
Lee Umji membuat dua cangkir teh di dapur. Ia melirik Mino dan Akira yang duduk berselahan di sofa. Ia juga mengambil dua potong kue dari dalam kulkas dan menyuguhkannya sebagai teman minum teh.
"Silakan," ujar Umji kemudian duduk di depan keduanya.
Mino melirik Akira sekilas.
"Aku benar-benar minta maaf Umji telah meninggalkanmu di Tokyo ketika kau tenggelam. Aku tiba-tiba mendapat telepon yang mengabarkan bahwa keluargaku juga mengalami musibah," ujar Akira.
Lee Umji tersenyum. "Aku mengerti," ujarnya lalu beralih menatap Mino. "Kenapa Mino oppa datang ke sini?"
Mino yang sedaritadi memerhatikan Akira kini menatap Umji. "Oh itu ... hm, aku hanya mengecek keadaanmu. Minggu depan kau sudah masuk bekerja bukan?"
"Oh iya, terima kasih. Beberapa naskah yang dikirimkan perusahaan juga sementara juga kukerjakan."
Mino bangkit berdiri. "Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu," ujarnya terlihat merasa canggung dengan hadiran Akira yang juga selalu menatapnya.
Alis Umji terangkat. "Oh begitu, ada kerjaan mendesak?" Ia ikut berdiri melihat Mino yang sepertinya hanya berkunjung sebentar.
"Iya, aku memiliki teman yang datang dari New York," ujar Mino melirik sekilas Akira.
Akira terlihat mengernyit begitu mendengar ucapan Mino. Namun ia tidak berkata apapun.
"Baiklah, aku pergi dulu," pamit Mino mulai berjalan menuju pintu.
Lee Umji mengantar Mino sampai ke depan pintu. "Hati-hati dijalan."
Setelah kepergian lelaki tersebut, Lee Umji yang awalnya ingin berbalik kembali ke sofa, menemukan Akira telah berdiri di belakangnya.
"Aku ingin mengajakmu keluar untuk makan bersama," ujar Akira membuat Umji bingung untuk sesaat.
Namun Lee Umji tetap menerima ajakan tersebut. Akira membawanya ke sebuah restoran yang menyajikan makanan Prancis.
"Apakah kau yakin kita akan makan di sini?" tanya Umji sambil menahan tangan Akira sebelum benar-benar masuk ke dalam restoran.
Akira tersenyum tipis. "Kau akan menyukainya. Bukankah cukup membosankan makan bibimbap atau jajangmyeon."
Ketika masuk ke dalam restoran, mata Lee Umji langsung disuguhkan oleh desain restoran yangs angat kontemporer khas bangunan Eropa yang biasa ia lihat di media sosial.
"Kau mau pesan apa?" tanya Akira melihat daftar menu. Ia duduk dengan posisi berhadapan dengan Umji.
Umji juga telah memegang menu yang membuat alisnya terangkat. "Kurasa aku tidak terlalu tahu tentang makanan Prancis. Kau bisa merekomendasikannya untukku," ujarnya canggung.
__ADS_1
Akira tersenyum membalas. "Baiklah." Ia kemudian memanggil pelayan dan mulai menyebutkan beberapa hidangan seperti Ratatouille, Escargot, Crossaint hingga Foie Gras.
"Apa kau sedang makan di restoran seperti ini?" tanya Umji tidak menyangka bahwa Akira menyukai makanan khas orang barat.
Akira mengangguk pelan. "Dulu aku sering mengajak seorang wanita ke restoran Prancis, dia sangat menyukainya," katanya sambil menatap lekat Lee Umji.
Sebelum Lee Umji membalas, tiba-tiba datang Jini berdiri di samping meja.
"Jini?"
"Lee Umji, aku tidak menduga kau akan berada di sini?" ujar Jini lalu beralih menatap Akira.
"Aku juga hanya diajak. Kau sudah kembali?" tanya Umji mengingat bahwa Jini pergi ke luar kota untuk acara keluarga.
Jini mengangguk. "Benar, aku belum pernah bertemu denganmu semenjak kau dari Jepang," ucapnya lalu duduk di sebelah Umji.
"Tidak, maksudku setelah kau datang kembali ke Korea untuk mengambil naskah tersebut lalu pergi lagi ke Jepang," sanggah Jini membuat Umji terdiam tercengang.
