
Aku memejamkan mataku di atas tempat tidur apartemen. Aku mencoba menenangkan pikiranku meski hanya sekejap. Rasanya aku ingin mengakhiri semuanya. Menjadikan segalanya kembali ke tempat semula.
Pukul lima subuh aku terbangun. Aku mandi terlebih dahulu dan mengganti pakaian dengan yang ada di lemari. Aku melakukan scan dari ponsel melalui aplikasi yang kubeli di Jepang terhadap naskah novel kemudian menyimpan bentuk file ke dalam google drive milikku. Selanjutnya aku menyimpan naksah fisiknya di atas meja kerja. Tidak lupa aku mencatat nomor ponsel penting dari buku teleponku.
Aku menyimpan nomor Jini dan Mino pada ponsel yang kubeli, bukan ponsel yang berikan Jun melalui Yuna. Aku kemudian teringat tentang secarik kertas berisi nomor Akira. Mengingat lelaki yang meninggalkanku tenggelam di Sungai Sumida membuat emosiku naik. Bisa-bisanya Akira melakukan hal itu!
Pakaian khas Lee Umji. Setelah matahari terbit aku mengembalikan mobil yang kusewa dan membayarnya dengan kartu kredit.
Aku segera menuju bandara menggunakan taksi. Langkahku tergesa-gesa ingin segera ke Jepang lalu bertemu dengan Mino.
"Hana," seruan suara Jun membuat langkahku terhenti.
Aku berbalik menemukan Jun berdiri tak jauh di belakang. Ia bersama dengan tiga laki-laki lainnya yang memakai setelan lengkap. Seperti biasa sekertaris dan pengawalnya.
Aku menarik napas panjang begitu Jun berjalan mendekatiku.
"Kau di sini," balasku tidak menyangka bahwa akan secepat ini bertemu Jun.
Rencanamya setelah aku dari Jepang dan bertemu dengan Mino, maka aku akan kembali ke Amerika dan berharap di sana baru akan bertemu Jun. Tetapi takdir berkata lain.
Jun menatapku lekat. "Apa yang sebenarnya kau lakukan di sini?"
Belum sempat aku menjawab, Jun membawaku ke salah satu kafe sekitaran dalam bandara. Kami berdua duduk berhadapan dengan tiga laki-laki lain yang datang bersama Jun duduk di meja lain.
"Aku mengunjungi peninggalan Dinasti Joseon," jawabku mengingat salah satu catatan yang ditinggalkan Hana di loker Rose 408 bahwa impian Hana adalah salah satunya berkunjung ke tempat kerajaan Dinasti Joseon. Sewaktu masih menempuh pendidikan di Julliar School, Hana pernah memerankan sosok Jang Hee Bin pada festival teater tahun terakhirnya.
"Aku mengingatmu pergi ke Korea jadi sekalian aku juga ikut berangkat. Soal rapat pemegang saham, aku masih tidak mau memikirkannya," lanjutku berucap.
Jun mengernyit. Kulihat dia sulit menerima alasanku, tetapi helaan napas terdengar darinya.
"Benar bukan karena kecelakaan?" tanyanya membuatku mengingat soal kecelakaan Raewon alias Hansung dalam naskah.
"Jun," seruku pelan.
"Ada apa?"
Kulihat sorot mata Jun terlihat tegang. Dia menelan ludah seolah akan mendengar sesuatu yang buruk. Kenapa dia harus secemas itu?
"Aku mulai mengingat sebagian masa lalu," ujarku berdusta. Aku ingin memastikan bahwa isi naskah novel tersebut memang sesuai kehidupan seorang Hana.
"Jawab pertanyaanku, apa benar setelah sehari pernikahan kita, aku melarikan diri bersama Hansung?"
__ADS_1
Tubuh Jun menegang. Raut wajahnya sungguh membuatku bersimpati mengingat kisahnya yang ditinggal oleh Hana.
"Jawab aku, jika kau ingin aku kembali ke Amerika."
Aku memberi sedikit ancaman agar mendapat jawaban pasti.
"Benar."
Napasku seolah tercekat. Bahkan setelah Hana melarikan diri bersama Hansung, seorang Jun masih menerima Hana? Tidak terasa mataku berkaca, terlebih menatap Jun yang raut wajahnya juga terlihat lelah dan kurang tidur?
Sebelum aku bertanya lebih lanjut, pelayan kafe membawakan kami sarapan.
"Makanlah dulu, kau tahu bagaimana aku mengkhawatirkanmu," ujar Jun semakin membuatku sedih.
"Kau juga makan," balasku mulai mengangkat sendok dan garfu.
Namun aku kesulitan menelan makananku. Kenapa aku yang harus merasa bersalah, padahal bukan aku yang melakukannya?
