
“Undangan, puncak perayaan ulang tahun kota. Guntur terpilih sebagai warga kota paling taat pajak dan walikota ingin memberinya penghargaan," ucap Randy.
Gemintang tak mengira dirinya akan mendapatkan undangan tersebut. “Mereka ingin memberikan penghargaan? Mengapa? Mengapa mereka tidak memberikan penghargaan itu kepada orang yang benar-benar taat pajak?” seingatnya Guntur pernah beberapa kali menunggak pembayaran pajak, maklum orang sepelit Guntur agak sulit untuk mengeluarkan uang.
Randy mengangkat bahu. “Entahlah," ucapnya. "Mungkin karena Gunturpenyumbang pajak terbesar untuk kota ini jadi mereka memaklumkan jika Guntur tepat satu atau dua kali."
Gemintang berdiri sambil berkacak pinggang, melangkah ke jendela. Ia melihat rintik hujan yang membuatnya sedih, karena hujan kali ini berbeda dari hujan dua bulan yang lalu, saat masih ada Raden. Gemintang menekankan dahinya ke kaca jendela yang dingin. Mampukah ia menghilangkan kerinduannya pada Raden?
Foto pria itu terpampang di koran dua hari yang lalu. Adit melihatnya dan Laura yang buru-buru memperlihatkannya pada Gemintang. Satu lagi kota yang memberi izin mendarat pada perusahaan penerbangan Raden. Di foto itu Raden bersalaman dengan Walikota, tersenyum, memperlihatkan giginya yang putih di wajahnya yang menawan. Rambutnya tergerai di dahi. Betapa ingin Gemintang menyentuh wajah itu, mengelusnya seperti dulu.
“Kau merindukannya ya?” tanya Randy perlahan.
“Guntur?” tanya Gemintang.
“Bukan. Raden.”
Gemintang berbalik. “Kau tahu?” tanyanya terkejut.
Wajah Randy yang penuh keriput tersenyum penuh arti. “Aku menangkap sesuatu di antara kau dan Raden jauh sebelum ia kembali ke rumah. Dengar dulu...” Randy mengangkat tangan ketika melihat Gemintang membuka mulut.
”Aku bukan mau memancingmu. Tapi waktu aku menghadiri pernikahan Laura, aku melihat kalian berdua seperti orang yang sedang kasmaran. Betulkah?”
“Ya.” Gemintang mengakui. "Kau sahabat baikku, Randy. Ketika aku dan Guntur menikah, aku tahu kau terkejut, tetapi kau tetap berusaha menghormati keputusanku." Gemintang kembali menghadap Randy. “Saat ini terlalu banyak orang yang tidak senang bila Raden dan aku tinggal serumah. Padahal sebenarnya, meski menikah dengan Guntur, aku tidak pernah tidur dengannya.”
“Aku tahu itu.”
Gemintang tertawa kecil. “Kau penuh dengan kejutan malam ini. Kukira kau akan terkejut.”
“Aku tahu dari dokter yang menanganinya, jadi aku tak perlu cemas ketika melihatmu dekat dengan Raden, kau dan Raden tak salah."
Gemintang kembali duduk di kursinya. “Apa kau tahu, jika soal warisan itu hanyalah akal bulusnya saja agar Raden membenciku dan pergi dari rumah ini selamanya?"
“Aku tahu, lebih dari yang kau kira.”
“Kalau kau tahu dia sejahat itu mengapa kau tetap berteman dengannya begitu lama?”
“Aku hanya pengacaranya saja. Guntur tidak punya teman, dia tidak mau berteman dengan siapa pun. Aku tetap bersamanya, agar bisa mengawasi gerak-geriknya, dia tidak pernah menyadari jika aku sering melindungi bisnisnya.”
Gemintang menumpukan siku di meja dan bertopang dagu, sambil menggosok-gosok dahi. “Dia tidak pantas menerima penghargaan itu.”
“Kau mau dengar nasihatku?”
“Ya.”
“Terima saja, tersenyum dengan anggun, lagi pula sekarang kau yang memegang kendali bisnis itu secara penuh, pabrik itu akan taat pajak, jadi tidak akan menimbulkan masalah. ”
“Kurasa kau benar juga.”
