
Rumah sakit terasa lebih sejuk dan tenang setelah dari pabrik yang berisik dan hiruk-pikuk. Guntur masih terbaring di ranjang, tatapannya lekat pada layar televisi, walaupun ia mematikan suaranya. Tubuhnya dipasangi selang untuk makanan dan untuk mengeluarkan kotoran.
Layar monitor berkedip, mengeluarkan suara mencicit dan merekam kerja organ tubuhnya yang penting. Kondisinya tampak sangat mengenaskan. Gemintang tersenyum ceria dan dengan berani mendekatinya, ia menyingkirkan rasa sakit hatinya atas kejadian kemarin. Guntur sedang kesakitan luar biasa, ia tidak bisa menahan tindakan kasarnya. Gemintang hanyalah kambing hitam untuk rasa frustasi yang Guntur rasakan.
“Hai, Guntur.” Gemintang mencium pipi Guntur yang pucat pasi. “Bagaimana keadaanmu?”
Guntur mengamati pakaian yang di kenakan Gemintang dan bertanya, “Kau habis dari pabrik?”
“Ya. Aku barusan dari sana sebelum kemari. Kalau tidak ke sana, aku pasti datang lebih awal ke sini. Ada masalah dengan salah satu mesin produksi.”
“Masalah apa?”
“Aku belum tahu pasti. Masalah di bagian mesinnya. Raden sedang memeriksanya," ucap Gemintang, matanya tertuju pada bunga di meja samping tempat tidur Guntur. "Bunga dari anak-anak Sekolah Minggu ini cantik sekali.”
“Apa maksudmu, Raden sedang memeriksanya?”
Gemintang masih memerhatikan rangkaian bunga yang diantar ke rumah sakit sewaktu ia belum tiba dan membaca kartu nama pengantarnya, agar ia tahu kepada siapa ia akan mengucapkan terima kasih. Namun ia berbalik seketika mendengar ucapan Guntur.
“Jawab pertanyaanku, brengsek!” bentak Guntur nyaring, di luar dugaan Gemintang. “Apa yang dilakukan Raden di pabrik itu?”
Gemintang yang merasa sangat terkejut tidak segera dapat mengucapkan kata‐kata dari mulut nya. “Aku… aku memintanya memeriksa mesin yang rusak. Ia insinyur. Ia pasti bisa...”
“Tanpa izinku kau minta putraku ikut campui urusan di pabrik?” Guntur berusaha duduk “Ia sudah melepaskan haknya atas pabrik ketika ia pergi dari rumah dua belas tahun yang lalu. Aku tidak ingin ia ada di pabrik, mendekati mesin itu sekalipun. Kau mengerti, Gemintang?” Keringat bercucuran di dahinya. Matanya melotot karena marah.
Gemintang takut melihat kemarahan Guntur. “Tuan, tenanglah. Yang kulakukan hanya meminta Raden memeriksa mesin yang rusak. Ia bukan ikut campur dalam bisnis di sana.”
“Aku kenal anak itu. Ia akan mencari-cari kesalahan di sana, menasihatimu tentang bagaimana mengatur keuanganku.” Guntur menunjuk Gemintang dengan jari telunjuknya, dan berbicara dengan suara melengking, “Kau dengar, dengarkan sebaik-baiknya. Kau tidak boleh memakai satu sen pun uang pabrik tanpa seizinku.”
__ADS_1
Gemintang serasa ingin menepis jari telunjuk yang diarahkan kepadanya itu. “Tidak akan pernah, Guntur,” jawab Gemintang. “Raden juga tidak pernah mengambil uangmu.” Beberapa menit lamanya Gemintang merasa tidak dapat bernapas, hanya mampu melirik tubuh suaminya yang sudah lemah dan tak berdaya.
Guntur memperdengarkan tawa yang mengerikan, kemudian ambruk di atas bantal. “Apakah Raden sudah bercerita jika aku mengusirnya karena ia mempermalukanku dengan menghamili Wilona?”
Tubuh Gemintang terasa kaku, telapak tangannya basah karena keringat. “Tidak. Kami tidak bicara soal itu,” ucap Gemintang.
“Hmm, Aku tidak ingin kau mendapat informasi yang salah, sebaiknya kuluruskan. Aku tidak menyuruh Raden meninggalkan rumah selama dua belas tahun. Tetapi ia tahu aku marah sekali padanya, tetapi bukan karena ia menghamili gadis itu.” Guntur tertawa terkekeh. “Aku sudah mengira ia akan melakukan kenakalan seperti itu. Bagaimanapun ia anak laki-laki, laki-laki akan meniduri wanita mana pun jika mendapat kesempatan.”
