Daydream

Daydream
B. SEOUL - 18


__ADS_3

Jun percaya padaku setelah berusaha menjelaskan bahwa Hansung juga mengetahui soal Lee Umji, merujuk pada pertemuan tidak sengajaku dengannya pada ruangan loker di Julliar School, di mana apda saat itu Jun juga datang dan mendengar bagaimana aku dan Hansung membicarakan perihal Lee Umji.


Tidak sampai disitu saja, aku bahkan mencoba meminta Jun mengecek cctv yang berada di depan pintu keluar di apartemen. Setelah melihatnya dan mencocokkan waktu kemungkinan aku kembali ke apartemen dan waktu makan siang di mana ragaku berada di restoran Prancis tersebut, barulah Jun benar-benar yakin bahwa bukan diriku.


Aku terbangun di pagi hari, menemukan Jun masih berbaring di sebelahku. Sejujurnya aku tidak bisa tidur. Rasnaya saat ini aku ingin segera menemui Mino untuk pergi menemui ragaku. Tetapi hal mustahil kulakukan, aku harus bisa mencari cara lain.


Setelah bangun, aku langsung mandi dan berganti pakaian. Jun yang baru bangun menatapku heran.


"Kau mau ke mana?" tanyanya mengernyit.


"Aku mau turun ke kafetaria, mencari sarapan. Mau titip sesuatu?" tanyaku kemudian memakai jaket.


Jun menggeleng pelan. "Tidak, kita turun bersama. Tunggu aku mandi dulu."


Aku hanya mengangguk pelan. Bersikeras untuk pergi sendiri hanya akan menambah kecurigaannya. Pada saat Jun sedang mandi dan aku mulai mendengar gemercik air, aku langsung menelepon Mino.


"Halo, Umji kau di mana?"


"Apartemen Jun, suami Hana. Maafkan aku kemarin tidak ikut bersamamu. Itu karena Akira," ujarku sambil terus melirik ke arah pintu kamar mandi.


Aku kini berdiri di balkon, bersandar pada pembatas balkon. Berusaha sejauh mungkin dari jangkauan Jun.


"Benar, lelaki itu bernama Akira. Kami sempat berkenalan dan ... apakah dia--"


"Ya, dia bernama asli Hansung. Lelaki yang mengenal Kim Hana dengan baik. Raewon dalam naskah All About You," selaku tidak bisa menunggu lagi untuk bercerita.


"Apa? Jadi dia adalah orang yang membawa Hana melarikan diri sehari setelah pernikahannya?"


"Ya, dia juga lelaki yang meninggalkan Hana sewaktu hamil dan membuat mungkin Hana mencoba mengakhiri hidupnya," ujarku dengan nada lemah.


"Sialan," umpat Mino terdengar kesal. Aku memahaminya.


"Lalu bagaimana bisa dia mengenalmu? Maksudku dengan sebagai ragamu?"

__ADS_1


"Entahlah, aku melihat bahawa ragaku pertama kali bertemu dengan Akira atau Hansung di perpustakaan kota. Apa mungkin hanya kebetulan?"


"Tidak Umji, jika pun ragamu bertemu dengannya hanya kebetulan, mengapa dia berusaha tetap menjalin komunikasi denganmu?" sanggah Mino terdengar tidak yakin dengan teori kebetulan dariku.


"Mungkin karena wajahku dan Hana mirip?"


"Dan dia telah mengetahui bahwa Umji dan Hana jelas orang berbeda," balas Mino membuatku ikut penasaran sekaligus bingung.


"Jujurlah padaku Umji, semua ini bermula sehak empat tahun yang lalu ketika Hana koma lalu setelah menjalaninya selama dua tahun awal, kau juga ikut koma. Empat tahun yang lalu Hansung telah hilang yang besar kemungkinan selama itu dia verada di Korea!"


Ucapan Mino membuatku terkejut. Benar, bahwa Hansung meninggalkan Hana lalu kemudian diberitakan bahwa dia terlibat kecelakaan di Korea, namun jasadnya tidak pernah ditemukan.


Aku sendiri tidak tahu persis kecelakaan bagaimana yang dialami oleh Hansung. Tetapi kenapa dia harus datang kembali ke Korea Selatan untuk menemui seorang Lee Umji sebagai Akira? Padahal dia telah kembali sebagai Hansung di New York.


