Daydream

Daydream
B. NEW YORK - 4


__ADS_3

Aku membuka mataku. Segera bangun dengan posisi duduk, masih di atas tempat tidur. Aku menatap jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh pagi.


Aku menarik napas dalam. Walaupun situasi berada sebagai Hana mulai membiasakanku, tetapi masih saja tidak masuk akal dan mulai bertanya-tanya kenapa ini terjadi? Maksudku bagaimana bisa?


Aku melihat kilas balik bahwa aku pergi ke toserba untuk membeli persiapan keberangkatan ke Jepang lalu bertemu Akira Jun.


Akira Jun.


Kemudian aku pulang dan segera tidur.


Pintu terbuka, mengalihkan perhatianku dan Yuna membungkuk sebentar sebelum berjalan mendekatiku. Aku hampir saja lupa tentang dia.


"Nona sudah bangun? Bersiaplah untuk sarapan."


"Aku mengerti. Tunggu di luar saja."


Aku segera bergegas untuk mandi dan berpakaian. Setiap kali membuka lemari Hana, mataku selalu disuguhkan oleh barang-barang branded yang biasanya hanya bisa kulihat pada majalah atau iklan.


Ketika keluar dari kamar. Aku langsung menuju meja makan. Tidak ada seorang pun yang duduk di sana. Yuna dan ada tiga wnaita berpakaian seperti pelayan maid berdiri di dekat meja makan.


"Kau tidak mau sarapan?" tawarku pada Yuna sambil memandang tiga wanita yang lainnya.


"Aku sudah sarapan Nona," balas Yuna sambil tersenyum.


Ketika mataku beralih menatap ke depan, terpampanglah makanan khas negara barat. Aku memikirkan bagaimana diriku di apartemen yang sering kelabakan untuk membuat sarapan, karena takut terlambat ke kantor.


"Apa aku punya jadwal?" tanyaku disela-sela kunyahan. Aku mulai mencoba imajinasiku, bertindak layaknya anak-anak konglomerat di drama korea sebagai referensiku.


Bertanya jadwal harian. Apa saja yang perlu dilakukan atau apakah ada masalah dengan perusahaan mungkin?


"Nona harus menggantikan Nona Nami untuk menghadiri serah terima beasiswa di Julliard School atas nama HN Grup," jelas Yuna membuatku sedikit tersendak ketika meminum smoothies stroberi.


"Bukankah Julliar School tempat Nona bersekolah dulu, jurusan Drama?" lanjut Yuna membuatku tersentak kaget.


Julliard School? Sekolah seni yang sangat terkenal itu?


"Kenapa dengan Nami eonnie?" tanyaku menatap Yuna.


"Dia terbang ke Korea hari ini untuk memperingati ... hari kematian ibunya, Han Dami."


Ibunya? Maksudnya, bukankah Hana dan Nami adalah saudara. Kenapa hanya sebagai Ibu Nami?


"Hanya dia yang pergi?"


"Tuan Kim Yunsung berencana ikut, tetapi ada rapat direksi mendadak di perusahaan," jelas Yuna tidak menyinggung kenapa aku tidak harus pergi juga?


"Apa aku tidak perlu datang?" tanyaku pelan.

__ADS_1


Raut wajah Yuna tampak sedikit terkejut oleh pertanyaanku. Seperti baru pertama kali mendengar hal itu.


"Maksudku, ini peringatan berapa tahunnya?" tanyaku menyanggah pertanyaan sebelumnya. Takut membuat Yuna curiga.


"Kesepuluh tahun. Satu bulan lagi ... bukankah peringatan hari kematian Ibu Nona Hana?"


Aku meletakkan sendok dan garpu reflek. Dadaku sedikit berdesir mendengar perkataan Yuna. Berarti aku dan Nami hanyalah saudara tiri? Jadi itulah alasan walaupun aku bangun dari koma, Nami tidak terlalu peduli bahkan membenciku karena menikah dengan Jun. Membenci Hana.


Saudara tiri? Kenapa rasanya aku tidak asing ... bukan, aku rasanya pernah mendengar kata itu baru-baru ini. Tetapi di mana dan kapan?


"Jika Nona sudah selesai, kita bisa segera berangkat," ucap Yuna menginterupsi pikiranku.


"Oh baiklah."


Aku sungguh bisa beradaptasi sebagai Hana. Ketika berada di atas podium, aku berakting seolah sebagai Hana yang merupakan lulusan dari Julliar School jurusan Drama. Memberikan pidato singkat dan sederhana tentang seni yang sama sekali tidak pernah kupelajari. Walaupun aku berkuliah jurusan sastra, tetapi pengalamanku hanya sebatas kesastraan dan literatur.


Setelah melakukan serah terima beasiswa senilai seratus ribu dollar yang membuatku cukup terkejut tadi mendengar jumlahnya. Kini Yuna mengajakku berjalan-jalan di sekitar Julliar School.


"Apakah Nona ingin melihat asrama tempat Nona dulu tinggal?" tanya Yuna hanya kubalas anggukan kepala.


Aku sama sekali tidak mengenal tempat ini. Bahkan bisa berada di sini kadang membuatku berpikir bahwa semuanya hanya mimpi.


Aku dan Yuna menelusuri lorong asrama yang ramai. Tidak usah tanya bagaimana penampilan peserta didiknya. Begitu modis dengan ciri khas masing-masing.


