Dalam Derasnya Hujan

Dalam Derasnya Hujan
BAB 20


__ADS_3

Randy melangkah keluar dari lift ketika Gemintang akan masuk. “Gemintang, ada apa?” Randy terkejut melihat raut wajah Gemintang.


“Tidak, tidak ada apa-apa. Aku mau ke pabrik. Ada masalah di sana, tetapi jangan beritahu Guntur soal kepergianku. Ia sedang kacau.” Dengan napas tak beraturan, Gemintang menyandarkan diri ke dinding lift, seakan itu tempat persembunyian yang aman baginya dari ancaman teror yang menakutkan.


“Ada yang bisa kubantu?”


“Tak usah,” jawab Gemintang, sambil menggeleng saat pintu lift mulai tertutup. “Aku tak apa-apa. Cepat temui Guntur. Ia membutuhkanmu.”


Pintu lift tertutup di antara mereka. Gemintang menutup mulut dengan tangan, menekan kesedihan yang dirasakannya mulai menyesakkan tenggorokannya. “Tuhan, oh, Tuhan,” rintihnya, tidak menyangka Guntur bisa begitu menakutkan, tubuhnya panas-dingin.


Gemintang berusaha menguatkan diri untuk berjalan di sepanjang lobi lantai satu rumah sakit tanpa sedikit pun kelihatan dalam keadaan tertekan. Ketika sampai di mobil, gemetar tubuhnya berkurang. Dengan jendela mobil terbuka, Gemintang mengemudikan mobil menyusuri tepi sungai. Angin menerpa rambutnya, lalu lintas tidak ramai dan ia mengemudi dengan cepat, berusaha mengusir ketakutan yang mencekam dirinya beberapa saat lalu.


Ia biarkan pikirannya mengembara. Guntur tak mungkin tahu apa yang terjadi antara ia dan Raden. Raden tidak mungkin menceritakan hal tersebut padanya, dan tidak seorang pun pernah melihat mereka berdua atau menggosipkan mereka di kota. Tidak, Guntur pasti tidak tahu. Ia juga tak mungkin berpikiran Gemintang dan Raden saling tertarik. Guntur mengira ia dan Raden baru saling mengenal beberapa hari lalu.


Ancaman terselubung dan peringatan yang diungkapkan Guntur semata-mata hanyalah khayalan, bukan dimaksudkan sebagai ancaman. Batin Gemintang sambil menggeleng. Tapi mengapa Guntur mengatakan demikian?

__ADS_1


Apa lagi yang dipikirkan Guntur? Tidak ada yang bisa dilakukannya, kecuali berpikir, menduga-duga, merasa ketakutan dan curiga. Pria yang otaknya biasa aktif seperti otak Guntur pasti merasa tersiksa ketika hanya bisa terbaring di ranjang sepanjang hari. Guntur paling benci duduk berdiam diri, tidak melakukan aktivitas apa pun. Makanya, kekuatan mental adalah satu‐satunya yang tersisa dalam dirinya, sehingga pikirannya bekerja lebih keras.


Guntur memiliki istri yang tiga puluh tahun lebih muda darinya, dan ia memiliki putra yang tampan dan sangat jantan. Saat ini keduanya tinggal serumah. Guntur menghubungkan dua fakta tersebut, yang kemudian menimbulkan kecurigaan yang menakutkan.


Guntur keliru! Gemintang tidak melakukan perbuatan yang tidak boleh dilakukan seorang istri.


Namun kecurigaan Guntur ada benarnya. Membayangkan bercinta dengan Raden sudah termasuk melanggar hukum Tuhan. Dan Gemintang merasa tidak mampu menghilangkan bayangan itu.


Ia harus menghapus pikiran tersebut dari benaknya, dan melupakan segala yang pernah terjadi di masa lalu.


Ketika tiba kembali di pabrik, sinar matahari sore yang sudah condong ke Barat masuk menyinari lantai melalui jendela yang terletak jauh tinggi di tembok. Gemintang memandang ke sekelilingnya dengan jengkel.


Suara besi beradu berhenti. Kepala Raden muncul dari balik salah satu peralatan dan ia duduk. Disekanya keringat di dahinya dengan sapu‐tangan. “Hai, aku tidak mendengar kau datang. Aku menyuruh orang-orang pulang satu jam lebih cepat. Tak ada yang bisa mereka kerjakan selama aku membetulkan mesin ini.” Raden mengarahkan ibu jarinya ke balik bahu, ke mesin yang tengah diperbaikinya. “Debu di mana-mana. Kalau ada kabel yang tidak beres di ruangan ini, bisa berbahaya.”


Seharusnya Gemintang memarahi Raden yang menyuruh para karyawan pulang lebih cepat, karena Raden tidak berhak melakukan hal itu, tetapi itu tidak dilakukannya.

__ADS_1


Tindakan yang dilakukan tanpa izin dari Guntur adalah hal yang sangat dibenci suaminya. Tetapi Gemintang membela diri, bila Guntur tidak tahu, itu tidak akan menjadi masalah, yang terpenting yang terbaik untuk pabriknya.


Gemintang berjongkok di dekat Raden. “Bagaimana? Sudah ketemu masalahnya?”


“Ya, dan cukup rumit.”


“Bisa diperbaiki?”


“Sementara.” Raden menarik napas dan menyeka keringat di alis dengan lengan baju. “Bagaimana kondisi Daddy hari ini?”


Mengingat apa yang terjadi di dalam ruangan rumah sakit membuat Gemintang menggigil. “Tidak terlalu baik. Hampir sama saja.” Raden mengamati Gemintang, tetapi Gemintang tidak ingin memperlihatkan perasaannya. Cepat-cepat ia mengubah topik pembicaraan dengan bertanya, “Kau sudah makan?”


“Belum. Aku kepanasan dan badanku kotor untuk makan.” Memang benar, badan Raden kotor. Wajahnya berminyak dan berkeringat. Membuat giginya jadi kelihatan lebih putih ketika ia tersenyum. “Lagi pula, aku tak mau membuang waktu.”


Gemintang tersenyum lalu merogoh kantong kertas putih. “Kubawakan makan siang untukmu, kau bisa meminum makan siang ini.” Gemintang memasukkan sedotan ke gelas plastik.

__ADS_1


“Apa ini?”


Gemintang menyerahkan gelas tinggi dan dingin itu ke tangan Raden, lalu berdiri. “Milk shake cokelat.”


__ADS_2