Dalam Derasnya Hujan

Dalam Derasnya Hujan
BAB 45


__ADS_3

Gemintang duduk di depan cermin, memijat-mijat kepala, berusaha menghilangkan rasa pening yang menyerangnya. Tetapi usahanya tak berhasil, sekujur tubuhnya sakit seakan ia habis pukuli, pertengkarannya dengan Raden membuat hatindan badannya terasa sakit.


Heny, si asisten rumah tangga, menumpuk seprai di lantai dan membentangkan seprai baru, ia kemudian menyelipkan seprai itu di bawah kasur. “Apa semalam Raden tidak mengatakan apa-apa? Atau meninggalkan pesan, bahwa ia akan keluar rumah malam-malam seperti maling?”


“Tidak, Kami hanya mengobrol sebentar, lalu beberapa menit kemudian aku tidur. Aku tidak tahu dia sudah pergi sampai kau membangunkan aku pagi ini," jawab Gemintang.


“Aku dan ibunya sudah mengajarkan tatakrama pada anak itu, bisa-bisanya ia mengepak barang lalu pergi tanpa pamit. Dia naik mobil pickup‐nya ke lapangan udara, langsung terbang dengan pesawatnya. Sungguh, aku tak tahu ada masalah apa dengan anak itu.”


Gemintang berharap Heny tidak terlalu banyak mengoceh. Satu-satunya orang yang ingin ia ajak bicara hanyalah Raden, luka hatinya masih belum lenyap. Tiap kali mendengar nama Raden disebut, lukanya kembali membuka dan hatinya berdarah. “Kurasa, ia hanya merasa terlalu lama menelantarkan bisnisnya di Jakarta.”


Heny memandang sinis. Aku tahu apa yang terjadi, batin Heny kepada Gemintang. Yang ia ingin tahu, apa yang terjadi di antara mereka, yang menyebabkan Raden mendadak meninggalkan rumah. Berminggu-minggu mereka bersama, saling menggoda, dan bermesraan. Pasti ada yang menyebabkan Raden pergi terburu-buru, tentu hal yang berkaitan dengan Gemintang.


Heny membungkuk dan mengambil cucian kotor. “Aku tak tahu apa yang harus kusampaikan pada Laura. Pasti ia sedih sekali karena Raden pergi tanpa pamit padanya.”


“Kau bilang ia meninggalkan surat untuk Laura.”


“Itu tidak sama, Laura menginginkan Raden pamit dengannya secara langsung.”


Kesabaran Gemintang menyusut. Ia berjalan ke lemari, mengambil pakaian untuk mandi, dan secara halus mengisyaratkan ingin sendirian di kamar. “Laura tidak akan terlalu sedih Raden pergi, karena ada Adit yang menjaganya.”


“Lalu siapa yang akan menjagamu?”


Langkah Gemintang terhenti sebelum mencapai pintu kamar mandi, ia membalikkan badan menatap Heny. Heny menaikkan alis, lalu melenggang keluar, dengan tangan penuh seprai kotor.


Gemintang mandi dan berpakaian. Ia tidak memedulikan penampilannya. Ia tidak akan bertemu Raden di rumah. Ia akan bekerja sebagaimana biasanya, ke pabrik, memeriksa kemajuan pembangunannya. Mungkin saja beberapa karyawan memanfaatkan ketidakhadiran Raden sebagai kesempatan untuk bekerja malas-malasan.


Sewaktu tiba di pabrik, Andi sudah menunggunya di kantor.

__ADS_1


Karyawan itu berdiri ketika Gemintang masuk. "Raden, Tuan Buana. Menelepon saya dari Jakarta pagi tadi.”


Gemintang berusaha bersikap biasa-biasa ketika mendengar berita itu, tetapi tangannya gemetar ketika ia membuka laci meja untuk menyimpan tasnya. “Oh?”


Andi menelan ludah. “Beliau bilang saya harus membantu Anda semampu saya agar semuanya berjalan lancar. Beliau juga mengatakan kepada saya agar segera meneleponnya bila ada masalah."


“Terima kasih, Andi,” sahut Gemintang tenang. Raden tidak benar-benar meninggalkannya. Ia masih peduli, dan memastikan dirinya tidak ditinggalkan di pabrik yang belum berjalan. Tapi mungkin saja dia melakukan hal tersebut semata-mata ingin melindungi warisan milik Laura.


