akan mengingatmu sampai ajal menjemputku.”
Sesaat Raden memejamkan mata, meresapi kata-kata Gemintang. Ketika membuka mata, ia menatap Gemintang dengan sorot berbinar-binar. “Aku mendengar suara petir. Atau itu suara debar jantungku?”
Gemintang tersenyum. “Petir. Sebentar lagi hujan turun.”
“Kau takut?”
“Aku lebih suka hujan.”
“Sayangku,” bisik Raden di mulut Gemintang. “Aku sangat mencintaimu.”
Gemintang membantu Raden melepas kemejanya. Raden berdiri dan Gemintang seperti penonton yang sudah tidak tahan hendak membuka ikat pinggang Raden, membuka ritsleting celananya, dan melepaskannya. Raden memegang cel*na d*lam biru mudanya, lalu melepasnya.
Di bawah cahaya malam, deru hujan, bagian tubuhnya berdiri tegak. Raden berlutut di samping Gemintang, ia menariknya duduk ke sisinya, membuka pakaiannya. B*a Gemintang berenda-renda cantik, sangat berbeda dengan bra yang dipakainya dua belas tahun yang lalu. Raden menyentuh pay*dara Gemintang yang berbalut bahan sutra.
“Lihat akibat perbuatanmu,” ucap Gemintang ketika melepas b*anya, memperlihatkan banyaknya tanda kepemilikan yang Raden buat tadi pagi.
“Ya,” jawab Raden dengan menyesal, tetapi wajahnya sama sekali tak menampakkan penyesalan. "Boleh aku buat lebih banyak lagi?" tanya Raden sembari membuka kancing rok Gemintang dan melepaskannya, membiarkan tubuh Gemintang hanya terbalut cel*na dal*m. Kemudian ia membungkuk untuk melepaskan tali sepatu sandal yang dipakai Gemintang, yang melingkari kakinya yang indah. Ketika sandal sudah terlepas, Raden mengelus-elus dan memijat kakinya.
"Kau buatlah sesuka hatimu," jawab Gemintang pasrah.
Raden menindih tubuh Gemintang. Gemintang merenggut rambut Raden yang basah ketika pria itu menciuminya dengan panas. Raden menikmati bibir Gemintang seperti orang yang tengah memakan buah yang lezat.
Titik-titik hujan jatuh menimpa dada Gemintang, membuat bagian itu mengilap. Raden menyeruput titik-titik air tersebut. Bibir Raden terasa hangat di kulitnya yang dingin ketika laki-laki tersebut menciumi payud*ranya. “Aku tak pernah lupa bagaimana rasanya tubuhmu waktu pertama kali aku mencicipinya. Tidak pernah lupa.”
Gemintang menggeliat di bawah tubuh Raden, bergoyang, mencengkeram kejantanan Raden. Napas mereka melayang ke udara, Raden mengelus bagian yang diinginkan Gemintang. "Raden," Gemintang menggumamkan nama Raden dengan lirih.
“Jangan dulu,” ujar Raden dengan suara gemetar di atas perut Gemintang. “Yang ini untukmu.”
Raden bergerak makin ke bawah, menghujani rusuk Gemintang dengan ciuman. Bibirnya terus bergerak turun sampai pusar, menciumi bagian itu, membuat Gemintang menggeliat dan mengerang. Beberapa kali Raden memasukkan ujung lidahnya ke dalam pusar Gemintang. Kemudian, menggunakan hidung dan dagunya, ia menurunkan cel*na d*lam Gemintang sampai ke kaki, baru melepaskannya dengan menggunakan kakinya.
Gemintang merasa tidak mampu menahan lebih lama lagi, namun Raden baru saja mulai. Bibir pria itu menciumi bagian bawah tubuhnya, mengembuskan napas di situ.
“Raden…” Panggilannya tenggelam di antara bibirnya yang gemetar ketika mencengkeram rambut Raden.
Dengan lembut tangan Raden membetulkan posisi Gemintang, kemudian menyentuhnya. Raden mendaratkan ciuman manis di bagian sensitif Gemintang. Bibirnya yang penuh cinta, lidahnya yang terus menggoda, melambungkan Gemintang ke puncak kenikmatan dunia, yang merampas semua akal sehatnya.
Raden terus membangkitkan gairah Gemintang, sampai wanita itu merasa seluruh tubuhnya seperti hendak meledak. Raden seperti telah membangunkan gunung berapi di dalam tubuh Gemintang. Ketika merasa gunung itu hendak memuntahkan laharnya, Raden segera menindihnya.
__ADS_1
Kata-kata cinta yang meluncur keluar dari bibir wanita itu, makin membangkitkan hasrat Raden, ia mendorong tubuhnya untuk bergerak makin cepat, sampai akhirnya mereka berhasil mencapai puncak kenikmatan, tubuh mereka bermandikan air hujan yang turun membasahi bumi.