
Empat orang duduk di dalam mobil, diam saat mobil melaju di bawah pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan menuju pemakaman. Raden dan Gemintang memandang ke luar jendela. Laura duduk di antara mereka berdua, memainkan saputangan di antara jemarinya. Heny, duduk di belakang, mengamati mereka.
“Sepertinya banyak sekali yang melayat,” komentar Heny, sambil memandang ke arah iring-iringan mobil yang berderet di belakang mobil jenazah dan mobil mereka.
Tak ada yang memberi tanggapan. Namun beberap menit kemudian akhirnya Gemintang berkata, “Kebanyakan penduduk kota, kurasa.”
“Sama seperti waktu mommy meninggal. Ada yang kau ingat, kak?” Laura bertanya takut‐takut. Saat sorot mata Raden tajam hingga membuat Laura merasa takut.
“Ya,” jawab Raden sambil menggigit bibir. “Aku masih ingat.” Setelah menyadari ia berbicara dengan adik perempuannya, Raden menoleh dan tersenyum lembut padanya. di raihnya tangan Laura, lalu diciumnya dan digenggamnya erat-erat. “Banyak orang yang menghadiri pemakaman mommy.”
“Kukira begitu,” jawab Laura, sambil tersenyum, lega karena tidak ada lagi sorot mata dingin dan cemas di wajah kakaknya.
“Orang pasti akan ramai membicarakannya,” ujar Heny, menduga-duga. “Karena kalian tidak membuat acara doa kematian di gereja. Pendeta kaget, dan orang-orang pun akan merasa kaget.”
“Biar saja mereka keheranan, aku tidak peduli apa yang orang-orang katakan,” ucap Raden ketus.
“Sebab kau tidak tinggal di sini, Raden” kilah Heny. “Tapi kami tinggal di sini.”
“Tak ada misa di gereja,” kata Raden, menegaskan. “Kau dengar, Heny?” Sorot matanya yang tajam dan tak mau dibantah, serta suaranya yang berwibawa, membuat Heny tak mengomentari lebih lanjut.
“Baik tuan” Ia menaikkan duduknya karena gusar.
Raden kembali memandang ke luar jendela.
Gemintang iba melihat Heny dan Laura, dua manusia-manusia polos yang harus hidup bersama orang seperti Guntur. Mereka juga tidak mengerti mengapa Raden bersikap dingin menghadapi kematian ayahnya.
__ADS_1
Heny memegang tangan Gemintang dan berkata, “Kau sangat tabah, nyonya. Tetapi aku rasa ketika sudah sendirian, keramaian ini sudah berlalu, kau pasti akan menangis.”
Heny keliru, Gemintang tidak akan menitikkan setetes air mata pun untuk pria yang pernah menjadi suaminya itu. Air matanya sudah kering saat ia meninggalkan kamar di rumah sakit karena penghinaannya.
Raden mengikutinya ke luar beberapa saat kemudian, raut wajahnya tegang, pandangannya dingin dan menakutkan. Sampai detik itu pun, ia tetap tegang.
Bermalam-malam, mereka duduk berjaga di kursi ruang tunggu rumah sakit. Mereka tidak bicara dan tidak saling pandang. Betapa sering Gemintang ingin meminta maaf karena menuduh Raden mengkhianati cinta mereka gara-gara Willona hamil. Betapa ingin ia mengelus, memeluknya, menangisi hari-hari yang memisahkan mereka selama bertahun-tahun. Yang sampai saat ini pun mereka masih terasa terpisah, namun untuk sekarang Gemintang memutuskan menjaga jarak dan diam.
Guntur tak sadarkan diri setelah Raden meninggalkan kamarnya. Dokter menggenggam tangan Gemintang dan mengatakan. “Tidak akan lama lagi. Anda boleh pulang kalau mau. Toh beliau tidak akan tahu Anda ada di kamar atau tidak.”
Gemintang menggeleng, ia tidak ingin melihat wajah Guntur lagi ketika dokter memberitahunya bahwa Guntur telah meninggal, Gemintang meninggalkan rumah sakit bersama Raden, dengan air mata yang telah mengering dan hati hampa.
