
Raden menatap wajah Gemintang dengan sorot mata penuh kemarahan dan tuntutan. Gemintang menengadahkan kepala, balik menatap Raden. “Bagaimana kau bisa hidup bersamanya, Gemintang?” tanya Raden. Raden menjauhkan diri dari dinding dan menyibakkan rambut. Ia tidak mengulang pertanyaannya, tetapi ekspresi mukanya yang tegang menuntut Gemintang menjawab pertanyaannya.
“Ia suamiku.” Pernyataan sederhana yang diucapkan Gemintang itu cukup menjawab semua pertanyaan Raden. Tetapi ternyata pernyataan itu malah menyulut kemarahan Raden.
“Mengapa kau menikah dengannya? Mengapa, oh Gemintang? Setelah apa yang terjadi di antara kita, bagaimana bisa kau menikah dengan ayahku?”
“Kau tidak fair, Raden!” tukas Gemintang, yang tersulut kemarahan juga. “Kau yang meninggalkan aku, bukan bukan aku yang meninggalkanmu.”
“Kau tahu alasanku menikahi Willona.”
“Aku tidak tahu, sebelum kejadian dua hari yang lalu, kau tidak pernah memberitahuku sebelumnya."
Raden meletakkan tangan di paha dan menatap Gemintang marah. “Jadi, kau menganggap aku main-main dengan perempuan lain, padahal yang aku lakukan se ua demi Laura dan demi dirimu."
Kekasaran sikap Raden mendorong Gemintang untuk menantang balik. “Bagaimana seharusnya aku bersikap? Kau meninggalkan aku tanpa pesan satu kata pun. Aku dengar kau menikah dengan Willona karena ia hamil. Aku harus bagaimana?
Raden mengumpat dan membalikkan badan karena tidak ingin mendengar alasan yang dikemukakan Gemintang. “Aku tidak bisa menemuimu untuk menyampaikan semuanya karena kau tidak akan percaya padaku, seperti orang-orang yang tidak percaya denganku."
“Aku mungkin bisa percaya denganmu jika kau mengatakan sungguh-sungguh."
“Kau bisa?” tanya Raden sambil membelalakkan mata ke arah Gemintang. Mata Gemintang menentang tuduhan Raden. “Tidak, tidak mungkin kau percaya,” ujar Raden pada Gemintang. “Kau akan beranggapan seperti yang lain, bahwa akulah ayah si bayi itu.”
Raden berjalan ke sofa dan mengempaskan tubuhnya, kakinya diselonjorkan. Ia menggosok-gosok mata dengan ibu jarinya. “Selain itu, aku takut kau terlibat terlalu jauh, bila aku mencoba menemuimu lagi. Aku tahu, orang di desa ini suka bergosip dan aku selalu diawasi seperti narapidana. Segala yang kulakukan akan dilaporkan ke Guntur. Aku tidak mau mengambil risiko melibatkanmu dalam masalah ini.”
__ADS_1
Gemintang berjalan keliling ruangan, mengumpulkan kartu‐kartu di karangan bunga yang dikirimkan sebelum pemakaman. “Jadi siapa ayah bayi itu, Raden?”
Dengan acuh tak acuh Raden menyebutkan nama seorang pria. Gemintang berbalik karena terkejut. “Bukankah dia pria yang menikah dengan Willona setelah kau bercerai?”
Raden tertawa. “Willona ingin segera kembali kepada kekasihnya. Tetapi sebelum perceraian, ia menguras uangku. Ternyata keluarga Willona sangat bajingan, ayahnya meberikan Guntur uang sementara, anaknya menguras habis uangku dengan alasanan selama pernikahan aku tidak pernah mencintai dan menginkannya."
“Kau pernah mencintainya?” ujar Gemintang dengan suara lirih yang hampir tak terdengar.
Raden mendongak. “Kau menuduhku mencintai wanita murahan itu? Astaga, waktu itu aku masih muda, Gemintang.” Raden kelihatan tersinggung. “Aku hanya coba-coba kencan dengannya beberapa kali. Semua laki-laki di kota ini pernah kencan dengannya. Tetapi aku masih ingat untuk memakai kontrasepsi, agar ia tidak hamil, aku tak pernah berniat menikahinya.”
Gemintang menunduk, mengamati ibu jarinya. “Benarkah kau tidak….”
“Gemintang.” Kepala Gemintang terangkat mendengar panggilan Raden yang lembut. “Kau ingin tahu apakah aku kencan dengan wanita lain ketika bersamamu?” Mata Gemintang nanar menatap Raden. “Tidak,” jawab Raden. “Aku tidak bersama perempuan mana pun setelah mengenalmu."
