
Hidup yang dijalaninya kini penuh kepalsuan, tapi bukan berarti ia tidak bangga pada bisnis penerbangan yang di rintisnya. Ia sangat bangga. Perusahaan penerbangan itu jelas merupakan prestasi yang patut dibanggakan, karena untuk mencapai sukses seperti sekarang dibutuhkan kerja keras bertahun-tahun.
Tetapi bukti kesuksesan tersebut tak punya arti apa-apa bagi dirinya. Akar kehidupannya ada di sini, di desa ini, di tanah yang amat kaya ini, di rumah ini. Kehidupan yang lainnya hanyalah kepalsuan. Ia tidak pernah memaafkan ayahnya yang membuatnya kabur dari rumah ini. Tidak akan pernah.
Mendadak ia berbalik menghadap ke Gemintang. “Mengapa kau menikah dengannya?”
Gemintang hampir takut melihat kemarahan yang terpancar di mata Raden. “Aku tak mau membicarakan kehidupan pribadiku bersama ayahmu denganmu, Raden.”
“Aku tidak ingin tahu kehidupan pribadimu. Aku hanya bertanya, mengapa kau menikah dengannya. Ia kan lebih pantas menjadi kakekmu, ya ampun!” Raden maju, mencondongkan badan ke dekat Gemintang, kedua tangannya bertumpu pada pegangan kursi goyang, mengurung Gemintang yang berada di tengahnya. “Mengapa? Mengapa kau kembali ke desa ini setelah lulus jadi sarjana? Tak ada gunanya kau tinggal di sini.”
Gemintang merasa lehernya kaku karena mendongak agar bisa menatap Raden. “Tentu saja aku pulang, ibuku masih hidup. Aku kembali, lalu mendapat pekerjaan di bank, dan menabung selama beberapa bulan agar bisa keluar dari rumah yang mirip kandang babi itu, kemudian mengontrak rumah yang lebih layak. Kemudian aku berjumpa ayahmu di bank. Ia sangat ramah padaku. Ketika ia menawarkan pekerjaan dipabriknya, aku terima. Ia melipat-gandakan gajiku, dibandingkan dengan gajiku di bank, yang membuat aku bisa membiayai pengobatan ibuku meski tak lama ibuku meninggal tapi setidaknya aku bisa memakamkan ibuku dengan terhormat.” ia menyeka air matanya yang sedikit menggenang mengingat kematian ibundanya.
“Setelah beberapa lama aku bekerja di pabrik, aku mulai datang ke rumah ini untuk bekerja di sini."
“Aku yakin kau pasti senang sekali, diundang ke rumah ini.”
“Ya!” seru Gemintang. “Kau tahu betapa aku sangat menyukai rumah ini. Untuk ukuran gadis lugu yang setiap hari harus berjalan kaki menembus hutan, rumah ini seperti istana dalam dongeng. Aku tak menyangkal hal itu, Raden.”
“Lanjutkan. Apakah ayahku seperti Pangeran Tampan dalam dongeng khayalanmu?”
“Sama sekali tidak. Jauh dari itu. Setelah ibuku meninggal, aku lebih banyak menghabiskan waktuku di sini. Ayahmu menyerahkan hampir semua urusan bisnis padaku. Laura dan aku menjadi sahabat. Daddymu yang mendukung persahabatan kami, karena Laura tidak punya teman sebaya.”
__ADS_1
Gemintang membasahi bibirnya, sementara Raden menatap gerakan lidah Gemintang dengan penuh gairah. “Segalanya berlangsung perlahan-lahan. Rasanya hubungan kami sudah sewajarnya setelah aku banyak menghabiskan waktu di rumah ini. Ketika ayahmu melamarku untuk menjadi istrinya, aku mengiakan. Ia bisa mewujudkan semua mimpiku, yang tak mungkin bisa kudapat dengan cara lain.”
“Gelar kehormatan?”
“Ya.”
“Pakaian?”
“Ya.”
“Uang?"
“Ya.”
“Rumah yang selalu kudambakan.”
