
“Ia cantik sekali," ucap Laura begitu mengagumi anak kudanya.
“Kau juga cantik.”
Tangan Laura yang mengelus leher anak kuda itu seketika terhenti, matanya yang hitam teduh menatap Adit, yang bicara dengan suara sangat lembut. “Apa kau sungguh-sungguh menganggapku cantik?”
Ekspresi yang diperlihatkan Laura membuat Adit ingin memaki-maki dirinya sendiri. Gadis itu terlalu rapuh, untuk menelan bulat-bulat segalanya. Seharusnya ia tidak mengungkapkan apa yang melintas dalam pikirannya. Perasaan Laura sangat halus, dan dapat hancur berkeping-keping dengan mudah.
Adit bangkit dari hamparan jerami yang menutupi lantai kandang kuda dengan bertumpu pada satu kakinya yang utuh. “Kau sangat cantik,” ulang Adit, menegaskan, lalu memalingkan wajah dari Laura dan meninggalkan kandang kuda.
Mereka harus lebih sering menjaga jarak, Laura tidak mengerti betapa berada di dekatnya, wangi tubuhnya, kehangatan kulitnya yang lembut, sangat besar pengaruhnya pada diri Adit. Andai gadis itu tahu respons yang dibangkitkannya dalam tubuhnya, tentu ia akan merasa takut dekat dengannya.
Adit menurunkan pelana kuda dari gantungannya di dinding. Raden mengatakan padanya kemarin sore ia ingin berkuda pagi-pagi sekali, dan Adit ingin menyiapkan keperluan berkudanya sebaik mungkin. Ia paham apa sebabnya Raden menunjukkan sikap tidak suka padanya secara terang-terangan. Raden bukan orang buta, Raden bisa menangkap perasaan sukanya pada Laura sangat jelas terlihat.
Adit tidak menyalahkan Raden yang menaruh curiga pada dirinya. Laura, adik kandungnya, adik yang sangat istimewa, yang membutuhkan perhatian khusus seumur hidup. Andai Adit punya saudara perempuan seperti Laura dalam hidupnya, ia pun akan melindunginya sebaik-baiknya seperti Raden.
Namun, ia tetap tidak bisa berhenti mencintai Laura. Sebetulnya ia tidak pernah mencari cinta, ia juga tidak mengira dirinya bisa mencintai seseorang. Namun ternyata sekarang ia mencintai seseorang gadis yang selalu di sisinya. Saat ini Laura berdiri dekat sekali dengannya ketika ia mengoleskan sabun pelana di pelana kudanya. Setiap kali tangannya menggosok pelana dengan kain lap, ujung sikunya hampir menyentuh payud*ra Laura.
Adit berusaha memusatkan perhatian pada pekerjaannya, bergulat mengusir bayangan bagaimana rasa payud*ra itu di telapak tangannya yang kasar atau betapa halus kulit Laura bila dirinya menyentuhnya.
Laura, kelihatan agak kecewa karena Adit tidak bicara lebih lanjut perihal kecantikannya. “Kakimu sakit?” tanya Laura sambil mengelus-elus anak kuda.
Tanpa mengangkat muka, Adit menjawab, “Tidak. Kenapa?’
“Karena kulihat dahimu mengerenyit, seperti yang kerap kau lakukan bila kakimu sakit.”
“Aku hanya berkonsentrasi pada pekerjaanku, itu saja.”
__ADS_1
Laura mendekati Adit. “Kalau begitu akan aku bantu."
Adit menjauhkan diri dari Laura, pura-pura hendak mengambil kain lap yang lain. Berada di dekat Laura membuat Adit seperti orang liar yang dibelenggu. “Tidak. Kau tidak perlu membantuku. Aku bisa menyelesaikannya dengan cepat.”
“Kau pikir aku tidak bisa mengerjakan hal seperti ini? Memang, tak ada seorang pun menganggap aku mampu mengerjakan sesuatu.”
Adit mengangkat kepala seketika dan melemparkan kain lap. “Bukan begitu, tentu saja aku yakin kau mampu.” ia melihat kekecewaan di wajah Laura.
Gadis itu menggeleng, rambutnya yang cokelat lagi halus tergerai menyentuh bahunya. “Semua orang menganggap aku bodoh dan tidak berguna.”
“Laura,” ujar Adit dengan suara lirih, lalu meletakkan tangan di bahu Laura. “Tidak pernah aku menganggapmu begitu.”
“Lalu, mengapa kau tidak memperbolehkan aku membantumu?”
“Karena ini pekerjaan yang kotor, aku tidak ingin bajumu yang bagus itu terkena kotoran.”
Seperti anak kecil yang minta penegasan, Laura melirik Adit. “Hanya itu alasannya? Sungguh?”
