
Hari ini Gemintang bangun siang dari biasanya, ia memakai mantel dan turun ke dapur untuk mengambil secangkir kopi sebelum mulai bekerja di ruang kerjanya. Gemintang melihat Heny bersenandung sambil mencuci piring. “Selamat pagi. Kau kelihatan senang sekali.”
“Raden sarapan banyak,” jawab Heny dengan wajah berseri-seri.
Gemintang tersenyum. “Ia sudah bangun dan pergi?”
“Ya.” Heny mengiakan sambil mengarahkan pandangan ke pintu belakang. Gemintang melangkah ke pintu belakang sambil menghirup kopi. Tampak Raden berdiri di samping salah satu kuda terbaik milik keluarga Guntur, ia berbicara dengan Adit.
Kemudian Gemintang melihat Raden melompat naik ke atas pelana, kakinya yang panjang terentang di badan kuda, dan ia membetulkan letak kakinya yang memakai sepatu boot. Kuda jantan itu berjingkrak-jingkrak sebelum Raden menarik tali kendali kuat-kuat, setelah mengucapkan terima kasih kepada Adit, Raden dan kudanya berpacu menuju tanah lapang yang mengarah ke jalan raya.
Gemintang memandanginya sejauh matanya mampu memandang. Rambut Raden yang hitam berkilat di bawah sinar matahari pagi. Otot paha dan punggungnya tampak menonjol, tanpa kesulitan ia melompati pagar dan mengarahkan kudanya ke pepohonan.
Waktu Gemintang membalikkan badan, Heny memandanginya dengan sorot mata penuh ingin tahu. Gemintang yang gugup memegang dadanya. “Aku harus menelepon beberapa orang, aku akan ke ruang kerja,” gumam Gemintang sebelum meninggalkan dapur dengan tergesa-gesa. Ia memang tidak mampu menahan diri untuk tidak hanyut ketika melihat Raden, tetapi ia harus sangat berhati-hati jangan sampai ada yang menyadari sikapnya itu.
Sebelum mulai bekerja, Gemintang menghubungi perawat rumah sakit yang bertugas menjaga suaminya. Perawat itu tidak banyak memberikan informasi baru. “Tuan Guntur belum bangun, hampir semalaman beliau tidur nyenyak dan hanya bangun sekali, tapi segera kami beri obat penenang.”
“Terima kasih,” ucap Gemintang sebelum memutus hubungan telepon dan memutar nomor telepon Randy. “Apakah ada hal yang harus kulakukan?” tanyanya pada pengacara itu. “Bukannya aku mau lancang, ikut campur urusan pribadi Guntur, aku hanya ingin membantu sebatas yang aku mampu.”
“Aku tidak pernah menganggapmu lancang,” ucap Randy lembut. “Lagi pula itu hakmu."
“Aku tidak memikirkan diriku sendiri. Aku hanya ingin kepastian segala sesuatu yang menyangkut Laura dan Raden.
Pengacara itu terdiam. “Aku tidak tahu semua keinginan Guntur. Sumpah, aku tidak tahu. Ia membuat surat wasiat baru beberapa tahun lalu, kemudian ia meminta aku mengurusnya. Aku yakin akan ada beberapa pasal yang ia buat untukmu."
Setelah selesai bertukar pikiran tentang beberapa masalah bisnis, mereka saling mengucapkan selamat tinggal.
Begitu ia meletakan telepon, telepon itu langsung berdering. “Halo?”
“Mrs. Buana?”
Suara hiruk-pikuk yang terdengar di telepon jelas menunjukkan telepon itu datang dari pabrik. “Ya.”
__ADS_1
“Saya Andi. Ingat mesin yang pernah saya ceritakan beberapa hari lalu? Pagi ini suara mesinnya berisik sekali, karena itu kami matikan.”
Gemintang mengusap dahinya. Kerusakan semacam ini tidak boleh terjadi, sebab sekarang produksi sedang tinggi. Meski hanya satu mesin yang rusak namun itu mengganggu kerja para pejerja dan mereka bisa kehilangan berjam-jam masa produksi.
“Aku segera ke sana,” jawab Gemintang cepat.
Buru‐buru Gemintang menghabiskan sisa kopinya yang sudah dingin, lalu lari naik ke kamarnya yang berada di lantaindua. Setengah jam kemudian, ia sudah mandi dan berpakaian rapi. Gemintang mengenakan rok dari bahan poplin dan blus dari bahan rajut berkerah. Ia memakai sepatu berhak rendah, rambutnya di ikat ekor kuda, kemudian dililit pita warna cerah sebagai pemanis. Gemintang tidak pernah memakai baju mewah ke pabrik. Alasannya, ia ingin para pekerjanya menganggap dirinya bagian dari mereka, bukan sekadar istri si bos.
Ia pamit pada Heny, menjelaskan ke mana ia akan pergi. Kemudian ia mengambil dompet, lalu lari ke pintu depan. Raden baru saja menarik kudanya, saat melihat Gemintang, Raden menyerahkan kudanya pada Adit yang menunggunya, lalu lari menghampiri Gemintang.
“Mau ke mana, terburu‐buru? Ke rumah sakit?”