Randy berdiri dan Gemintang berjalan di sisinya, mereka melangkah ke arah pintu. “Aku akan menyampaikan kepada mereka besok bahwa kau bersedia menerima penghargaan itu mewakili Guntur.”
__ADS_1
“Randy,” ujar Gemintang, berhenti di pintu. “Apa yang harus dilakukan, secara hukum, untuk pemindah nama sertifikat rumah atas nama orang lain?”
Kali ini Gemintang benar-benar membuat Randy terkejut. “Kau tidak hendak menjualnya, kan?” tanya Randy, sangat terkejut.
“Tidak. Aku ingin memberikannya kepada orang lain.”
Randy mengamati wajah Gemintang dan menemukan jawabannya di sana. Karena itu ia tidak menanyakannya lebih lanjut. "Rumah ini sudah menjadi milikmu, kau bisa berbuat sesukamu terhadap rumah ini, tidak ada ketentuan yang melarangmu mengalihkannya kepada orang lain. Ketentuan yang tertulis hanya Laura harus diperbolehkan tetap tinggal di rumah ini seumur hidupnya.”
“Aku paham. Itu tidak akan memengaruhi, perubahan nama rumah ini.”
“Kalau bagitu tidak ada masalah bila kau hendak mengalihkan kepemilikannya. Bila kau yakin benar itu yang kau mau.”
Gemintang mengangguk. “Kapan tepatnya perayaan ulang tahun kota ini diselenggarakan?”
“Acaranya selama satu minggu, pada minggu ketiga bulan Oktober, namun puncaknya di tanggal 31. Masih sebulan lagi.” Randy meletakkan tangannya pada pegangan pintu. “Mereka minta alamat Raden. Aku yakin mereka ingin mengundangnya juga.”
Gemintang mengalihkan pandangan dari Randy. “Apakah kau bisa mengubah setifikatnya sebelum minggu ketiga bulan Oktober?” ia kembali memandang Randy, pria itu tersenyum padanya dengan penuh kasih.
“Kau tahu, andai tidak terlibat dengan keluarga Buana, kurasa aku sudah jatuh cinta padamu," ucap Randy sebelum meninggalkan kediaman Gemintang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
HEI!
Gemintang berhenti dan berbalik ke arah gadis muda yang menyapanya dengan kasar. “Kau bicara denganku?” tanya Gemintang.
“Ya," jawab Gemintang.
Usia gadis muda itu kira-kira tidak lebih dari dua belas tahun, tetapi ia sudah memakai eyeshadow ungu mengilap dan eyeliner biru yang tebal sekali. Rambutnya yang hitam dipotong pendek, disisir tegak di bagian atas kepala. Salah satu daun telinganya ditindik tiga. Klip kertas yang berwarna-warni tergantung di setiap lubang tindikannya. Daun telinga yang satunya lagi memakai anting‐anting berbentuk bintang berukuran besar yang berkilat-kilat. Bibirnya dipoles lipstik warna putih.
Pakaiannya tak kalah ramai dari riasan wajahnya. Rok mini warna hijau dipadu dengan kemeja putih dengan gambar bibir merah darah dan lidah menjulur. Gemintang mengira gadis itu pasti mengenakan pakaian untuk bermain drama. Orangtua macam apa yang membiarkan gadis dengan pakaian seperti itu berkeliaran di jalan? Namun gadis itu menarik perhatiannya. “Dari mana kau tahu namaku?”
“Aku kenal tuan Buana, Raden Matahari Terbit Buana. Tapi itu dulu. Namaku Alyssa.”
Gemintang membelalak karena terkejut. Ini rupanya putri Willona, yang sangat dikasihi Raden sebelum ibunya memisahkannya dengan Raden. “Apa kabar, Alyssa?”
“Baik. Kau yang menikah dengan ayah Raden, bukan?”
“Dengan Guntur. Beliau sudah meninggal beberapa bulan yang lalu.”
“Tentu, aku tahu itu. Semua orang di kota ini pun tahu. Beberapa waktu yang lalu aku melihatmu dan ayah... Maksudku tuan Buana di supermarket.”