"Jini bagaimana mungkin aku pulang ke Korea padahal...." Ucapan Umji berhenti menyadari bahwa kondisi ia koma, karena tenggelam adalah rahasia yang hanya dirinya, Mino dan ... Akira yang tahu.
"Ada apa?" tanya Jini bingung.
"Perkenalkan aku Akira, teman Umji di Jepang," ujar Akira mengulurkan tangannya.
Lamunan Umji tersadarkan ketika pelayan membawa makanan yang telah dipesan. Jini pun akhirnya ikut memesan makanan untuk diantar ke meja yang sama dengan Umji dan Akira.
"Aku tidak menduga bahwa Umji memiliki teman lain selain rekan kerjanya di kantor," komentar Jini di tengah makan siang yang mereka lakukan.
Alis Akira terangkat. Tangannya masih memegang pisau dan garfu untuk menikmati Foei Gras. "Benarkah? Apakah Umji sangat tertutup?"
Jini terkekeh. "Tidak juga, hanya saja sejak mengalami kecelakaan dan pernah koma, dia kebanyakan berdiam diri di apartemen sambil bekerja," ceritanya.
Umji memilih tidak bersuara. Ia hanya menyungging senyum tipis lalu melirik raut wajah Akira yang tidak terlihat terkejut malah terkesan sendu menatapnya.
"Aku juga mengenal seorang wanita yang juga pernah mengalami koma," balas Akira membuat Jini terkejut.
"Benarkah? Berapa lama?"
"Empat tahun."
Tepat setelah Akira menjawab pertanyaan Jini, secara reflek sendok dan garfu yang dipegang Lee Umji terjatuh ke piring, lepas dari tangannya.
__ADS_1
"Ada apa Umji?" tanya Jini terkejut mendengarnya.
Umji mendongak lalu menatap Akira. "Apakah itu wanita yang sering kau ajak ke restoran seperti tempat kita berada sekarang?" tanyanya.
Akira mengulum senyum lalu mengangguk pelan. "Benar, dia adalah wanita itu."
Jini hanya mengendikkan bahu, tidak mengerti arah pembicaraan Umji atau Akira. Ia kembali memakan ratatouille miliknya.
"Oh ya Umji, sewaktu dirimu kembali ke Korea sebentar dan mengambil naskah itu dariku. Sungguh penampilanmu jauh berbeda dari kau pakai sekarang," komentar Jini lalu meminum anggur merah.
"Berbeda bagaimana?" tanya Akira terlihat penasaran.
"Ya, kelihatan lebih modis dan anggun," puji Jini membuat Umji kehilangan kata-katanya.
"Jini."
"Hm?"
"Apakah kau mendengar soal pria bernama Jun?" tanya Umji membuat Akira tercengang.
"Oh itu adalah teman kuliah Pak Janghyuk yang juga kau temui juga bukan? Bahkan kalian sempat berkenalan," ujar Jini menjelaskan.
"Umji, apa ingatanmu mulai hilang lagi?" tanya Jini dengan dahi mengernyit seolah Umji menanyakan sesuatu yang telah diketahuinya juga, tetapi malah menanyakannya.
Akira menatap lekat Umji. Ia memerhatikan semua fitur wajah perempuan di hadapannya itu secara saksama.
"Lalu, apakah Pak Janghyuk pernah bercerita seorang wanita bernama Kim Hana?" tanya Umji menyelidik.
Jini menggeleng. "Aku belum pernah mendengar soal wanita bernama Kim Hana."
Umji menarik napas dalam. Ia kemudian menatap Jini lalu beralih ke Akira.
"Bagaimana jika yang datang ke kantor pada waktu itu, bukanlah aku?"
Alis Jini terangkat bingung.
Umji menelan ludah. "Bagaimana jika orang yang datang mengambil naskah All About You darimu Jini, adalah wanita bernama Kim Hana, istri dari teman Pak Janghyuk, yaitu Jun. Wanita yang memiliki rupa wajah yang mirip denganku berdasarkan penuturan Pak Janghuk."
Jini tercengang mendengar ucapan Umji soal wanita yang memiliki wajah mirip dengannya. Bagaimana mungkin?
Lalu Akira, raut wajah lelaki itu tidak dapat menyembunyikan rasa tegang dan terkejut sambil menatap Umji.
__ADS_1
***