
Terdengar suara keyboard ditekan, kertas yang tercetak dari mesin pencetak serta sepatu hak tinggi milik Park Jini. Wanita berusia dua puluh lima tahun yang sedang menghampiri meja kerja Lee Umji. Seorang penerjemah sekaligus editor sementara bagian novel.
"Ada apa?" tanya Umji membetulkan kacamata yang dipakainya.
Park Jini mengernyitkan dahi. "Kau tidak lupa malam ini bukan?"
Umji menghela napas panjang. "Aku tidak ikut. Banyak pekerjaan yang harus aku bawa pulang," ujarnya melirikkan mata ke tumpukkan novel asing yang perlu ia terjemahkan.
"Padahal hari ini Pak Ryeol ulang tahun, makanan enak akan tersaji," goda Jini melirik Umji yang tidak bergeming.
Sebagai karyawan biasa. Perayaan ulang tahun atasan akan sangat membantu perut memperoleh nutrisi yang baik. Apalagi jika akhir bulan seperti sekarang.
Lee Umji sekali lagi menolak tawaran Park Jini. Ia benar-benar tidak bisa dan tidak mau ke tempat yang penuh keramaian. Kepenatan dan lelah sudah begitu menumpuk di tubuhnya. Setelah bekerja nanti, ia hanya ingin lekas terpejam. Beristirahat.
Rekan kerja Umji termasuk Jini pulang lebih awal setelah menerima pesan dari Pak Ryeol yang sudah terlebih dahulu tiba di lokasi acara. Tidak seperti dirinya yang memilih tinggal sebentar mengatur pekerjaannya sebelum pulang.
"Kau tidak ikut bergabung dengan lainnya?" Seorang pria muncul dari ruangan lain.
Pria itu telah memakai ransel yang sehari-hari menemaninya setiap peegi bekerja.
"Kau sendiri?" tanya Umji menghentikan gerak tangan pada mouse komputer.
Umji beralih menatap Ha Mino. Seorang editor yang bulan lalu pindah ke bagian penerbitan majalah. Setelah sebelumnya berada di bagian penerbitan novel yang sama dengan tempat Umji sekarang.
"Aku ada acara malam ini," balas Mino memerhatikan tumpukan naskah pada meja Umji.
Mino perlahan mendekat lalu menyentuh salah satu naskah bagian bawah. "Ini menarik."
Umji tersenyum. Ia tahu betul bahwa pilihan naskah yang selalu masuk ke perusahaan penerbitan yang jika dirasa menarik oleh Mino maka benar-benar menarik dan layak diterbitkan.
__ADS_1
"Aku tidak pernah menduga kau akan dipindahkan ke bagian lain. Cukup sulit sekarang, apalagi selera pasar selalu berubah," ujar Umji menyayangkan kepindahan Mino.
Mino tertawa kecil. "Aku yang memintanya."
Alis kiri Umji terangkat heran. "Kenapa? Oh aku benar-benar ketinggalan." Ia kemudian mencoba mengingat-ingat setelah mengucapkan kalimat tersebut.
Umji mengingat kilas balik bahwa ia baru saja selesai setelah masa cuti satu bulan yang mengharuskannya pulang ke Busan, rumah orang tuanya. Apalagi kalau bukan masa pemulihan setelah mengalami kecelakaan yang membuatnya koma selama dua tahun.
"Aku merasa membutuhkan tantangan baru dan sedang tidak ingin bertemu dengan seseorang di bagian ini," ucap Mino menjentikkan kukunya ketika mengatakan kata 'bagian ini'.
Umji paham betul kalau orang yang tak ingin ditemui Mino adalah Jini. Karena mereka berdua adalah mantan sepasang kekasih ketika bergabung pada awal masuk ke perusahaan.
"Kau ingin pulang bersama. Naskah-naskah itu cukup berat untuk kau bawa sendiri. Apalagi ini berada di lantai lima," ujar Mino menawarkan.
Setelah berpikir Umji menerima tawaran Mino yang mempunyai kendaraan pribadi mobil. Mereka berdua lalu menuju parkiran sambil membawa setumpuk naskah yang siap dibaca oleh Umji ketika pulang nanti.
Begitu sampai di apartemen Umji yang berada tidak jauh dari perusahaan, Mino ikut membawa naskah-naskah tersebut sampai ke depan pintu. Untung saja apartemen Umji tidak memiliki masalah dengan lift seperti sebelumnya.
