
Perlahan Raden tersenyum, penuh kelembutan. “Kau sungguh istimewa, kau tahu itu? Bagaimana kau bisa kau selalu berpikir postif? Hmmm… Mengapa setiap kali bersamamu aku tidak merasakan kegelapan, tidak kehilangan harapan? Mengapa aku selalu merasa punya jalan keluar ketika bersamamu? Dan aku merasa kau juga bisa menegurku, mengembalikan kepercayaan diriku?”
Kegembiraan yang dirasakan Gemintang mendengar apa yang dikatakan Raden jelas terpancar. “Betulkah aku melakukan semua hal itu untukmu?”
Mata Raden melembut, ia merapatkan tubuhnya ke tubuh Gemintang, dan menindihnya. Tubuh Raden menegang. “Banyak hal yang sudah kau lakukan untukku,” ujar Raden parau.
Titik hujan jatuh menimpa wajah Gemintang, Raden menutupi tubuh Gemintang dengan punggung, namun titik hujan jatuh makin cepat dan deras. Keduanya tertawa girang seperti anak‐anak ketika merebahkan diri di tanah dan membiarkan air hujan membasahi tubuh mereka. Badai yang mengamuk di musim panas itu perlahan mereda, hujan yang tadinya lebat kini tinggal titik-titik air gerimis.
Raden menopang tubuh dengan siku dan memandangi Gemintang. Wajah Gemintang tetap cantik biarpun tidak memakai kosmetik. Ia malah kelihatan segar dan memikat sekali. Mata Raden tertuju ke leher Gemintang, dan turun lagi. Napasnya memburu. Kemeja putih yang dikenakan Gemintang basah kuyub dan membentuk buah dadanya. Hari ini Gemintang tidak memakai b*a.
Raden menatap Gemintang dengan pandangan bertanya-tanya.
Suara Gemintang rendah dan parau karena perasaan malu. “Aku tidak punya b*a yang bagus untuk ku pakai. Kupikir… bila aku tidak memakai apa-apa, jadi kelihatan tidak terlalu jelek… ” Gemintang seperti mau menangis dan melipat tangannya di dada. “Aku tidak bermaksud...”
“Ssst,” ujar Raden, perlahan menurunkan tangan Gemintang ke samping. Beberapa saat lamanya, satu-satunya suara yang terdengar di sekeliling mereka hanyalah suara titik hujan. Raden menatap Gemintang dengan pandangan kagum. Blus yang basah itu memperlihatkan segalanya, payud*ra yang lembut, puncaknya yang mencuar.
“Kurasa, kudengar suara geledek,” bisik Gemintang dengan tubuh gemetar.
Raden mengangkat tangan dan memegang kemejanya yang basah. “Bukan. Itu suara debar jantungku.”
Raden membungkuk dan menyentuh bibir Gemintang dengan bibirnya. Ciumannya begitu lembut dan manis, sangat penuh kelembutan. Perlahan lidahnya menjilat ujung‐ujung bibir Gemintang, dengan lembut menelusuri garis bibirnya. Telinga Raden menangkap suara mendesah yang keluar dari tenggorokan Gemintang. "Gemintang,” desah Raden.
Ciuman pun berubah, menjadi tidak lagi lembut. Raden memiringkan bibir di atas bibir Gemintang, berusaha membukanya. Lidahnya dijulurkan masuk ke mulut Gemintang. Tangannya memeluk pinggang Gemintang, makin rapat, sesenti demi sesenti, pelan, pelan, sampai akhirnya tangannya diletakkan di pinggang Gemintang, agak mencengkeram, kemudian pelan‐pelan naik, sampai akhirnya mencapai payud*ra Gemintang.
