Dalam Derasnya Hujan

Dalam Derasnya Hujan
BAB 38


__ADS_3

Setibanya di pabrik, mereka semua lega, karena kebakaran tidak terlalu besar, hanya satu bagian bangunan yang terbakar. Untung saja Andi bertindak cepat, mobil pemadam kebakaran pun sudah tiba di sana ketika Raden tiba.


Tanpa memedulikan apa pun, Gemintang lari ke ruang kerjanya untuk memeriksa seluruh dokumen yang tersimpan di sana. Raden segera mengejarnya dan menyambar pinggangnya, menariknya ke luar. Gemintang meronta-ronta. Setelah agak tenang, Raden memegang bahu Gemintang dan mengguncang-guncangnya.


“Jangan pernah lakukan hal bodoh seperti itu lagi. Kau membuat aku ketakutan setengah mati.” Melihat raut wajah Raden yang menakutkan, Gemintang tidak berani membantah sepatah kata pun.


Banyak hal yang harus dilakukan, Raden mengawasi para pekerja yang memindahkan produk yang siap dikirim. Adit, meskipun kakinya pincang, bekerja lebih keras dari siapa pun yang ada di sana, ia ikut mengangkut barang-barang. Gemintang menghalau orang-orang menjauh, ia harus memastikan tak seorang pun ada di dalam bangunan itu dan tak ada yang terluka. Dalam waktu dua jam, api bisa dipadamkan.


Gemintang dan Raden dipanggil kepala pemadam kebakaran dan kepala Kapolres. “Tempat ini dibakar, Raden,” ucap kepala pemadam kebakaran. “Mereka membakarnya secara sengaja, karena kami melihat adanya korek api dan dirigen tak jauh dari lokasi kenaran."


Raden mengibaskan rambut. “Ya, aku sudah menduganya. Parahkah kerusakannya?’


“Tak seberapa bila kami tidak segera sampai di sini.”


“Untungnya semua produk yang sudah dikemas, sudah berada di gudang,” sambung Gemintang, ia baru menyadari keletihan yang menggayuti tubuhnya.


“Anda tahu siapa kira-kira yang membakar pabrik ini, nyonya Buana?” tanya kepala Kapolres kepada Gemintang.


“Saya tahu.” Andi, mandor pabrik yang menjawab. “Salah seorang pembakar pabrik menelepon saya. Saya rasa ia sadar telah melakukan kejahatan dan merasa ketakutan pada menit terakhir. Ia tidak memberitahukan namanya, tetapi saya yakin ia salah seorang karyawan yang kau pecat beberapa minggu lalu, tuan Raden.”


Atas permintaan kepala Kapolres, Raden menyebutkan nama para karyawan yang ia pecat. Petugas itu menggaruk-garuk telinga. “Memalukan sekali. Apa yang mereka kerjakan ketika bekerja pada Anda?”

__ADS_1


“Mereka tidak bekerja padaku. Mereka bekerja pada ayahku,” jawab Raden. Raden melirik Gemintang yang keletihan. “Aku rasa cukup untuk saat ini, aku ingin mengantar Gemintang pulang.”


“Silakan. Kami akan menghubungi Anda bila ada yang perlu kami bicarakan.”


Adit memilih duduk di bak truk mobil Raden sewaktu pulang. Ia tidur telentang dan tidak bergerak sampai Raden menghentikan mobil di pintu belakang rumah. Heny dan Laura tergopoh-gopoh menemui mereka.


Raden lari ke pintu mobil satu lagi, ia membukakan pintu mobil untuk Gemintang. Gemintang terpeleset dari mobil dan jatuh ke pelukan Raden. Semmentara Adit bangun dari tidurnya tepat ketika Laura mendekatinya, dan langsung memeluknya, tanpa memedulikan keringat dan debu hitam yang melekat di tubuh Adit.


“Kau tidak apa-apa, Adit?”


“Tentu, aku baik-baik saja.”


“Ya, ampun, lihat tampang kalian bertiga, penuh debu dan hitam. Sebaiknya kalian bertiga cepat mandi. Aku sudah menyediakan sarapan untuk kalian," ucap Heny.


“Adit.”


Pria itu menghentikan langkah dan berbalik menghadap Raden yang memanggilnya dari ambang pintu dan Raden berkata. “Terima kasih.”


“Terima kasih kembali,” jawab Adit. Mereka berpandangan beberapa saat, kemudian saling melempar senyum lebar.


Mata Laura memancarkan sorot penuh kasih kepada dua laki-laki itu. Heny berusaha menahan air mata yang hampir menitik di pipinya. Gemintang menggenggam tangan Raden.

__ADS_1


Di dalam kamarnya, Gemintang melepaskan semua bajunya. Dibiarkannya pakaiannya tergeletak di lantai kamar mandi. Ia ingin membuang baju-baju itu. Bau asap yang melekat di baju itu tidak bisa hilang meskipun dicuci. Ia hanya berharap bau asap tidak melekat di rambutnya.


Gemintang berdiri di bawah keran pancuran, membiarkan air hangat menghilangkan kotoran yang melekat di tubuhnya. Ketika selesai, ia mematikan keran dan Gemintang merasa tubuhnya segar kembali. Ia menggelung rambutnya dengan handuk, kemudian memakai handuk piyamannya ketika terdengar suara pintu kamarnya diketuk.


“Masuk,” ucap Gemintang.


Gemintang mengira yang datang Heny atau Laura. Namun ternyata yang muncul adalah Raden sungguh di luar dugaannya. Pria itu melangkah masuk ke kamarnya, membawa nampan berisi secangkir kopi dan segelas jus jeruk.


“Heny bilang sebaiknya kau minum ini dulu sebelum turun ke ruang makan," ucap Raden, matanya tertuju pada perempuan yang rambutnya digelung dengan handuk basah dan mengenakan handuk piyama, menonjolkan lekuk tubuh indahnya.


“Terima kasih. Kopinya wangi sekali.”


Gemintang juga rupanya terkesima, pada rambut Raden yang masih basah. Ia mengenakan celana pendek, menonjolkan kejantanannya. Dadanya yang bidang tertutup bulu hitam, ikal dan agak basah. Matanya berbinar-binar ketika menatap Gemintang.


Raden meletakkan nampan di meja, tetapi Raden tampak enggan meninggalkan kamar Gemintang. Raden merentangkan tangan, membawanya ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat-erat.


Air mata bercucuran dari mata Gemintang ketika memeluk Raden. Semua ketakutan, kecemasan beberapa jam lalu, tersalur lewat matanya. Raden menarik handuk pembungkus rambut yang menutupi kepala Gemintang dan melemparkannya ke lantai. Tangannya menyibakkan rambut Gemintang yang basah dan ia membenamkannya wajah Gemintang ke dadanya yang hangat.


Raden menunduk. “Ada masalah yang belum kita selesaikan, masalah antara kau dan aku, Gemintang.”


Gemintang mengangkat wajahnya yang bercucuran air mata, menatap Raden. Sambil tersenyum ia berkata, “Ya, kita harus menyelesaikannya.”

__ADS_1


Raden menjulurkan tangan ke belakang, untuk menutup pintu kamar Gemintang.


__ADS_2