Dalam Derasnya Hujan

Dalam Derasnya Hujan
BAB 37


__ADS_3

"APA YANG KAULAKUKAN?” tanya Raden.


“Menunggumu," jawab Gemintang singkat. “Kurasa kita harus bicara.”


“Tidak ada yang perlu di bicarakan semua sudah selesai," tolak Raden.


"Jangan pura-pura bodoh, Raden."


“Bodoh?” ulang Raden, alis matanya yang hitam berkerut. “Kini kau menjadi nyonya rumah, yang sejak dulu kau dambakan.”


Cahaya lampu di teras itu remang-remang, hari sudah larut malam. Raden tidak pulang untuk makan malam, tapi Gemintang tidak yakin Raden akan pulang untuk Laura.


Raden tidak akan meninggalkan rumah sebelum berpamitan dengan adiknya. Oleh sebab itu ia menunggu sampai Raden pulang.


“Aku tidak menyalahkanmu bila kau marah.”


“Terima kasih.”


“Raden, jangan begitu.”


“Jangan begitu apa?”


“Jangan salahkan aku gara-gara surat wasiat Guntur! Aku tak tahu-menahu soal itu. Aku sama bingungnya denganmu. Mengapa kau tidak menentangnya?”


“Membuat Guntur dan seluruh penduduk kota puas karena aku tidak lagi tinggal di sini. Tidak, terima kasih.”


Ingin sekali rasanya Gemintang berteriak Guntur sudah mati. Kapan perang antara ayah dan anak ini akan berakhir? Dengan berusaha setenang mungkin, Gemintang berkata, “Tak peduli apa isi lembar surat wasiat itu, rumah ini tetap milikmu, Raden. Selamanya akan menjadi milikmu. Kau bisa tinggal di sini seumur hidupmu bila mau.”


Raden tertawa, tetapi bukan tawa gembira. “Isi surat wasiat itu menetapkan hanya Laura yang bisa menempati rumah ini selama hidupnya, bukan aku. Kemurahan hatimu sungguh terpuji, stepmom,” ucap Raden sambil membungkukkan badan sampai pinggang.


Gemintang tersentak mendengar kata-kata Raden yang menyakitkan, tetapi ia tetap mengangkat dagu. “Aku mengerti, kau ingin menyakitiku. Tapi baiklah, andai hal itu membuat perasaanmu lebih tenang, silakan. Silakan panggil aku dengan sebutan menjijikkan itu.”


Secepat kilat tangan Raden terjulur, menangkap ikat pinggang yang melilit pinggang Gemintang dan menariknya ke tubuhnya, ia ingin meninju ikat pinggang itu namun ia tak ingin menyakiti Gemintang.


Raden menghela napas beratnya, kemudian ia meletakkan kepalanya di dada Gemintang dan merintih.


“Maafkan aku, Gemintang, maafkan,” ucapnya sambil menarik napas. “Ya, aku marah besar. Tapi ukan padamu, padanya daddyku. Sialnya, tak ada cara untuk menghidupkannya kembali. Dia sudah mati. Aku tidak bisa melawan bajingan itu. Aku tak punya cara untuk memuntahkan kemarahan dalam diriku.”


Dipukulkannya tinjunya pada pegangan tangga yang terbuat dari kayu, Gemintang langsung mendekat untuk menenangkannya tetapi ia menarik tangannya kembali sebelum menyentuh Raden. Gemintang tak ingin Raden salah sangka, mengira ungkapan cintanya sebagai sikap iba dan akan sangat membencinya.


“Ke mana saja kau tadi?” tanya Gemintang lembut.


Raden menarik napas dalam-dalam, membuat dadanya mengembang dan kancing bajunya terbuka, menampakkan bulu dadanya yang ikal lagi lebat. “ Keliling-keliling desa.” Raden menatap Gemintang.

__ADS_1


"Aku mencintai desa ini, Gemintang. terlepas dari ketidaksempurnaannya, aku tetap mencintai desa ini. Sebagaimana aku mencintai Laura dengan segala kekurangan. Aku selalu merindukan pulang, ketika aku pergi merantau ke Jakarta.”


“Jadi, kau mau pergi?”


“Besok pagi.”


Seperti tertusuk pisau tepat di jantung, Gemintang memegangi dadanya. Begitu cepat! Raden akan pergi dan kali ini mungkin saja Raden tidak akan pernah kembali lagi. “Raden, daddymu monster macam apa? Manusia macam apa dia itu, sampai tidak mewariskan apa pun kepada putranya?”


Raden melihat air mata dan kepedihan di wajah Gemintang dan tahu itu ditujukan untuk dirinya, betapa ingin Raden memeluknya. Ingin ia membenamkan kepalanya di tubuh Gemintang dan mencium aroma tubuhnya. Ingin ia menekankan bibirnya di kulit Gemintang, betapa ingin ia dihibur oleh Gemintang.


