
Setelah mesin mobil dimatikan, segalanya menjadi senyap. Raden mematikan lampu mobil dan menurunkan atapnya. Sinar rembulan yang cerah menimpa wajah mereka. Sementara angin yang bertiup semilir mempermainkan rambut mereka.
Raden merentangkan tangan ke sandaran tempat duduk Gemintang. Lutut Raden menyentuh lutut Gemintang ketika ia berputar hendak menatap Gemintang. Gemintang dapat mencium aroma minyak wangi yang dipakai Raden, melihat bayang-bayang kumis halus yang tumbuh. Raden bukan anak-anak lagi, ia laki-laki dewasa. Gemintang belum pernah berkencan, belum pernah berduaan saja dengan pria.
Menyadari Raden tak bicara sepatah kata pun, Gemintang melanjutkan menyedot minuman. Raden mengamatinya dengan saksama. Gemintang melihat Raden memerhatikan bibirnya yang menyedot minuman. Terdengar suara keras ketika akhirnya minumannya habis. Ia menatap Raden dengan perasaan malu.
Raden tersenyum. “Enak milk shake-nya?”
“Enak sekali. Terima kasih.” Gemintang memberikan gelas kosongnya kepada Raden, yang kemudian Raden menyelipkannya ke bawah bangku.
Ketika tegak kembali, Raden agak memiringkan tubuh sehingga wajah mereka berhadapan. Malam itu percakapan mereka berakhir karena rasa ingin tahu yang besar.
Gemintang mengamati Raden dengan teliti, begitu juga pria itu. Gemintang melihat tatapan Raden menjelajahi seluruh wajah, rambut, leher, dan dadanya, dan hal itu membuat Gemintang merasa tubuhnya panas dan seperti dijalari perasaan nikmat yang aneh, yang membuat tubuhnya bagai melayang. Namun ada perasaan berat yang menggelayuti bagian bawah tubuhnya. Semacam hawa panas, yang tak pernah dirasakannya namun terasa nikmat, perasaan terlarang tetapi terasa menyenangkan, perasaan yang kini mulai menjalari pembuluh nadinya.
Raden meletakkan ibu jarinya di bibir bawah Gemintang, menelusuri bibir bawah itu dengan jemarinya. Gemintang merasa seperti akan mati kehabisan napas. Mendadak ia merasa tidak bisa bernapas.
“Kau cantik sekali,” puji Raden dengan suara parau.
“Terima kasih.”
“Berapa usiamu?”
“Lima belas.”
__ADS_1
“Lima belas.” Raden memalingkan wajah dari Gemintang. Namun, seakan tak mampu mengendalikan dorongan hatinya, kembali ia memandangi Gemintang. “Aku memikirkanmu sepanjang hari sejak bertemu denganmu di hutan itu.” Tangannya mengelus pipi Gemintang sekarang, dan ibu jarinya mengelus bibir bawahnya.
“Benarkah?”
“Mmm,” Raden bergumam. “Sepanjang hari hanya kau yang ada dalam benakku.”
“Aku juga memikirkanmu.”
Pernyataan Gemintang kelihatan menyenangkan hati Raden. Ia tersenyum sambil memiringkan tubuh. “Apa yang kaupikirkan?”
Pipi Gemintang memerah, ia merasa lega kegelapan menyembunyikan wajahnya yang merah padam karena disergap perasaan malu. Untuk menghindari tatapan Raden, Gemintang mengarahkan pandangannya ke leher Raden, ke bagian yang tak tertutup kemeja. “Banyak hal,” jawab Gemintang dengan suara parau.
“Banyak hal?” Raden tersenyum. Namun itu hanya sekadar senyum sekilas, yang tidak mampu mengalihkan tatapannya dari wajah Gemintang. “Apakah kau memikirkan…” Raden tampak mencari kata-kata yang tepat.
“Apakah kau memikirkan kita… bersama? Mungkin saling menyentuh?”
“Menyentuh?” ulang Gemintang dengan napas sesak.
“Berciuman?”
Bibir Gemintang membuka, tetapi tidak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Ia tidak mendengar suara apa-apa, kecuali debar jantungnya sendiri.
“Kau pernah dicium?” tanya Raden
__ADS_1
“Ya, beberapa kali,” jawab Gemintang, berdusta padahal dekat dengan pria apa lagi sampai pacaran ia tidak penah.
“Kau masih terlalu kecil,” gumam Raden, sambil menutup mata sejenak sebelum akhirnya membukanya kembali. “Apakah kau takut bila aku menciummu? Apakah aku boleh menciummu?” tanya Raden lembut sambil mengelus rambut Gemintang.
“Aku tidak takut padamu, Raden.”
“Aku ingin menciumu, Gemintang…” bisik Raden sambil bergerak mendekat. Gemintang merasakan napas Raden menerpa wajahnya dan ia memejamkan mata. Kemudian bibir Raden menyentuh bibirnya denga lembut, tak bergerak, ragu‐ragu.
Ketika Gemintang hendak menarik bibirnya, Raden memiringkan kepala, lalu menekan lebih keras. Berkali‐kali bibir Raden bertemu bibir Gemintang, mengecup sekilas, memberikan ciuman-ciuman kecil, yang membuat Gemintang terbakar keinginan menggebu yang muncul dari dalam dirinya, sesuatu yang tidak ia deskripsikan.
Raden memegangi wajah Gemintang dengan kedua tangannya dan menyentuhkan bibirnya, namun kali ini ia membuka bibirnya. Gemintang merasakan lidah Raden yang basah mendarat di bibirnya, menjilatinya dengan lembut.
Raden mendesah lembut sebelum akhirnya lebih menekankan lidahnya ke bibirnya. Mata Gemintang membelalak karena terkejut. Badannya kaku. Namun, kenikmatan yang dirasakannya karena apa yang dilakukan Raden mengalahkan penolakan dirinya, bibirnya pun membuka. Lidah Raden menyelinap masuk di antara bibirnya. Lidah itu menyentuh ujung lidahnya, mengelus, menjilat, lalu masuk makin jauh ke dalam mulutnya.
Ketika tangan Raden mendekap tubuhnya erat-erat, Gemintang mencengkeram kemeja bagian depan Raden. Gemintang merasakan perasaannya tak karuan, ia merasa tubuhnya limbung karena hal yang belum pernah ia rasakan. Dorongan hendak merapatkan tubuhnya ke tubuh Raden begitu menggebu sampai hampir tak dapat dikendalikannya. Ia menikmati tetapi sekaligus takut pada hasrat yang dibangkitkan Raden dalam dirinya.
Raden mundur dengan penuh sesal, mencium bibir Gemintang yang basah dengan lembut, kemudian menjauhkan diri. Dengan berat hati ia berusaha menjaga jarak di antara mereka. Tangannya ditarik dari punggung Gemintang, kembali diletakkan di kedua pipi Gemintang. Mata Gemintang masih terpejam. Saat membuka matanya yang berat, Gemintang merasa sekujur tubuhnya seperti disergap perasaan lemas.
“Kau tidak apa-apa, Gemintang?"
Flashback off
Sekarang,di lorong rumah sakit yang dingin ini, Gemintang menjawab pertanyaan Raden seperti dua belas tahun yang lalu, seperti peristiwa di malam setelah mereka berciuman untuk pertama kalinya. “Ya, Raden, aku tidak apa-apa.” Raden juga tampaknya terperangkap dalam kenangan itu. Dipandanginya Gemintang beberapa saat, sebelum akhirnya buru-buru berbalik dan berkata, “Sebaiknya kita segera pulang.”
__ADS_1