Daydream

Daydream
A. SEOUL:TOKYO - 5


__ADS_3

Umji melihat kopernya sedang ditarik oleh Mino mulai dari pintu apartemen miliknya sama ke lift seperti sekarang. Baru saja matahari terbit dua jam lalu, tiba-tiba ia mendapat telepon dari Mino bahwa lelaki akan menjemputnya untuk ke bandara bersama.


Berdua? Tidak. Umji ketika berada di parkiran melihat seorang laki-laki turun dari mobil Mino.


"Ini teman aku Kim Danso," ujar Mino memperkenalkan laki-laki bernama Danso kepada Umji.


Danso mengulurkan tangannya. "Aku akan menjadi penerjemah kalian dan bisa dibilang memperkenalkan tempat-tempat menarik di Jepang."


Umji menerima uluran tangan tersenyum sambil tersenyum. "Lee Umji. Mohon bantuannya."


Mino menyetir dan Danso duduk di sampingnya. Sedangkan Umji duduk di belakang.


Umji menatap kota Seoul dari balik kaca jendela mobil. Entah mengapa setiap melihat kota ini, selalu ada perasaam asing dalam dirinya. Seolah ia tidak menetap lama di sini.


"Keberangkatan pihak produksi film berbeda dengan kita. Tetapi kita akan bertemu saat tiba di hotel nanti," jelas Mino ketika mereka bertiga telah berada di dalam pesawat.


Umji yang berada di dekat jendela hanya mengangguk singkat. Mino yang duduk di samping mulai mematikan ponselnya. Kemudian Danso yang berada bagian ujung atau samping Mino telah bersiap untuk tidur.


Mengudara membuat Umji bukan berarti melayang dalam mimpi. Ia masih membuka matanya. Perjalanan yang tidak memerlukan waktu panjang hanya akan membuat kepalanua sakit jika tertidur sebentar. Begitulah pikirnya.


Sementara itu Mino memilih membaca sebuah novel sambil memakai kacamata baca. Ia kemudian sadar bahwa wanita di sampingnya hanya melamun.


"Bagaimana naskah yang kurekomendasikan dulu?" tanya Mino meletakkan kacamatanya kembali ke dalam tempatnya.


"Oh itu Jini mengambilnya. Dia bagian seleksi, seharusnya lebih paham," balas Umji menoleh menatap Mino.


Mino terdiam sejenak. "Padahal aku mengharapkan kau yang mengulasnya terlebih dahulu."


"Sejujurnya aku memiliki banyak naskah yang harus aku selesaikan. Belum lagi kesibukan perjalanan seperti sekarang."


"Baiklah, aku tidak ingin membebanimu. Hanya saja aku sangat menyukai naskah tersebut."


Umji mengalihkan pandnagannya begitu melihat Mino memejamkan matanya. Ia merasa bahwa lelaki di sampingnya itu sedikit kecewa dengan keputusannya memberi Jini naskah rekomendasinya. Ia terkadang bingung kenapa Mino terdengar begitu terobsesi dengan naskah yang memiliki pemeran utama bernama Song Byul.


Tokyo sama halnya dengan Seoul, jika bicara tentang keramaiannya. Umji sedikit merasa senang bisa mengunjungi negara sakura tersebut. Pikirannya tidak bisa, tidak memikirkan soal Akira Jun yang juga berangkat ke Jepang hari ini.

__ADS_1


Danso menuntun Mino dan Umji menuju hotel yang alamatnya diperlihatkan oleh Mino. Sebuah hotel yang berada di pusat kota Tokyo.


Mereka bertiga meletakkan barang bawaan di dalam kamar masing-masing. Kemudian memutuskan untuk keluar. Mengisi perut sekalian berjalan-jalan di sekitar hotel.


"Mau makan apa?" tanya Danso menatap Mino dan Umji bergantian.


"Angin sedang berhembus cukup kencang karena musim gugur, kukira sesuatu yang hangat akan bagus," ujar Mino memberi saran.


Umji hanya mengangguk setuju. Ia kali ini ingin mencoba semua yang tidak pernah ia lakukan selama ini. Termasuk memilih jenis makanan baru. Entah mengapa baru ia sadari bahwa kebebasan sangatlah menyenangkan. Bicara tentang itu, kenapa harus kebebasan? Apakah selama ini ia terperangkap?


Danso membawa Mino dan Umji ke salah satu restoran ramen. Bangunan restoran yang tidak terlalu besar dan sebelum masuk mereka harus mendapatkan semacam tiket sesuai jenis makanan yang dipilih. Caranya dengan memasukkan uang ke sebuah mesin.


