Daydream

Daydream
A. TOKYO - 6


__ADS_3

Umji tersenyum lebar begitu melihat Akira di lobi hotel. Ia turun dari lantai atas sendirian. Mino dan Danso telah keluar duluan bersama pihak produksi film.


"Kau datang tepat waktu," ujar Umji melirik jam tangannya. Ia dan Akira berencana bertemu pukul sepuluh pagi seperti sekarang.


Akira tersenyum. Pria itu memakai baju rajut, celana jeans dan kupluk di kepalanya. Cocok dengan Umji yang memakai pakaian kasual lengkap jaket coat panjang.


Umji mengernyit melihat Akira membawa sesuatu yang terbungkus oleh kain. Namun ia memilih tidak bertanya, takut terlihat tidak sopan.


Musim gugur membuat daun-daun berguguran. Daun pepohonan yang berwarna kuning kecokelatan terbawa angin saat Akira membawa Umji masuk ke dalam salah satu kuil terkenal di Tokyo.


Kuil Sensoji. Umji menatap kagum akan bangunan bersejarah di depannya. Pengunjung cukup ramai dan ia merasa senang melihat perempuan yang memakai kimono.


"Kau menyukainya?" tanya Akira ketika dirinya dan Umji berjalan di sekitar kuil.


Umji menoleh sambil tersenyum. "Tentu saja. Ini pertama kaliku ke Jepang dan melihat kuil yang menarik."


"Bagaimana dengan peninggalan Dinasti Joseon?"


"Oh itu, aku sudah lama tidak ke sana."


"Benarkah? Padahal sangat menarik melihat drama televisi kerajaan Korea," balas Akira.


Setelah puas melihat kuil bersejarah, Akira membawa Umji ke Taman Ueno. Tidak kalah ramai dengan tempat sebelumnya. Kebanyakan pengunjung taman adalah wisatawan seperti Umji.


Akira menarik tangan Umji untuk duduk di sebuah matras yang terdapat di bawah pohon yang daunnya berguguran. Namun masih teduh oleh helai daun yang masih tertinggal.


Umji menatap tangan yang memegangnya. Walaupun ia terkejut, tetapi juga tidak menolak.


"Di sini akan sangat baik melihat bunga sakura pada musim semi," ujar Akira telah melepas tangan Umji. Ia kemudian membuka kain terhadap sesuatu yang sedaritadi dibawanya.


Umji tercengang begitu melihat kotak bento tersusun. Harum makanan di dalamnya menyeruak, ketika Akira membuka penutupnya.


"Nikmatilah sambil melihat sekitar," ujar Akira tersenyum sambil memberi sumpit kepada Umji.


"Terima kasih," balas Umji langsung mencoba makanan khas Jepang. Ia seeing ke restoran Jepang, namun makan dari bento adalah pertama kalinya.


"Apakah kau membuatnya sendiri?" tanya Umji di tengah kunyahannya.


Akira terkekeh kecil. "Ya, tetapi dibantu sepupuku yang tinggal di Tokyo."


"Aku akan membeli minum. Tunggu sebentar," ujar Akira beranjak setelah dirinya juga telah mencicipi beberapa makanannya juga.


Sepeninggal Akira, mata Umji melihat sekitar. Kebanyakan pengunjung yang juga piknik seperti dirinya dan Akira adalah sekelompok anggota keluarga.

__ADS_1


Tangan Umji terulur begitu sehelai daun berguguran jatuh di atas pahanya. Ia mengambil ponsel lalu memotret daun tersebut. Namun begitu akan melihat hasilnya, nama Jini terpampang pada layar ponselnya.


"Halo." Umji mengangkat telepon dari Jini.


"Umji, kau sedang tidak sibukkan?"


"Tidak, kenapa?"


"Oh tidak, aku hanya ingin memberitahumu bahwa naskah yang kau berikan padaku tidak lengkap," ujar Jini dengan nada meninggi.


"Apa maksudmu?" tanya Umji tidak mengerti.


"Setengah dari lembarnya kosong!"


"Benarkah? Aku tidak tahu. Kaukan tahu bahwa aku belum membacanya sampai habis," balas Umji dengan nada menyesal.


"Aku tidak bermaksud menyalahkanmu. Tetapi kau bilang Mino yang merekomendasikannya sebelum pindah ke bagian majalah bukan?"


"Benar."


"Kau membacanya sampai di mana?" tanya Umji.


"Hm, jadi begini Song Byul mencoba bunuh diri setelah Raewon kekasihnya--bukan lebih tepatnya selingkuhannya meninggal setelah kecelakaan mobil. Leo suaminya memang lelaki yang memaksanya menikah. Namun Song Byul selamat, tetapi dia mengalami kejadian aneh."


