
Aku tidak menyangka bahwa aku benar-benar berada dalam perjalanan menuju Korea. Senyum tak terelakkan dari bibirku.
Namun aku juga khawatir dengan perjalanan ini. Aku masih belum melupajan bagaimana pagi tadi Jun menatapku serius, dia sendiri akan berangkat ke London hari ini.
Terkait insiden di mana aku melarikan diri dari perusahaan Jun, untung saja Kim Yunsung langsung menyanggah bahwa dia yang menyuruhku pergi untuk menemui Nami. Aku rasa dalam hal ini Nami ikut berperan.
Bukan tanpa benar-benar bebas. Jun memerintahkan Yujin dan Kim Yunsung memerintahkan Yuna untuk menemaniku. Untung saja ketika sudah berada di bandara, Nami datang mencegat keduanya.
Entah apa yang Nami lakukan sehingga Yuna dan Yujin diberangkat menuju Beijing, bukan Seoul. Pesawat kami bahkan lepas landas dengan jadwal bersamaan.
Bukan itu saja membuatku khawatir, tetapi Olen yang kini berada satu pesawat denganku. Olen ditemani oleh Merry menuju Korea. Tidak seperti diriku yang berada di kelas bisnis. Nami sengaja membawa Olen di kelas ekonomi.
"Aku juga akan menyusul ke Korea dua hari lagi melalui penerbangan dari Spanyol."
Ucapan Nami masih terngiang di kepalaku. Bahwa dia akan menyusul Olen. Aku sendiri tidak tahu apa rencananya membawa Olen ke Korea.
Perjalanan yang memakan waktu panjang membuat seluruh badanku terasa begitu kaku dan lelah. Setelah sekian lama duduk di dalam pesawat.
Ketika baru saja aku mengambil koperku, tiba-tiba Merry datang bersama Olen.
"Silakan ikut bersama kami," ujar Merry dalam bahasa Inggris.
Aku menggeleng pelan. "Aku rasa Kim Yunsung dan Jun akan mencariku dengan menanyakan keberadaanku kepada pelayan yang berada di apartemen milik Jun."
Merry mengangguk mengerti lalu tersenyum. "Baiklah, silahkan datang ke mari jika ada waktu," ujarnya memberiku sebuah alamat.
"Sampai jumpa, Bibi Hana," ujar Olen dalam bahasa Korea yang terdengar fasih.
Aku tersenyum membalas lalu melambaikan tangan. "Selamat liburan."
Nami mengatakan padaku semalam bahwa alasannya yang dia berikan kepada Olen dalam rangka perjalanan ke Korea adalah liburan. Kurasa dia juga telah menjelaskan hubungan antara dirinya denganku kepada Olen.
Ketika aku telah keluar dari pintu utama bandara, tiba-tiba ada seorang laki-laki berjas menghampiriku. Mataku menatap langit Korea yang mulai gelap.
"Nona Kim Hana?" ujar lelaki tersebut memakai bahasa Inggris.
"Iya, ada apa?" balasku memakai bahasa Korea.
Lelaki tersebut pada awalnya terlihat terkejut. Ia lalu tersenyum tipis. "Namaku adalah Lee Bom," ujarnya dengan bahasa Korea.
"Aku adalah pengawal sekaligus supir yang Tuan Jun perintahkan untuk membawa Nona ke apartemen," kata Lee Bom membuatku mengerti. Sepertinya aku harus menggunakan taktik lain agar bisa sepenuhnya lolos dari pengawasan Jun.
"Tetapi kata Tuan Jun, bahwa Nona datang bersama dua orang wanita lainnya," ujar Lee Bom dengan alis terangkat.
"Aku tidak terlalu nyaman jika terus diikuti jadi mereka sudah pergi ke hotel. Besok kami akan ketemu," balasku berusaha terdengar tenang.
Lee Bom tampak mengangguk pelan. "Baiklah, silahkan ikut saya," ujarnya lalu mengambil koperku untuk diseretnya.
Apartemen Jun bukan seperti apartemen milikku yang kecil dan hanya cocok untuk satu orang. Luas milik Jun mungkin tiga kali lipat dari punyaku dan berada di pusat Gangnam.
Lee Bom sendiri hanya mengantarku sampai depan pintu apartemen. Ketika baru sampai seorang perempuan menyambutku memakai pakaian pelayan.
"Apakah anda tinggal di dekat sini?" ujarku kepada pelayan yang kuketahui namanya Min Sua.
"Tidak, saya tinggal di rumah saudara yang berada di wilayah Hanam," ujar Min Sua sambil tersenyum.
Aku mengulas senyum lalu mengeluarkan beberapa uang yang telah dikonversikan oleh Jun.
