
Satu tahun berlalu ketika Kim Hana telah kembali ke raganya. Musim dingin terulang lagi. Salju kembali memenuhi sudut kota New York. Ia kini duduk di meja kerja kantor sebagai CEO, menggantikan Nami yang kini harus menjalani hukuman selama tujuh tahun untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, atas keterlibatan dalam usaha pembunuhan terhadap Ibu Kim Hana.
Meskipun begitu setelah diadakan penyelidikan menyeluruh, Ibu Kim Hana pada dasarnya telah menderita kanker yang menurut medis bahkan sulit disembuhkan.
Olen anak Nami, disahkan oleh Kim Yunsung sebagai cucunya dan merawatnya anak tersebut dengan penuh kasih sayang.
Kim Hana belum pernah kembali ke Korea Selatan selama setahun ini. Selain mengurus perusahaan, dirinya juga belum sanggup melihat Lee Umji yang sampai sekarang belum tersadar juga.
Hati Kim Hana begitu sesak setiap Mino mengirimkan foto Lee Umji yang masih memejamkan matanya dengan napas teratur di atas ranjang rumah sakit.
"Kau benar-benar akan kembali ke Jepang?" tanya Kim Hana kini duduk di hadapan Hansung sambil menyesap kopi. Pada sebuah kafe kecil yang jauh dari kesan kemewahan.
Hansung mengangguk. "Meski dulu kau menjelaskan dengan begitu tidak masuk akal. Setelah kupikirkan maka itu juga cukup dapat dipahami," ujarnya teringat akan pernyataan Kim Hana tentang jiwanya bertelepotasi ke raga Lee Umji, begitupula sebaliknya.
"Aku akan pindah ke Jepang, mungkin juga berganti nama sebagai Akira. Perusahaan Jun telah mengakuisisi perusahaan milikku," ujar Hansung melanjutkan.
"Kau tidak akan menemui saudaramu terlebih dahulu?" tanya Kim Hana kini juga telah mengetahui bahwa Hansung adalah saudara tiri Jun.
"Aku menemuinya beberapa hari yang lalu dan menceritakan tentang kau dan Lee Umji," jawab Hansung membuat mata Kim Hana terbebelak.
"Apa? Dia mempercayainya?"
"Dia hanya terdiam. Meski begitu, aku bisa melihat bahwa Jun tengah berpikir. Dia hanya berkata, bahagia selama ini berada di sisi ragamu setelah tersadar dari koma."
Kim Hana paham betul maksud Hansung. Meskipun Jun selama ini mengira dirinya yang berada di sisi lelaki itu, pada dasarnya itu adalah Lee Umji.
"Kau sendiri belum berniat kembali ke Korea?" tanya Hansung balik.
Kim Hana menggeleng pelan. "Aku belum siap."
"Pasti sulit bagimu menahan rindu," uhar Hansung sambil tersenyum tipis.
Mata Kim Hana membulat. "Apa?"
"Kau mencintainya bukan? Mino, lelaki yang selama ini berada di sisimu selama di Korea. Menjagamu dalam diam dan membantumu setiap kau butuh," ujar Hansung menyadari perasaan Kim Hana yang sebenarnya.
__ADS_1
Kim Hana tersenyum, namun tidak bersuara. Setelah Hansung benar-benar pergi, ia memutuskan untuk tinggal sebentar di kafe sambil melihat salju turun.
Bahkan setelah keluar dari kafe. Kim Hana memutuskan berjalan di sekitar jalan yang kini penuh hiasan perayaan natal. Tidak seperti hari biasa, selepas kerja dari kantor maka dirinya akan langsung pulang untuk beristirahat atau mengajak Olen bermain playstation.
Kim Hana berjalan hingga di depan sebuah danau yang telah beku. Tidak banyak orang, hanya ada beberapa remaja yang terlihat bermain ice skating di atas danau beku tersebut.
"Kim Hana!"
Seruan seseorang membuat Kim Hana berbalik dan menemukan Nami berdiri beberapa meter darinya. Ia terkejut, tidak mengira bahwa Nami akan ada di hadapannya.
"Bagaimana kau di sini?" tanya Kim Hana.
Nami menyungging senyum tipis. "Kau mendapatkan segalanya bukan? Bahkan bulan depan Jun akan bebas dan hanya menjalani masa percobaan."
Kim Hana teringat akan hukuman yang dijalani oleh Jun, tidak seberapa dibanding Nami, karena bantuan kesaksian Hansung memperingan.
"Nami," seru Kim Hana dengan napas beruap, karena salju kembali turun dan matahari mulai tenggelam, udara semakin dingin dan suhu hampir mencapai titik nol.
