Dalam Derasnya Hujan

Dalam Derasnya Hujan
BAB 42


__ADS_3

Pengantin wanita namapak cantik dengan gaun putih, berbahan sutra yang sederhana namun terlihat sangat elegan dan serasi dengan potongan tubuhnya yang ramping.


Tubuhnya tidak tenggelam di balik gaunnya, tidak seperti jika ia mengenakan gaun kuno berekor yang bermeter-meter panjangnya dan berenda-renda. Kakinya dibalut stoking tipis dan sepatu putih. Rambut di bagian pinggir ditarik sampai tengah, dijepit sepasang bunga camelia putih, bunga kesayangannya. Ia terlihat cantik sekali, dengan matanya yang berbinar-binar, memancarkan kegembiraan hatinya. Ia tidak kelihatan gugup sama sekali.


Nampak berbeda dengan pengantin pria yang justru terlihat gugup. Ia nampak resah dan berkali-kali menelan ludah, mengubah posisi kaki, hingga menarik-narik ujung dasinya, setelan pakaian yang tidak akrab dengannya.


Sebetulnya semua sudah memberi saran jika ia tidak harus mengenakan setelan jas seperti itu, tetapi ia memaksa. Ia ingin terlihat gagah dan menjadikan hari ini tak terlupakan bagi pengantin wanita.


Gemintang menyentuh tangan Adit , menenangkannya ketika mereka berdiri menunggu pengantin wanita, Adit tersenyum penuh rasa terima kasih pada Gemintang.


Beberappa menit kemudian ketika sang pemain alat musik mulai memainkan lagu pernikahan dengan piano, mata Adit langsung tertuju pada Laura. Begitu pun dengan Laura, matanya yang besar dan kecokelatan mencari-cari keberadaan Adit begitu ia memasuki ruang depan, pandangannya tetap tidak beralih dari Adit .


Suasana berlangsung intimate, hanya beberapa orang yang menyaksikan upacara pernikahan tersebut. Raden, Gemintang, sang Pendeta yang memimpin upacara pemakaman ayahnya, satu orang pemain piano, Randy, dan Heny, yang menangis ketika sepasang pengantin itu mengucapkan janji setia mereka.


Adit mengecup lembut bibir istrinya dan langsung mencopot dasi.


“Adit.”


Adit berbalik dan melihat Raden mengulurkan tangan. “Selamat datang di keluarga kami.”


Adit tersenyum lebar sambil menyalami kakak iparnya. “Terima kasih, Raden. Aku bahagia bisa menjadi anggota keluarga ini," ia menerima pelukan hangat dari kakak iaparnya.


“Selamat ya, Adit ,” ucap Gemintang kemudian mencium pipi Adit, lalu beralih ke Laura. “Selamat ya sayang,” Gemintang memeluk Laura erat-erat. “Semoga selalu bahagia.”


“Pasti dan selalu, selalu,” jawab Laura gembira, sambil mengangguk-anggukkan kepala. “Ayo kita minum sekarang. Kurasa Adit ingin minuman dingin.”


Semua orang kelihatan gembira ketika memasuki ruang makan, yang sudah siap dengan berbagai macam hidangan. Bermacam-macam daging, salad, sayur-sayuran, kue pengantin tiga susun dan makanan-makanan kecil lain, yang disiapkan Heny. Juga tersedia kopi dan jus. Ketika Raden tertangkap basah menuangkan minuman beralkohol ke gelas Adit , pendeta tertawa. Pesta itu sederhana tapi meriah, dan semua orang bergembira untuk Laura .


Setelah semua selesai makan, juru foto mengambil foto mereka semua. Dasi yang tadi dilepas Adit langsung ia pasang kembali. Sementara Gemintang, membantu Laura merapikan rambutnya dan menambah lipstik di bibir mungil Laura. "Kau tanpak cantik sekali," puji Gemintang dengan tulus, kemudian mereka berfoto bersama.

__ADS_1


Setelah acara pemotretan selesai, tak seorang pun yang matanya tidak berbinar-binar, mereka terharu melihat kebahagiaan Laura dan Adit. Setelah itu para tamu pamit, meninggalkan para penghuni rumah dengan meja makan yang porak poranda.


Sepasang pengantin baru istirahat di lantai dua. Menjelang pernikahannya, barang-barang Adit dipindahkan ke kamar Guntur, kamar yang akan fi tempati oleh Laura dan Adit, kamar tersebut lebih besar daripada kamar Laura. Gemintang sudah mendekorasi ulang agar lebih menarik dan sesuai dengan kemauan Laura dan Adit.


Setelah membantu Heny bersih-bersih, Raden dan Gemintang pergi menonton di bioskop di kota.


Sewaktu kembali pulang ke rumah, suasana sunyi dan gelap. Mereka mengendap-endap ke lantai dua, tidak ingin mengganggu si pengantin baru. Mereka naik ke kamar tidur Raden. Setelah mengunci pintu, Raden menyalakan lampu di samping ranjang.


“Aku bosan harus mengendap-endap seperti ini terus,” keluh Raden. “Aku benci salah satu di antara kita harus turun dari ranjang dan menyelinap ke lorong menjelang pagi. Mengapa kau tidak pindah saja ke sini bersamaku, atau aku pindah ke kamar tidurmu?” Raden melepas kemeja dan celananya


“Sudahlah, jangan bicara seperti itu, aku belum ingin siapa pun tahu soal ini.”


“Mereka sudah tahu,” ucap Raden yang telah melepas ****** ********, dihempaskannya tubuhnya ke sofa empuk berlapis kulit, tempat yang paling disukainya di rumah.


Gemintang membuka pakaiann dan menatap Raden dengan kaget. “Benarkah?”


