
Aku benar-benar sudah yakin sekarang bahwa jiwa Hana berada di tubuhku. Aku bisa melihat semalam bagaimana ragaku berjalan dan melakukan aktivitas yang sebenarnya jika kuperhatikan saksama adalah bukanlah kebiasaanku. Contohnya adalah mie ramyeon rasa rumput laut yang dibeli pada minimarket dekat apartemen yang sebenarnya bukanlah favoritku.
Kini aku sedang bersiap untuk berangkat ke perusahaan milik Jun bersamanya. Sebenarnya ini terlihat dan terasa konyol bahwa alasan Jun membawaku adalah agar Hansung tidak lagi menculik atau berniat mengajak raga Hana untuk melarikan diri.
Namun apabila aku terkurung dalam rumah maka kesulitan bagiku untuk bergerak dan mencari tahu lebih lanjut tentang bagaimana semua ini bisa terjadi. Bagaimana aku dan Hana dapat bertukar posisi?
"Aku senang semalam kau tampak nyenyak berbaring di sebelahku," ujar Jun ketika aku masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingnya.
Aku sampai melupakan fakta bahwa semalam adalah pertama kali bagi Jun yaitu Hana ingin satu kamar dengannya. Aku seolah memperbaiki hubungan keduanya, namun ada saat-saat tertentu aku seperti terbawa perasaan.
Aku hanya mengulas senyum menanggapi ucapan Jun. Tidak mungkin aku memberikan kalimat puitis yang mungkin akan menambah kerumitan urusanku.
Begitu sampai di perusahaan Jun, aku bagai seorang putri yang di sambut. Beberapa yang terlihat seperti seorang pejabat tinggi bahkan turun ke lobi dan menyapaku dan juga Jun. Seluruh pegawai jika aku bisa mengatakannya membungkuk menyapa.
Jun membawaku ke lantai teratas. Ia menggenggam tanganku masuk ke dalam ruangan satu-satunya yang ada di lantai tersebut.
"Siapkan teh hangat dan biskuit," ujar Jun kepada seorang wanita yang duduk di meja kerjanya. Berada di luar ruangan kerja Jun.
"Baiklah Tuan."
Jun dan aku duduk di sofa yang sepertinya khusus untuk rekan kerja atau tamu penting datang ke ruangan kerja Jun.
"Selama kau di sini, Yuna dan Yujin akan menjagamu," ujar Jun menatapku lekat.
Aku mengerutkan kening bingung. "Yujin?"
Belum sempat Jun membalas ucapanku, terdengar pintu terbuka dan suara sepatu hak tinggi menggema dalam ruangan.
Aku menoleh dan mendapati Yuna datang bersama seorang wanita lain. Wanita yang memiliki potongan rambut pendek, pakaian serba hitam dan sepatu boot.
"Dia adalah Yujin, pangawalmu menemani Yuna yang tidak memiliki kualifikasi bela diri," kata Jun menjelaskan.
"Silakan panggil saya Yujin Nona," ujar Yujin sambil sedikit membungkuk ke arahku.
Aku membalas membungkuk lalu menatap Yuna yang hanya tersenyum.
"Baiklah, kalian boleh tunggu di luar," ujar Jun kepada Yuna dan Yujin.
Aku kembali menatap Jun selepas kedua wanita itu meninggalkan ruangan. "Untuk apa pengawal? Kurasa Yuna sudah cukup."
Jun bangkit berdiri. "Bahkan dulu kau dijaga oleh lima pengawal di rumah, tetapi tetap lolos bersama Hansung. Kurasa ini tidaklah seberapa."
Jun mengulurkan tangannya padaku. Aku menerima dengan pikiran masih bingung. Apakah harus benar-benar butuh pengawal? Kehidupan Hana sungguh rumit.
Pikiranku beralih begitu Jun menempelkan sidik jarinya ke sebuah benda yang berada di dekat pintu. Lebih tepatnya semacam layar pemindai. Jika kuperhatikan lebih jauh, pintu ini masih berada di dalam ruangan kerja Jun. Artinya terdapat ruangan dalam ruangan.
Pintu terbuka menampilkan sebuah kamar. Bisa dikatakan kamar ini bahkan lebih luas dari apartemenku di Seoul. Aku melongo tidak percaya dengan kenyataan ini. Orang kaya benar-benar punya sesuatu yang membuat orang awam sepertiku kehilangan pikiran.
Kurasakan Jun menggengam tanganku. Ia membalik tubuhku menghadapnya. "Selama aku bekerja, kuharap kau bisa berdiam diri di sini. Jika kau bosan maka akan kusuruh Yuna dan Yujin menemaninu melihat-lihat perusahaan," katanya menatapku lekat.