Nami mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah senjata api yang telah dipasangkan peredam, agar tidak terlalu menimbulkan suara ledakan besar.
Mata Kim Hana membulat, tak bersuara. Ia hanya menatap lekat Nami yang kini mengarahkan senjata api tersebut padanya.
Suara letupan letupan terdengar. Kim Hana dapat merasakan sebuah peluru menembus dadanya tanpa bisa ia lari atau cegah dan tubuh terasa roboh dengan posisi jatuh ke belakang.
Tubuh Kim Hana yang kini tertancap oleh peluru perlahan mengeluarkan darah yang warna merahnya sangat kontras dengan salju yang menutupi tempat tubuhnya berbaring. Dengan sisa tenaganya, ia menatap langit yang mulai memerah tanda matahari akan segera terbenam, meski begitu hawa dingin menyentuh permukaan kulit wajahnya.
"Lee Umji," serunya pelan. Matanya kemudian mengeluarkan air mata, dibanding rasa sakit yang dirasakannya. Ia merasa begitu tidak berdaya, karena mungkin tidak akan bertemu dengan Lee Umji.
Tepat sebelum Kim Hana mulai menutup matanya, terdengar suara orang sekitarnya mulai ramai yang seolah sadar tentang apa yang dialaminya.
*
Mino jatuh terduduk setelah mendapat telepon dari Hansung yang menyatakan bahwa Kim Hana meninggal dunia akibat peluru yang menembus dada kirinya.
"Ada apa Mino Oppa?" tanya Jini ketika dia dan Mino berada di parkiran rumah sakit, berniat melihat keadaan Lee Umji.
__ADS_1
"Kim Hana meninggal, karena ditembak oleh kakaknya sendiri," jawab Mino belum bisa mengendalikan napasnya.
Jini terkejut. Meskipun tidak terlalu mengenal kehidupan Kim Hana, tetapi berdasarkan penuturan Mino tentang kejadian yang terjadi selama ini antara Lee Umji dan Kim Hana membuatnya setidaknya berempati. Apalagi beberapa bulan ini ternyata dirinya bersama jiwa Kim Hana yang menempati raga Lee Umji.
Tidak kemudian panggilan kembali masuk ke dalam ponsel Mino, kali ini dari dokter yang selama ini merawat Lee Umji. Menyatakan bahwa perempuan itu telah sadar.
Baik Mino atau Jini langsung berlari menuju kamar perawatan di mana Lee Umji selama ini berbaring.
"Lee Umji," seru Jini mendekat.
Lee Umji yang masih berbaring menoleh, lalu tersenyum. "Halo, apa kabar?"
Mino menatap Umji tanpa bisa berucap apapun. Di satu sisi ia senang bisa melihat Lee Umji akhirnya tersadar. Tetapi sisi lain kenyataan menghantam dadanya, bahwa Kim Hana telah pergi selamanya.
"Kurasa aku terlalu lama tidur bukan?" ujar Lee Umji setelah dokter datang memeriksanya dan keluarga memberi kesempatan bagi Mino dan Jini untuk mengobrol.
Jini memegang tangan Lee Umji. "Satu tahun, itu sangat lama."
Alis Lee Umji terangkat. Ia kemudian beralih melihat kalender yang tergantung pada dinding kamar.
"Kau bercanda, aku mengalami kecelakaan sudah hampir empat tahun lalu. Apalagi salju sudah turun," ujar Lee Umji menatap ke kaca jendela yang terlihat sedikit beku.
Mata Mino membulat. "Apa?"
"Kecelakaan mana kau maksud?" tanya Jini merasa janggal.
"Kecelakaan aku menabrak tebing bukan?" ujar Lee Umji membuat Jini maupun Mino tertegun.
Dokterpun memeriksa kembali keadaan Lee Umji. Tetapi setelah mengetahui catatan medis Lee Umji yang tidak satu dua kali mengalami koma, dia menyatakan bahwa ingatan Lee Umji kembali pada saat sebelum menjalani koma pertama, yaitu ketika mengalami kecelakaan hampir empat tahun lalu.
"Berarti dia tidak ingat tentang jiwanya yang pernah berada pada raga Kim Hana?" ujar Jini ketika dia dan Mino memutuskan pulang.
Mino menghela napas. "Kim Hana, Jun, Hansung, Akira ... dia melupakan semua itu."
Mino kemudian mengulas senyum. "Mungkin ini yang terbaik untuknya. Mengingat segala kepahitan hidup Kim Hana akan membuatnya sedih berkepanjangan."
__ADS_1
Mino dan Jini saling bertukar pandang. Mereka berdua kini berdua kini hanya berharap yang terbaik untuk kehidupan Lee Umji.
***