Daydream

Daydream
B. NEW YORK - 13


__ADS_3

Wajahku penuh peluh ketika terbangun. Namun sebelum aku benar-benar terjaga, diriku kembali dikejutkan oleh kemunculan Jun.


Satu hal yang kupahami bahwa selain mendapat penglihatan untuk bisa melihat kehidupan ragaku secara visual. Aku juga bisa melihat ingatan ragaku dan jiwa Kim Hana hanya sebatas setelah dia bangun dari koma kedua pasca kecelakaan. Itulah kenapa selama ini aku merasa bahwa jiwaku berpindah-pindah yang kenyataannya adalah jiwa kami tertukar.


"Kau baik-baik saja?" tanya Jun berjalan mendekat lalu duduk di atas ranjang.


Kau mengangguk pelan. "Tentu saja. Kau tidak ke kantor?"


Aku menyadari pakaian Jun yang cenderung santai. Tidak memakai setelan jas seperti biasanya.


"Kim Yunsung meneleponku agar kita ke rumahnya untuk makan siang bersama. Kurasa ... aku ingin menemanimu juga," ujar Jun menarik tanganku lalu mengenggamnya.


Aku melirik jam dinding yang menunjukkan pukul delapan pagi. Aku bisa mengingat semua tentang ragaku di Seoul semalam. Termasuk ucapan yang menyatakan bahwa ragaku yang dihuni oleh jiwa Kim Hana mendapat mimpiĀ  tentang raganya sendiri yang dihuni olehku Lee Umji.


"Aku akan menyusulmu di meja makan untuk sarapan. Aku mau mandi dulu," ujarku menatap Jun.


Jun tersenyum. "Baiklah, aku akan menunggumu di meja makan."


Setelah Jun keluar dari kamar, aku segera bergegas ke kamar mandi. Aku mencoba mendinginkan kepalaku dengan berdiri di bawah shower agar air benar-benar bisa menembus pori-pori kepalaku.


Aku bisa melihat jelas bahwa kedatangan Mino ke apartemen adalah untuk mengkonfirmasi secara pasti bahwa Lee Umji yang diketahuinya bukanlah yang meneleponnya.


Kurasa Mino akan mempercayai itu semua setelah melihat naskah All About You yang berada di apartemen dan melihat bagaimana ragaku yang begitu kebingungan.


Setelah mandi dan berpakaian, aku segera menuju meja makan yang sudah ada Jun duduk di sana sambil memandangi layar ponselnya.


Kami berdua sarapan dalam keheningan. Aku bisa melihat bahwa Jun lebih sering mengecek ponselnya daripada melihat ke makanan di atas piring.


"Aku sudah mencari tahu soal Hansung," ujar Jun membuatku hampir tersendak ketika minum jus stroberi setelah menghabiskan waffle dengan aroma kopi.


"Apa maksudmu?" tanyaku pelan.


Jun menarik napas. "Hansung selama ini bolak-balik Korea dan Jepang memakai identitas lain."


"Dan kau tahu ... beberapa rekaman cctv yang ditemukan oleh orangku menunjukkan bahwa Hansung kenal dengan Lee Umji."


Aku melotot ke arah Jun. Ia sudah mengetahui sampai sejauh itu. Jika melihat Hansung dan ragaku bersama maka kemungkinan besar sewaktu aku bertemu dengan Hansung sebagai Akira di perpustakaan kota dan supermarket. Selebihnya adalah Jepang.


"Apa kau juga mencari tahu soal Lee Umji?" tanyaku mengingat soal insiden koma ragaku di Jepang.


Jun menggeleng. "Untuk apa? Kuyakin Hansung hanya mendekati Umji hanya karena wajah kalian sama. Lagipula yang aku tahu dari temanku yang merupakan atasanku bahwa Lee Umji hanyalah pegawai biasa."


Aku menghela napas lega secara diam-diam. Aku berpikir bahwa Jun hanya penasaran soal hilang dan munculnya kembali Hansung.


Ketika menuju rumah Kim Yunsung, aku berada di mobil yang berbeda dengan Jun. Alasannya sederhana, karena di sampingku terdapat Yuna dan di sebelah supir terdapat Yujin yang duduk.

__ADS_1


Aku yakin bahwa Kim Yunsung akan membahas soal kemunculan Hansung. Aku yang terjebak dalam persoalan kehidupan Hana sungguh membuatku lelah. Teka-teki soal hidupku yang berkaitan naskah All About You, jiwa Hana yang tersesat pada ragaku dengan ingatannya yang seolah hilang dan ... kenapa Hansung sebagai Akira mendekati ragaku?


Jika sebelumnya aku datang ke rumah Kim Yunsung, keadaannya cukup sepi maka berbeda sekarang. Yang jelas ramai bukan oleh tamu, tetapi penjaga di mana-mana. Entah mengapa aku merasa bahwa kedatanganku ke sini adalah keputusan yang salah.


Kim Yunsung menyambutku dan Jun di depan pintu. Ia tersenyum lalu memelukku sebentar dan mengajak kami berdua masuk. Sedangkan Yuna dan Yujin hanya menunggu di mobil.


"Kau tahu alasanku mengajakmu ke mari?" tanya Kim Yunsung duduk di sofa ruang tamu.


"Apa ini soal Hansung?" tanya Jun menebak seperti arah pikiranku.


Kim Yunsung mengangguk pelan. "Kurasa Hana akan aman jika tinggal di sini sementara."


Ucapan Kim Yunsung membuatku menoleh menatap Jun yang wajahnya sudah menegang.


"Apa maksud Tuan Kim Yunsung?" ujar Jun terlihat menahan diri sambil berusaha tetap tersenyum.


"Aku mendapat kabar bahwa kemarin kau bertemu dengan Hansung," ujar Kim Yunsung menatapku lekat.