Lidah Umji tidak terlalu asing dengan ramen. Ia sering ke restoran Jepang yang ada di Seoul. Meskipun begitu, tentu berbeda jika makan di negara asalnya.


Usia menyantap makan siang. Mereka bertiga memutuskan untuk berjalan-jalan. Jalanan di sekitaran Tokyo lebih ramai oleh pejalan kaki.


Umji bahkan terkadang merasa takjub dengan gaya berpakaian orang Jepang, khususnya remaja yang bisa terbiang eksentrik. Ia tersenyum melihat Tokyo dengan segala hal yang baru dilihatnya. Sementara Mino dan Danso sibuk memasuki tokoh komik, ia memilih tetap berada di luar memerhatikan sekitaran jalanan.


Umji mengeluarkan secarik kertas yang bertuliskan nomor Akira. Dengan mengumpulkan keberaniannya, ia mengirimkan pesan kepada lelaki itu.


Tanpa butuh waktu lama balasan pesan Umji datang.


Benarkah? Kirimkan aku alamat hotelmu. Aku ingin mengajakmu berkeliling ke tempat menarik yang ada di Tokyo. - Akira.


Umji tidak bisa menyembunyikan senyum bahagia membaca ajakan Akira.


Baiklah, akan aku tanyakan besok, apakah ada waktu senggang. Karena bagaimana pun ini adalah perjalanan bisnis. - Umji.


"Umji," seru Mino membuat Umji memasukkan ponsel ke dalam saku jaket yang dipakainya.


Umji menoleh. "Ada apa?"


"Kau lihat itu?" ujar Mino menunjuk salah satu tower terkenal di Tokyo.


"Pasti menyenangkan melihat Tokyo dari atas," balas Umji tersenyum membayangkannya.

__ADS_1


"Kau mau ke sana besok?"


"Apakah besok kita tidak sibuk?" tanya Umji balik.


"Hm, besok pihak produksi yang akan meninjau lokasi. Tugas kita dimulai lusa, bertemu dengan penulis novel."


Senyum Umji semakin lebar mengetahui bahwa besok dia tidak punya tugas untuk dikerjakan.


"Maafkan aku. Ada teman yang mengajakku untuk keluar besok," ujar Umji menolak halus ajakan Mino.


Mino mengernyit bingung sekaligus terkejut. Bagaimana mungkin Umji yang baru saja pertama kali ke Jepang sudah mempunyai kenalan bahkan seorang teman?


"Oh itu, dia adalah orang keturunan Jepang yang aku kenal di Korea," lanjut Umji menjelaskan setelah melihat raut wajah Mino.


"Benarkah? Baiklah, kita bisa jalan-jalan setelah pekerjaan selesai," ujar Mino memaklumi.


Sesampai Umji di kamar hotel, ia tidak bisa memgelak bahwa seluruh tubuhnya lelah dan sudah sakit. Ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Karena kamarnya berada di lantai sepuluh, ia bisa menatap Tokyo dalam keadaan gelap seperti sekarang.


Lampu-lampu pertokoan dan kendaraan menyelimuti Tokyo pada malam hari. Umji mengambil kursi lalu duduk di depan jendela. Ia membuka media sosial miliknya. Melihat foto-foto dalam profil instagramnya. Namun entah mengapa beberapa foto terasa asing baginya.


Salah satunya adalah foto di mana dirinya sedang duduk di sebuah kafe sambil menikmati kopi dan kue manis. Umji merasa tidak ingat kapan dan di mana itu terjadi. Ia lalu mengingat juga bahwa Jini mengatakan bahwa dirinya hanya koma satu tahun lalu terbangun dan koma lagi, padahal dalam ingatannya adalah dua tahun tanpa pernah terbangun.


Segala pertanyaan dalam kepalanya membuatnya bingung. Ia beranjak dari kursi lalu menuju tempat tidur. Tetapi tidak langsung tidur. Ia menengadah ke atas dengan posisi berbaring. Namun pikirannya terdistraksi oleh suara pesan yang masuk.


Naskah ini benar-benar bagus. Tidak salah Mino memilihnya. - Jini.


Sebuah foti dikirim oleh Jini. Naskah yang tempo hari diberikan oleh Umji untuk diseleksi oleh Jini.


Apa bagian menariknya? - Umji.


Naskah ini bukan sekadar roman biasa. Ada unsur fantasinya! - Jini.


Song Byul berteleportasi ke tubuh seorang wanita. - Jini.


Jari Umji berhenti mengetik balasan pesan untuk Jini begitu membaca pesan yang baru masuk. Kata teleportasi membuat napasnya berat.

__ADS_1


***


__ADS_2