"Umji, coba kau ingat kembali juga. Bagaimana kecelakaan yang dulu kau alami?"


Pertanyaan Mino membuat kepala raga milik Hana mendadak terasa sakit. Seolah ingatan kecelakaan yang kualami berusaha kutelusuri oleh jiwaku dengan memakai otak Hana.


"Akan kuhubungi lagi nanti."


Aku segera memasukkan ponsel ke saku jaket yang kupakai. Kemudian aku berbalik badan seolah sedang menikmati pemandangan kota dari atas balkon.


Belum lagi soal Nami yang kemungkinan hari ini sudah tiba di Korea untuk bertemu dengan Olen. Entah apa rencananya. Aku sendiri memiliki sedikit niat menemui Olen, bagaimanapun anak laki-laki pasti merasa asing di sini, Korea.


Sekitar lima belas menit kemudian kurasakan sebuah tangan melingkar pada pinggangku. Aku menoleh mendapati Jun telah berpakaian lengkap.


"Indah bukan?"


Aku mengangguk pelan kembali menatap ke depan. "Bisakah kita tinggal lebih lama lagi di sini?"


Jun terdengar menghela napas. "Kita harus kembali hari ini. Ada rapat penting di NH Grup."


Aku mengumpat dalam hati. Persetan dengan NH Grup yang masih meributkan posisi CEO. Bagiku saat ini bertemu ragaku dan ingin segera menyadarkan Kim Hana adalah yang terpenting.

__ADS_1


"Ayo kita sarapan dulu," ujar Jun sambil menarik tanganku.


Kami tidak makan di kafetaria yang berada pada gedung apartemen. Sebaliknya Jun malah membawaku ke restoran yang menyediakan khusus makanan Korea.


Jun menyewa ruangan privasi sehingga hanya ada kami berdua di sana. Aku tidak menyesal dia membawaku ke mari setelah mencicipi makanan yang sungguh membuatku rindu Korea.


"Kau pasti jarang makan makanan seperti ini?" ujarku menatap Jun yang terluhat menikmati makanannya.


Alis Jun terangkat. "Bukankah selama di New York, kau juga jarang memakan yang seperti ini?


Aku mengutuk mulutku yang berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu.


"Oh benar, tetapi aku menikmati beberapa makanan Korea ketika menyusulmu ke Korea dulu," ujarku memberi alasan. Mengungkit masa di mana aku menuju Jepang kemudian melanjutkan ke Korea Selatan.


"Ini kedua kalinya kita bertemu di sini tanpa direncanakan," ujar Jun menatapku lekat.


Aku tersenyum. "Aku berpikir, apakah mungkin ada ketiga kalinya."


Jun terdiam sesaat lalu menyungging senyum tipis. "Kuharap tidak. Aku ingin selanjutnya direncanakan sehingga bisa menikmati waktu lebih banyak bersamamu."


Kini aku yang terdiam mendengar ucapan Jun. Aku tidak memungkiri bahwa aku cukup menikmati semua momen bersama Jun, terutama perhatian darinya. Tetapi siapa aku? Hanya jiwa yang tersesat dalam raga istrinya.


Sebagai penutup Jun meminta agar disajikan teh hijau hangat. Aku merasa heran, biasanya kue, es krim atau minuman berasa manis yang akan menjadi pelengkap sebagai makanan penutup.


Namun aku tetap mencoba meminum teh hijau dari cangkir kecil. Rasa hangat langsung merasuki tenggorokanku, cukup bisa menetralisir sisa rasa makanan yang penuh bumbu tadi.


Aku menikmati teh hijau tersebut setelah cangkir pertama habis, tetapi ketika mulai meminum cangkir kedua entah mengapa aku merasa tubuhku sedikit berat.


Bukan hanya tubuhku, bahkan mataku juga mulai terasa berat. Aku letakkan cangkir yang berada di tanganku ke atas meja. Perlahan aku mendongak menatap Jun yang berada di depanku. Terpisah oleh meja. Anehnya dia hanya menatapku tanpa bertanya.


Apa ini, tubuhku terasa lemas. Aku bahkan bertopang pada meja dengan kedua tanganku, kala mataku mulai ingin terpejam. Sebelum aku benar-benar terjatuh, bisa kurasakan seseorang menangkap raga ini.


***

__ADS_1


__ADS_2