Kaki berhenti ketika melihat sebuah ruangan yang dipenuhi loker-loker. Tanpa sadar aku melangkah masuk dengan membuka pintu yang terbuat dari kaca. Begitu banyak loker di sana, dengan ukuran yang variatif. Kalau dilihat dari bentuk ruangannya ini seperti bangunan tersendiri bahkan ketika aku mendongak ke atas, ternyata terdapat tiga lantai yang hanya berisi loker.


Ketika aku akan berbalik pergi, sesuatu menarik perhatianku. Nama setiap loker.


Ada bernama Cosmo, Dandelion, Lotus, Orchid, Edelweiss dan sebagainya. Nama bunga-bunga itu diikuti nomor yang anehnya tidak berurutan.


"Nona tahu kenapa nomor lokernya tidak berurutan?" tanya Yuna membuatku gugup.


"Mungkin karena nomornya sudah terpakai. Aku sendiri sudah agak lupa tentang itu," ujarku berusaha terlihat santai.


Yuna tersenyum. "Aku mendengar beberapa lulusan Julliar School bahkan sengaja membeli semacam hak untuk lokernya. Seperti menaruh barang selama berkuliah di sini sebagai kenang-kenangan. Ada biaya pertahunnya."


"Dari riwayat data yang diberikan oleh HN Grup bahwa Nona memiliki loker tersendiri juga," lanjut Yuna membuatku terkejut bukan main.


"Oh benar, aku bahkan sudah lupa juga tentang itu," ujarku berusaha tersenyum.


Jika nama lokernya bunga maka punya Hana juga pasti demikian. Tetapi apa nama miliknya? Dandelion? Orchid? Cosmo? Rose....


Mataku terbelalak lalu mulai berjalan mencari nama loker Rose. Namun setelah mengelilingi beberapa baris loker tidak kutemukan.


"Apa Nona mencari miliknya Anda?" tanya Yuna membuatku mengangguk.


"Mungkin Nona lupa. Biar saya tunjukkan," balas Yuna mulai berjalan. Ia menuju lantai kedua lalu berhenti di salah satu loker yang terdapat di bagian sudut.

__ADS_1


Rose 408.


Kaki terasa lemas. Aku bahkan hampir tidak mempercayai apa yang kulihat. Bagaimana bisa Rose 408 yang tertulis di buku catatan kecil ada di sini? Dan kunci di meja rias!


Ada apa dengan ini?


Lalu yang pertanyaanku selanjutnya, apa isi loker ini?


"Hana," seru suara seorang laki-laki.


Aku berbalik lalu menemukan Jun berdiri tidak jauh dari belakang. Yuna terlihat berjalan mundur lalu meninggalkan kami berdua.


"Jun."


Tanpa balasan Jun langsung berjalan secara cepat dan memelukku. Aku tersentak kaget dipeluk tiba-tiba seperti itu. Apalagi pelukannya semakin erat seperti orang yang sangat merindu, padahal kami tidak bertemu baru kemarin saja.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku membuat Jun melepas pelukannya.


"Aku mendengar dari Ayahmu kalau kau berada di kampus ini ... hanya saja tidak menduga berada di tempat ini," ujar Jun merujuk kepada ruangan loker ini sepertinya. Ada yang salah?


"Aku tidak sengaja berada di sini."


"Teringat oleh masa lalu?"


"Apa?"


Jun tersenyum. Namun bisa kulihat bahwa itu adalah senyuman miris.


"Kau masih teringat tentangnya?" tanyanya menatapku dalam.


Siapa? Ingin aku berteriak bertanya tentang itu. Tetapi aku harus menahan, demi kecurigaan yang bahkan apa untung ruginya jika mereka semua tahu bahwa aku bukanlah Hana seperti yang mereka kira. Tidak! Aku bisa berakhir di Rumah Sakit Jiwa jika mengatakan yang sebenarnya.


"Hansung. Bahkan setelah tiga tahun berlalu, kau masih mengingatnya dengan baik," ujar Jun membuatku mengerti. Ia menatap loker yang ada di samping milik Hana. Loker bertuliskan Daisy 129.


Tangan Jun terulur lalu menyentuh nama loker itu. "Ini miliknya bukan?"


Tunggu, Hana dan Hansung satu kampus? Wah, sekarang aku mengerti bagaimana Hana dan Hansung bertemu dan jatuh cinta.  Tanpa sadar aku tersenyum dan menyadarinya bahwa Jun sedang menatap sendu ke arahku.


Aku tersenyum pada waktu yang tidak tepat. Dasar aku bodoh!


"Bahkan jika aku mengingatnya. Itu semua hanyalah kenangan," ujar mengubah nada suaraku menjadi lemah layaknya orang bersedih namun sudah mengikhlaskan.


Jun meraih tanganku. Menatap kedua tanganku yang ada digenggamannya. "Benar, kau berada di sisiku selama ini. Tetapi hatimu tidak." Ia beralih menatap mataku tanpa melepas genggamannya.


"Apa benar-benar tidak ada aku dalam hatimu?"


Pertanyaan Jun sungguh aku tidak tahu jawabannya. Hana, apa isi hatimu? Berikan aku petunjuk!

__ADS_1


***


__ADS_2