__ADS_1
"Pulanglah memakai taksi. Aku kurang nyaman jika ada orang lain. Lagipula aku hanya akan istirahat malam ini," ujarku terdengar sedikit angkuh.
Min Sua awalnya ragu mengambil uang tersebut sehingga aku langsung menggenggamkannya.
"Jangan khawatir tentang Jun. Aku akan memberitahunya. Kau bisa datang besok pagi."
Setelah menyakinkan Min Sua, akhirnya dia pergi dari apartemen dengan uang yang mungkin setara dengan gaji sebulanku sebagai penerjemah.
Soal istirahat di apartemen hanyalah alasan. Aku terlebih dahulu mandi, kemudian setelah itu memerhatikan apartemen Jun yang benar-benar mewah.
Mataku tidak sengaja melihat cctv yang berada di ruang tamu apartemen. Aku menarik napas dalam lalu mulai menghubungi Jun.
"Halo, Hana kau sudah sampai?" tanya Jun tidak sabaran.
"Iya, aku sudah bertemu Lee Bom dan Min Sua," balasku.
"Oh baguslah. Kau sedang apa?"
"Aku ingin keluar untuk mencari makan malam. Kau sendiri?" tanyaku pelan.
"Oh sebentar lagi aku harus bertemu dengan rekan bisnis di Eropa. Jaga dirimu," ujar Jun lembut.
"Baiklah. Selamat malam."
"Hm, aku akan merindukanmu."
Jleb. Dadaku terasa penuh begitu mendengar Jun mengucapkan kata rindu. Aku menutup telepon terlebih dahulu. Tidak ingin terdistraksi oleh ucapannya. Aku segera memakai jaket dan topi lalu keluar dari apartemen.
Sebenarnya perutku begitu lapar, tetapi malam ini adalah kesempatan terbesarku untuk bertemu dengan Mino. Karena malam ini Jun akan sibuk dengan pertemuannya sehingga tidak akan menghubungi siapapun untuk mengetahui kabarku.
Aku menggunakan taksi menuju apartemen Mino yang berada di dekat apartemen tempat ragaku berada. Ketika sudah berada di depan pintu, aku menarik napas dalam lalu memencet bel.
Aku kemudian membuka topi yang kukenakan. "Halo Mino Oppa," sapaku membuat mata Mino kini terbelalak.
"Kim Hana?" serunya pelan.
Aku tersenyum. "Bisa kita bicara?"
Mino mengangguk pelan lalu mempersilakanku masuk ke dalam apartemen. Kami berdua lalu duduk di sofa dengan posisi berhadapan.
"Apa kau benar-benar Kim-- Umji?"
Mino terlihat begitu bingung. Dia bahkan memerhatikanku mulai dari atas hingga bawah. Gaya kugunakan memang gaya khas Hana dengan rambut tergerai bergelombang, berbeda denganku yang lebih sering kuikat acak.
"Aku baru saja datang ke Korea dari Amerika Serikat. Banyak hal yang ingin kuketahui dan membuatku penasaran," ujarku langsung.
"Tentang apa?"
"Aku sebenarnya tidak tahu harus mulai darimana. Maka akan kucoba, pertama mulai dari naskah novel yang kau rekomendasikan kepadaku. Apakah kau telah mengetahui bahwa itu ditulis oleh Kim Hana?"
Mino terdiam sesaat. Ia lalu mengambil napas dan menatapku. "Aku tidak pernah menyangka bahwa jiwamu akan berada diraga Kim Hana."
Mataku terbelalak mendengar pernyataan Mino yang begitu tepat. Bahkan aku belum mengatakannya, tetapi apakah dia menyadarinya?
Melihat raut wajahku, Mino tersenyum tipis. "Empat tahun lalu Kim Hana koma. Dua tahun lalu kau, Umji juga kecelakaan dan koma. Kemudian setelah setahun dirimu, Lee Umji tersadar dalam keadaan lupa ingatan," ujar Mino mulai bercerita.
"Aku mengira itu adalah efek dari kecelakaan yang kau alami. Tetapi seiring berjalan waktu pada saat itu Pak Ryeol memintaku mendampingimu agar bisa bekerja kembali. Aku menyadari bahwa bukan hanya kenangan atau ingatanmu yang hilang, tetapi juga kebiasaanmu berubah," lanjut Mino bercerita.
__ADS_1
"Kemudian?"
"Aku tentu tahu banyak hal tentangmu, karena aku pernah menyukaimu. Kemudian banyak hal yang aku kerjakan terutama soal penyuntingan pada naskah setiap novel. Aku bahkan membuat bagan struktur perusahaan pada papan tulis yang biasa kau gunakan untuk menulis alur dan plot naskah."
