Daydream

Daydream
B. NEW YORK - 3


__ADS_3

Aku terbangun menyadari matahari sudah bersinar. Jendela kamar terbuka entah siapa yang membukanya. Aku menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tiga sore. Aku terperanjat dan merasakan kepalaku begitu berat.


"Apa aku terlalu banyak tidur?" gumamku. Namun ingatan tentang Jini yang mabuk dan telatnya aku tertidur membuatku sadar kenapa bisa lama terbangun.


Aku beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi membasuh muka. Begitu selesai dan keluar, seorang wanita yang memakai setelan formal berdiri di dalam kamarkum


"Nona sudah bangun?" tanyanya sambil tersenyum. Ia juga memakai bahasa Inggris dengan aksen yang biasa dipakai oleh orang Korea yang fasih berbahasa Inggris di Seoul.


"Siapa kau?"


"Aku adalah sekertaris baru Nona yang ditugaskan oleh Tuan Jun atas perintah Ayah Nona."


Aku tersenyum miring. Menyadari bahwa kehidupan Hana begitu sempurna. Punya suami kaya raya, perhatian dan tampan dan sekarang memiliki sekertaris pribadi.


"Ini adalah baju yang dibelikan Tuan Jun sebelum berangkat ke London."


Dahiku mengernyit. "London? Kapan?"


Setahuku kemarin Jun masih ada di sini, sarapan bersamaku.


"Tadi pagi berangkatnya. Dia datang melihat Nona masih tidur. Dia berangkat tanpa memberitahu Nona, takut mengganggu tidur Nona."


"Oh begitu."


"Mandilah dan pakai ini," ujar wanita itu menyerahkan kantung dari merek terkenal.


"Namamu siapa?" tanyaku setelah mengambil baju itu.


"Yuna."


"Memang kita mau kemana?"


"Ke salon kemudian ke perusahaan Tuan Kim Yunsung."


"Tuan Kim Yunsung?"


"Iya, ke perusahaan ayah Nona."


Aku terperanjat mendengarnya. Ternyata bukan hanya Jun yang kaya tetapi Hana juga. Aku sebagai Hana memiliki ayah yang punya sebuah perusahaan. Luar biasa.


Ketika aku keluar sebuah mobil berjenis sedan mewah telah menungguku di luar. Aku bahkan tidak tahu merek mobil itu, karena tidak pernah kulihat ketika berada di Korea. Benar-benar kehidupan yang berbeda.


Aku duduk bersampingan dengan Yuna dengan dua orang laki-laki berada di depan. Yang satunya adalah supir dan satunya lagi tidak kuketahui.


"Dia adalah LP, penjaga Nona selama Tuan Jun tidak ada di Amerika," ujar Yuna memperkenalkan laki-laki yang duduk di sebelah supir.


"LP?


"Untuk penjaga kami memakai nama seperti itu."


Aku hanya menganggukkan kepalaku. Mencoba mengerti situasi yang sedang terjadi. Setelah kurang lebih satu jam dalam perjalanan, akhirnya kami sampai di sebuah salon.


Para penata rambut mulai mengerjakan rambutku yabg dibuat diikat ekor kuda lalu juga memotong poniku. Warna rambutku tetap dibiarkan hitam. Selanjutnya mereka menata rias diriku dengan riasan tipis namun menggunakan lipstik merah maroon. Kontras dengan setelan bajuku yang didominasi warna putih.

__ADS_1


Aku mengamati diriku yang seperti seorang wanita karir. Benar-benar berbeda sebagai seorang penerjemah di Seoul yang memakai baju yang kebanyakan bergaya kasual dan santai.


"Apakah aku tidak mempunyai ponsel?" tanyaku kepada Yuna ketika kami akan kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan ke perusahaan Kim Yunsung.


Yuna tersenyum lalu mengeluarkan sebuah ponsel. Aku terperangah melihat jenis ponsel berlogo apel yang telah gigit. Pasalnya baru beberapa hari lalu ponsel series terbarunya diluncurkan.


Aku mengambil ponsel itu lalu mencoba memainkannya. Jenis ponsel yang biasa kugunakan adalah merek asal Korea Selatan yang selalu memiliki penawaran spesial setiap versi terbaru keluar. Tentu saja service terbaik akan diberikan kepada negara asalnya.


"Apakah aku bebas menggunakannya?" tanyaku waswas ketika sudah dalam perjalanan.


Yuna tersenyum. "Tentu saja, tetapi karena ponsel itu dari Tuan Jun. Mungkin pengawasannya berada ada pada dirinya."


Ini benar-benar di luar nalarku. Bagaimana mungkin bahkan sebuah ponsel harus diberikan pengawasan?


Namun pikiranku berganti dengan hal yang lain begitu mobil berhenti di sebuah gedung tinggi yang mungkin memiliki lantai kurang lebih tiga puluh. Beberapa orang tampak berjejer di luar pintu seolah menyambut kedatanganku.


Seorang wanita berdiri di tengah. Dengan memakai setelan berwarna hitam, sungguh terlihat sangat keren. LP membuka pintu mobil untukku dan wanita yang berada di tengah itu berjalan mendekatiku.


"Kau sudah datang, Hana?"


Tidak ada senyuman yang menghiasi wajah wanita itu ketika bicara denganku. Apakah Hana dan dia memang kurang akrab? Lalu kenapa dia repot-repot menyambutku? Anehnya dia malah menggunakan bahasa Korea dibandingkan bahasa Inggris.


"Nona Hana, selamat atas kembalinya anda dari alam bawah sadar," ujar seorang pria bule paru bayah mendekatiku lalu mengulurkan tangannya.


"Terima kasih," balasku menerima uluran tangannya.