Mandor itu memutar-mutar topi di tangannya. “Anda kenal saya dan beberapa karyawan lain… hmmm, kami biasa bersama Tuan Raden. Memang, beliau masih muda ketika meninggalkan tempat ini dua belas tahun yang lalu, tetapi kami tetap menyukainya. Beliau selalu memerhatikan kami, Anda tahu yang saya maksud? Sangat berbeda dengan ayahnya yang keji, maksud saya, tak pernah menghargai orang lain. Raden selalu peduli pada kami, meskipun kami hanya pekerja.”


“Ya, aku mengerti apa yang kau maksud, Andi.”


“Baiklah, begitu saja,” ujar Andi sambil melangkah ke pintu. “Bila Anda perlu sesuatu, Anda tinggal menelepon saya.”


“Ya. Terima kasih.”


“Aku dan dia memang tidak berjodoh,” batin Gemintang pada dirinya sendiri. Benarkah pepatah yang mengatakan jodoh sudah ditentukan jauh sebelum orang dilahirkan? Apa benar nasib yang menentukan malapetaka yang menimpa seseorang? Atau semua ini terjadi karena ia harus menebus dosa-dosa ayah mereka, seperti yang ditulis dalam Alkitab?


Akhir ceritanya tak bisa diubah lagi. Raden yakin Gemintang tidak akan melepaskan rumah itu, jadi dari pada harus terlihat mengemis dengan tetap tinggal di rumah itu, Raden memilih tidak bertemu dengan Gemintang selama Gemintang masih menjadi pemilik rumah itu.


Gemintang menegakkan kepala. Jantungnya berdebar cepat.


Selama ia masih menjadi pemilik rumah itu.


Apakah Gemintang rela melepaskan rumah itu? Apa arti rumah itu tanpa Raden di rumah itu? Rumah yang dulu menjadi tempat tinggal Raden. Sewaktu Gemintang tinggal bersama Guntur di rumah itu, Gemintang menyusuri lorong-lorongnya sembari mengkhayalkan Raden yang tinggal di sana. Tanpa Raden, rumah itu terasa seperti kumpulan kamar cantik yang dikelilingi dinding tebal.


Rumah itu tidak akan pernah menjadi miliknya, rumah itu senantiasa milik Raden.

__ADS_1


Tetapi mampukah Gemintang melepaskannya?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Suara ketukan di pintu membuat Gemintang mengalihkan pandangan dari buku besar “Masuk."


Randy melangkah masuk ke ruang kerjanya. “Heny bilang kau ada di sini. Aku harap kedatanganku tidak mengganggumu.”


Gemintang tersenyum pada si pengacara. “Masuklah, Randy. Aku tak merasa diganggu.”


“Apa kau sedang lembur?”


Ya, harus lembur. Karena kalau tidak menyibukkan diri dengan bekerja, ia akan teringat pada Raden. Kendati sibuk bekerja ia tetap ingat pada Raden, tetapi paling tidak, kesibukan itu mengurangi rasa sakitnya.


Sebulan sesudah Raden pergi, rasa sakitnya masih tetap terasa karena tidak ada obatnya. “Tugas pembukuan harus diselesaikan. Kalau dikerjakan di pabri, selalu terganggu oleh laporan pegawai dan tamu yang datang, jadi aku mengerjakannya di rumah setelah jam kerja. Heny sudah menawarimu minum? Kopi?”


“Tidak usah, terima kasih.” Randy duduk di hadapan Gemintang, di kursi bersandaran tegak. “Bagaimana keadaan di pabrik?”


“Sibuk, tapi semuanya berjalan dengan lancar. Bukankahn kau sudah tahu? Kemarin kan kau ke sana. Apakah ada masalah, Randy?” raut wajah Randy terlihat berubah. “Ada apa kau sampai menemuiku di rumah?” 


Seketika wajah Gemintang menjadi pucat, ia pikir ada sesuatu yang menimpa Raden sehingga Randy sampai datang ke rumahnya, padahal mereka kemarin sudah bertemu di pabrik.


Randy menangkap kepanikan yang menyergap Gemintang. “Tidak, tidak. Aku bukan membawa berita yang tidak enak, tidak ada masalah besar," ucap Randy. “Hanya saja kau ada undangan dari walikota."


“Undangan apa?”


“Undangan, puncak perayaan ulang tahun kota. Guntur terpilih sebagai warga kota paling taat pajak dan walikota ingin memberinya penghargaan."

__ADS_1


__ADS_2