Umji meletakkan naskah yang dibawanya tadi ke lantai lalu mulai memencet tombol kata sandi apartemennya.
"Apakah kusimpan di sini?" tanya Mino meletakkannya di meja depan televisi, setelah memerhatikan bahwa meja kerja Umji yang berada dekat jendela samping kasur sudah tidak ada ruang kosong. Tumpukan naskah lain serta beberapa peralatan elektronik membuatnya begitu penuh.
Apartemen Umji memang terbilang kecil yang hanya satu ruangan yang cukup menaruh tempat tidur, meja kerja, meja depan televisi dan rak buku. Di samping bagian kamar mandi ada ruang yang masih menyatu dengan ruang utama sebagai dapur yang bagian bawah kompor listrik terdapat mesin cuci. Untung saja ia mempunyai balkon untuk menjemur pakaian.
"Iya, maaf merepotkan," ujar Umji juga meletakkan naskah yang dipegangnya di samping naskah yang dibawa Mino.
"Kau ingin minum sesuatu?" tanya Umji menawarkan.
"Tidak usah. Habis ini aku akan minum soju bersama teman-teman kuliahku," balas Mino sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
Umji mengangguk mengerti. Ia mengantar Mino sampai ke depan pintu. "Terima kasih ya."
Mino yang telah berada di luar pintu mengangguk lalu mengangkat jarinya menunjuk sesuatu yang ada di depan jendela besar. "Papan tulis yang kau jadikan untuk menyusun bagan-bagan naskah sepertinya lama tidak terpakai."
Umji mengikuti telunjuk Mino, melihat sebuah benda persegi panjang tertutup kain hitam. "Sekarang aku memilih memakai tablet pc untuk membuat hal seperti itu. Praktis."
Mino tersenyum mendengar balasan Umji. "Baiklah, selamat malam. Semoga akhir pekanmu menyenangkan."
"Iya, kau juga."
Umji menutup pintu lalu bergegas ke kamar mandi untuk mandi. Mengganti kemeja yang tadi pakaianya dengan piyama. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Tidak heran jika perutnya mulai mengeluarkan suara pertanda lapar.
Ia menuju kulkas dan tidak menemukan bahan yang bisa dimakan kecuali kimchi buatan ibunya yang dibawa dari Busan. Maka dari itu ia memutuskan menuju salah satu minimarket dekat bangunan apartemen untuk membeli mie ramyeon. Tetapi ia terlebih dahulu memakai jaket besar untuk menutupi piyama yang dipakainya.
"Oh kau kembali ke rasa yang lama," ujar kasir yang dikenal Umji bernama Kwak Siwo. Seorang mahasiswa yang bekerja paruh waktu sebagai kasir minimarket di tempat itu.
Umji mengernyitkan dahinya. "Ini memang favoritku," ujarnya membaca rasa pedas pada kemasan mie.
Siwo tertawa. "Kau sempat suka sama rasa rumput laut."
Umji terlalu lelah untuk mengingat apakah pernah membeli mie ramyeon secara tidak sengaja atau sengaja yang memiliki rasa rumput laut. "Mungkin waktu itu aku ulang tahun," ujarnya seadanya. Sup rumput laut identik menjadi hidangan wajib saat berulang tahun, begitulah pikirnya.
Umji menyantap mie ramyeon setengah matang bersama kimchi sambil menonton drama televisi. Sebelum menuju tempat tidur ia mengambil naskah yang tadi dibaca oleh Mino sebentar.
"All about you," gumam Umji membaca judul naskah yang ia rasa cukup mainstream.
Namun mata Umji sudah sangat ingin terpejam sehingga belum sempat membaca sinopsis naskah tersebut. Ia memilih menuju tempat tidur dan menarik selimut sambil menyetel pendingin ruangan sampai ketitik cukup rendah.
Umji merasa tubuhnya melayang. Entah karena efek kelelahan yang terlalu berat atau dinginnya udara. Tetapi badannya terasa begitu ringan lalu sedetik kemudian menjadi berat. Matanya ingin terbuka tetapi tenaganya seolah hilang. Napasnya menjadi pelan dan sayup-sayup terdengar suara yang tidak jelas maksudnya.
__ADS_1
Apakah ia sedang ketindisan?
***