“Apakah kau benar-benar mengatakan kepada Gun… Daddymu… kau ingin menikah denganku?”
Mereka saling pandang beberapa saat, sebelum Gemintang mengangkat kepala dan berbalik. “Lalu sekarang bagaimana dengan, Alyssa?”
Raden tersenyum, sebelum berkata dengan raut wajah sedih, “Ia gadis baik.”
Suara Raden yang lembut membuat Gemintang kembali menghadap ke arahnya. “Kau menyayanginya?” tanya Gemintang.
Tanpa malu-malu Raden mengangkat wajahnya. “Ya,” jawabnya, sambil tertawa kecil. “Gila, ya? setelah dia lahir, aku ingin membesarkannya.”
__ADS_1
Hati Gemintang tersentuh mendengar perkataan Raden. Ia duduk di sebelah Raden di sofa. “Bukan ingin ikut campur urusanmu, Raden. Tetapi bila kau bersedia menceritakannya padaku, aku akan mendengarkan.”
Raden memandang wajah Gemintang. “Kau selalu bersedia mendengarkan semua ceritaku. Coba ceritakan, apakah kau duduk di dekat kaki Daddy dan mendengarkan semua ceritanya ketika ia mencurahkan isi hatinya padamu?”
Gemintang menggumamkan suara seperti tercekik sambil berdiri. Raden menangkap tangannya dan memintanya tetap duduk di sofa. “Maafkan aku. Duduklah.” pintanya.
Gemintang meronta berusaha melepaskan tangannya, dengan gerakan cepat Raden menariknya dan mendudukkannya kembali di sofa. “Aku sudah minta maaf. Aku tak sengaja, itu kebiasaan yang sulit kuhilangkan. Bila kau ingin mendengar cerita tentang perkawinanku yang menyakitkan itu, aku bersedia menceritakannya padamu. Kau sudah tahu tentang kebrengsekan diriku, jadi kau juga harus tahu soal itu.”
“Sudah kubilang, aku tidak ingin ikut campur urusanmu.”
“Dan aku percaya,” potong Raden.
“Oke?” Gemintang mengangguk.
Raden melepaskan genggamannya tangannya. “Willona sebenarnya tidak mencintaiku, tapi Willona harus mengatakan aku ayah dari anak yang di kandungnya agar Willona tidak dibuang keluarganya. Akhirnya kami meninggalkan kota ini, dan pindah ke Jakarta. Di sana aku harus bekerja karena tidak ingin minta satu sen pun dari ayahku. Perkawinan kami memburuk, tetapi aku sangat menyayangi Alyssa. Begitu bayi itu dilahirkan, ayah kandungnya muncul lalu ia dan Willona membawanya pergi.”
“Kau tidak keberatan?”
“Tidak. Aku juga ingin cepat-cepat terbebas darinya. Tetapi aku mengkhawatirkan bayi itu karena Willona bukanlah ibu yang baik. Ketika Willona mengajukan gugatan cerai dengan alasan mendapatkan penyiksaan mental, aku tidak menyangkal, tetapi Willona masih belum puas, dia menuntut uang tunjangan. Singkat cerita, aku harus kerja siang-malam bertahun-tahun hanya agar terbebas darinya. Aku sedih harus kehilangan Alyssa, tetapi Willona menuntut anak itu di bawah asuhannya.”
“Apa Alyssa tahu kau bukan ayah kandungnya?” Gemintang tidak dapat menahan rasa ingin tahunya tentang gadis kecil itu.
“Oh ya,” jawab Raden kesal. “Usia Alyssa hampir tiga tahun ketika surat cerainya keluar. Ia menangis, memelukku erat-erat ketika Willona menariknya dari dekapanku. Mereka kembali ke kota ini, aku tetap tinggal di Jakarta. Alyssa memanggilku Daddy, menangis ingin tatap bersamaku. Namun, Willona mengatakan padanya aku bukanlah ayahnya, jika ia tinggal bersama ayah kandungnya makan ia harus ikut dengan ibunya meninggalkan Jakarta karena aku bukanlah ayahnya.”
__ADS_1
“Oh, Raden,” gumam Gemintang, gemetar membayangkan peristiwa yang mengerikan itu.
“Sekarang usianya sebelas tahun. Kudengar ia agak binal.” Raden menggeleng sedih. “Padahal Alyssa itu gadis kecil yang sangat baik. Sekarang ia punya sederet ‘ayah tiri’. Aku tidak yakin ia ingat padaku.”