
Cuaca cerah menyambut puncak acara HUT kota dimana Gemintang dilahirkan, Gemintang memutuskan memakai setelan jas barunya, ia tak ingin kulitnya yang mulus tersengat matahari.
Setelah mengetuk pintu kamar Gemintang perlahan, Heny masuk membawa nampan. “Nyonya harus banyak istirahat. Tapi aku tahu, nyonya pasti kesal karena aku sering mengingatkan hal itu."
“Terima kasih, Haney.” Di atas nampan yang ia bawa terhidang seteko teh, minuman yang dipilih Gemintang belakangan ini ketimbang kopi. Selain teh ada pula segelas jus jeruk, dan dua potong pancake. “Ya, sekarang aku lebih sering hanya berbaring, bermalas-malasan.”
“Tidak apa-apa, hari ini nyonya akan banyak menguras tenaga jadi butuh banyak istirahat. Mau kupijat? Atau kusiapkan air mandi?”
“Tidak usah Heny, aku sudah menyiapkan pakaian,” ucap Gemintang, sambil duduk di kursi di samping meja tempat Heny meletakkan nampan. Gemintang menuangkan teh ke cangkir. “Barangkali enak juga mandi pakai air panas. Udara di luar dingin.”
Heny ke kamar mandi, sambil terus mengoceh soal acara ulang tahun kota ini. Gemintang hampir tak mendengarkannya ketika ia menyeruput teh.
“Airnya sudah siap. Kenapa nyonya tidak memakan pancakenya? Bukannya semalam nyonya minta pancake?”
“Aku tidak lapar.”
Setiap kali membayangkan berdiri di hadapan orang banyak untuk menerima penghargaan itu, Gemintang langsung mulas. Andai ia melahap pancake itu, tentu akan sangat berbahaya.
Heny mengamati Gemintang yang bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke lemari untuk mengambil handuk piyama. Di balik gaun tidurnya, Heny melihat berat badan Gemintang banyak berkurang. Tubuhnya yang dulu ramping kini hanya tinggal tulang dibalut kulit, menurut Heny. “Apakah dia akan hadir?” Heny membungkuk, merapikan seprai tempat tidur Gemintang.
“Siapa?” Sebenarnya Gemintangtahu yang Heny maksud adalah Raden., “Ah, entahlah.” Gemintang masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya, menutup pembicaraan yang menyinggung soal Raden.
Sejam kemudian, saat Gemintang menuruni tangga, Adit bersiul. Laura bertepuk tangan. Wajah Heny memancarkan ekspresi prihatin bercampur bangga.
__ADS_1
“Wow, luar biasa!” puji Adit.
Gemintang tertawa dan ketiga orang yang memerhatikannya memandangnya dengan penuh kagum sambil berseru-seru. Gemintang jarang sekali tertawa belakangan ini. “Bagaimana kelihatannya?”
“Kau tampak cantik sekali, Gemintang,” puji Laura bersemangat. “Oh, kau sangat cantik.”
“Nyonya terlalu kurus,” komentar Heny sambil menarik bagian bahu gaun Gemintang.
“Aku mewakili keluarga ini, jadi aku harus mengenakan pakaian yang pantas.”
Gemintang memakai setelan berwarna krem yang terbuat dari wol, rambutnya dihias dengan jepitan yang warnanya hampir sama dengan setelan jasnya, ia mengenakan riasan wajahnya sederhana, untuk menyamarkan lingkaran hitam di bawah mata. Anting-anting mutiara menempel di telinganya. Ia mengenakan sepatu berhak rendah dari bahan suede warna kekuningan dan sarung tangan dengan warna senada.
“Kalian juga kelihatan keren,” puji Gemintang ketika memerhatikan mereka dengan bangga. Laura memakai gaun warna biru muda, terkesan molek seperti boneka. Adit memakai jas yang dikenakannya waktu pernikahan, dengan dasi kupu-kupu yang biasa dikenakan pada acara resmi. Heny juga mengenakan gaun cantik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alun-alun kota tempat acara tersebut di selenggarakan, penuh sesak. Tempat itu tak pernah sepadat hari ini, bahkan saat ada konser artis ibu kota sekalipun.
