Daydream

Daydream
B. NEW YORK - 1


__ADS_3

Aku merasakan hal aneh dengan tubuhku. Seperti ada yang menempel di bagian wajahku. Kakiku terasa kaku bahkan untuk menggerakkan jari kakiku. Aku mencoba membuka mataku perlahan, meskipun terasa berat.


Aku dapat melihat cahaya lampu dari langit-langit. Tetapi entah mengapa terasa bersinar terang. Padahal aku mematikan lampuku sewaktu akan tidur.


"Panggil Tuan Jun," seru seorang perempuan yang sepertinya berada di sampingku. Anehnya dia menggunakan bahasa Inggris.


Mataku akhirnya terbuka lebar. Aku bisa merasakan dan melihat ada alat bantu pernapasan terpasang pada hidungku.


Apa aku sedang bermimpi? Pasti itu. Ini mungkin efek dari kecelakaan yang pernah kualami. Gambaran dirawat ketika di rumah sakit ternyata masih memenuhi pikiranku bahkan ketika berada di alam bawah sadar.


Aku mendengar suara pintu dibuka secara keras dan beberapa suara langkah sepatu terdengar.


"Apa benar dia sudah tersadar?" tanya seorang laki-laki sepertinya kepada perempuan yang ada di sampingku.


Kepalaku masih terasa berat untuk digerakkan jadi aku hanya memincingkan mataku mencoba mencari asal suara itu. Tetapi tidak perlu, karena laki-laki itu mendekati tempat tidurku dan aku bisa melihat wajahnya.


Asing. Itulah kesan pertamaku. Aku sama sekali merasa belum pernah melihatnya, apalagi mengenalnya. Lalu siapa dia?


"Hana," seru laki-laki itu sambil menatapku.


Apa namaku juga ikut berubah ketika sedang bermimpi?


"Kau akhirnya tersadar juga," ujar laki-laki itu memegang erat tangan kananku. Sama seperti perempuan tadi, dia juga menggunakan bahasa Inggris.


Bekerja sebagai penerjemah dan pernah mengambil jurusan sastra Inggris membuatku tidak asing lagi dengan bahasa yang sedang diucapkan oleh keduanya.


Aku mencoba menggerakkan tangan kiriku. Setelah beberapa usaha, aku akhirnya bisa mengangkatnya. Segera aku melepas alat bantu pernapasanku yang kemudian dibantu oleh perempuan yang sepertinya sedariradi berdiri di sampingku.


Laki-laki masih menggenggam tanganku. Raut wajahnya menyiratkan kepedihan dan bahagia. Namun anehnya ia tidak tersenyum.


"Siapa anda?" tanyaku juga menggunakan bahasa Inggris. Aku mencoba beradaptasi meskipun dalam mimpi.


Laki-laki tampak tercengang seolah pertanyaanku adalah hal yang tidak terduga didengarnya.


"Apa yang terjadi padanya?"


Laki-laki kemudian beralih menatap perempuan di sampingku lagi.


Sedangkan aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Luas kamar rumah sakit yang kutempati mungkin seperti apartemenku. Kelas atas yang harga permalamnya jika berada di Seoul maka akan sangat mahal.


"Nona apa anda tidak bisa mengingat apapun?" tanya perempuan itu merubah posisinya berdiri di depanku.


Terlihat jubah putih yang dipakainya. Menandakan bahwa ia seorang dokter.


Aku tersenyum. "Begini aku bukan tidak mengingat, tetapi ini hanya fana," ujarku memikirkan bahwa semua hanya mimpi.


Laki-laki itu mengernyitkan dahi seperti kebingungan. "Hana, katakan jika memang kau tidak bisa mengingat atau ada bagian tubuhmu yang sakit?" tanyanya khawatir.


Aku mencoba duduk. Walaupun terasa berat awalnya, tetapi aku berhasil melakukannya.


"Kau tahu bahwa kau mengalami koma bukan?" tanya laki-laki menatapku.


Aku mengangguk. "Tentu saja, aku koma selama dua tahun bukan?"


Laki-laki itu menggeleng. "Empat tahun."


Aku tertawa pelan memikirkan betapa mimpi benar-benar lucu. Sesuatu berubah secara tidak teratur, walau terkait dengan kenyataan.


Aku menyeka rambutku ke belakang tetapi terasa halus. Aku kemudian memegangnya dan itu tidak berombak seperti sebelumnya. Aku memiliki rambut sedikit bergelombang, bukan lurus. Bahkan warnanya yang sebelumnya kecokelatan berubah menjadi hitam.


"Bisa beri aku cermin?" pintaku.