Mataku yang tadi menatap Jun kini beralih ke jendela besar yang menampilkan kota New York dari atas ketinggian. Bahkan ada beberapa gedung tinggi yang kelihatan kecil apabila memantaunya dari ruangan ini.
"Aku rasa, akan menyesakkan tinggal di sini sendirian," ujarku sambil membayangkan betapa bosannya aku jika harus berada di kamar ini seharian.
Jun tersenyum, tangannya lalu menarikku untuk duduk di atas ranjang berdua. Aku bisa merasakan detak jantungku kembali berdegup dengan cepat dari biasanya. Apalagi Jun mengambil gerakan seolah menidurkanku.
__ADS_1
Aku berbaring olehnya. Jun ikut berbaring di sebelahku dengan posisi aku membelakanginya.
"Aku akan datang setiap jam istirahat untuk melepas lelah dan menemanimu," ujar Jun membuat detakan jantungku semakin cepat bahkan bisa kurasakan wajahku memanas. Ini sudah tidak benar.
Sebelum aku membalas ucapannya. Terdengar suara bel yang membuat Jun bangkit dari ranjang dan aku dengan sigap mengubah posisi menjadi duduk.
Jun membuka pintu dan seorang laki-laki tampak berbicara sesuatu padanya. Ia lalu berbalik menatapku dan melambaikan tangannya agar aku mendekat.
"Nami datang menemuimu," ujar Jun membuatku terkejut.
Aku dan Jun keluar dari kamar yang tadi kami kunjungi dan mendapati Nami telah duduk di sofa sembari melempar senyum sekilas.
"Apa aku mengganggu kebersamaan kalian?" tanya Nami seolah dapat melihat apa yang Jun dan aku lakukan di dalam kamar.
Jun melipat tangan di depan dada. "Katakan padaku, apa maksudmu ingin bertemu dengan Hana?"
"Ayahku ingin bertemu denganku dan Hana," jawab Nami tanpa basa-basi lagi.
"Ayah?" gumamku mencoba menerawang jenis pertemuan apa yang akan dibicarakan.
"Apa ini ... terkait dengan Hansung?" tanya Jun dengan suara agak ragu. Ia lalu melirikku sekilas.
Ayolah Jun, jangan menatapku seolah aku akan kembali kepada Hansung seperti seorang Hana dulu.
"Entahlah. Yang jelas kau tidak bisa melarangnya. Ayo Hana," ujar Nami mulai bangkit berdiri.
Aku menoleh melihat Jun yang tampak berpikir sejenak. Ia lalu memegang pundakku.
"Tapi Hana akan ditemani oleh Yuna dan Yujin, pengawalnya," ujar Jun kepada Nami.
"Iya, kau tidak usah khawatir," tambahku melepas tangan Jun dari pundakku.
Aku mencium bibirnya sekilas.
Jun terlihat sedikit tercengang dengan apa yang kulakukan. Sejujurnya aku sendiri seperti sudah kehilangan akal ketika melakukannya. Tetapi ini salah satu cara agar Jun akan membiarkanku pergi tanpa harus diikuti oleh Yuna dan Yujin.
Aku segera menyusul Nami yang berada di pintu, melihat apa yang baru saja kulakukan oleh bibir Hana.
Aku duduk di samping Nami, mobil sedan mewah milik saudara Hana tersebut. Aku menoleh dan mendapati Nami menatapku lekat. Mobil mulai berjalan dengan kecepatan normal.
Nami lalu memencet semacam tombol yang otomatis memberi pembatas antara kursi depan dengan kursi belakang.
"Kurasa kalian benar-benar sudah saling memiliki sekarang," ujar Nami menyinggung soal hubunganku dengan Jun.
"Bahkan semalam kudengar Jun tidur bersamamu di kamarnya," lanjut Nami membuat pipiku memanas. Aku melupakan fakta bahwa Nami memiliki mata-mata di antara pelayan rumah Jun.
"Kurasa kau tidak membawaku hanya untuk mengomentari apa yang terjadi semalam," ujarku menyinggung senyum tipis. Mencoba bersikap biasa saja.
"Tentu saja, itu urusan kalian. Lagipula tamu yang sangat tidak diinginkan Jun mulai hadir," kata Nami yang kutahu maksudnya adalah Hansung.
"Jadi Ayah ingin bertemu soal apa?" tanyaku mengingat perkataan Nami tentang tujuannya datang ke perusahaan Jun tadi.
"Tidak. Ayah sedang tidak ingin diganggu. Masih memikirkan cara soal Hansung."