__ADS_1
Seumur hidup Raden, tidak pernah ia merasakan memegang payud*ra perempuan yang belum tumbuh sepenuhnya tetapi sudah penuh itu, terasa sangat nikmat di tangannya. Digenggamnya bagian yang lembut itu, direm*s, dan dipijatnya dengan gerakan memutar. Ia mengeksplorasi payud*ra itu dengan ekstra lembut agar Gemintang tidak terkejut, namun dengan piawainya Raden membangkitkan sensualitas hingga Gemintang ikut merespons. Gemintang merapatkan tubuhnya ke tubuh Raden, setiap gerakan Raden menimbulkan rangsangan dan semakin membangkitkan hasrat Gemintang.
Ketika jari-jari Raden menyentuh puncak payudar*nya, Gemintang melengkungkan punggung dan mendesah lembut. Bagian tubuh yang sensitif itu mencuat. Jari‐jari Raden terus mempermainkannya dengan hati‐hati sampai puncak itu mengeras. Sementara jarinya sibuk dengan payud*ra, lidahnya sibuk menjilati langit‐langit mulut Gemintang. Suara yang keluar dari tenggorokannya tanpa disadarinya dan napasnya yang panas lagi memburu menerpa wajah dan leher Gemintang.
Tangan Raden membuka kancing kemeja Gemintang paling bawah, dan kancing-kancing lainnya dengan cepat. Gemintang tercekat dan memegang tangan Raden. “Raden, jangan,” Vemintang menggeleng ke kanan dan ke kiri. Giginya menggigit-gigit bibir bawahnya.
“Sayang, aku tidak ingin menyakirimu. Aku hanya ingin melihatnya, menyentuhnya," ucap Raden dengan lembut.
Bibir Raden kembali menciumi bibir Gemintang dengan gerakan mengisap. Raden merasa seperti mendapat kehidupan dan cinta dari Gemintang ketika berhasil membuka kemejanya dan menggenggam payud*ra Gemintang yang lembut. Ketika telapak tangannya merasakan kelembutan payud*ra itu, Raden tersulut gelora, yang lebih panas, lebih menggebu, hampir sulit dikendalikan, yang belum pernah dirasakannya selama ia pernah merasakan dorongan **** dalam hidupnya.
Dan ia menyadari seketika itu, tak ada perempuan mana pun yang bisa membuatnya merasa menjadi laki-laki sejati, seperti yang dirasakannya saat itu. Ia telah menemukan orangnya, perempuan yang membuat dirinya menjadi laki-laki sejati.
Raden mengelus, mendorong payud*ra Gemintang tinggi-tinggi dengan tangannya, membelai puncaknya dengan ibu jari. Ia merendahkan tubuhnya beberapa sentimeter, lalu mencium tenggorokan dan leher Gemintang. Kemudian ia mengulum salah satu puncak yang kemerahan itu dan mengisapnya dengan lembut. Gemintang mengerang. Ia merenggut rambut Raden dan memegang kepala pria tersebut erat-erat. Jiwa Raden dipenuhi gelora cinta ketika mendengar Gemintang mendesah nikmat karena apa yang dilakukannya dengan penuh cinta untuk Gemintang.
Gemintang melengkungkan punggungnya lebih tinggi, tangannya mencengkeram bahu Raden. “Raden, Raden.” Rintihan Gemintang menyiratkan kenikmatan sekaligus ketakutan; yang keduanya dipahami Raden.
“Tak apa-apa, Sayang. Aku tidak akan menyakitimu. Sumpah, aku tidak akan pernah menyakitimu.”
Sentuhan tangan Raden terasa selembut kapas. Ia terus membelai dan mengelus, sampai akhirnya tak ada lagi pakaian yang melekat di tubuh Gemintang. Jari-jari Raden mengelus kewanitaan Gemintang.
