Daydream

Daydream
B. NEW YORK - 8


__ADS_3

New York, seperti sebutannya kota yang tidak pernah tidur. Mataku terbelalak begitu datang ke sebuah pesta perayaan ulang tahun rekan kerja Jun. Aku bisa merasakan keramaian, dengunan musik yang aroma minuman alkohol.


Mungkin inilah pesta orang kaya. Tamu undangan wanita memakai gaun malam dengan belahan dada atau punggung terlihat jelas. Sedangkan tamu undangan pria memakai tuxedo. Aku sendiri memilih memakai mini dress selutut berwarna serba hitam. Jun memilih tuxedo berwarna putih, sehingga penampilan kami terlihat kontras.


"Kau ingin minum sesuatu?" ujar Jun melirik sekilas.


Aku yang sedaritadi mengandeng lengannya hanya menggeleng pelan. Meskipun di Seoul aku menikmati soju dan bir sepulang bekerja di malam hari. Tetapi minuman alkohol di sini, terlihat mahal dengan efek yang takut aku tidak bisa mengontrolnya.


"Duduklah di sini," ujar Jun menuntunku duduk di salah satu sudut ruangan. Hanya ada aku yang duduk di sofa, sedangkan kebanyakan tamu undangan lain memilih berdiri sambil menyapa satu sama lain.


Tiga puluh menit lalu aku sudah memaksakan diriku untuk bertegur sapa dan tersenyum ketika bertemu rekan kerja Jun atau kenalan Kim Yunsung. Ada beberapa wanita yang juga mengenali Hana, meski hanya sebatas kenal, bukan dekat.


Jun datang membawakanku segelas koktail. Aku memandang gelas berisi koktail tersebut lalu beralih menatap Jun.


"Minumlah, bukan pesta kalau kau tidak minum sedikitpun," ujarnya lalu duduk di sebelahku.


Aku pun mendekatkan gelas tersebut ke mulutku dan mulai mencicipinya. Aku pernah minum koktail setidaknya dua kali selama Jini mengajakku ke pesta pernikahan temannya. Selebihnya biasanya aku hanya menikmati wine, apabila rekan kerja di perusahaan penerbitan sedang ada acara.


"Kau tunggu sebentar di sini. Aku harus menyapa salah satu kolega yang baru datang," ujar Jun bangkit berdiri lalu menepuk bahuku.


Aku mengangguk pelan. Sepertinya Jun cukup mengerti bahwa aku sudah kelelahan berjalan, apalagi dengan sepatu hak tinggi.


Setelah Jun mulai menghilang dalam kerumunan, aku hanya menatap sekitar sambil menikmati alunan musik yang terdengar romantis dengan nada sedikit sensual. Setidaknya lirik dan melodinya bukanlah jenis pop yang biasa kudengar aplikasi streaming.


Lampu-lampu kerlap-kerlip membuat mataku berkedip beberapa kali setiap menit. Pandanganku lurus ke depan memerhatikan dua orang yang sedang berciuman dengan mesra, aku sedikit memalingkan wajah merasa malu sekaligus grogi sendiri.


Pikiran kosong. Aku melihat sosok Akira berdiri beberapa meter dariku. Dia menatapku lekat. Bagaimana dia bisa berada di sini?


Perlahan aku bangkit berdiri, tidak melepas pandang. Namun kudengar pembawa acara kembali bersuara. Suara mic melengking, mungkin gangguan. Orang-orang kembali berjalan menuju panggung kecil di samping kananku.


Sosok Akira tertutupi. Sepatu hak tinggiku bergerak, berjalan mendekati tempat di mana Akira berdiri. Namun sebelum sampai, tanganku terasa ada yang menariknya.


"Kau mau ke mana?"


Jun membalik badanku sehingga tubuhku bertumbrukan dengan dadanya. Aku mendongak menatapnya. Sorot mata tajam Jun balas menatapku.


"Aku ingin ke toilet," balasku beralasan.


"Baiklah, bukan ke sana arahnya," ujar Jun lalu menuntunku sampai ke depan toilet.


"Aku masuk dulu," ujarku lalu masuk ke dalam toilet tanpa direncanakan.


Alih-alih langsung melihat cermin sambil memperbaiki riasan seperti wanita lain yang masuk ke dalam toilet. Aku langsung menuju bilik. Menutup tempat duduk kloset dan duduk di atasnya.


Aku menarik napas dalam sambil memejamkan mata. Aku mencoba mengingat kembali sosok yang jelas kulihat adalah Akira. Laki-laki yang meninggalkanku tenggeleam di sungai. Memikirkan hal itu, aku memgeluarkan ponselku.


Sudah hampir seminggu sejak kedatanganku, tetapi Mino tidak kunjung memberi balasan atau mencoba berkomunikasi denganku. Akhirnya aku kembali mengetikkan pesan padanya.


    - Apakah Umji sudah sadar?