"Lalu kenapa kau menerimaku kembali?" tanyaku tak sabar.
Jun yang tidak pernah menyentuh makannya. Ia terus menatapku sehingga aku sudah tidak tahan mendengar alasan seorang Jun yang terlihat sempurna baik secara fisik ataupun latar belakang masih ingin menerima Hana kembali.
"Karena aku mencintaimu," balas Jun lugas.
"Apa aku harus pulang denganmu?" tanyaku pelan.
Jun mengatupkan bibirnya. Ia memejam sebentar lalu tangannya terulur memegang tanganku di atas meja.
"Mendengarmu meninggalkan Amerika saja kemarin membuatku takut. Bahwa ... kau mungkin akan pergi selamanya dari sisiku," balas Jun membuat hatiku melengos.
Jujur saja walau Jun menyampaikannya kepada Hana yang diketahuinya, tetapi kenapa dadaku terasa berdebar mendengarnya. Seharusnya aku sadar diri.
"Tapi kau tahu Hana, kurasa dirimu mulai berubah setelah terbangun dari koma," lanjut Jun mengulas senyum.
Aku mengernyit bingung. "Apa maksudmu?"
"Walaupun sebelumnya kau lupa ingatan, aku merasa kau tidak terlalu membenciku. Aku bahkan masih mengingat bagaimana kau memalingkan wajahmu ketika aku berusaha menciummu di altar pernikahan," ujar Jun membuat mataku terbelalak.
"Bahkan setelah kau mengingatnya pun sekarang. Tanganmu tetap membiarkan tanganku menggenggammu," lanjut Jun menunduk memerhatikan tangan kami yang saling bersentuhan.
Aku mendongak menatapnya. Untuk sesaat, hanya sesaat saja aku berharap Jun adalah lelaki butuh kutemui di kehidupan ini. Bukan sebagai Hana, tetapi sebagai Umji.
__ADS_1
"Hana, aku ingin memulai segalanya dari awal. Jika kau izinkan," pinta Jun membuatku kesulitan. Bagaimana bisa aku menjawab permintaan tersebut?
"Aku belum bisa menjawabnya sekarang," balasku jujur.
Jun tersenyum tipis. Meski dapat aky melihat raut wajah kecewanya. Tetapi inilah yang terbaik. Aku harus fokus memikirkan soal hubungan Mino dan Hana, alih-alih memperbaiki hubungan Jun dengan Hana.
Lalu bagaimana denganku sendiri? Pekerjaanku akan kembali terbengkalai karena koma dan aku tidak tahu kapan akan tersadar.
Sepanjang perjalanan di atas pesawat, Jun sibuk membaca sejumlah berkas terkait pekerjaan. Sesekali dia menoleh lalu mengelus kepalaku.
Aku kemudian mengeluarkan ponselku yang sudah kuubah ke mode pesawat. Aku membuatnya layarnya sepadam mungkin tingkat kecerahannya lalu membaca kembali isi naksah novel tersebut.
Begitu pesawat telah mendarat. Aku segera menuju toilet meminta izin kepada Jun yang kemudian menungguku di ruang tunggu.
Aku berjalan cepat bahkan setengah berlari lalu masuk ke dalam salah satu bilik. Aku segera mengetikkan pesan ke nomor Mino.
- Mino, apakah Umji telah sadar?
Tidak lama kemudian balasan muncul tanpa kuduga akan secepat itu.
- Belum, siapa ini?
Tanpa mau menunggu lagi aku segera mengirimkan foto sampul naskah novel kepada Mino.
- Darimana kau mendapatkan ini?
Tiga menit tidak ada balasan dari Mino membuatku cemas melihat jam, takut Jun akan datang mencariku. Namun ketika akan keluar dari kamar mandi, nomor ponsel Mino memanggil.
"Halo," angkatku pelan.
"Siapa kau? Bukankah naskah itu pada perempuan bernama Jini?"
Suara Mino terdengar meninggi. Aku menduga dia begitu terkejut tentang naskah yang berada di tangan orang lain.
"Kau ingin jawaban? Datanglah ke New York. Mungkin itu tidak cukup membuatmu datang. Aku adalah Hana, Song Byul jika kau merasa lebih familier," ujarku lalu menutup telepon.
Aku kemudian keluar dari kamar mandi dan seperti kuduga Jun telah berada di pintu masuk dengan wajah seolah menduga aku melarikan diri lagi.
"Maaf, aku terlalu lama," ujarku.
Jun mengangguk pelan mengerti lalu menarik tanganku agar menggandeng lengannya. Aku berusaha menyamakan langkahku sambil memikirkan soal Mino apakah akan terpancing datang ke mari. Lalu yang membuatku bingung adalah siapa yang akan menjaga ragaku?
__ADS_1
***