“Oh, Gemintang,” desah Raden, menenggelamkan bibirnya di leher Gemintang. “Kau begitu cantik.…”
Jari-jari Raden terus mempermainkan, membuka, dan menemukan. Ketika Gemintang menggeliat-geliatkan tubuh, Raden tahu ia berhasil menemukan sumber keajaibannya. Dengan piawai ia agak menekan, membentuk lingkaran-lingkaran, dan mengelus bagian tubuh itu sampai terdengar suara mengerang dari tenggorokan Gemintang, dengan kepala terkulai ke belakang. Suara rintihan Gemintang berbaur dengan gemerisik angin dan hujan yang jatuh membasahi pepohonan.
__ADS_1
Raden mengamati wajah Gemintang, yang tenggelam dalam kenikmatan, tidak menyadari ekspresinya. Dilihatnya mata Gemintang mengerjap-ngerjap ketika ia menyadarkan Gemintang dan perlahan mengembalikannya ke dunia nyata, lepas dari cengkeraman kenikmatan yang menghanyutkan itu.
Kenyataan menimbulkan kebingungan. Gemintang menurunkan roknya yang terlipat-lipat sampai pinggang. “Raden..” Gemintang memanggil Raden dengan nada tinggi. “Raden, apa yang terjadi atas diriku? Aku takut sekali.”
Raden mendekap Gemintang erat-erat, tangannya memegang kedua sisi kepala Gemintang. Ia mengecup lembut seluruh wajah Gemintang dan menenangkannya.. “Tidak, aku tidak akan melakukannya, meski aku ingin sekali." Raden mencium kening Gemintang,
Gemintang menangis tersedu-sedu. Air matanya bercampur air hujan. Raden menyeka air mata dari pipi Gemintang dengan ibu jarinya. “Jangan menangis.” Raden bangkit dan menarik Gemintang berdiri juga, mendekapnya erat-erat. Gemintang masih saja menangis. “Mengapa kau menangis, Gemintang?” andai tadi ia sampai melakukannya dan melukai Gemintang, ia takkan pernah memaafkan dirinya. Apakah Gemintang malah takut dengannya? “Katakan, kenapa kau menangis?”
“Setelah apa yang terjadi, kau akan menganggapku perempuan murahan.”
"Tidak sayang," bisik Raden sambil mendekap tubuh Gemintang lebih erat ke tubuhnya. “Aku mencintaimu.”
Perlahan-lahan Gemintang mengangkat kepala dan menatap Raden. “Kau mencintaiku?”
“Aku mencintaimu,” kata Raden, karena ia tahu itulah perasaannya yang sesungguhnya terhadap Gemintang. Andai ia tidak mencintainya, tentu ia akan memaksa Gemintang memuaskan hasratnya. “Aku mencintaimu. Betapa pun sulit, aku akan datang ke sini lagi besok.” Raden memeluk Gemintang erat-erat, menciuminya sampai Gemintang sesak napas. Kemudian, sambil mendekap Gemintang seakan ia sudah menjadi miliknya, Raden berbisik di telinga Gemintang, “Maafkan aku, kita hampir melewati batas, Gemintang. Aku janji ini tidak akan terluang lagi.”
“Tentu saja jangan!” jawab Gemintang sambil terisak pelan. “Karena hubungan ini hanya main-main."
“Tidak, aku tidak menganggap ini main-main, aku akan mencari cara bagaimana supaya kita bisa berkencan dengan pantas, aku akan bilang dengan orang tuaku jika aku mencintaimu" Raden membatu Gemintang mengenakan kembali kemejanya.
"Besok aku akan membawa berita baik. Besok, sayangku. Di sini. Di tempat kita berada ini.” Tangan Raden mendekap wajah Gemintang. Ia tidak yakin dirinya bisa memenuhi janjinya. Ia ingin menikahi Gemintang, tapi ia tak peduli apa pun risikonya.
“Besok, besok,” kata Raden berulang-ulang sambil mundur, merentangkan tangannya, sampai akhirnya ujung jari mereka berpisah. Raden lari menembus hutan di bawah rintik hujan ke tempat ia memarkir mobilnya, ingin cepat‐cepat tiba di rumah…
__ADS_1
Flashback off