Dalam Derasnya Hujan

Dalam Derasnya Hujan
BAB 14


__ADS_3

"Maafkan aku, Raden. Aku tidak tahu kau ada di sini.”


“Tidak apa-apa,” jawabnya dalam keremangan. “Ini kan rumahmu.”


Gemintang membiarkan pintu di belakangnya menutup dan duduk di kursi goyang. Ia menarik napas, menghirup dalam-dalam udara malam yang sejuk. Ia memejamkan matanya yang letih sambil menyandarkan kepala pada sandaran kursi goyang. “Ini rumahmu, Raden. Aku hanya tamu selama....”


“Selama ayahku masih hidup.”


“Ya.”


Raden tidak menanggapi. Ia terlalu letih untuk berargumentasi. “Apa kau tidak kembali ke rumah sakit?”


“Aku baru saja menelepon rumah sakit, perawat mengatakn jika akhirnya mereka berhasil menyuntikan obat yang tadi agar daddymu bisa tidur. Kata dokter, aku tidak perlu datang. Guntur tidak mengenali siapa pun, dan menurutku juga akan lebih baik bila aku tinggal di rumah, banyak urusan pabrik yang harus diselesaikan."


“Aku tidak suka berada di rumah sakit saat daddy sadar."


Gemintang mengelus dahinya seakan kepalanya sudah sakit akibat teriakan marah yang akan dilontarkan Guntur saat di rumah sakit tadi. “Aku juga.”


“Seringkah dia memperlakukanmu kasar seperti tadi?”


“Tidak. Tak pernah. Aku pernah melihat daddymu memarahi orang-orang. Kemudian diam-diam aku menemui orang itu dan menenangkan mereka. Hari ini pertama kalinya aku menjadi sasaran kemarahannya.”


“Kalau begitu kau beruntung,” ucap Raden. “Ia selalu bersikap begitu pada ibuku, selalu, bahkan hal kecil sekalipun bisa menyulut kemurkaannya.”Raden meninju lengan kursi. ”Ada saat aku ingin sekali menghantam mulutnya yang jahat itu sekuat-kuatnya. Bahkan ketika masih kecil pun, aku sudah sangat membencinya karena membuat ibuku tidak bahagia padahal ibuku sudah memberikan segalanya padanya. Segalanya.” Raden melirik Gemintang. "Mau kubuatkan minum?” tanya Raden.


“Tidak, terima kasih.”


Raden menarik napas dalam kegelapan. “Maafkan, aku lupa. Kau tidak suka minuman keraskan?”


“Meski ayahku pemabuk, aku tidak suka minuman beralkohol.”


“Kalau begitu aku juga tidak minum.” Raden bersandar di salah satu pegangan kursi yang didudukinya dan meletakkan gelas di lantai.


“Jangan begitu. Aku tidak keberatan kau minum."

__ADS_1


Mata Raden beradu pandang dengan mata Gemintang dalam kegelapan yang memisahkan mereka, namun Gemintang lebih dulu membuang muka.


“Kata Heny, ayahmu sudah meninggal,” ujar Raden, ia sama sekali tidak menyentuh gelas yang diletakkannya di lantai.


“Ya. Lima tahun yang lalu ada orang yang menemukan ayahku tewas di parit di tepi jalan tol. Katanya, serangan jantung. Kurasa akhirnya ia berhasil juga meracuni dirinya sendiri.”


“Ibumu?”


“Beliau meninggal beberapa tahun yang lalu.” Tak terlihat emosi apa pun terpancar di mata Gemintang, ia memandang jauh ke depan. Usia ibunya belum genap lima puluh tahun, namun tubuh beliau bungkuk dan keriput beliau meninggal kemungkinan karena letih.


Raden bangkit dari kursi, lalu duduk di anak tangga paling atas, yang lebih dekat dengan tempat duduk Gemintang. Sambil menyilangkan kaki, Raden memiringkan tubuh dan bertumpu pada siku. Pundaknya menyentuh kerangka kursi goyang, hampir menyentuh betis Gemintang. “Coba ceritakan padaku, Gemintang. Apa yang terjadi setelah aku pergi?”


Betapa ingin Gemintang menjulurkan tangan dan membelai rambut Raden, menyibakkan rambut hitam tebal itu dengan jemarinya. Tubuh Raden tegap dan tinggi, aura maskulinnya begitu terpancar.


“Aku berhasil menyelesaikan SMU-ku, dan dapat beasiswa untuk melanjutkan ke universitas.”


“Beasiswa? Bagaimana bisa?” Seketika Raden menoleh ke arah Gemintang.


“Entahlah.”


Raden menunggu penjelasan Gemintang, sehingga Gemintang terpaksa harus bercerita. “Suatu hari, Kepala Sekolah memanggilku ke kantor. Tepatnya beberapa hari sebelum pengumuman kelulusan. Kepala Sekolah bilang aku dapat beasiswa dari seseorang yang tidak mau disebutkan namanya. Orang itu akan menanggung semua biaya kuliahku. Bahkan aku dapat uang tambahan lima juta perbulan. Sampai hari ini aku tidak tahu siapa orang yang memberikan beasiswa itu padaku.”