"Ayah telah menunggu di ruangannya. Jangan membuatku terlalu lama untuk basa basi penyambutanmu."


"Benar, kata Nona Nami. Anda akan segera bertemu dengan Presdir Kim Yunsung," ujar seorang pria paru bayah yang memiliki wajah asia. Kulirik tag namanya bertuliskan Park Cheolji.


Aku pun kini mengetahui siapa nama wanita di depanku ini. Nami. Entahlah apa nama depannya.


"Ayo kita ke atas sekarang," ujar Nami berbalik lalu berjalan dulua.


Aku mengikuti Nami di belakang yang diikuti oleh orang-orang yang menyambutku tadi. Yuna pun berjalan tepat di belakangku.


Begitu aku memasuki lobi perusahaan persis terlihat sama yang ada di drama-drama televisi.


"Silakan lewat sini Nona."


Seorang pegawai berseragam menuntun kami ke salah satu lift yang bagian depannya bertuliskan VVIP. Isi lift itu hanya ada aku, Nami, Yuna dan seorang wanita yang sepertinya sekertaris Nami.


Sekertaris Nami mengarahkan sebuah kartu di bagian atas tombol lift. Ia lalu memencet nomor lantai paling atas. Dna begitu lift terbuka kami berempat telah disambut oleh seorang laki-laki bule dengan setelan jas lengkap.


Laki-laki itu menuntun kami ke sebuah pintu yang besar lalu ada juga orang pegawai yang berdiri di depan pintu tersebut.


"Buka," ucap Nami membuat kedua pegawai tersebut membuka pintu secara bersamaan.


Nami melangkahkan kakinya masuk yang hanya bisa kuiikuti dan di depan sebuah jendela kaca yang besar. Telah berdiri seseorang yang kuyakini adalah Kim Yunsung.


Benar saja. Begitu berbalik seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun langsung berjalan mendekatiku dan memelukku.


"Akhirnya kau sadar juga Hana."

__ADS_1


Aku membalas pelukannya. Meski kaget dan bingung.


Kim Yunsung melepas pelukannya lalu duduk di sofa. "Ayo duduklah."


"Sewaktu mendengarmu sadar dari Jun, aku langsung ingin membawamu pulang. Saat itu aku berada di Prancis, sehingga Jun akhirnya membawamu pulang ke rumah kalian," ujar Kim Yunsung seperti menjelaskan kenapa ia tidak ada ketika aku siuman sebagai Hana.


"Langit benar-benar mendukungmu," ujar Nami yang duduk di depanku.


"Apa maksudmu?" tanyaku dapat melihat kebencian di matanya.


"Sebentar lagi akan terjadi akuisisi besar terhadap MJ Grup, perusahaan Hansung. Bukankah sebelum dia meninggal, dia mewariskan semuanya kepadamu?"


Aku terperanjat. Hansung? Bukankah itu nama seseorang yang diucapkan oleh wanita yang datang ke rumah sakit lalu diusir oleh Jun. Namanya Lee Bona. Ada apa dengan keluarga ini dan segala kerumitannya?


Hansung telah meninggal. Siapa dia bagi seorang Hana?


"Nami! Bukankah keterlaluan mengungkit tentang Hansung padahal Hana baru saja siuman," tegur Kim Yunsung dengan nada sedikit keras.


Nami hanya berdecik. "Bukankah ini juga penting. Ini adalah masalah bisnis bukan hanya soal pribadi."


"Dengan MJ Grup dan JS Grup milik Jun. Kau mencapai semuanya bukan?"


"Apa maksudmu?"


Suaraku meninggi spontan dituduh tanpa tahu apa-apa.


"HN Grup. Itu tujuanmu?"


"Nami! Aku mengajak kalian ke sini untuk makan malam. Bukan berebut perusahaan."


Nami beranjak berdiri dengan tangan terkepal. "Tidak Ayah. Aku tidak akan satu meja untuk makan malam terhadap orang yang telah merebut segalanya dariku. Tidak! Dia boleh mengambil Jun, tetapi tidak dengan HN Grup."


"Aku kemari hanya untuk mengatakan itu padamu," ucap Nami menatapku serius.


Usai menjelaskan semuanya. Nami berjalan keluar meninggalkan ruangan yang diikuti oleh sekertarisnya.


"Hana, jangan terlalu memikirkan ucapan Nami Kakakmu," ujar Kim Yunsung menatapku lembut.


Setelah makan malam dengan Kim Yunsung, aku langsung pulang ke rumah Jun bersama Yuna yang selalu mengikutiku.


Kim Yunsung tidak banyak cerita soal kehidupan Hana selama makan malam. Ia hanya terus memperingatiku agar menjaga kesehatanku dan soal menjadi akrab dengan Jun?


"Kau bisa beristirahat sekarang. Aku sangat lelah hari ini," ujarku kepada Yuna ketika kami berada di depan pintu kamarku.


Begitu Yuna pergi. Aku langsung masuk ke dalam kamar lalu mencari pulpen dan kertas pada setiap laci yang ada di kamar. Aku lalu membuat semacam struktur atau bagan yang biasa kugunakan untuk menyusun karakter pada novel yang kukerjakan.


Jun, suami Hana. Kim Yunsung, ayah Hana. Nami, saudara Hana. Hansung? Wanita di rumah sakit? Lee Bona.


Dan satu hal yang pasti bahwa Nami menyukai Jun dan Hana menikahi Jun.


Aku benar-benar tidak bisa berkata-kata. Hidup Hana begitu kompleks. Berbanding terbalik dengan Umji yang memiliki kedua orang tua yang tinggal di Busan bersama adik laki-lakinya yang masih berada di sekolah menengah atas.


***

__ADS_1


__ADS_2