Perempuan itu kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku jas dokternya. "Ini gunakan punyaku."

__ADS_1


Aku menatap wajahku yang tidak berubah. Tetapi entah mengapa terasa asing. Walaupun bentuk dan warna rambutku berubah, tetapi ada hal yang berbeda.


Aku beralih menatap ke jendela besar yang tertutup tirai. "Bisa tirai jendelanya di buka?" pintaku lagi.


Kali ini seorang laki-laki yang memakai jas hitam membukakanya untukku. Aku pun menyadari bahwa di belakang laki-laki yang masih menggenggam tanganku ada tiga laki-laki lainnya yang memakai jas hitam.


Aku menyadari sesuatu bahwa kamarku berada di lantai atas. Melihat dari jendela beberapa gedung pencakar langit yang sepertinya bukan di Seoul. Suasana yang terlihat seperti di luar negeri.


"Ini di mana?"


"New York."


Aku menutup mulutku yang terkejut dengan kedua tanganku. Menjadikan tangan yang tergenggam tadi menjadi lepas secara alami.


"Bagaimana aku bisa ke sini? Dari korea," gumamku lebih ke diriku sendiri.


Aku mencoba mengatur napasku. Aku melihat sekelilingku sekali lagi terutama laki-laki yang duduk di sampingku yang seperti tidak pernah melepas pandangannya dariku.


Ini terasa terlalu nyata untuk sebuah mimpi. Aku mengangkat kedua tanganku lalu menatapnya. Apa yang terjadi denganku?


"Jun?" Aku mengingat bahwa dokter perempuan tadi meminta Tuan Jun dipanggil.


"Kau mengingatku Hana?" tanya laki-laki yang sepertinya benar bernama Jun dengan semangat.


"Hana, namaku Hana?"


Aku benar-benar bingung sekali kaget sekarang. Ingin rasanya aku terbangun segera. Aku mencoba mencubit pipiku dan hanya rasa sakit yang kurasakan.


"Dokter, ada apa dengannya?"


Jun terdengar khawatir dengan kelakuanku maka dari itu kuhentikan sebelum dikiranya aku sudah gila.


"Jam berapa sekarang?" tanyaku ingin memastikan sesuatu.


"Bisa cek jam berapa di Seoul sekarang?" tanyaku.


Dokter itu tampak menaikkan sebelah alisnya lalu menatap Jun. Tetapi kulihat Jun hanya menganggukan kepalanya tanda agar dokter itu menurutinya.


"Pukul dua dini hari," jawab dokter itu.


Otakku kemudian mencerna apa yang sedang terjadi. Berarti aku tertidur selama dua jam lalu bermimpi setelahnya.


"Jangan bilang bahwa sekarang tanggal dua belas Juli dua ribu sembilan belas," ujarku mengingat tanggal hari ini.


"Benar, itu tanggal hari ini."


Kali ini Jun yang menjawabnya. Aku menghela napas panjang lalu membasahi bibir bawahku. Gelisah langsung menghinggapi tubuhku. Apa yang sebenarnya terjadi?


"Kurasa kau butuh pemeriksaan lebih lanjut," ucap Jun memegang pundakku.


Aku menggeleng. "Kurasa aku bukan Hana," ucapku lalu mencoba meninggalkan tempat tidur. Tetapi kakiku seolah mati rasa dan aku terjatuh.


Jun kemudian mengangkatku kembali tempat tidur. "Kau koma selama tiga tahun, butuh terapi untuk berjalan normal," ujarnya.


Mataku mulai berair. Ini terlalu tidak masuk akal dan kelewatan jika hanya sebuah mimpi. Tetapi biasa jika ada hal-hal mengagetkan terjadi dalam mimpi bukankah kita otomatis terbangun? Lalu ketika terjatuh tadi kenapa tidak terjadi?


"Tenanglah Hana, kau akan baik-baik saja. Kau mungkin bingung karena tiga tahun berlalu hanya ditempat tidur," ujar Jun memegang wajahku.


Aku dapat melihat manik matanya. Harus kuakui bahwa Jun adalah laki-laki yang tampan. Tetapi aku harusnya tidak memikirkan hal itu sekarang.


"Apa hubunganmu denganku?" tanyaku membuatnya melepas tangannya dipipiku dan mundur selangkah.


"Aku adalah suamimu."

__ADS_1


Mataku terbelalak. Kini semuanya sangat tidak masuk akal dan berubah menjadi situasi yang belum pernah kualami.


Aku Lee Umji yang berpacaran saja belum pernah, lalu berubah menjadi Hana yang sudah menikah.


Tunggu, jika waktu dan tanggal yang sama dan yang berbeda hanya tempat. Apa jiwaku berada di tubuh orang lain?