“Ya, ampun,” ujar Raden sambil menahan napas, ia teringat jika dulu Heny pernah menceritakan padanya di salah satu suratnya yang biasanya berisi gosip, tentang ' Seorang anak perempuan' yang akan kuliah. (Raden, kau mungkin tidak mengenalnya, di desa ini ada seorang wanita yang usianya beberapa tahun di bawahmu, dia anak seorang pemabuk. Tapi, gadis itu ke kota dan melanjutkan sekolahnya, semua orang di desa ini heran bagaimana gadis itu mampu membiayai kuliahnya?) isi surat Heny.


Tak lama setelah itu Raden mendapat surat dari Laura (“Daddy menceritakan padaku hari ini, ada gadis yang bernama Gemintang Dahayu menikah dengan teman kuliahnya. Daddy bilang, dulu gadis itu pernah bekerja di sini, apa kau mengenalnya?).


“Setelah meraih gelar sarjana, aku kembali ke desa ini,” lanjut Gemintang.


“Pernikahanmu pasti tidak bertahan lama.”


Tatapan mata Raden yang penuh selidik membingungkan Gemintang. “Pernikahan?”


“Dengan teman kuliahmu.”

__ADS_1


Gemintang menatap Raden, seakan Raden sudah linglung. “Aku tak mengerti arah pembicaraanmu, Raden. Pergi kencan pun aku tak pernah, apalagi menikah. Agar tetap mendapatkan beasiswa, aku harus mempertahankan nilai kuliahku, paling tidak nilaiku harus B. Aku menghabiskan waktu dengan terus-menerus belajar. Bagaimana kau bisa mengira aku sudah menikah?”


Raden terkejut. Mungkinkah Laura mengarang‐ngarang cerita itu? Tidak. Laura tidak mengenal Gemintang, setelah bekerja di perusahaan daddy baru ia mengenalnya.


Daddy.


Sepintas kecurigaan menyelinap di benak Raden. Apa yang melintas di benaknya terlalu mengerikan, bahkan untuk dipikirkan sekalipun. Tetapi bila berkaitan dengan Daddy…


“Aku dengar kau menikah. Aku lupa siapa yang menyampaikan kabar itu padaku.”


“Siapa pun orang itu, ia keliru. Aku tidak pernah menikah selagi kuliah, aku hanya menikah…”


“Dengan daddyku.”


Sesaat Gemintang terdiam, kemudian ia bertanya tentang apa yang terpendam dalam hatinya selama bertahun-tahun. “Apa yang terjadi antara kau dan Willona?”


“Perang Dunia Ketiga,” jawab Raden sambil tertawa. Gemintang tidak memberi tanggapan sepatah kata pun. Ia duduk dengan sikap tegang, jari-jarinya bertaut. “Sejak awal sudah berantakan. Ia tidak menginginkan bayi itu. Ia manfaatkan kehamilannya untuk menjeratku agar menikahinya, dan setelah Alyssa lahir, kami mengurus perceraian.”


“Kau pernah melihat anak itu? Alyssa?”


“Tidak. Tidak pernah,” jawab Raden. Ekspresi wajahnya sulit ditebak, tapi dari nada bicaranya jelas ia menutup topik pembicaraan. Sikapnya itu menyakitkan hati Gemintang, mengetahui Raden tidak mencintai anaknya, anak satu-satunya. Bisa-bisanya ia punya perasaan seperti itu? Bertahun‐tahun setelah kenangan yang indah bersama Raden, Gemintang bermimpi punya anak dari Raden. Bayi itu akan jadi bukti begitu istimewanya Raden bagi dirinya.


“Akhirnya kami bercerai, perceraian yang memakan waktu sangat lama karena aku lebih memusatkan perhatian pada bisnis penerbangan yang baru kurintis.”


“Aku bangga padamu, Raden,” komentar Gemintang dengan lembut dan tulus, membuat Raden menoleh.


Senyumnya getir. “Ya, tapi aku kerja seperti orang gila supaya bisa mencapai target. Itulah satu-satunya hal yang memenuhi benakku dan menghindarkan aku memikirkan… hal‐hal lain.”


“Hal lain? Rumah?”


Lama mata Raden tertuju pada Gemintang. Sorot matanya tajam menusuk. “Ya,” jawabnya pendek lalu berdiri. Dengan membelakangi Gemintang, Raden menyandarkan tubuhnya pada salah satu pilar rumah. “Rumah ini, Laura, Daddy, Pabrik, dan kampung ini. Sebetulnya aku tidak pernah ingin meninggalkannya.”


“Kau mempunyai kehidupan baru di Jakarta…”

__ADS_1


“Ya," jawabnya singkat.


__ADS_2