Tanpa menjawab sepatah kata pun, Raden mengangguk dan memerhatikan Gemintang yang melipat pakaiannya dengan rapi dan meletakkannya di sandaran kursi. B*anya sewarna kulit, terdapat sulaman bunga mawar pada br*nya. Kelopak bunganya mengeliling bagian puncak. Seakan hendak membalas tahun-tahun saat tidak punya b*a cantik, kini Gemintang selalu memakai b*a yang indah.


Wajah Gemintang memerah ketika ia melepas rok, tampil dengan c*lana d*lam yang warnanya senada dengan b*a, berenda dan terbuat dari sutra. Kejantanan Raden langsung bereaksi.


“Aku juga tidak suka sembunyi-sembunyi, tetapi demi reputasiku. Biarkan tetap seperti ini, aku tak ingin orang menganggapku wanita murahan."


Gemintang mengambil sisir dan mulai merapihkan rambutnya. Cahaya lampu menerpa helai-helai rambut yang tergerai. Gemintang membelakangi Raden. Lekuk tubuhnya sangat indah, bagian tubuh yang tertutup renda dan stoking tersebut adalah bagian tubuh yang ingin sekali disentuh Raden. “Bagaimana bisa kau dianggap perempuan murahan?” tanya Raden dengan suara berat.


Gemintang mengeluarkan botol kecil dari tas, lalu menuangkan beberapa tetes isinya ke telapak tangan. Digosok-gosokkannya dan dibalurkannya ke lengannya. Oh.. Perempuan ini sungguh membuatnya gila!' batin Raden.


“Karena secara hukum negara kau anak tiriku.”


“Dan di luar hukum itu?”

__ADS_1


Gemintang membalikkan badan, menghadap ke arah Raden yang duduk di kursi, ia tersenyum malu tapi amat menawan. “Di luar hukum negara, kau kekasihku.”


“Kemarilah.”


Begitu Gemintang berada di hadapannya, Raden langsung melepas cel*na d*lamnya dan melemparkannya ke lantai.


Gemintang berdiri dengan patuh ketika Raden melepas celananya, ia meminta Gemintang duduk di pangkuannya, dan kejantanannya pun lenyap dalam tubuh Gemintang. Tangan Gemintang melingkari leher Raden dan punggungnya melengkung karena Raden menciumi payud*ranya. Akhirnya b*a Gemintang berhasil dibuka oleh Raden, dan ia membenamkan wajahnya di dada Gemintang.


Paha Gemintang rapat menjepit paha Raden ketika ia bergerak di pangkuan kekasihnya, menggerakkan pinggul dengan gerakan berputar. Tangan Raden mengelus bagian belakang paha Gemintang sampai ke pinggul, memegangnya erat-erat. Sambil membenamkan kepala pria itu di dadanya, Gemintang membungkuk dan membisikkan kata-kata cinta seirama gerakan Raden.


Raden bergerak makin cepat, terus makin cepat. Kemudian, ketika tubuh Gemintang bergetar karena kenikmatan yang melandanya, Raden pun mencapai puncak. Gemintang lunglai di sisi tubuh Raden dan selama beberapa menit mereka tidak bergerak. Akhirnya Raden membelai bagian belakang kepala Gemintang, diciumnya pundak wanita itu. Ketika melihat Gemintang masih saja tidak bergerak, ia bertanya lembut, “Apa kau baik-baik saja sayang?”


“Di kursi? jadi kita bermain di kursi?”


Sambil tersenyum, Raden mencium telinga Gemintang . “Perempuan istimewa, perempuan cantikku.” Dipeluknya Gemintang erat-erat. “Aku biasa duduk di kursi ini dan mengkhayalkan dirimu. Di sinilah aku membayangkan kau, membayangkan bagaimana bisa bercinta denganmu.” Raden mengelus pipi Gemintang dengan buku‐buku jarinya. “Khayalan yang selalu memenuhi benakku, Gemintang .”


Gemintang mengangkat kepala. Sinar matanya selembut sinar rembulan yang tenang menghanyutkan. “Begitukah?’


“Ya.” Raden menyentuh rambut Gemintang, bibirnya, payu*aranya. “Aku masih tidak percaya ini sungguh-sungguh nyata.”


“Aku tidak percaya ini diriku, bertingkah seperti ini. Kau selalu memberi pengaruh buruk padaku.” Binar-binar cinta di mata Raden berganti dengan sorot mata nakal. “Apakah kau bahagia bersamaku?”


“Ya.” Gemintang memutar pinggulnya.


Raden mengerang. “Ya ampun, Gemintang . Kau mau membunuhku? Tidak bisakah kita menunggu sampai di ranjang?”


Setelah itu, bertutupkan selimut tipis, Raden menemukan telinga Gemintang dalam kegelapan dan berbisik, “Kau tahu, andai Heny juga punya pacar, kita bisa membentuk club.” Gemintang menarik bulu dada Raden, menyebabkan laki-laki itu menjerit perlahan. “Maksudku, Adit dan Laura di satu kamar, dan kita...”


“Aku tahu maksudmu.” Gemintang berhenti tersenyum, dan menguap. “Tak terbayangkan olehku bagaimana perasaan Adit sekarang ini, tetapi aku tidak tahu apa pendapat Laura tentang pernikahan.”

__ADS_1


Mereka tidak perlu menunggu lama untuk mengetahui hal itu. Keesokan paginya, pasangan pengantin baru itu sarapan bersama Gemintang dan Raden. Mereka berdiri di pintu dapur dengan tangan bergandengan. Adit tersenyum malu-malu, sementara wajah Laura berseri-seri. Gadis itu mengatakan dengan gembira, “Kurasa semua orang di muka bumi ini harus menikah....”


__ADS_2