“Mengapa kau tak menyapa kami?”
Gadis itu mengangkat bahu dengan sikap tidak sopan. “Tidak ingin saja. Mungkin ayah juga kaga inget sama gue."
"Tidak ingat denganku, bukan kaga inget sama gue."
"Heh?"
__ADS_1
"Maaf aku mengoreksi kalimatmu."
"Aku yang minta maaf karena baik di rumah bersama ibuku maupun di luar aku biasa menggunakan bahasa gaul Jakarta."
Hati Gemintang sedih melihat gadis itu, Willona terlihat tidak mengajarkan Alyssa cara bicara yang baik kepada orang yang lebih tua. Di tambah melihat teman-teman yang bersama Alyssa, gadis-gadis yang bersama Alyssa itu seperti orang yang baru keluar dari tempat rehabilitasi, bahkan ada salah satu gadis yang menyalakan rokok, Gemintang tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, namun buru-buru ia mencoba untuk tersenyum.
“Bagaimana kabar ibumu?”
“Dia sudah kawin lagi, entah untuk yang keberapa kalinya. Yang jelas suaminya yNg sekarang sangat bajingan. Lebih parah dari sebelumnya. Aku tidak suka tinggal bersamanya.” Kemudian, seperti baru sadar ia terlalu banyak bicara tentang dirinya, ia menarik diri dan berkata, “Nyonya, aku harus pergi.”
“Tunggu!”
Alyssa meliriknya dari balik bulu mata yang dipoles maskara hitam pekat, di balik riasan berlebihan itu Gemintang melihat pemberontakan, dan kerapuhan. Sepertinya gadis kecil itu harus hidup di balik topeng mengerikan dan ingin keluar dari sana. “Bagaimana kalau sekali-kali kau main ke rumahku? Aku ingin mengenalmu lebih jauh.”
Alyssa mencibir sambil mendengus. “Tak usah pura-pura baik kepadaku.”
“Aku sungguh-sungguh mengundangmu ke rumah.”
Entah apa sebabnya, Gemintang memaksakan gadis itu berkunjung ke rumahnya, ia sendiri tak mengerti. Gadis tersebut menyentuh hatinya dengan cara yang ia sendiri tidak mengerti.
Raden pasti tidak suka melihat anak yang sangat dikasihinya kelihatan seperti gadis kesepian. Andai ia bisa menolong, Gemintang ingin sekali menolongnya. “Aku ingin menjadi teman baikmu.”
Bola matanya memancarkan sorot keraguan. “Mengapa?”
“Karena aku sering mendengar cerita tentang dirimu dari ayahmu.”
“Oh ya? Apa yang ia bilang?” Dagunya agak terangkat dengan sikap menantang. Namun Gemintang tahu gadis itu terkejut dan tertarik untuk mendengarnya.
“Ayahmu bilang dulu kau anak yang amat manis. Ia sangat menyayangimu dan sangat sedih ketika harus berpisah denganmu.”
“Tapi dia bukan ayah kandungku.”
“Aku tahu. Tetapi ia menyayangimu seperti anak kandungnya.”
Gadis kecil itu menggigit bibir dan Gemintang merasa sesaat jantungnya berhenti berdebar karena melihat gadis itu seperti mau menangis. “Ayahmu akan datang ke sini beberapa minggu lagi untuk menghadiri HUT kota ini. Bagaimana kalau kau datang dan menemuinya?”
Alyssa mengangkat bahu. “Entahlah. Aku sibuk.”
“Oh, begitu. Aku pikir ayahmu akan gembira sekali bila bisa berjumpa denganmu."
Tanpa menjawab, Alyssa melirik ke arah teman-temannya di belakang, yang menantinya dengan tidak sabar. “Maaf, aku harus pergi.”
“Aku senang bisa berkenalan denganmu, Alyssa. Tolong pertimbangkan untuk datang ke rumahku.”
“Ya, baik.”
Gemintang memandang gadis yang menyusuri trotoar itu. Anak yang malang. Namun perasaan Gemintang senang bisa bertemu dengannya.
.
__ADS_1