Gemintang duduk di barisan depan tamu undangan khusu, diapit anggota-anggota keluarganya dan Heny, yang dipaksanya menemaninya walaupun ia tak suka dengan beberapa pejabat kota.
Gemintang merasa mual.
Sekilas ia melempar pandang ke arah hadirin. Yang dilihatnya hanyalah lautan wajah yang memandangnya penuh rasa ingin tahu. Gemintang mengalihkan pandangan ke tangannya yang berada di pangkuannya, ia melihat telapak tangannya mengilap karena keringat. Jika memakai sarung tangan, tangannya akan kepanasan meskipun udara terasa dingin baginya. Ia berusaha menekan rasa mual yang sudah sampai di tenggorokannya. Ia menyesal tadi mengikat pita di lehernya terlalu ketat.
__ADS_1
Perutnya berbunyi. Mengapa tadi ia tidak makan pancake dulu? Tapi andai tadi ia memakannya, mungkin ia sudah memuntahkannya sekarang. Tetapi sekalipun tidak memakannya, ia merasa ingin muntah. Ia akan mempermalukan dirinya sendiri di hadapan seluruh penduduk kota, jika ia muntah,
Seketika ia merasa pengap, Gemintang melihat sekelilingnya. Tak ada yang kelihatan resah. Adit dan Laura tengah berbisik-bisik. Heny bertemu teman gerejanya dan asyik mengobrol.
Pantas saja terasanya pengap, termyata walikota yang duduk di depannya, melanggar aturan dilarang merokok di selama acara berlangsung, dia malah mengisap cerutu sambil berbicara dengan suara keras pada orang di sebelahnya. Bau asap cerutunya membuat perut Gemintang makin seperti teraduk-aduk.
Walikota itubu bangun dan menyalami seorang pria. "Aku sudah khawatir kau tidak bisa datang, Nak. Bagaimana kabarmu, Raden?”
Gemintang menelan ludah, ia berusaha menekan rasa mual. Sekujur tubuhnya sesaat terasa dingin, sesaat kemudian panas. Ia mendengar Raden menyapa orang-orang di sekeliling Gemintang.
Dengan ekor matanya, Gemintang melihat Heny menghampiri Raden dengan tergesa-gesa. Raden menghentikan ocehan Heny dengan mendaratkan ciuman di pipinya. Heny tampak terkesima, kemudian ia memeluk Raden. Laura melompat dari kursi dan berlari menghampiri Raden. Adit pun berdiri lalu kedua laki-laki itu berjabat tangan.
Kemudian ia melihat pria yang mengenakan celana hitam itu melangkah ke arahnya. Ia duduk tepat di sampingnya. Gemintang dapat merasakan gelombang panas dan energi yang terpancar keluar dari tubuh Raden. Karena seluruh mata penduduk kota tertuju ke arah mereka, Gemintang hanya tersenyum kecil dan mengangkat kepala sedikit ketika memandang Raden. “Hai, Raden.”
Raden menatapnya, ia terkejut melihat lingkaran hitam di mata Gemintang. Pipinya tirus, dan mukanya pucat. Gemintang kelihatan seperti orang yang tak pernah tidur dan makan.
Tetapi ia kelihatan tetap cantik.
Raden harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk meredam perasaan ingin mendekap Gemintang erat-erat. Dua bulan terakhir ini ia sangat tersiksa. Bisa dibilang menit-menit yang dilaluinya penuh kepedihan, karena ia tidak bisa mengerjakan apa-apa, kecuali memikirkan Gemintang, ia begitu merindukannya.
Persetan dengan temperamennya, Raden marah gara-gara dua pemabuk di tempat minum bicara sembarangan. Ia memuntahkan frustrasinya pada Gemintang. Kali ini Gemintang membalas tindakannya dengan sikap dinginnya, tapi ia merasa pantas menerimnya karena pergi tanpa pamit. Pria dewasa macam apa yang berperilaku demikian?
“Hai, Gemintang. Kau tampak cantik sekali,” Raden membalas sapaan Gemintang. Padahal yang ingin dilakukan Raden adalah merangkul wanita itu, meminta maaf, dan memintanya untuk menjadi miliknya selamanya.
__ADS_1