Dalam Derasnya Hujan

Dalam Derasnya Hujan
BAB 7


__ADS_3

"ASTAGA!” teriak Raden. Jari‐jarinya meraba-raba hendak menutup ritsleting celana jins. “Sudah berapa lama kau di situ?” Raden ingin tertawa melihat reaksinya. Kalau Raden hanya terkejut melihatnya, gadis itu seperti lumpuh melihat dirinya.


Raden tidak mengira gadis itu akan menjawab, tetapi kemudian dengan tergagap ia berkata, “Aku… aku baru saja sampai di sini.”


“Hmmm, baguslah, karena aku tadi berenang telanj*ng bulat. Kalau kau datang lebih cepat, kita berdua bisa malu.”


Senyum Raden lebar dan penuh percaya diri, penuh keangkuhan. Meski si gadis yang memakai sepatu murahan itu masih terkejut dan gemetar, ia berusaha membalas tersenyum dengan malu-malu. “Kuharap aku tidak mengganggumu,” ucapnya dengan sopan yang membuat Raden geli.


“Tidak, aku sudah selesai. Udara panas sekali. Aku jadi ingin berenang.”


“Ya, udaranya memang panas. Karena itulah aku mengambil jalan pintas ini. Di sini lebih teduh ketimbang di jalan raya.”


Sejak awal Raden sudah tertarik pada gadis itu. Bukan hanya karena wajahnya yang cantik, tetapi juga karena penampilannya yang berbeda. Roknya yang terbuat bahan katun bersih dan licin, yang sudah ketinggalan zaman. Kausnya yang juga berbahan katun berwarna putih, menebarkan aroma sabun cuci, bukan wewangian minyak wangi, yang biasanya dipakai gadis kebanyakan.


Di balik kaus gadis tersebut, Raden melihat garis-garis branya yang putih, yang pastilah sangat tidak nyaman. Gadis‐gadis umumnya memakai model yang disebut push-up b*a untuk menaikkan payudara, yang membuat kekasih mereka tergila-gila.


Ia mengalihkan pandangannya dari payudara si gadis, yang usianya mungkin Lima belas? Atau Enam belas? Gadis itu tampaknya takut sekali padanya.


Tetapi ya ampun, gadis itu cantik sekali. Kulitnya bersih, matanya indah sekali, tubuhnya molek, menunjukkan lekuk feminim, dan rambutnya mengilap, tiap kali angin meniup pepohonan di atas kepalanya, sinar matahari menerpa rambutnya seperti kilatan cahaya di rambut yang lebat itu.


“Kau mau ke mana?”


“Ke kota. Aku kerja di toserba.”

__ADS_1


Raden tidak pernah mengenal gadis yang harus bekerja pada musim liburan, pada umumnya gadis kecil menghabiskan musim liburan seperti ini tengah berlibur ke pantai atau berpesta.


“Namaku Raden Matahari Terbit Buana.”


Gadis itu maju selangkah dan hendak menyalaminya. Sesaat gadis itu terkejut, tetapi kemudian ia pun menyambut tangan Raden dengan malu-malu. “Gemintang Dahayu,” jawabnya dengan suara gemetar, sambil menatap mata Raden.


Mereka saling berpandangan.


Waktu bergulir, serangga berderik di atas kepala mereka, pesawat menderu di langit tinggi, air mengalir membasahi batu-batuan di tepi sungai yang berlumut. Beberapa lama kemudian barulah keduanya bergerak dan melepaskan tangan masing-masing.


“Gemintang Dahayu?’ Raden mengulang nama lengkap si gadis.


“Ya,” jawab gadis itu lembut. Kemudian, meski agak gemetar, ia mengangkat kepala dengan sikap percaya diri yang membuat Raden lega kembali, dan berkata, “Aku harus segera pergi, kalau tidak nanti aku terlambat kerja.”


“Aku juga.”


“Hati-hati berjalan di hutan," ucap Raden. Gemintang tertawa pelan. “Apa yang lucu?”


“Kau memperingatkanku agar berhati-hati, sementara kau sendiri berenang di sungai.” Gadis itu menunjuk sungai. “Mungkin saja di sana ada ular berbisa, dan siapa yang tahu ada makhluk-makhluk lain. Mengapa kau tidak berenang di kolam renang di kota saja?”


Raden mengangkat bahu. “Aku merasa kepanasan.”


Ia kepanasan. Tuhan, ia merasa sangat kepanasan. Ketika tertawa, gadis itu menengadahkan kepalanya ke belakang, menampakkan lehernya yang putih, mulus, dan begitu mengundang. Rambutnya mengilap menutupi leher dan bahu. Bau sabun cuci tercium lebih wangi di hidung Raden dari pada minyak wangi mahal mana pun. Bau itu begitu membaur dengan aroma kulitnya yang segar. Tawanya yang renyah dan tulus menyentuh hati Raden. Tawa itu mengelus bagian hatinya yang sakit luar biasa.

__ADS_1


Ya, Raden kepanasan. Terbakar karena cuaca yang panas. “Pukul berapa kau pulang kerja?” Raden sama terkejutnya seperti Gemintang ketika mendengar pertanyaan yang mendadak meluncur keluar dari mulutnya tersebut.


“Pukul sembilan.” Dengan hati-hati Gemintang mulai melangkah mundur.


“Malam hari? Kau pulang sendirian malam hari?’


“Ya. Tetapi aku tidak lewat hutan. Aku hanya lewat di sini pada siang hari.”


Sejenak Raden membayangkannya. Gadis ini berbeda dengan gadis-gadis yang pernah dikenalnya.


“Aku akan terlambat kerja,” ujar Gemintang dan makin menjauhkan diri, namun Raden merasakan keengganan dalam diri gadis itu.


“Ya, tentu. Jangan sampai terlambat, nanti kau bisa di marahi bosmu. Sampai nanti, Gemintang.”


“Sampai jumpa, Raden.”


Banyak yang tak terucapkan dengan kata-kata pada waktu mereka berpisah. Raden ingin mereka bertemu lagi. Gemintang tak pernah membayangkan mereka bisa berjumpa lagi.


Raden masuk ke mobilnya, dan ia langsung melaju pulang ke rumahnya mewahnya dengan kecepatan tinggi dan masuk ke kamarnya, naik dua anak tangga sekali langkah, dan…


Kini sebagaimana sebelumnya bayangan Gemintang memenuhi benaknya. Raden ingat memasuki kamar yang sama di suatu sore dua belas tahun yang lalu. Dilemparkannya pakaiannya ke lantai tetapi ternyata pakaian itu jatuh ke kursi yang sama.


Ia duduk santai di kursi yang sama saat ini, dengan bayangan perempuan yang sama memenuhi benaknya. Gemintang masih menyimpan misteri, masih sulit dipahami, menghantui dan menguasainya.

__ADS_1


Dan kini, seperti waktu itu, ia sadar, upaya apa pun yang ia lakukan tak mungkin bisa mengobati luka hatinya, tak bisa meredam gejolak hasratnya yang membara.


__ADS_2