"Secara tidak langsung," balasku cepat.


"Bagaimana pun, itu membuktikan bahwa kau masih belum aman."


Jun mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Aku berjanji akan menjaga Hana lebih baik jadi--"


"Jun, aku ingin memintamu untuk menemui Mezo Grup sekarang sebagai perwakilanku dalam investasi terkait kontrak dunia entartaiment," sela Kim Yunsung dengan nada memerintah.


"Kapan itu?" tanya Jun pelan.


"Sekarang. Hana akan tetap berada di sini, kau bisa kembali ke sini malam nanti. Aku akan memutuskan apakah Hana akan berada di sini atau pulang bersamamu," kata Kim Yunsung membuat Jun bangkit berdiri.


"Baiklah," balas Jun lalu menyampingkan tubuhnya. Ia sedikit menunduk lalu mencium kepalaku. "Aku pergi dulu."


Aku hanya mengangguk pelan membalasnya. Setelah Jun pergi, aku memerhatikan Kim Yunsung bangkit berdiri. Baru beberapa langkah berjalan, ia berbalik melihatku.


"Ikut denganku," ujar Kim Yunsung membuatku berjalan mengekor di belakangnya.


Kim Yunsung membawaku ke ruang kerjanya yang jauh lebih besar dan luas dari milik Jun. Ia kemudian mengajakku duduk di sofa dekat jendela.


"Jujurlah padaku Hana, apakah ... kau masih mencintai Hansung?" tanya Kim Yunsung tanpa basa-basi.


"Kenapa Ayah menanyakan hal itu?"


Aku tidak tahu jawabannya. Sungguh, karena aku bukanlah Kim Hana.


"Aku ingin memberitahumu kebenaran bahwa Jun adalah Hansung--"

__ADS_1


"Adalah saudara."


Mata Kim Yunsung terbelalak mendengarku mengetahui fakta tersebut. Kurasa aku bisa mempercayai hal tersebut setelah Kim Yunsung membahasnya juga.


"Bagaimana kau tahu?" tanya Kim Yunsung jelas menandakan bahwa ini adalah sebuah rahasia besar.


"Hansung yang mengatakannya langsung dan itu menjadi alasannya meninggalkanku dulu," balasku mengingat-ingat ucapan Nami atau Hansung kemarin.


"Setelah kau mendengar kebenaran tersebut?"


Aku menarik napas dalam sambil memejamkan mata. "Aku sama sekali tidak memiliki niat untuk kembali kepada Hansung. Aku ... aku mulai belajar mencintai Jun," ujarku merasakan seolah jantungku berhenti ketika mengucapkan kalimat terakhir.


Aku bisa melihat Kim Yunsung menyungging senyuman kecil. "Baiklah, aku mengerti."


"Jadi Jun bisa membawaku pulang bukan?" tanyaku pelan.


"Jun bercerita padaku lewat telepon bahwa kau akan selalu dibawanya ke kantor, apakah itu benar?"


"Ya, aku sudah pernah dibawanya ke kantor. Jadi Ayah tidak perlu khawatir," balasku.


"Jun akan sibuk beberapa hari ke depan dan harus pergi ke pertemuan bisnis bahkan di luar negeri. Apakah kau sanggup?"


Sejujurnya aku bimbang. Ikut ke mana-mana dengan Jun akan membuatku sulit berkomunikasi dengan Mino. Tetapi apabila aku tinggal bersama Kim Yunsung, ruang gerakku juga terbatas.


"Ayah, minggu depan bukankah peringatan kematian Ibu?" ujarku tidak sengaja melihat kalender dalam kamarku di rumah Jun yang tanggalnya terlingkari lalu bertuliskan 'mengenang Ibu tercinta'.


Kim Yunsung mengangguk singkat. "Apa kau ingin ke Korea?"


Aku mengangguk. "Nami eonnie melakukannya bulan lalu, kurasa aku juga harus dan ... sejujurnya aku merindukan Ibu."


"Entahlah Hana. Kurasa Jun juga tidak akan setuju tentang ini. Hansung pasti akan terus mengejarmu," balas Kim Yunsung terlihat ragu.


Aku mencoba memutar otakku. Kurasa inilah caranya jika aku ingin bertemu dengan Mino dan mencari tahu segalanya. Jika perlu aku ingin bertemu dengan ragaku yang artinya bertemu dengan Kim Hana.


"Ayah kumohon. Kalau perlu aku akan diam-diam pergi dengan bantuanmu, supaya Hansung tidak tahu," ujarku dengan wajah memelas. Bukanlah Hansung yang kukhawatirkan, tetapi Jun yang jika kukatakan ingin ke Korea pasti tidak mengizinkan.


Setidaknya Kim Yunsung akan merasa iba mendengar putrinya merengek ingin ke peringatan pemakaman istri sekaligus ibu dari anaknya.


"Aku akan bicara dengan Jun," ujar Kim Yunsung seolah mengizinkanku dan membantuku bicara dengan Jun.


Aku tersenyum lalu memeluk Kim Yunsung. "Terima kasih Ayah."


Selanjutnya aku harus bertemu dengan Nami setelah ini. Aku butuh bantuannya agar bisa bebas nanti ketika berada di Korea tanpa pengawasan ketat dari Jun atau Kim Yunsung. Namun sebelumnya aku harus memikirkan, balasan apa yang harus kuberikan.


Walau Nami tidak bisa kupercaya sepenuhnya, tetapi ada kalanya hanya dia yang mampu memanipulasi. Contohnya ketika datang ke kantor Jun yang katanya untuk membawaku bertemu Kim Yunsung yang padahal dirinyalah yang ingin bicara denganku.

__ADS_1


***


__ADS_2