"Apa maksudnya?"
__ADS_1
"Hanya aku yang ingin menemuimu," ujar Nami lalu mengeluarkan amplop cokelat besar.
"Bukalah," ujar Nami membuatku menuruti perkataannya.
Aku mendapati beberapa lembar kertas yang mulai kubaca saru per satu. Tulisan dalam kertas berbahasa Inggris tersebut kuketahui adalah akta kelahiran Jun, tes darah, tes DNA dan sebuah foto.
Foto dua anak laki-laki yang saling merangkul. Foto yang tidak asing, seperti aku pernah melihatnya.
Benar, foto ini adalah foto yang sama yang kutemukan dalam loker Rose 408. Di mana terdapat buku diari Hana yang menceritakan soal orientasi seksual Nami. Sejujurnya buku diari dan foto dalam loker tersebut terdapat dalam sebuah kardus yang masih tersimpan rapi dalam loker Rose 408.
"Apa ini?" ujarku mengangkat foto tersebut. Namun ketika mataku kembali menunduk dan membaca lembar tes DNA.
Aku kehilangan pikiran. Jun dan Hansung adalah ... saudara kandung? Setidaknya begitulah kecocokan yang ditemukan mencapai 99%.
"Seperti yang kau baca. Jun dan Hansung adalah saudara tiri lebih tepatnya. Mereka satu Ayah. Mereka berdua pernah bertemu sewaktu kecil, di mana Jun hanya menganggap Hansung sebagai teman."
Aku mencoba mengatur napasku setelah mendengar Nami. Masih kuragukan kebenarannya.
"Kenapa kau memberitahu soal ini? Dan kenapa kau perlu mencari tahu soal ini?"
"Ayolah Hana. Tidakkah kau berpikir, kenapa Hansung meninggalkanmu setelah membawamu lari setelah pernikahan dengan Jun?" ujar Nami mengangkat sebelah alisnya.
Aku menggeleng pelan menanggapinya. "Kenapa?"
"Karena setelah dia tahu fakta tersebut. Dia menjadi bersalah kepada Jun. Seperti yang kau ketahui bahwa Ibu Jun yang mempunyai perusahaan, bukan Ayahnya yang memilih bersama Ibu Hansung."
"Hansung yang selama ini mencari adiknya berdasarkan petunjuk terakhir dari Ayahnya sebelum meninggal dan menemukan kebenaran bahwa Jun merupakan suami dari cinta pertamanya," lanjut Nami menjelaskan.
"Lalu apa keuntunganmu atas semua ini? Atas kebenaran yang kau beritahu kepadaku?"
Nami tersenyum. "Lihatlah tanggal dokumen tersebut, tes-tes tersebut sudah dilakukan lebih dari beberapa tahun yang lalu."
"Jadi bukan kau yang mencari tahunya?" tanyaku.
"Hansung yang memberikan ini kepadaku, agar diteruskan kepadamu. Memberinya langsung kepadamu mustahil tanpa diketahui oleh Jun."
Berarti Jun tidak mengetahui fakta ini!
"Kenapa kau mau disuruh oleh Hansung?" tanyaku menyelidik. Jika foto ini berada di loker Rose 408 juga berarti Hana sudah mengetahuinya juga? Tetapi kenapa dalam naskah novel tidak dituliskannya?
"Karena Hansung menjanjikan bahwa dia akan memihakku pada rapat pemegang saham berikutnya," balas Nami membuatku paham alasannya.
"Lalu apa untungnya jika aku mengetahui fakta ini? Apa dia berharap bahwa aku akan memakluminya dan memaafkannya!" ujarku dengan nada meninggi.
"Tenanglah Hana, kurasa dia hanya ingin menjelaskan kenapa dirinya pergi meninggalkanmu. Selain itu ...," ujar Nami lalu mengeluarkan tablet pc dari tasnya.
Mataku terbelalak begitu melihat layar table pc tersebut. Menampilkan sebuah rekaman cctv.
"Apa maksudmu?" tanyaku sedikit bergetar.
Nami tersenyum miring. "Aku dengan tim IT perusahaan mengejar pejabat yang menyelewengkan dana lalu melarikan diri ke Seoul dan menemukan rekaman ini yang menandakan bahwa Hansung berada di Korea Selatan selama ini."
Aku menarik napas dalam. Rekaman cctv yang memperlihatkan Hansung adalah rekaman bagaimana Akira yang kuingat ketika melihat ragaku di Seoul. Cara Akira berpakaian masih tergambar jelas. Dan ternyata Akira dan Hansung adalah orang yang sama!
***
__ADS_1