Dari ekspresi wajah Raden, Gemintang tahu Raden mengira ketergesa-gesaannya karena kondisi ayahnya yang memburuk. Meski keduanya tidak pernah rukun, Raden peduli juga pada ayahnya dan tidak suka melihatnya menanggung penderitaan.
“Tidak. Tadi pagi aku menelepon rumah sakit, kata perawat daddymu belum bangun, dan perawat mengatakan jika sepanjang malam daddymu cukup tenang. Aku mau ke pabrik.”
“Ada masalah?”
Raden mengangguk. “Parah?”
“Sepertinya, karena mandor terpaksa harus mematikannya.” Gemintang melihat Raden berpikir keras dan sebelum mempertimbangkan lebih jauh, ia berkata, “Mau temani aku ke sana, Raden?” Pandangan mata Raden beralih ke Gemintang, membuat Gemintang harus menelan ludah. “Mungkin saja, jika kau melihatnya, kau tahu apa masalahnya. Aku butuh bantuanmu. Kalau minta bantuan orang lain, orang itu mungkin saja akan menarik keuntungan dalam situasi seperti ini.”
Raden menatap Gemintang begitu lama dan tajam, membuat Gemintang berpikir pria itu akan menolak ajakannya. Kemudian Raden mengulurkan tangan. “Biar aku yang nyetir.”
Gemintang meletakkan kunci mobilnya ke telapak tangan Raden, lalu berlari ke mobil, mengambil sisi yang berlawanan. Cara Raden mengemudikan mobil sangat, agresif. Terdengar suara ban mobil mencicit nyaring ketika dibelokkan, kerikil beterbangan dan debu mengepul.
“Mesin ini sering mogok?” tanya Raden pada Gemintang.
“Ya, beberapa kali.
“Baru‐baru ini?”
__ADS_1
“Ya.”
Gemintang berharap mereka bisa terus bercakap-cakap mengenai pekerjaan, karena berada di dekat Raden mengacaukan perasaannya. Aroma tubuh Raden bak udara pagi yang menyegarkan, seperti angin. Gambaran Raden yang duduk di kuda muncul kembali dalam benaknya.
Masih segar dalam ingatannya, Raden datang ke tempat biasa mereka bertemu, dengan membawa kudanya. Gemintang merasa tubuhnya menciut melihat kuda yang sangat besar. Raden tertawa melihat Gemintang gugup dan memaksa gadis itu naik kuda bersamanya. Dengan enteng Raden mengangkat tubuh Gemintang ke punggung kuda. Beruntung hari itu Gemintang memakai rok lebar sehingga ia bisa duduk mengangkang.
Bahkan sampai saat ini Gemintang masih ingat bagaimana rasanya bulu-bulu kuda itu menyentuh pahanya yang telanj*ng, perut Raden yang menyentuh pinggulnya ketika pria itu duduk di belakangnya, gerakan naik-turun paha Raden yang menyentuh pahanya, kekokohan lengannya yang memegang tali kendali ketika mengajaknya berkeliling.
Tubuh Raden terasa hangat dan agak basah karena keringat. Raden meletakkan dagunya di rambutnya. Bahkan ia masih bisa merasakan napas Raden di pipinya, di kelopak matanya. Ia mencium aroma yang sama hari ini seperti dua belas tahun lalu.
Tidak banyak yang ia ingat ketika menunggang kuda di bawah pepohonan yang rindang yang ia ingat hanyalah dadanya yang berdebar-debar ketika melihat Raden meletakkan tangannya di pahanya.
Kini ia mengamati tangan Raden yang memegang stir kemudi.
Tangan yang indah. Berwarna gelap dan kokoh, ramping dan terawat. Kukunya dipotong pendek. Bulu-bulu hitam halus tumbuh pada buku-buku tangan, punggung tangan, dan pergelangan tangan.
“Ayo kubantu turun,” ucap Raden, sambil mengulurkan tangan kepada Gemintang.
Gemintang menurunkan kakinya dari punggung kuda, tubuhnya agak dimiringkan dan tangannya di pundak Raden. Tangan Raden memegang lengan bagian bawahnya ketika Gemintang perlahan turun dari punggung kuda. Namun, saat kaki Gemintang sudah menyentuh tanah, Raden tidak melepaskan genggamannya, bergumam...
“Gemintang. Gemintang.”
Gemintang tersentak, panggilan Raden bukan hanya ada dalam angan-angannya tetapi betul-betul terjadi saat ini.
“Ada apa?” Ia menatap Raden, kecemasannya tak dapat disembunyikan. Matanya bagai berkabut dan sendu, teringat kedekatan yang pernah ada di antara mereka.
Raden menatap Gemintang penuh keheranan. “Aku bertanya apakah ada tempat parkir khusus untukmu.”
“Oh. Y-ya. Dekat pintu. Ada tandanya.”
Raden mengarahkan mobil ke tempat yang bertuliskan nama Gemintang di aspal dan memati‐kan mesin mobil. Setelah itu Gemintang kembali melihat Raden yang tengah menatapnya dengan tatapan heran. “Sudah siap masuk?” Raden seperti tidak yakin Gemintang siap.
__ADS_1
Gemintang merasa harus segera menjauhkan diri dari kenangan manis itu. "Iya," Gemintang membuka pintu mobil dan hampir terjatuh karena terburu-buru menjauh dari mobil.