"Iya, dia bertelepoetasi ke tubuh seorang perempuan yang bekerja di perusahaan penerbitan. Dan entah mengapa ada beberapa hal yang menggangguku."


"Kurasa kau perlu meminta penjelasan Mino tentang naskah ini," lanjut Jini.


Akira datang sambil membawa dua gelas minuman dingin.


"Baiklah, nanti kutelepon lagi."


Umji menutup telepon begitu Akira duduk. Walaupun menikmati makanan dan pemandangan di sekitarnya. Tetapi pikirannya terbang kepada naskah novel yang tadi ia bicarakan bersama Jini.


Selanjutnya Akira membawa Umji ke tempat lainnya. Tetapi mereka berdua harus menggunakan kereta bawah tanah. Karena jarak tempat selanjutnya cukup jauh.


"Kalau boleh tahu, kau ada urusan apa di Tokyo?" tanya Umji menoleh kepada Akira yang duduk di sampingnya.


"Hm, semacam pekerjaan," jawab Akira singkat.


Umji mengangguk sekali. Ternyata bukan hanya dirinya yang datang ke Jepang demi pekerjaan. Tetapi ia senang Akira membawanya jalan-jalan sebelum besok akan disibukkan oleh pekerjaan.


"Malam nanti aku ingin membawamu ke Tokyo Tower. Lebih indah menatap Kota Tokyo dari atas dalam kegelapan," ujar Akira tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah."


Sungai Sumida yang terletak tidak jauh dari stasiun Asakusa. Akira membawa Umji ke salah satu tempat terbaik lainnya melihat daun musim gugur.


"Kita akan naik itu?" ujar Umji menunjuk perahu atau yakatabune terdapat beberapa di atas permukaan Sungai Sumida.


Akira mengangguk. "Hari sudah sore. Akan menyenangkan bukan melihat senja dari atas sana."


Umji tersenyum otomatis membayangkan ucapan Akira. Tangannya menerima uluran tangan Akira menuju ke atas perahu. Mereka tidak hanya berdua, mengingat perahu cukup besar dan muat beberapa orang.


Begitu perahu berlayar. Umji merasakan angin menerpa wajahnya. Ia memejamkan mata sambil menarik napas dalam. Lalu kemudian sebuah tangan menarik dagunya yang menyebabkan kepalanya menoleh ke samping. Ketika membuka mata, wajah Akira langsung dilihatnya.


Umji terkejut. Matanya membulat. Tanpa sadar dadanya berdebar, apalagi Akira balik menatapnya dengan lembut.


"Lihatlah," ujar Akira menjauhnya wajahnya beralih ke depan.


Umji mengikuti ucapan Akira. Kini dilihatnya bangunan kedua sisi sungai yang dilaluinya. Matahari kian kembali ke peraduan. Membuat langit kebiruan berubah menjadi merah kekuningan.


Earphone yang dipakai Akira kemudian ia berikan satu sisinya kepada Umji. Jadilah mereka berdua menikmati pemandangan sekitar Sungai Sumida dengan lagu-lagu Jepang dari playlist Akira. Menambah perasaan senang dan damai dalam diri Umji.


Ponsel Umji langsung mengabadikan momen tersebut. Ia bahkan mengajak Akira berfoto berdua sebagai kenang-kenangan. Meski malu pada awalnya, tetapi senyuman lebar dirinya dan Akira membuat suasana hangat.


Namun ketika akan memasukkan ponselnya kembali ke tas. Umji merasa perahu sedikit bergoyang. Ia dan Akira yang berada di bagian tepi perahu langsung berpegangan.


Dada Umji sempat berdetak cepat, takut perahu akan tenggelam. Namun perasaan itu lenyap begitu perahu kembali sandar. Ia dan Akira mengantri untuk keluar dari perahu.


Ketika saatnya tiba Umji berada persis di belakang Akira. Semilir angin membuat matanya menoleh melihat burung-burung berterbangan.


"Hana."


Sebuah suara membuat dada Umji membuncah. Ia sekali lagi menoleh mencari sumber suara sambil kakinya melangkah. Namun ketika melihat ke belakang tidak ada seruan apapun. Kebanyakan orang di belakang Umji memakai bahasa Jepang.


"Hana!"


Umji terkesiap lalu kakinya terasa jatuh ke bawah. Rupanya ia melangkah miring sehingga tubuhnya kini kehilangan keseimbangan.


"Umji!" seru Akira mencoba meraih tangan Umji, namun gagal.


"Hana."


Mata Umji membulat mendengar suara nama itu lagi lalu pandangannya kabur dan air terasa menembus pakaiannya. Gelap.


***

__ADS_1


__ADS_2