Gemintang membuang muka, ucapan Guntur bak tombak yang dihunjamkan ke tubuhnya. “Mungkin."
Tawa Guntur makin nyaring. “Percayalah padaku. Laki‐laki akan melakukan apa pun, mengatakan apa saja, asal bisa menyusup ke balik rok perempuan. Apalagi kalau gadis itu bodoh.”
Gemintang memejamkan mata, ingin menghapus air matanya yang menggenang di matanya,
“Orangtua Willona datang menemuiku dan mengatakan Raden telah menghamili anak gadisnya. Agatha dan aku langsung mengatakan pada orangtua Willona jika Raden akan segera menikahi putrinya. Itu tindakan yang bertanggung jawab yang harus dilakukan, bukan?”
“Hmmm, tetapi anak bajingan itu berkata bukan ia yang menghamilinya. Kemudian Raden mengatakan padaku, bila aku memaksanya menikahi gadis itu, ia akan pergi dari rumah dan takkan pernah kembali.”
Guntur menarik napas panjang, seakan ingatan akan peristiwa tersebut menyakiti hatinya. “Aku harus melakukan apa yang menjadi kewajibanku, aku harus memaksanya menikahi gadis itu. Ia yang memutuskan pergi dari rumah setelah itu, bukan aku. Makanya, tak perlu mengasihani Raden, apa pun yang dikatakannya padamu. Ia yang berbuat, ia yang harus bertanggung jawab."
Guntur terdiam, beberapa saat Gemintang hanya melempar pandang ke luar jendela, setelah berhasil mengendalikan perasaan, barulah Gemintang kembali ke pinggir ranjang. Guntur memejamkan mata ketika Gemintang menyandarkan tubuhnya ke tubuh suaminya. Gemintang mengira Guntur sudah tidur. Perlahan-lahan ia beranjak meninggalkan kamar, tetapi secepat kilat Guntur mencengkeram pergelangan tangannya kuat-kuat. Gemintang terkejut dan merasa sesak napas.
“Kau tidak akan mengkhianatiku kan, Gemintang?”
Sorot mata Guntur yang berapi-api membuat Gemintang takut sekali, juga pertanyaannya. “Tentu saja. Apa maksudmu?”
“Maksudku, kau akan menyesal bila melakukan sesuatu yang kotor. Sebagai istri yang tengah berduka, harusnya kau sangat sedih menyaksikan suaminya dalam keadaan sekarat.” Jari-jari Guntur mencengkeram pergelangan tangan Gemintang yang rapuh sampai membuat Gemintang merasa tulang pergelangannya mau remuk. Dari mana Guntur punya kekuatan seperti itu?
__ADS_1
“Jangan bicara soal kematian.”
“Mengapa tidak? Itu kenyataannya. Tetapi kau harus ingat.” Guntur berusaha untuk duduk kembali. “Sampai aku mati pun, kau tetap istriku.”
“Ya, aku memang istrimu."
“Aku bukan pemeluk agama yang taat, tetapi ada satu hal yang aku yakini. Jika kau berniat melanggar hukum Tuhan, maka dosannya sama besar jika kau melakukannya. Kau belajar tentang hukum itu waktu di Sekolah Minggu, kan?”
“Ya,” jawab Gemintang, hampir menangis karena takut pada Guntur.
“Pernah terpikir ingin melanggar hukum Tuhan?”
“Hukum yang mana?”
“Berzina?”
“Tidak!”
“Kau istriku.”
“Ya.”
“Sebaiknya kau camkan itu.”
Sesudah itu kekuatan Guntur lenyap. Kembali ia jatuh terkulai di bantalnya, sesak napas. Gemintang melepaskan tangannya dari cengkeraman Guntur, lalu lari ke pintu. Ia ingin melarikan diri dari tempat itu tetapi hati nuraninya menegurnya, dan ia segera memanggil perawat. “Suami saya,” ucapnya dengan napas megap-megap. “Saya… saya kira ia perlu disuntik. Ia sangat kacau.”
“Kami akan menanganinya, nyonya,” jawab perawat itu ramah. “Kalau boleh saya bicara, Anda kelihatan sangat letih. Sebaiknya Anda pulang saja dulu.”
__ADS_1
“Ya, ya,” jawab Gemintang, mencoba mengumpulkan kekuatan. Jantungnya berdebar-debar. Ia gemetar ketakutan. Mengapa ia merasa demikian takut pada suaminya sendiri? “Saya rasa, ya.”