Daydream

Daydream
B. NEW YORK - 10


__ADS_3

Jun langsung membawaku pulang ke rumahnya. Ia tidak berkata apapun, namun bisa kuperhatikan wajahnya terkejut dan menegang. Bisa kutebak pikirannya tentang seolah kembalinya Hansung dari kematian.


Sedangkan aku kepikiran soal ragaku yang telah sadar dan mungkin jiwa Hana sedang ada di sana. Hari masih siang, aku ragu akan bisa terpejam dan mencoba membuktikan apakah aku benar-benar bisa melihat kehidupan ragaku di Seoul.


Mobil berhenti di depan pintu utama. Jun segera keluar dari mobil lalu ia berada di sisi lain mobil, membukakan pintu untukku. Tangannya lalu terulur dan aku menerimanya.


Jun menggenggam tanganku erat masuk ke dalam rumah. Langkahnya terburu-buru seolah ada yang mengejarnya.


Sejumlah pelayan, pengawal dan sekertaris berkumpul di ruang tamu. Tidak pernah seperti ini sebelumnya. Aku mengernyit lalu merasakan Jun berhenti berjalan.


"Mulai sekarang, awasi rumah ini dengan baik. Jangan biarkan orang lain selain aku, Hana, Tuan Kim Yunsung dan ... Nami masuk ke sini," seru Jun dengan raut wajah serius.


Jun lalu menoleh ke arahku. "Hana, mulai sekarang kau tidak akan ke mana-mana tanpa diriku."


Aku menelan ludah mendengarnya. Apa ini akibat kemunculan Hansung? Apakah ini soal drama melarikan diri Hana di masa lalu?


Aku menggerutu dalam hati. Seharusnya aku sekarang bisa bergerak dengan cepat agar segera bertemu atau minimal berkomunikasi dengan Mino untuk mengetahui segala hal tentang naskah novel tersebut.


Jun yang tanpa mendengar balasanku langsung membawaku ke kamar. Ia bahkan mengunci pintu kamar tersebut. Aku terduduk di atas tempat tidur dengan pikiran kacau.


"Aku tahu kau sedang bingung sekarang. Tapi kumohon," ujar Jun yang semula berdiri di hadapanku, kini bersimpuh dengan kedua lututnya.


Mataku terbelalak melihatnya. "Apa yang kau lakukan?" tanyaku terkejut.


Jun memegang kedua tanganku. "Kumohon Hana, jangan mencari tahu tentangnya. Biar aku ... dan akan kuceritakan bagaimana dia bisa sampai muncul kembali."


Apa Jun sekarang takut bahwa aku akan kembali ke Hansung? Ingin rasanya aku berteriak bahwa itu tidka mungkin, karena aku bukan Hana.


Lagipula bahkan Hana kembali, kurasa dia akan menolak Hansung yang notebene-nya telah mrninggalkan dirinya yang hamil dan ternyata masih hidup dan baru mencarinya setelah lima tahun.

__ADS_1


"Tetapi kau tidak bisa terus berada di sisiku, maksudku kau harus pergi bekerja setiap hari," ujarku menyinggung soal perkataannya tadi.


"Aku mempunyai ruang khusus di dalam kantorku. Seperti kamar, kau bisa berisitirahat, nonton dan tinggal di sana selama aku bekerja," balas Jun.


Aku mengernyit. "Kau akan membawaku ikut ke perusahaan denganmu?"


Jun mengangguk. "Aku ragu membiarkan dirimu di sini. Bahkan dulu ... kau berhasil kabur bersama Hansung di saat pengamanan begitu ketat setelah pernikahan kita."


Mata Jun berubah menjadi seolah mengingat tentang masa lalu. Ia kemudian bangkit berdiri.


"Kau istirahatlah, akan kusuruh pelayan menyiapkan makan siang," ujar Jun akan berbalik.


"Lalu kenapa kau tidak pernah mencoba sekamar denganku selama ini jika kau begitu takut aku meninggalkanmu?"


Aku menarik napas setelah mengatakan hal itu. Aku tahu bukan kapasitasku mencampuri hubungan Hana dengan Jun, tetapi alasan ini mungkin membuatku bebas dari rencana Jun untuk selalu membawaku di sisinya.


Jun menyipitkan matanya. "Apa maksudmu?" tanyanya bahkan berjalan mendekatiku.


"Hana, aku--"


"Apa karena aku tidak akan pernah bisa hamil lagi?"


Aku mengigit bibir bawahku. Aku mengatakannya!


Jun tercengang. Aku bisa melihat dia sudah tahu fakta ini, tetapi matanya berkata tidka menyangka bahwa aku akan mengetahui hal tersebut. Setidaknya secepat ini.


Jun tanpa membalas langsung melakukan gerakan yang membuatku menahan napas. Dia membaringkanku lalu menindihku. Kedua tangannya bertumpuh di kedua sisi tubuhku.


Bukan ini reaksi yang kuharapkan! Seharusnya dia akan marah dan kami akan bertengkar, kemudian aku ada alasan pergi sejenak dari rumah ini.

__ADS_1


Mata Jun menatapku lekat untuk beberapa detik. Kemudian wajahnya semakin menunduk dan dekat dengan wajahku. Hembusan napasnya bisa kurasakan menerpa wajahku.


Jun mendaratkan ciumannya di bibirku. Aku mencoba menggerakkan tanganku untuk mendorongnya, tetapi tangan Jun lebih cekatan memegang kedua tanganku.


Ciuman yang awalnya berubah menjadi kecupan kini berubah menjadi semakin panas. Selang satu menit kemudian, Jun menghentikan aksinya. Namun dirinya masih menindihku sambil menatapku.


"Apa kau tidak masalah jika aku melakukan seperti tadi? Memaksamu?"


Aku terdiam mendengarnya. Apa selama ini dia memilih berpisah tempat tidur, karena takut bahwa aku yang dikenalnya sebagai Hana akan berpikir bahwa itu hal memaksa?


Aku menjadi gusar. Masih bisa kurasakan efek ciumannya tadi pada bibirku. Dan entah mengapa harus kuakui bahwa aku menikmatinya.


"Lalu jika kuizinkan kau untuk tidur denganku, apa kau akan melakukannya?"


Jun tampak tercengang mendengarku berkata demikian.


"Bagaimana dengan kenyataan bahwa aku tidak bisa hamil? Kurasa kau butuh ahli waris bukan ke depannya," lanjutku dengan air mata yang kurasakan telah memenuhi sudut mataku.


Jun kembali mendekatkan wajahnya, tetapi bukan untuk mencium bibirku lagi. Ia sedikit ke bagian lebih atas. Bibirnya mengecup kedua bola mataku yang reflek kupejamkan secara bergantian.


"Aku mencintaimu, apa adanya," ujar Jun lalu bangkit dari tempat tidur. Ia juga otomatis melepas tanganku.


Aku menelan ludah mendengar ucapannya. Rasanya tubuhku masih belum kuat untuk bergerak. Bagaimana mungkin ada lelaki seperti Jun yang biasanya hanya bisa kutemukan pada novel yang selalu kuterjemahkan?


Jun mengangkat tubuhku lalu membaringkan kepalaku di atas bantal. Ia juga menarik selimut menutupi tubuhku.


"Istirahatlah sebentar. Aku rasa kita berdua butuh makan."


Aku menggeleng. "Aku ingin tidur panjang. Nanti sekalian sore saja," balasku mengingat bahwa aku lebih butuh tidur daripada makan sekarang.

__ADS_1


Ada alam bawah sadar yang harus kujelajahi.


***


__ADS_2