Tidak, wajahku tidak berubah. Tetapi memiliki wajah yang sama walau bukan saudara juga banyak terjadi bukan?


"Kau adalah istriku, Hana."


Aku benar-benar tidak mengerti tentang semuanya. Setelah beberapa dokter datang dari berbagai bidang spesialis memeriksaku serta aku sempat dibawa ke ruang pemeriksaan lebih lanjut. Aku kembali ke kamar rawatku semula.


Jun selalu mendampingiku layaknya memang seorang suami yang mendampingi istrinya. Bahkan sampai saat ini.


"Hana, aku ingin kau fokus pemulihan terlebih dahulu. Jangan memikirkan apapun saat ini, bahkan tentang masalah yang ada di masa lalu," ujar Jun kembali menggenggam tanganku.


Ini terasa aneh dan asing ketika kulit bersentuhan dengan tangan Jun. Perasaan asing itu seolah memperkuat bahwa aku adalah Umji yang terjebak dalam raga seorang Hana.


Waktu berjalan seperti di Korea Selatan. Sama sekali berbeda jika bermimpi yang selalu melompat dalam ruang dan waktu.


Aku memilih diam. Bertanya macam-macam akan membuat seorang Hana terlihat seperti lupa ingatan dan itu akan sulit diterima kebenarannya jika kukatakan sebenarnya.


"Aku ingin istirahat," ujarku kepada Jun.


"Baiklah."


Jun beranjak dari tempat duduk di sampingku lalu keluar dari kamar. Meninggalkan aku sendiri. Setelah sekitar tiga puluh menit memejamkan mata, aku tidak bisa tertidur padahal aku telah disuntikkan beberapa obat dalam infusku.


Aku kembali membuka mataku. Kini aku terduduk. Kuubah posisiku menyamping, bersiap untuk berdiri. Aku melirik pintu waswas jika Jun masuk dan melihatku.


Kakiku menyentuh lantai. Aku mencoba memperkuat perasaanku sebagai Umji yang bisa berjalan dengan normal. Dan itu berhasil. Aku bisa berdiri tanpa memegang sesuatu.


Perlahan kakiku melangkah menuju kaca jendela. Aku menatap pemandangan dari atas. Hiruk-pikuk New York terpampang jelas di depanku. Terlalu nyata dan terstruktur jika memang hanya mimpi.


Aku benar-benar sadar bahwa Hana bukanlah hal yang semu. Ia adalah wanita sama sepertiku. Lalu di mana jiwanya berada? Sehingga aku terjebak dalam raganya.


Pintu terbuka membuatku membalikkan badan. Memunculkan Jun dan seorang wanita yang berpakaian sangat modis. Mereka berdua tampak terkejut melihatku.


"Hana," seru wanita itu mendekat ke arahku.


Aku menatapnya. Bingung mau bilang apa. Bahkan namanya saja tidak kuketahui. "Kau baru datang?" tanyaku seolah mempertanyakan keberadaannya disaat aku telah sadar.


Wanita itu menangis. "Aku benar-benar tidak percaya bahwa keajaiban terjadi hingga Jun meneleponku dan mengatakan bahwa kau telah sadar."


"Hana, maafkan aku," lanjut wnaita itu menangkupkan kedua tangannya.


Jun mendekat ke arah kami berdua. Tatapannya berubah menjadi tajam. "Kau sudah bertemu dan meminta maaf. Sekarang pergilah."


Ekspresi wanita itu berubah menjadi kesal dan marah. "Kau tidak bisa mengusirku begitu saja Jun. Aku perlu menjelaskan semuanya kepada Hana tentang mengapa Hansung pergi ke sana malam itu."


Aku dapat melihat kepala tangan Jun. Menyadari bahwa ada masalah dalam hidup Hana. Tidak bisa kah aku keluar dari semua. Masalah dan tugasku saja terlalu melelahkan bagiku.


"Tidak! Hana perlu istirahat."


Setelah mengatakannya secara tegas, Jun tanpa berkata apapun langsung mengangkat tubuhku ala bridal style lalu membawaku ke tempat tidur.


"Baiklah, tapi aku akan kembali ke sini. Sampai jumpa lagi Hana."


Akhirnya wanita itu pergi dan Jun masih berdiri di sampingku. Menatapku dalam, namun aku merasa bahwa sorot matanya bukanlah marah, tetapi penyesalan dan rasa takut?


Aku mencoba memejamkan mataku kembali. Memikirkan cara terbaik keluar dari masalah ini, raga ini dan semuanya menjadi gelap.


***

__ADS_1


__ADS_2