Dalam Derasnya Hujan

Dalam Derasnya Hujan
BAB 33


__ADS_3

Di super marketlah pertama kali Gemintang mendengar hal tentang dirinya ramai digosipkan orang-orang.


Heny menelepon pabrik, meminta Gemintang singgah ke super market sebelum pulang. Gemintang mencatat barang‐barang yang diminta Heny. “Terima kasih atas bantuan nyonya,” ucap Heny.


“Terima kasih kembali,” jawab Gemintang. “Aku akan pulang secepatnya. Raden akan pulang dari pabrik setelahnjam kerja sore selesai, berarti kau bisa menyiapkan makan malam setengah jam lebih lambat dari pada biasanya.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gemintang tengah mendorong kereta belanja di lorong super market sambil memeriksa daftar belanjaan yang harus dibeli, ia melihat dua ibu yang memandanginya dengan terang-terangan.


Gemintang mengenal mereka berdua. Salah seorang di antaranya penggosip nomor satu di desa ini, wanita itu punya putri yang usianya sama dengan Gemintang, yang kini menikah dengan buruh pabrik yang bekerja di pabriknya.


Kabarnya menantunya itu sering mabuk sehingga sering dipecat dari pekerjaannya sebelum bekerja di pabriknya. Sementara putrinya dulu sangat populer, salah satu anggota “geng”, kelompok yang tidak mau bergaul dengan Gemintang. Namun yang menyakitkan, kini justruorang yang dulunya di jauhi, malah memberikan lapangan pekerjaan untuk suami wanita itu.


Ibu yang satu laginya tak jauh berbeda kondisinya dengan ratu gosip tadi, dia hanyalah buruh cuci keliling yang di tinggal oleh suami berselingkuh.


Tidak perlu menghindari mereka, batin Gemintang, meyakinkan diri. la mengangkat dagu dan sengaja mendorong kereta belanja melewati mereka.


“Halo, Bu Lani, Bu Widya.”

__ADS_1


"Hai nyonya Buana,” jawab mereka serentak. Sikap pura-pura mereka jelas terlihat. “Kasihan sekali Anda,” kata salah seorang ibu. “Bagaimana keadaan Anda sekarang, setelah tuan Buana meninggal?”


“Aku rasa pemakamannya berjalan sangat baik. Sangat baik meski tak ada pembacaan doa di gereja,” sahut ibu yang lain.


“Terima kasih, saya baik-baik saja," ucap Gemintang dengan penuh wibawa. Seharusnya Gemintang langsung mendorong kereta belanjanya, karena tak perlu meladeni dua ibu-ibu tadi, tetapi salah seorang di antara mereka mengajak Gemintang bicara.


“Pasti Anda terhibur Raden ada di rumah pada saat berduka seperti ini.”


Hati-hati, Gemintang, batin Gemintang mengingatkan dirinya. Mereka ganas seperti ikan paus, dan mereka bisa mencabik-cabik dirimu. “Kepulangan Raden ke rumah sangat berarti buat Laura dan Heny, asisten rumah tangga kami. Terutama, dalam situasi seperti sekarang ini, mereka senang sekali Raden ada di rumah lagi.”


Ibu-ibu itu benar-benar menyimak setiap kata yang meluncur keluar dari mulut Gemintang. “Berapa lama ia akan tinggal di sini? Bukankah bisnisnya sukses di Jakarta? Di mata dia, pastilah kita hanya orang‐orang kampung.”


Jawaban Gemintang makin membangkitkan rasa ingin tahu mereka. Mereka makin seperti binatang buas yang mengerumuni mangsa dan siap melahapnya. “Tetapi bagaimana dengan Anda? Setelah Anda menikah dengan tuan Buana, tidakkah rumah mewah itu akan menjadi milik Anda Atau Anda merencanakan tinggal di sana bersama-sama? Seperti satu keluarga besar?”


“Kami memang satu keluarga besar,” ucap Gemintang sambil tersenyum dingin. “Satu keluarga besar yang sangat bahagia.”


“Oh, pasti,” jawab mereka, mengiakan penuh semangat.


“Sampaikan salam saya untuk Sarah,” ucap Gemintang kepada ibu teman sekelasnya sambil menjauh. “Saya dengar ia punya anak lagi.”

__ADS_1


“Yang keempat.” ucap ibu itu sembari memandangi Gemintang yang memakai gaun cantik, ibu terlihat sangat iri. “Sayang sekali tuan Buana tidak memberikan seorang anak pun. Anak bisa menjadi hiburan yang menyenangkan di saat duka.” Itulah keprihatinan yang paling palsu yang pernah didengar Gemintang dalam hidupnya. Andai Gemintang tidak sedang bergulat menahan marah, ia pasti sudah menertawai sikap yang sangat berpura-pura itu.


“Untuk apa ada anak?” ucap salah seorang ibu-ibu dengan sepasang mata yang memandang Gemintang dengan penuh kedengkian, penuh prasangka, ia menatap tubuh Gemintang dari atas ke bawah. “Kan ada Raden yang bisa menemaninya tinggal di rumah itu dan memberikan hiburan yang dibutuhkannya.


“Oh, ya, Raden. Kita tidak boleh lupa, ada Raden tinggal bersama dia.”


“Selamat sore, permisi,” sahut Gemintang, bergegas. Ia memaksakan diri mengambil barang-barang dalam daftar yang harus dibeli sebelum akhirnya ia pergi ke kasir dan meninggalkan super market tersebut.


Penghinaan itu membuat matanya terasa panas, selama Guntur hidup, tak seorang pun berani berkata seperti itu padanya, ya mungkin karena mereka takut dengan Guntur, sehingga mereka harus menghormati istri Guntur Buana, seberapa dalam pun iri hati mereka.


Ternyata, menjadi jandanya tidak demikian situasinya, ia kembali menjadi Gemintang Dahayu dan tampaknya stigma latar belakang kehidupan itu akan tetap melekat padanya seumur hidup. Tak peduli betapa pun bersihnya hidup seseorang, bila ia dibesarkan dari golongan terbuang, moralnya akan tetap diragukan.


Mengapa ia tidak meninggalkan kota ini, yang penuh orang-orang picik dan penuh prasangka?


Untuk alasan yang sama, Raden juga tidak bisa meninggalkan kota ini. Akar mereka sudah tertanam terlalu dalam. Raden berada pada status sosial paling tinggi dalam masyarakat, sementara dirinya paling bawah, tetapi cintanya terhadap kota ini sama dalamnya dengan Raden.


Menjengkelkan memang, menjadikan kota ini sebagai kota kelahiran, tanpa ada harapan untuk bisa mengubahnya. Tidakkah orang-orang itu melihat bahwa ia mampu mengelola salah satu pabrik getah karet yang terbaik, terbesar, di daerah sini? Tidakkah mereka memperhitungkan bahwa ia punya gelar sarjana? Atau justru prestasi-prestasi yang dicapainya menyulut kecemburuan mereka?


Mengapa Gemintang tidak tinggal di kota lain saja, di tempat yang tidak tahu latar belakang hidupnya?

__ADS_1


__ADS_2