Satu menit berlalu, lalu aku mendapat balasan.


    - Belum.


Aku menghela napas panjang. Itulah kenapa selama aku tidur, belum ada gambaran tentang aktivitas ragaku. Setelah sadar, aku ingin melihat langsung diriku apakah benar dalam ragaku bukanlah jiwaku, tetapi jiwa Hana.


Sadar terlalu lama berpikir di dalam toilet membuatku segera keluar dan menemukan Jun dengan wajah menegang dengan sekertarisnya tampak berbisik sesuatu kepadanya.


"Baiklah, siapkan mobil," ujar Jun lalu menoleh menatapku.

__ADS_1


Jun berjalan dengan langkah cepat ke arahku. Saking cepatnya, ketika sampai di hadapanku, aku malah mundur selanglah. Terkejut dengan reaksinya.


"Ayo kita pulang sekarang," ujarnya sembari memegang pergelangan tanganku.


Aku hanya mengangguk menurutinya. Sebenarnya aku penasaran kenapa Jun yang tadi kelihatan santai dan menikmati pesta, berubah seolah ada yang mengejarnya. Bahkan ketika kami berjalan menuju mobil, matanya selalu memerhatikan sekitar.


Begitu sampai di mobil, aku duduk dibagian belakang bersama Jun. Sedangkan sekertarisnya duduk di sebelah supir. Sama seperti kedatangan kami sebelumnya.


Aku menatap jam dinding ruang tamu ketika sudah sampai di rumah Jun. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas. Satu jam sebelum benar-benar tengah malam.


Jun kemudian kembali menarik tanganku sampai di depan kamar. Tangannya lalu beralih memegang kedua pundakku.


"Istirahatlah, dan ... apa kau melihat sesuatu tadi?" tanya Jun dengan mata menatapku intens.


Aku memang melihat sosok Akira. Tetapi aku kira Jun tidak akan mengenal siapa itu Akira. Maksudku bisa saja aku yang salah orang.


"Tidak, memang ada apa?"


Jun menghela napas kemudian memelukku. "Tidak. Lupakan hal itu."


"Masuklah ke dalam kamarmu, istirahat malam ini," lanjutnya kemudian mencium kepalaku.


Aku mengangguk lalu mulai memegang pegang pintu. Aku berbalik sebentar menatap Jun yang masih berdiri di tempat sambil menatapku.


Kurasa aku sudah gila dengan mengharapkannya masuk ke dalam kamar yang sama denganku. Aku segera kembali berbalik lalu membuka pintu. Begitu masuk ke dalam kamar, aku tidak langsung mengganti pakaianku. Melainkan duduk di atas ranjang. Memegang dada sebelah kiriku yang terasa berpacu lebih cepat dari biasanya.


Ingat, aku ini Umji bukan Hana.


*


Aku terbangun lebih lambat dari sebelumnya. Efek pegal pada telapak kakiku akibat sepatu hak tinggi masih kurasakan. Namun kesadaranku langsung kembali sepenuhnya melihat Yuna berdiri di samping tempat tidur.


Aku mengubah posisi berbaring menjadi duduk lalu menggeleng pelan, "Tidak. Kau sudah siap seperti sekarang, pasti aku ada jadwal bukan?"


Yuna mengangguk. "Nona Nami mengajak Nona bertemu."


Alisku terangkat mendengarnya. "Untuk apa?"


"Saya sendiri juga kurang tahu. Sebaiknya Nona bersiap dulu."


Setelah Yuna keluar dari kamar, aku segera mandi dan berpakaian. Aku memakai setelan kerja, karena bisa saja Nami ingin menemuiku di perusahaan.


"Apakah Nona ingin brunch dulu?" tanya Yuna.


Aku menggeleng. "Sekalian saja nanti makan siang. Lagipula kurasa pertemuanku dengan Nami eonnie tidak akan lama."


Aku mengira bahwa Yuna akan membawaku ke NH Grup. Ternyata aku malah dibawa ke sebuah kawasan perumahan elit. Bisa kutebak bahwa rumah di depanku ini adalah milik Nami.


Rumah bergaya sangat kontemporer dengan halaman yang luas. Yang membuatku takjub adalah deretan mobil terparkir berjumlah kurang lebih sepuluh. Nami adalah wanita yang sangat menarik bagi pria yang belum tahu orientasi seksual kakak perempuan Hana itu.


Bayangkan saja cantik, anak pemilik NH Grup, CEO sementara dan berpendidikan tinggi. Siapa pria yang akan menolak pesona Nami, kecuali wajah jutek yang sedang dipasangnya saat ini.


"Kau sudah datang?" tanya Nami hanya memakai piyama.


Aku menertawakan diriku sendiri berpakaian begitu rapi, namun Nami hanya berpakaian santai.


"Ikut aku," ujar Nami menuntunku ke bagian belakang rumahnya.