“Aku tahu aku bukan perempuan cerdas. Tetapi aku terampil dalam beberapa hal.”
“Tentu saja, kau punya kelebihan.” Oh, Tuhan! Bibir gadis itu terlihat begitu lembut, agak basah, dan tampak kemerah-merahan ketika berbicara. Betapa ingin Adit mengecupnya, dan ingin mendekapnya erat-erat. Bersentuhan dengan tubuh Laura bak mengoleskan obat penyembuh bagi tubuhnya yang cidera, dan bagi jiwanya yang terluka.
“Banyak hal yang kuamati sekarang ini. Misalnya, kak Raden, ia merasa tidak bahagia. Ia memang tertawa dan berusaha kelihatan bahagia, tetapi sorot matanya memancarkan kesedihan. Ia dan Gemintang sebenarnya tidak rukun. Apakah kau menangkap hal itu?”
“Ya.”
“Aku tidak mengerti apa sebabnya mereka begitu.” Laura mengernyitkan dahi, berpikir. “Atau barangkali mereka sebenarnya saling menyukai, tetapi berusaha menyembunyikan perasaan itu, supaya orang-orang tidak menganggap mereka saling menyukai.”
__ADS_1
Adit tersenyum mendengar dugaan Laura, sebenarnya itu pula yang di pikirkannya setelah makan siang bersama mereka hari itu. Adit merasa sikap mereka sebenarnya saling menyukai, ia memberanikan diri untuk mengelus dagu Laura. “Mungkin dugaanmu benar.”
Laura tersenyum lalu merapatkan tubuhnya ke Adit. “Menurutmu, aku ini cerdas? Dan cantik?”
Mata Adit yang hitam mengamati wajah Laura. “Kau sangat cantik.”
“Kau juga tampan.” Dengan jari‐jarinya yang mulus, semulus porselen, Laura mengelus pipi Adit yang kasar, kemudian jari telunjuknya menelusuri pipi Adit sampai ke ujung dagu.
Adit merasakan sentuhan tangan Laura tidak sekadar senyuhan biasa. Sentuhan itu seperti arus listrik, mengalir sampai ke lututnya. Adit menarik napas dalam-dalam, dan agak menjauhkan diri, menurunkan tangannya dari bahu Laura. “Jangan,” cegah Adit tanpa bermaksud menyinggung perasaan Laura.
Gadis itu langsung menjauhkan diri, seperti orang habis ditampar.
“Oh Tuhan, Laura, maafkan aku. Maafkan.”
Laura menutup wajahnya dengan telapak tangan dan menangis.
“Tolong, jangan menangis Laura!”
“Aku memang orang yang menakutkan.”
“Menakutkan? Kau sama sekali tidak menakutkan.” Tak pernah Adit merasa perasaannya tersayat-sayat seperti saat ini. Apa beda dirinya dengan bajingan, bila ia menyentuh gadis lugu seperti Laura, meskipun ia juga kesal bila tidak menyentuhnya.
Menunjukkan perasaan kasihnya pada Laura sama artinya dengan bunuh diri. Raden akan membunuhnya bila mengetahui hal itu, tapi bagaimana ia bisa tega melukai hati Laura dengan cara seperti ini, membuat Laura merasa ditolak, tidak dikasihi, tidak diinginkan? “Kau orang yang sangat baik,” ucap Adit. “Kau orang paling baik yang pernah kukenal.”
“Tidak, aku tidak baik.” Laura mengangkat wajahnya yang masih berlinang air mata, menatap Adit. “Aku menyayangi kakakku selama ini, karena kuupikir, bila dia pulang semua masalah akan beres. Kuanggap ia orang paling kuat, laki-laki paling baik di dunia. Tetapi saat dia sudah di rumah, ternyata ia tidak demikian.” Laura menjilat bibirnya. “Ternyata, kau lah justru pria itu.” Air matanya masih terus menitik jatuh di pipinya. “Adit, aku lebih menyayangimu ketimbang Raden!”
Sebelum Adit sempat bereaksi, Laura sudah menjatuhkan tubuhnya ke tubuh Adit, mencium bibirnya, lalu lari keluar dari kandang kuda.
__ADS_1
Adit merasakan jantungnya berdetak cepat, debarannya terasa sampai ke gendang telinga. Ia merasa bahagia sekaligus sedih. Tuhan, apa yang harus ia lakukan menghadapi hal seperti ini?
Adit mematikan lampu kandang kuda, lalu masuk ke tempat tinggalnya yang terletak di belakang. Ia mengempaskan diri ke tempat tidurnya yang kecil, menutupi wajahnya dengan lengan. Ia tidak pernah merasa seputus asa ini sejak siuman di rumah sakit waktu itu dan mendapati ia akan pulang dengan… satu kaki yang tinggal separo.