"Sebelum kau kembali koma setelah sekitar tiga bulan sadar, kau memberiku sebuah naskah novel yang baru juga kusadari bahwa naskah itu tidak utuh. Isi naskah kemudian mengingatkanku pada perkataanmu selama tiga bulan terakhir bersama yang begitu berkesinambungan dengan cerita dalam naskah," ujar Mino dengan mata sendunya.
"Perkataan apa itu?"
"Tentang penyesalan, pernikahan, dan ... bunuh diri."
Aku terhenyak lalu memahami sesuatu bahwa pada koma pertamaku di mana ragaku tersadar, jiwa Kim Hana telah berada di sana dalam keadaan ingatannya utuh sehingga menulis naskah novel tersebut.
"Lalu kapan kau menyadari bahwa raga itu bukanlah jiwaku?"
"Kau membacanya bukan, bahwa Song Byeol akhirnya jatuh cinta kepada Minu setelah jiwa berteleportasi. Aku tidak mau mempercayainya, tetapi aku juga menyadari bahwa aku juga mulai jatuh cinta padanya. Sebelum aku bisa mengkonfirmasinya, ragamu kembali koma."
"Kau sendiri sejak kapan menyadari bahwa jiwamu berada pada raga Kim Hana?" tanya Mino beralih padaku.
"Entahlah kurasa dalam kurang lebih tiga bulan terakhir. Aku tiba-tiba saja berada di rumah sakit di New York. Awalnya kukira mimpi ternyata bukan karena...."
"Karena apa?"
"Karena aku sadar bahwa selama aku berada di raga Kim Hana, ketika tertidur maka aku bisa melihat semua hal yang dilakukan oleh ragaku, di mana jiwa Kim Hana sekarang berada," jawabku jujur.
Mino kembali terkejut. "Berarti kau juga bisa melihat tentang aku berkunjung ke apartemenmu beberapa hari yang lalu?"
Aku mengangguk pelan. "Bukan hanya itu, soal kejadian di Jepang. Aku bahkan pernah bertemu denganmu di sana yang kau tuduh bahwa aku adalah orang yang ditemui oleh ragaku. Tetapi bukan."
"Lalu siapa? Tunggu, berarti benar bahwa menurut Pak Janghyuk dirinya bertemu dengan Umji yang datang ke Korea padahal seharusnya di Jepang."
Aku mengangguk. "Benar, ketika aku telah melihat secara langsung ragaku di Jepang sedang terbaring, aku langsung menuju Korea dan menemui Jini untuk melihat naskah novel yang belum kubaca seutuhnya yang ternyata juga tidak lengkap."
Mino mengangguk kepalanya. Seolah semua pertanyaan dan hal menjanggal telah terjawab.
"Jika kau menyadari bahwa dirimu berada di raga Kim Hana, maka kenapa Kim Hana sendiri tidak sadar bahwa ragamu yang dia tempati sekarang?"
Aku mengendikkan bahu. "Aku rasa aku tidka tahu. Sepanjang penglihatanku, dia melakukan pekerjaannya sebagai penerjemah seolah benar bahwa dirinya lah Umji."
"Berarti Kim Hana benar-benar telah menikah?" tanya Mino terdengar ragu diawal.
Aku mengangguk. "Semua orang yang berada dalam naskah tersebut, pernah kutemui di New York."
Mino terhenyak. Ia bahkan menutup mulutnya mungkin terlalu terkejut bahwa apa yang dipikirkannnya adalah kenyataan.
"Awalnya aku mengira bahwa kau, Lee Umji telah sadar sebagai dirimu bukan Hana. Mengingat ketika pertama kali menerima naskah tersebut ragamu bahkan tidak ragu atau berkomentar apapun, bahkan mengopernya kepada Jini."
"Kurasa saat itu Kim Hana benar-benar kehilangan ingatannya."
"Aku harus menemui Kim Hana yang berada di ragaku," ujarku membuat Mino terkejut.
"Kau perlu?"
"Aku sendiri bingung harus bicara apa padanya, tetapi bukankah kau juga penasaran melihat kami berdua saling berdiri berhadapan dalam keadaan sadar?"
Mino terlihat tertarik dengan ideku. Dia mungkin ingin juga memastikan apakah semua yang kukatakan dan dipikirkannya adalah benar.
"Dan Mino Oppa. Ada satu orang dalam naskah cerita yang kenal baik sebagai Kim Hana dan Lee Umji."
__ADS_1
Mino tertegun mendengarnya. Kurasa wajar, mengingat diriku Lee Umji tinggal di Korea dan Kim Hana tinggal di New York dengan strata kehidupan yang jauh berbeda, bagaimana mungkin Hansung yang adalah juga Akira secara kebetulan berhubungan denganku dan Kim Hana?
***