Kini ia harus berpura-pura berduka, seperti kebanyakan istri yang ditinggalkan suami. Mobil berhenti. Ia dibantu turun oleh petugas pemakaman dan diajak ke tenda yang dibangun di dekat liang kubur. Ia duduk di kursi yang disediakan, duduk dengan kaku, Raden di sebelahnya, Laura di sebelah Raden. Heny memilih berdiri di belakang Laura, meletakkan tangannya di bahu Laura untuk menenangkannya.
Gemintang berusaha menutup telinga, tidak mau mendengarkan khotbah Pendeta. Matanya nanar memandang peti mayat yang penuh dengan taburan bunga mawar putih. Ketika acara doa kematian berakhir, ia menerima ucapan duka cita dari para pelayat.
“Tanpa setitik air mata pun.”
“Tentu saja, sejak Guntur dioperasi, ia sudah tahu semua ini hanya masalah waktu.”
“Ya. mungkin dia sudah mempersiapkan diri.”
“Kendati demikian, dia harusnya memperlihatkan kesedihan, sebagimana orang yang mendapat musibah."
“Aku tak tahu bagaimana nasib pabrik nanti.”
__ADS_1
“Gemintang tetap akan menjalankannya, kurasa.”
“Bagaimana dengan Raden?”
“Ia akan tinggal di sini.”
“Ia akan kembali ke Jakarta.”
“Aku tidak tahu pasti.”
Gemintang mendengar desas‐desus yang dipergunjingkan para pelayat ketika ia berjalan ke arah mobil yang menunggunya. Namun sedikit pun ia tidak merasa terganggu oleh gosip itu. Kelicikan dan tipu muslihat Guntur yang amat keji terhadap dirinya masih segar dalam ingatannya.Oleh sebab itu ia membiarkan mereka menganggap dirinya sebagai orang yang pandai menahan emsoi.
Gemintang tidak akan berdoa atau menangisi kepergian Guntur. Guntur tidak hanya menyakitnya, tetapi juga satu-satunya pria yang pernah ia kasihi. Tak ada kata maaf dalam hatinya buat kejahatan yang dilakukannya.
“Akhirnya selesai sudah upacara pemakamannya,” ucap Raden ketika ia duduk di bangku belakang sambil menjabat tangan pendeta untuk terakhir kalinya, "Terima kasih atas doanya."
Sebetulnya acara belum berakhir, sepanjang petang orang‐orang berdatangan ke kediaman mereka untuk menyampaikan belasungkawanya.
Gemintang yakin kebanyakan dari mereka datang karena didorong rasa perasaan. Mereka ingin melihat perubahan apa yang dilakukan Gemintang pada rumah yang ditinggalkan Agatha. Ia mendapat kesan kebanyakan dari mereka kecewa ketika melihat tak ada yang berubah di rumah itu. Apakah mereka berharap dindingnya ditempeli wallpaper Disney dan lampu remang‐remang?
Mereka juga penasaran tentang Raden dan kehidupannya di Jakarta. Tentang bisnisnya, kehidupan pribadinya, rencana masa depannya. Raden menangani semua pertanyaan itu dengan cerdik dan cekatan.
Begitupun keingintahuan mereka tentang Gemintang. Gemintang yang duduk dengan penuh wibawa dalam kemuraman, diam-diam memerhatikan para pelayat yang mengamatinya.
Gemintang penasaran, apa yang diharapkan orang‐orang itu. Apakah mereka berharap melihat dirinya mengenakan sesuatu selain baju hitam pekat? Apakah mereka mengharapkan dirinya menangis tersedu-sedu? Atau mereka berharap melihatnya kini tertawa-tawa karena suaminya yang sudah tua tapi kaya itu sudah meninggal? Sabagaimana mereka kecewa melihat tak ada perubahan dalam rumah mewah itu, mereka pun kecewa melihat reaksi datar Gemintang.
__ADS_1
Sementara Laura, tidak memberi kesempatan kepada para pelayat untuk berbicara dengannya.
Akhirnya, para pelayat itu pamit dan akhirnya rumah mewah itu kosong.