“Untuk semua itukah kau jual dirimu pada daddymu?” bentak Raden.
“Dalam beberapa hal, kurasa demikian.” Reaksi yang ditunjukkan Raden membuat Gemintang merasa dirinya seperti manusia tidak berharga. Namun ia berusaha membela diri. “Aku ingin menjadi sahabat dekat Laura. Aku ingin menolong daddymu.”
“Jadi seorang motivatornya?”
__ADS_1
“Tidak,” kilah Gemintang sambil menunduk. “Aku ingin tinggal di rumah ini. Aku ingin orang menghormatiku karena aku istri Guntur. Ya, aku menginginkan semua itu. Aku dibesarkan di rumah gubuk, hidup susah setiap hari, mengenakan pakaian rombeng sementara gadis-gadis sebayaku memakai baju dan rok cantik. Aku harus bekerja sepulang sekolah setiap hari, bahkan di hari Minggu pun aku bekerja, sementara para gadis lain bisa nongkrong di cafe, nonton bioskop, sedangkan aku hanyalah anak pemabuk. Kau takkan bisa memahami semua itu, Raden!”
Sambil menyebut nama Raden, Gemintang bergerak hendak bangkit, tetapi Raden bergeming dari tempatnya. Tubuh Gemintang berhadapan dengan Raden. Raden mencengkeram lengan Gemintang. Napas keduanya memburu, keduanya seperti habis marathon.
Gemintang tidak mau mengangkat kepalanya dan menatap Raden. Bila berbuat begitu, ia tidak tahu apa yang dilaakukan Raden selanjutnya. Maka pandangannya hanya diarahkannya sampai ke bagian tenggorokan Raden, ia mengamati denyut nadinya yang cepat.
Gemintang merasakan tubuh bagian bawahnya bergetar, lemas karena gairah. Bibirnya gemetar ketika mengucapkan, “Tolonglah, biarkan aku lewat, Raden, kumohon.”
Raden tidak memedulikan permintaan Gemintang. Ia malah membenamkan wajahnya di leher Gemintang, seperti orang yang tak berdaya, kemudian bibirnya menciumi leher Gemintang, higga membangkitkan gairah Gemintang.
“Meski aku tahu kau istri ayahku, dan aku tahu alasan kau menikah dengannya, tapi mengapa aku tetap menginginkan dirimu?” Dengan gerakan makin liar karena dipenuhi perasaan putus asa, Raden menciumi sisi lain leher Gemintang.
Dengan lemah Gemintang melawan respons dirinya sendiri, “Tidak, tidak, Raden, jangan.”
“Aku sangat merindukanmu sampai sakit rasanya.” Raden terus menciumi leher Gemintang dengan penuh gairah. Bahkan giginya menggigit-gigit kecil. “Aku menginginkanmu. Mengapa, mengapa kau orangnya, mengapa?”
Gemintang mengerang. “Oh, Raden, kumohon jangan…” gumamnya sambil menarik napas dan menjauhkan diri dari Raden.
Raden melepaskan cengkeraman dan menjatuhkan tangannya di kedua sisi badannya, ia melangkah mundur, napasnya memburu dan cepat. Di saat itu Gemintang mengambil kesempatan untuk buru-buru berjalan ke pintu depan.
“Gemintang.” Panggilannya menghentikan langkah Gemintang dan seperti perintah yang menyuruhnya membalikkan badan. “Aku selalu sulit menerima hal-hal yang tidak kusukai, tapi untuk yang tadi aku minta maaf. Seharusnya memang aku tidak ikut campur urusanmu dengan daddy.”
__ADS_1
"Ya memang seharusnya kau tidak mencampuri urusanku," ujar Gemintang dengan tenang. Kemudian ia masuk dan menaiki anak tangga menuju lantai dua kamarnya
Gemintang, berbaring di tempat tidurnya sembari menatap langit-langit kamarnya, ia merenung, berharap esok pagi tidak bertemu dengan Raden. Tetapi Raden ada di rumah ini…