Daydream

Daydream
A. SEOUL - 13


__ADS_3

Lee Umji membereskan tempat tidurnya. Ia juga merapikan apartemennya. Cuti membuat waktunya senggang. Meskipun tidak ke kantor, ia masih harus menerjemahkan beberapa naskah sekaligus mengedit beberapa bagian bab yang dirasa kurang pas.


Tidak seperti hari kerja, Umji terbangun pukul delapan pagi. Ketika habis mencuci piring, suara bel apartemen berbunyi. Ia segera melepas celemek yang dipakainya dan berjalan menuju pintu.


"Mino?" ujar Umji dengan alis terangkat melihat lelaki itu datang.


Umji teringat bahwa terakhir kali ia bertemu dengan Mino adalah ketika Pak Janghyuk memberi tahu soal dirinya yang kembali ke Seoul untuk urusan dengan Jini. Jujur ia merasa begitu aneh dengan situasi sekarang. Apa yang dikatakan orang sekitarnya mulai membuatnya bingung.


"Apa aku menganggumu?" tanya Mino.


"Oh tidak, ayo masuk."


Mino melangkah masuk sambil memerhatikan apartemen Umji. Ia duduk di sofa depan televisi yang kemudian diikuti oleh Umji yang duduk di sebelahnya.


"Kelihatan lebih bersih bukan?" ujar Umji sadar tatapan mata Mino.


Mino terkekeh. "Ya, bagaimana kabarmu?"


Umji mengendikkan bahu. "Aku baik, hanya saja ... kau ingat soal yang dikatakan Pak Janghyuk? Aku benar-benar bingung. Aku ingin mengkonfirmasi kepada Jini yang kuketahui sedang berada di Busan untuk pernikahan saudaranya."


"Oh begitu, kau tidak usah terlalu memikirkan ucapan Pak Janghyuk," ujar Mino menenangkan.


"Kim Hana," seru Umji membuat mata Mino terbelalak.


"Itu nama istri teman Pak Janghyuk bukan? Entah mengapa terdengar familier," lanjut Umji.


Mino menatap Umji secara saksama. Seperti halnya Umji yang menatapnya dengan pikiran kosong.


Mino dari sofa lalu menuju meja kerja Umji yang berada di dekat jendela.

__ADS_1


"Bagian itu belum aku bereskan," ujar Umji berbalik melihat Mino yang sedang berdiri di depan papan tulis.


"Kau belum menghapusnya?" tanya Mino melihat papan tulis yang masih tergambarkan struktur perusahaan.


"Aku sudah tidak memakainya jadi kubiarkan saja," balas Umji beranjak mendekati Mino.


Mino beralih ke meja kerja Umji. Matanya menyipit sambil kedua tangannya tampak memilah-milih beberapa naskah novel yang menumpuk.


Umji sendiri tidak sengaja beralih menatap dirinya melalui kaca yang terpasang pada dinding. Ia dapat memerhatikan wajahnya saat ini, kemudian perlahan menarik napas panjang.


"Ini," gumam Mino membuat Umji menoleh melihat ke arah lelaki itu.


Umji dapat melihat Mino mengangkat sebuah naskah novel yang tidak asing baginya. Matanya membulat lalu semakin berjalan mendekat ke arah belakang meja, samping Mino.


"Bukankah ini seharusnya berada pada Jini. Dia berkata akan menilainya," ujar Umji membaca judul naskah novel All About You.


Ingatannya lalu kembali ketika sebelum koma, di mana dirinya yang waktu itu berada di Jepang mendapat telepon dari Jini bahwa naskah All About You tidak lengkap.


Akira!


"Apa ketika aku ditemukan tenggelam, apakah ada seorang laki-laki?" tanya Umji. Ia terbayang sosok Akira yang mengajaknya keluar sewaktu terjadinya insiden tenggelam.


Mino terdiam. Namun dahinya mengernyit. "Kau sendiri. Polisi di Jepang berkoordinasi dengan kedutaan yang selanjutnya menghubungiku. Kebetulan aku mempunyai teman yang bekerja pada duta besar Korea di Jepang."


"Oh begitu. Kau ingat ketika mengajakku ke Tokyo Tower? Aku mengatakan bahwa sudah janji dengan seorang teman dan dia ... bernama Akira. Seorang laki-laki," cerita Umji jujur kepada Mino.


"Seorang laki-laki?"


"Itu tidak penting sekarang. Sejujurnya yang aku pusingkan adalah bagaimana naskah ini berada di sini. Aku tidak pernah memberitahu kata sandi apartemanku kepada Jini atau orang lain...."

__ADS_1


Kilasan balik ingatan Umji kembali muncul. Ia ingat betul bagaimana dirinya yang kembali bangun dari koma sebelum kejadian tenggelam di sungai Sumida. Ketika pulang dari Busan untuk kembali bekerja di apartemen, ia tak tahu kata sandi untuk masuk ke apartemennya. Untuk mengkonfirmasi bahwa dirinya adalah pemilik apartemen maka ia meminta bantuan Mino.


Umji menatap Mino. "Bahkan ketika kau membantu mereset ulang kata sandinya. Hanya aku yang melakukannya dan aku memilih tanggal lahirku, karena ketika pulang ke Seoul aku baru saja merayakan ulang tahunku di Busan."


"Mino...."


"Ya?" sahut Mino.


"Apa mungkin ada seseorang yang ... mengaku sebagai diriku?" tanya Umji menoleh.


Mata Mino membulat. Tubuhnya sedikit menegang. Meski begitu ia menepuk bahu perempuan itu.


"Mana mungkin," balas Mino sedikit terkekeh.


Umji menggeleng pelan. "Bisa saja, aku tidak bisa mengingat bahwa aku kembali dari Jepang ke Korea. Bagaimana mungkin? Aku saat itu pasti sudah koma. Bagaimana ... bagaimana jika yang dilihat Pak Janghyuk itu adalah ... Kim Hana?"


Mino menelan ludah mendengar ucapan Umji. Matanya melirik sekitar isi apartemen seolah memikirkan apa yang diucapkan oleh Umji.


"Tetapi jika benar, untuk apa Kim Hana yang mungkin tidak mengenalmu ataupun kau mengenalnya bukan?" ujar Mino menolak teori Umji.


"Mino ... sejujurnya aku, aku memimpikan sesuatu yang aneh selama ini," balas Umji kemudian beranjak lalu duduk kembali di sofa.


Mino mengikuti Umji untuk kembali duduk. "Mimpi seperti apa?"


"Aku ... seolah melihat kehidupan Kim Hana. Kupikir ketika pertama kali bermimpi tentang seorang wanita bernama Kim Hana maka itu hanyalah sekadar bunga tidur biasa. Lalu beberapa malam selanjutnya aku kembali memimpikannya, nama Jun juga muncul, meski sosok Jun wajahnya seolah tertutupi oleh kilatan cahaya," cerita Umji membuat Mino tercengang.


Umji menoleh menatap lekat Mino. "Entah mengapa, aku merasa sudah begitu mengenal seorang Kim Hana. Begitupula sebaliknya."


***

__ADS_1


__ADS_2