Dalam Derasnya Hujan

Dalam Derasnya Hujan
BAB 25


__ADS_3

Raden terpaku mendapati kebrengsekan ayahnya, ia sama sekali tak mengira bahwa uang menjadi penyebab pemaksaan pernikahan itu. “Tetapi kau tidak mencegahku bercerai setelah Alyssa lahir,” ucap Raden.


“Itu tidak termasuk dalam kesepakatan. Ayahnya Willona hanya menginginkan suami untuk putrinya yang malang dan ayah untuk cucunya. Ia ingin nama keluarga terhormat menempel di belakang nama cucunya dan tercetak di akte kelahirannya.”


“Selain itu,” lanjut Guntur, “itu cara yang paling tepat untuk menyelamatkanmu dari kesalahan besar.”


“Kesalahan besar apa?”


“Mengawini gadis miskin itu.” Guntur mengarahkan pandangannya ke arah Gemintang.


“Jangan libatkan Gemintang dalam masalah ini,” ucap Raden mengancam. “Masalah ini tak ada sangkut pautnya dengan Gemintang.”


Guntur tertawa geli, mengejek. “Semuanya terkait dengan Gemintang. Aku tidak mau kau menghamili perempuan seperti Gemintang, segalanya bisa jadi kacau balau, aku tidak bisa mendapatkan 25M.”


“Dari apa yang dilaporkan pesuruhku, hubungan kalian makin intim. Mereka bilang kau sulit mengendalikan keinginanmu untuk tidak menyentuhnya.” lanjut Guntur sembari menyipitkan mata memandang putranya. “Dasar anak bodoh. Tahu kah kau betapa sulit bagiku untuk menahan rasa geli ketika kau bilang sudah menemukan gadis yang ingin kau nikahi?”


Gemintang terkejut, matanya tertuju pada Raden. Raden meliriknya sekilas, tetapi ini bukan saat yang tepat untuk menanggapi tatapan Gemintang yang penuh tanda tanya itu.


Guntur melanjutkan kata‐katanya. “Willona memang gadis bin*l. Ia membiarkan pria mana saja merayap di selangk*ngannya. Tetapi paling tidak, ia berasal dari keluarga terhormat dan punya banyak uang.” Mata Guntur dialihkan pada Gemintang. “Paling tidak, ia bukan putri pemabuk.”


“Kalau aku putri dari seorang pemabuk, lalu mengapa kau menikahi aku?” tanya Gemintang. Selama ini ia pikir Raden menghamili Willona dan terap menjalin kasih dengan dirinya.


“Aku menikahimu karena ingin membuat investasi yang menguntungkan,” jawab Guntur singkat.


“Apa maksudmu?” tanya Gemintang. “Investasi apa?”


“Kau bisa menebaknya, kan?” tanya Guntur sambil tawa terkekeh.


“Tolong jelaskan padaku, apa duduk persoalannya?” teriak Gemintang.

__ADS_1


“Kurasa, kau tinggal dengan penolong misteriusmu, Gemintang,” ucap Raden pelan.


Ia langsung memahami ucapan Raden. “Soal beasiswa?” Gemintang bertanya dengan suara parau, sambil menatap Guntur.


“Aku harus menjauhkan dirimu dari kota ini, menjaga kalau-kalau Raden suatu hari bercerai, kemudian memutuskan kembali padamu.”


“Kau yang membiayai semua sekolahku?” Gemintang mencoba menyimpulkannya. “Sebegitu pentingnyakah, hanya demi menjaga reputasi dan nama keluargamu?”


“Oh, bukan hanya itu,” jawab Guntur. “Kau harus dipersiapkan untuk menyempurnakan seluruh rencanaku.”


“Rencana apa?” tanya Gemintang


“Bahwa kau harus menjadi Nyonya Buana.


Perasaan terhina memenuhi dirinya. “Kau merencanakan semua ini?"


“Coba pikir, bagaimana kau bisa dapat pekerjaan di bank semudah itu begitu kau lulus kuliah? Apa kau pikir hanya kebetulan aku bertemu denganmu di bank itu? Sudah kusiapkan pekerjaan untukmu di pabrik bila waktunya tiba. Ingin mendengar cerita selanjutnya?”


Guntur tidak menjawab, ia hanya melirik Raden, Raden-lah yang memberi jawaban atas pertanyaan Gemintang. “Karena aku menginginkan dirimu, dan Guntur tahu itu. Dan ia akan melakukan apa pun, dengan cara paling licik sekalipun, termasuk bila harus menikahimu, agar aku tidak bisa memilikimu.”