Terdapat kolam renang luas dengan pohon palem yang tertanam berjejeran. Di bawahnya terdapat meja dan bangku yang kini tempatku duduk berhadapan dengan Nami. Yuna sendiri sedang menunggu di ruang tamu dan disuguhkan hidangan oleh pelayan Nami.

__ADS_1


"Apa sebenarnya alasanmu ingin bertemu denganku?" tanyaku langsung.


Nami terkekeh pelan. "Kenapa harus terburu-buru Hana? Santai saja," ujarnya lalu mengambil anggur yang ada di atas meja. Bukan hanya anggur, terdapat buah-buahan segar lainnya.


"Kurasa kau tidak mengundangku ke sini hanya untuk menyuguhkan buah-buahan."


"Baiklah, kau terlihat sangat rapi. Mau ke perusahaan?" tanya Nami memandangku dari atas sampai bawah.


"Apa itu urusanmu?" ujarku berusaha ketus. Setidaknya mungkin ini sikap Hana apabila berhadapan dengan Nami yang selalu ketus dalam ucapan atau tatapannya.


"Aku tahu, kalau kau ke Jepang dan ... Jun hanya mengetahui bahwa kau ke Korea," balas Nami mulai mengatakan maksud tujuannya.


Mataku membulat. "Bagaimana kau tahu?"


Nami mengeluarkan gantungan kunci berbentuk Tokyo Tower dari saku piyama. "Jangan lupa Hana, aku punya banyak relasi. Katanya ... kau terlihat menjenguk seseorang di rumah sakit."


Tubuhku menegang mendengar ucapan Nami. Aku menelan ludah lalu menyesap teh yang sudah ada di atas meja bahkan sebelum aku sampai di sana tadi. Seolah Nami memang sudah menyiapkannya.


"Tapi tenang saja, aku tidak akan memberitahu Jun. Lagipula itu bukan urusanku. Dan ... karena kau meninggalkan rapat untuk ke Jepang sehingga aku masih tetap menjadi CEO."


"Dan kau hanya ingin aku datang supaya bisa mendengarmu bisa pamer?" tanyaku sarkastik.


Nami tertawa pelan. "Aku akan menawarkan perjanjian."


Alisku terangkat tidak mengerti. "Tentang apa itu?"


"Akan kuberitahu rahasia tentangmu dan Jun. Kalian ... setelah kau koma belum pernah tidur dan berhubungan intim bukan?"


Mataku terbelalak mendengarnya. "Apa maksudmu?"


"Oh ... kalian pernah tidur sekamar, tetapi aku meragukan pernah melakukan hubungan intim," lanjut Nami mengabaikan pertanyaanku.


"Aku punya banyak telinga dan mata Hana, ingat itu," lanjut Nami membuatku sadar bahwa Nami punya mata-mata di rumah Jun.


"Lalu kenapa?" ujarku dengan nada menantang.


"Kau tahu kenapa Jun yang sangat ... mencintaimu bahkan sukarela menerimamu kembali meski telah lari bersama Hansung? Karena dia hanya kasian," ujar Nami dengan raut wajah penuh drama.


"Apa?"


"Kau tidak akan pernah bisa hamil lagi Hana. Itu fakta, karena ulahmu sendiri meneguk racun tersebut dulu," balas Nami lalu bersendekap di depan dada, tersenyum miring.


Pikiranku hilang. Mengetahui fakta yang baru saja kuketahui.


"Jun mungkin merasa ... jika bukan dia, maka siapa lagi yang akan menerima wanita tanpa rahim sepertimu? Lagipula menikah dengamu juga menguntungkan Jun dengan saham milikmu di perusahaannya."


"Aku ... aku, Hana."


Tanpa sadar aku memegang perutku. Menunduk dengan mata yang mulai berkaca.


"Karena kau sudah mengetahui kebenarannya, maka janganlah serakah untuk menjadi CEO. Rapat pemegang saham akan kembali di gelar besok. Setidaknya rahimku masih bisa mengandung penerus NH Grup," ujar Nami dengan nada lugas.


"Lagipula saham Hansung tidak bisa kau miliki, karena status pernikahanmu dengan Jun sehingga saham tersebut akan beralih menjadi sumbangan untuk masyarakat. Jadi ... sahammu ditambah Jun dan setengah dari Ayah masih cukup kuat melawanku," lanjut Nami bercerita.


Aku mendongak menatapnya yang kini mulai serius menatapku. Aku bisa meluhat bahwa di mata Nami hanya ada soal bisnis. Bahkan jika dirinya seorang penyuka sesama jenis, tidak akan sungkan berhubungan dengan pria apabila itu menguntungkan.


"Aku mengerti. Kau hanya perlu menjaga rahasia kedatanganku ke Jepang," ujarku mencoba menenangkan pikiran.


"No problem Sista'."

__ADS_1


***


__ADS_2