
Umji pergi ke toko buku. Ia meluangkan waktu akhir pekannya untuk mengamati tentang bagaimana perkembangan novel yang sedang tren saat ini. Ia juga ingin membeli beberapa buku tentang teori praktis pekerjaannya.
Memakai kaus rajut lengan panjang dan celana jeans. Udara musim panas cukup panas. Membuat jalanan tampak sepi dengan orang-orang yang biasanya berjalan kaki kala matahari sudah meninggi seperti saat ini.
Tidak puas hanya ke toko buku. Umji juga menuju salah satu perpustakaan milik pemerintah kota. Ia ke sana hanya sekadar jalan-jalan, karena akan sulit menemukan buku khususnya novel yang sedang hangat di pasaran.
"Kau fasih berbahasa Inggris?"
Seseorang berbicara kepada Umji yang sedang berdiri sambil membaca novel karya Nicholas Sparks.
Umji menoleh melihat seorang laki-laki yang memakai kacamata dengan pakaian kasual ditambah kupluk yang menutupi kepalanya. Kelihatan sangat indie sekali.
"Saya penerjemah," jawab Umji sedikit membungkuk sopan.
"Wah kebetulan sekali, saya juga."
Umji tersenyum. Ia merasa senang bisa bertemu dengan seseorang yang memiliki pekerjaan yang sama dengan dirinya.
"Tapi saya penerjemah bahasa Jepang. Kebetulan juga keturunan Jepang."
"Akira Junho."
Laki-laki itu mengulurkan tangannya kepada Umji sambil tersenyum ramah.
"Lee Umji."
Tidak puas hanya saling bersalaman. Umji dan Akira memilih duduk di meja panjang dalam perpustakaan dengan posisi saling berhadapan. Masing-masing dari mereka sibuk membaca buku yang dipilihnya.
"Kerja kantoran?" tanya Akira setelah menutup buku yang ia baca.
Umji mendongak. Pikirannya sempat terdistorsi. "Iya, perusahaan penerbit Hakyung."
"Kau sendiri?"
"Aku penerjemah lepas. Lebih tepatnya salah satu platform penulisan lebih banyak menggunakan jasaku. Jadi aku lebih banyak mengerjakannya di rumah."
Umji menganggukkan kepalanya mengerti. Ia bahkan sempat berpikir itu melakukan itu. Mengerjakan terjemahan dari apartemennya saja. Tetapi ia takut akan merusak pola hidupnya. Karena beberapa tahun terakhir bekerja sebagai penerjemah banyak membuatnya kenal beberapa penulis. Bahwa sesuatu yang dikerjakan dalam tempat dan waktu yang tidak tetap membuat pikiran mudah stres.
Begitulah beberapa gambaran penulis yang dikenal Umji. Sama halnya jika ia hanya menerima pekerjaan untuk dikerjakan di apartemen. Belum tentu akan selalu bisa di kerjakan di sana.
"Maaf usia anda berapa?" tanya Akira tidak ingin salah memakai penyebutan saat memanggil nama.
"Dua puluh lima," jawab Umji.
Akira tersenyum. "Ternyata lebih muda. Aku dua puluh tujuh."
"Oh sunbaenim."
__ADS_1
Akira tertawa. "Tidak usah kau panggil begitu, aku kan tidak satu tempat kerja denganmu."
"Tetapi tetap saja, tidak sopan hanya memanggil nama saja."
"Oppa juga sedikit...."
Umji menghentikan kalimatnya lalu tersenyum canggung.
"Benar, kita tidak seakrab itu. Tetapi mencoba akrab tidak ada salahnya juga bukan?"
Akira menatap Umji. Melempar senyum mengajak.
"Ini nomor ponselku. Kapan-kapan kalau ada perlu hubungi saja. Oh ya, aku tidak punya media sosial," ujar Akira memberi Umji secarik kertas bertuliskan susunan nomor.
*
Umji menatap secarik kertas itu. Ia sekarang duduk di dekat jendela bus. Nomor ponsel Akira dimasukkannya ke dalam tas lalu tangannya terulur membuka jendela.
Pemandangan kota Seoul yang ramai memenuhi sudut mata Umji. Ia bisa melihat bagaimana Sungai Han sudah ramai dengan orang yang piknik di bawah pohon sekitarnya. Rasanya ia juga ingin melakukannya, tetapi ia sekali lagi harus pulang mengurus naskah-naskahnya agar pekerjaan tidak terlalu berat ketika memasuki hari kerja.
Umji berjalan dari stasiun bus menuju apartemennya. Sepanjang trotoar, ia sibuk menatap ponselnya sambil menjinjing kantung terbuat dari kain yang berisi buku-buku yang ia beli dari toko buku tadi.
Umji melihat unggahan foto Mino di sebuah kampus yang ada di Kota New York. Salah satu foto Mino berlatar perpustakaan yang ukurannya lebih besar dan luas dari perpustakaan kota yang tadi ia datangi. Namun ada foto lainnya di mana ia dapat melihat Mino memotret candid dari samping seorang pria yang memiliki fitur wajah Asia. Ia merasa pernah melihat pria itu, tetapi juga ragu bahwa itu hanya perasaannya saja.
Sesampainya di apartemen, Umji langsung menyiapkan bahan-bahan makan malam. Ia berencana membuat cheese chicken spinach tidak terlalu sulit baginya. Karena ia hanya perlu menumis lalu menambahkan parutan keju di atasnya.