“Kau memang anak cerdas,” ucap Guntur sambil melirik.


“Kau juga menyuruh Laura menulis surat padaku bahwa Gemintang sudah menikah.”


“Itu kan pekerjaan yang mudah dilakukan. Laura mau melakukan apa pun yang bisa membuat aku senang. Kau harus banyak belajar soal pengabdian dan kehormatan dari adik perempuanmu yang tolol itu.”


“Kehormatan.”ucap Raden dengan sinis.


“Bertahun‐tahun kau memanipulasi kehidupan kami hanya karena dendammu terhadap Raden?” ucap Gemintang, yang masih tidak percaya ada pria yang bisa terobsesi rasa benci seperti itu. “Kau anggap aku tidak pantas bersanding dengan Raden, tetapi kau menikahiku. Kau berikan nama keluargamu padaku, membawaku tinggal di rumah mewahmu. Aku tak mengerti.”

__ADS_1


“Kau mudah dibujuk, Sayangku. Aku tahu itu dari latar belakangmu. Aku dapat mewujudkan mimpi yang tak pernah bisa kaudapat. Rumah dan nama besar keluarga adalah umpan yang sulit kau tolak, bukan? Meskipun rumah dan nama keluarga itu milik kekasih yang sangat kau rindukan. Sebetulnya, aku harus berterima kasih padamu karena membuat segalanya menjadi mudah. Wajahmu yang cantik, menarik untuk dipandang, membuat orang yakin orang tua busuk seperti aku ini bisa terpesona olehmu. Yah, Gemintang, terima kasih, kau membuat segalanya menjadi mudah.”


Gemintang berbalik karena malu. Ia diperalat dengan cara yang paling memalukan. Gemintang bukan hanya marah pada Guntur tapi ia juga menyalahkan dirinya. Andai ia tidak terlalu ambisius. Andai, andai, andai…


Sorot Guntur tampak berbinar-binar, ditujukan kepada mereka berdua. “Bagaimana rasanya tinggal di bawah satu atap? Tersiksa? Minggu ini minggu paling menyenangkan, melihat kalian berdua menggeliat. Kalian pikir aku tidak tahu, betapa menyenangkannya melihat kalian berusaha menyembunyikannya, melihat kalian berdua berusaha tidak saling pandang dan menjauhkan diri.”


Mata Guntur tertuju pada Raden. “Kau mulai menginginkannya kembali, bukan, anakku? Kau hampir tak dapat menahan gairahmu, bukan? Pernah kau bayangkan Gemintang di ranjang bersamaku dan apa yang kami lakukan di sana?”


Gemintang berbalik, murka dan merasa terhina. “Hentikan, Guntur!”


“Lihatlah dia, anakku. Tubuhnya indah sekali, bukan?” ucap Guntur.


“Diam!” teriak Raden.


“Perempuan sempurna. Setiap sentimeter sangat mulus, sangat perempuan.”


“Jangan bicara seperti itu tentang dirinya, brengsek!”


Guntur tertawa mengejek. “ Pernahkah terpikir olehmu bagaimana rasanya menciumnya? Memeluknya? Melepas pakaiannya? Menidurinya? Kau pernah merindukan istri ayahmu, anakku?”


“Oh, Tuhan!” Dengan perasaan remuk redam, Gemintang lari keluar dari kamar.


Guntur tertawa ketika melihat Gemintang pergi.


“Kau bajingan!” maki Raden kepada ayahnya dengan suara tenang mematikan.


“Aku memang bajingan.” Dengan susah payah Guntur berusaha bangkit dan menopang tubuhnya dengan siku. “Aku akan terpanggang di api neraka, tapi aku menikmati setiap detiknya karena hidupmu lebih tersiksa lagi di dunia ini. Sejak kau dilahirkan, kau selalu membuat masalah denganku.”


“Karena kau brengsek, kau telah membunuh ibuku,” teriak Raden.

__ADS_1


“Ibumu perempuan lemah, yang tidak penah melawanku. Tetapi kau selalu menantangku. Kau selalu menantangku. Aku tak tahan melihat sorot matamu yang menatapku dengan sorot mata penuh kebencian. Makin tambah usiamu, kau makin menyiksaku. Kau menghilangkan hati nuraniku dan menjadikan aku manusia yang punya hati.”


Jari telunjuknya yang kurus lagi gemetar diarahkan kepada Raden. “Kau tak bisa lagi memiliki perempuan itu sekarang, Raden." Guntur berhenti sejenak, kemudian melanjutkan, “Karena aku sudah teriebih dahulu memilikinya. Kau ingat itu. Gemintang istriku!”


__ADS_2