Namun ia ingat dengan kata-kata. Kau tak bisa lagi memiliki perempuan itu sekarang, Raden. Gemintang istriku dan aku yang memilikinya.


“Luapakan soal warisan, ini sudah malam, ayo kita istirahat!” Raden melewati Gemintang dan naik ke lantai dua.


Perlahan Gemintang mengikutinya dari belakang dan masuk ke kamar tidurnya yang berada di sebelah kaamar Raden. Gemintang melepas mantelnya, berbaring di tempat tidur, membayangkan Raden yang akan pergi besok.


Lamunannya buyar ketika ia terdengar dering telepon, Gemintang bangun dari tempat tidur untuk menerima telepon dan menempelkannya di telinga.


“Halo.”


Begitu mendengar suara di telepon, Gemintang langsung meletakkan telepon dan lari ke pintu kamar, bahkan tanpa memakai mantel. Kakinya yang telanjang seperti terbang melintasi lorong berlantai kayu yang gelap itu.


Ia menerobos masuk ke kamar Raden, langsung mendekati tempat tidurnya. Tangannya langsung mendarat di punggung Raden yang tanpa mengenakan baju. “Raden, Raden, bangun.”


“Pabrik terbakar!”


Kaki Raden yang telanjang langsung turun ke lantai berbarengan, hampir menubruk Gemintang. Tangannya menyambar celana jins dan kaos yang terlipat di kursi. “Dari mana kau tahu?”


“Andi yang menelepon.”


“Parah?”


“Ia belum tahu.”


“Bagaimana pemadam kebakaran?”


“Sudah dihubungi.”


“Ada apa ribut-ribut di sini?” Heny bertanya dari ambang pintu sambil mengikat tali mantelnya di pinggang.


“Pabrik terbakar.”


“Oh, Tuhan!”

__ADS_1


Gemintang meninggalkan kamar Raden sambil lari. Raden hampir siap berpakaian, Gemintang hendak pergi ke pabrik bersamanya. Ia memakai baju yang diambilnya, kemeja tua dan celana selutut dari bahan denim. Kakinya hanya mengenakan sepatu sandal. Bukan pakaian yang cocok untuk melihat tempat yang kebakaran, tetapi ia sudah mendengar langkah kaki Raden menuruni anak tangga. Cepat-cepat ia lari mengejarnya.


“Raden, tunggu!”


“Kau di sini saja,” teriak Raden sambil lari ke pintu depan.


“Tidak bisa.” Gemintang sudah berada di belakang Raden.


“Ada apa?” Laura yang kelihatan seperti boneka berpipi kemerahan, memakai baju tidur, menuruni anak tangga.


“Pabrik terbakar, Raden dan Gemintang akan pergi ke sana,” Heny memberi penjelasan.


“Pabrik terbakar?” ulang Laura.


Raden menghidupkan mesin mobilnya. Heny dan Laura berdiri di teras, tangan mereka bergandengan, sementara Gemintang meminta Raden membukakan pintu mobil.


“Kau tak usah ke sana!” teriak Raden.


“Kalau kau tak membukakan pintu ini, aku akan naik mobilku sendiri, sehingga kau tidak akan tahu aku nanti berada di mana.”


Dengan terpaksa Raden membuka pintu mobil untuk Gemintang. "Masuklah!!"


Adit mendengar suara ribut-ribut itu, ia berjalan memasuki halaman dengan langkahnya yang terpincang-pincang. “Ada apa?”


“Kebakaran di pabrik,” jawab Gemintang.


“Aku akan membantu.”


“Jangan, Adit!” cegah Laura.


“Adit, kau tinggal di rumah bersama Laura dan Heny,” ucap Gemintang lewat jendela mobil.


“Benar. Kau di sini saja,” ujar Raden pendek. Mobil mulai bergerak, tetapi Adit masih memegangi pintu mobil dan Raden tidak bisa mempercepat lajunya.


Sambil menatap mata Raden dengan sorot tulus, ia berkata,” Kau butuh pertolonganku lebih dari pada mereka. Aku ikut.”


“Adit!” teriak Laura, langsung lari mendekati Adit, menyelipkan tangannya di pinggang Adit. “Jangan pergi. Aku mengkhawatirkanmu.”


“Hei,” jawab Adit, membuat Laura mengangkat kepalanya, “aku berharap kau bisa menenangkan Heny dan menyiapkan sarapan pagi untuk kami waktu kami kembali. Oke?”


Mata Laura berbinar-binar memandang Adit. “Baiklah, Adit. Hati-hati.”


“Pasti.” Adit cepat-cepat mencium bibir Laura dengan lembut, lalu ia masuk ke mobil.

__ADS_1


Sejenak Raden menatap laki-laki itu dengan pandangan nanar, kemudian ia menekan pedal gas, dan dengan suara mencicit mobil melaju cepat.


__ADS_2