Setelah makan malam dan mencuci peralatan makannya, Umji duduk di meja kerjanya sambil membuka buku yang tadi dibelinya. Tetapi baru akan memasuki bab kedua, ponselnya berdering. Ia mengangkat sebuah panggilan video call dari Jini melalui aplikasi Kakao Talk.
Namun Umji tidak melihat Jini. Ia hanya melihat sebuah lampu. Sorot kamera depan menampilkan langit-langit atap beserta lampu seperti posisi ponsel yang sedang diletakkan di atas meja.
"Umji!"
Tiba-tiba Jini menyerukan nama Umji lalu memperlihatkan wajahnya dengan posisi kamera yang tidak stabil.
Umji menghela napas panjang. Ia menyadari bahwa Jini sedang mabuk. Kebiasaan mabuk Jini memang bukan rahasia baru di perusahaan. Jini akan menghabiskan akhir pekannya dengan bir atau soju.
"Kau mau tahu bukan kenapa aku putus dengan Mino?" ujar Jini sambil menunjuk di depan kamera.
"Pulanglah Jini. Kau sudah sangat mabuk sekarang," balas Umji berniat memutus panggilan.
"Eh jangan diputus. Ke sinilah! Dan akan aku ceritakan semua."
Suara Jini setengah berteriak ketika mengatakan kalimat itu. Secara tiba-tiba arah kamera berubah menampilkan seorang wanita paruh baya yang sepertinya kedai tempat Jini minum.
"Nona temannya bukan? Teman anda sangat mabuk dan sebentar lagi akan pingsan sepertinya."
Umji terdiam sejenak. "Baiklah, saya akan segera ke sana."
__ADS_1
Umji menggunakan taksi untuk sampai ke lokasi Jini agar lebih cepat. Ia segera menuju kedai tempat Jini minum-minum dan menemukan wanita itu sudah tidak sadarkan diri.
Akhirnya dengan bantuan pelayan kedai, Umji berhasil membawa Jini masuk ke dalam taksi untuk pulang. Ia awalnya ingin membawa pulang Jini ke rumahnya. Tetapi ia lupa di mana rumah Jini. Terlebih ketika ia berusaha bertanya kepada Jini, malah mendapat jawaban yang lain.
Umji memapah Jini sampai ke apartemennya. Ia sesekali juga mencoba menyadarkan Jini. Tetapi hanya racauan tidak jelas yang keluar dari mulut wanita itu.
Umji melempar tubuh Jini ke atas temoat tidurnya. Ia kemudian menarik napas dalam-dalam dan meneguk segelas air untuk memulihkan tenaganya.
"Mino ah," guman Jini terbaring di atas tempat tidur.
Umji yang tadi duduk di sofa, beranjak mendekati Jini lalu melepas blazer, sepatu, kaus kaki dan tas dari tubuh Jini. Ia lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Jini. Sedangkan ia menuju meja kerjanya dan melakukan beberapa pekerjaan di sana.
Jini merasa kepalanya sangat berat, namun ia tetap membuka matanya dan mencoba untuk duduk. Dilihatnya Umji masih sibuk di depan laptopnya.
"Jam berapa sekarang?" tanya Jini setelah menyadari bahwa dirinya tidak berada di rumahnya.
Umji menoleh menatap Jini. "Kau sudah bangun? Sekarang pukul satu malam."
"Owh, maafkan aku membuatmu repot."
"Lainkali kontrol minummu," balas Umji kembali berkutat pada laptopnya.
Jini beranjak dari tempat tidur lalu menuju kamar mandi. Ia memuntahkan isi perutnya lalu membasuh mukanya.
"Ini minumlah, kau akan merasa baik."
Umji memberikan sebuah minuman botol penetralisir setelah mengalami mabuk. Ia sendiri menemukan minuman itu dalam kulkas. Tidak kapan membelinya. Walaupun ia juga minum, tetapi bukanlah menjadi kebiasaan kesukaannya.
"Terima kasih."
"Bermalam saja dulu di sini. Tidak aman pulang tengah malam," ujar Umji memberi saran.
"Sepertinya begitu. Ibuku akan memarahiku jika pulang--"
Jini yang menyadari sesuatu langsung memgambil ponsel dalam tasnya. Ia menelepon ibunya untuk mengabarkan kalau ia harus bermalam di rumah teman karena ada pekerjaan.
"Aku lapar. Ada ramyeon?" tanya Jini merasa perutnya kembali kosong setelah muntah tadi.
Umji menunjuk bagian laci atas yang ada di dapur. "Cari saja di sana." Ia beranjak dari meja kerja menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Baiklah, tidurlah duluan," ujar Jini melihat Umji telah menarik selimut untuk tidur, sedangkan dirinya menunggung air dalam panci mendidih.
Setelah makan tengah malam dengan lahap. Semangkuk ramyeon dicampur telur dan kimchi. Jini memutuskan untuk duduk di sofa sebentar agar makanannya bisa tercerna sebelum tidur kembali. Namun papan yang tertutupi kain dekat meja kerja Umji menarik perhatiannya.
Jini mendekati papan itu lalu menyingkap kain yang menutupinya. Ia terkejut melihat bahwa papan itu tergambar sebuah bagan. Sebuah struktur perusahaan tempat ia dan Umji bekerja. Ia lalu berbalik melihat Umji yang sudah tertidur pulas.
"Apa dia lupa ingatan setelah koma?" gumam Jini.
__ADS_1
***