
Aku berhasil keluar dari gedung perusahaan Jun. Tidak sendiri, aku bersama beberapa pegawai yang sudah panik dengan melangkah setengah berlari. Bukan pintu utama, aku memilih keluar melalui pintu samping yang kemudian tembus ke bagian parkiran.
Dibalik topi yang kukenakan aku melirik sekitar yang kebanyakan menatap heran ke arah bangunan di mana orang-orang berlarian keluar.
Aku segera menuju tepi jalan lalu melambaikan tangan. Tidak lama kemudian aku mendapatkan taksi. Aku menghela napas lega berhasil melarikan diri.
Alih-alih menuju rumah Nami, aku lebih memilih ke NH Grup, karena kuyakin dia berada di sana untuk bekerja. Baru saja aku akan keluar dari taksi, sebelum melihat Nami malah keluar dari pintu utama kemudian naik mobil.
Aku segera meminta supir taksi untuk mengikuti mobil yang ditumpangi oleh Nami. Perjalanan memakan waktu sekitar setengah jam. Cukup jauh dari pusat kota New York.
Mobil Nami berhenti di sebuah kawasan yang berada sekitaran Sungai East, yaitu Socrates Sculpture Park. Aku turun dari taksi lalu diam-diam memgikuti Nami dari belakang.
Dibandingkan dengan Central Park untuk bertemu seseorang, kenapa Nami malah memilih tempat yang bahkan hanya ada sepasang lansia sedang duduk menikmati pemandangan Sungai East.
"Mommy!"
Langkahku terhenti begitu seorang anak laki-laki berlari menuju Nami yang sudah berjongkok, seolah bersiap menerima pelukan dari anak tersebut.
Anak tersebut tidak sendiri. Dia didampingi oleh seorang wanita yang memakai baju mirip pengasuh anak.
"Olen, kangen?" ujar Nami masih dapat ku kudengar.
Aku melangkah mendekat lalu duduk di bawah pohon rimbun yang berada sekitar tiga meter dari tempat mereka berada. Badanku duduk di atas rumput menghadap ke belakang.
"Iya, kenapa lama sekali?"
Aku sekilas melihat tadi bahwa anak laki-laki itu memiliki wajah campuran orang bule. Tidak salah lagi, rambut yang cokelat muda dengan mata besar dan kulit putih pucat menandakan bahwa dia bukan orang asia seutuhnya.
"Mommy beberapa hari ini sibuk. Hari ini mau makan apa?" tanya Nami membuat dadaku bergemuruh ketika dia menyebut kata mommy.
Apakah mungkin anak laki-laki itu adalah anak Nami?
Tetapi setahuku Nami belum menikah....
Dan yang kuketahui dari diari dalam loker Rose 408 bahwa Nami penyuka sesama jenis.
Ada apa ini?
"Olen mau makan hamburger, ya? ya? Hari ini saja," ujar Olen terdengar merengek.
Aku memutar kepalaku beberapa derajat dengan ujung mataku bisa melirik Nami sedang mengelus kepala Olen dengan penuh kasih sayang.
Celakanya mataku bertemu dengan mata Olen, membuat anak laki-laki itu menunjuk ke arahku.
Nami yang tadinya menghadap Olen kini berbalik ke arahku dan seperti dugaanku raut wajah Nami begitu terkejut bukan main. Ia bahkan bangkit berdiri lalu menatapku nanar.
Aku ikut berdiri lalu berjalan mendekati mereka. Mataku menatap Olen yang kini mengerjap menatapku dengan bingung.
"Bagaimana kau bisa di sini?" tanya Nami dingin. Terlihat jelas dia tidak menerima kedatanganku.
__ADS_1
"Siapa dia Mommy?"
"Aku tadinya ingin menemuimu di perusahaan, tetapi kau telanjur masuk ke mobil dan mengikutimu sampai di sini," jawabku sejujurnya.
"Ada apa?" tanya Nami mengabaikan pertanyaan Olen.
"Sebaiklah kau ajak dia makan hamburger dulu," ujarku melihat keringat telah membasahi pelipis Olen.
Bagaimanapun aku mengerti bahwa anak laki-laki itu pasti menunggu cukup lama dan sekarang sedang lapar dan haus.
"Olen, kau pergi duluan bersama Merry," ujar Nami mungkin menyebut nama pengasuh Olen yaitu Merry.
Olen memeluk paha Nami. "Tidak! Maunya sama Mommy."
Nami menelan ludah lalu melirikku sekilas. Matanya terpejam sekali lalu kembali menatapku serius.
"Kita bicara pada tempat lain."
Nami membawaku ke sebuah restoran cepat saji yang memiliki menu utama yaitu burger. Bukanlah sebuah restoran mewah, tetapi sebuah warabala yang banyak tersebar ke penjuru New York bahkan di kota-kota belahan dunia lainnya.
Setelah Nami menemani sebentar Olen untuk makan, dia berjalan ke mejaku yang berada di dekat jendela.
Cukup berbaik hati, Nami bahkan memesankanku minumat float rasa cokelat.
"Apa dia anakmu?" tanyaku setelah mencicipi minuman rasa cokelat yang meredakan rasa haus pada tenggorokanku.
Nami tidak langsung menjawab. Ia bahkan mencibir lalu tersenyum miring. "Di antara semua orang kenapa harus kau?"
"Menurutmu aku akan melakukan hal tersebut?" ujar Nami mengangkat sebelah alisnya.
Aku tersenyum. "Tentu saja tidak. Aku yang adik tirimu saja kau begitu ... kurang suka, apalagi jika jelas tidak mempunyai hubungan darah."
"Aku tidak menyukaimu bukan karena kau adik tiriku," tukas Nami mengalihkan pandangannya.
"Tunggu, setahuku bukankah ...," ucapanku terhenti lalu menoleh melihat ke arah Olen yang sedang bermain dengan miniatur superhero.
"Umurnya sekitar tujuh tahun bukan?" tanyaku menatap Nami.
"Delapan tahun bulan depan," koreksi Nami.
Jika usia Olen sudah hampir delapan tahun, sedangkan diari yang kutemukan adalah empat tahun lalu ketika raga Hana mulai koma berarti ada rentang tiga tahun kurang lebih.
Aku mengutuk ingatanku yang melupakan tanggal berapa Hana menuliskan bahwa Nami adalah penyuka sesama jenis.
"Kau berbohong soal orientasi seksualmu?" tanyaku perlahan.
Nami terdiam. Raut wajah dingin dan angkuh kemudian berganti sedikit sendu bahkan ia menghindari kontak mata denganku dan memilih menatap keluar jendela.
"Kau mengetahuinya dari Ayah bukan? Hari di mana kau mengetahuinya kemudian merencanakan hadir dalam rapat pemegang saham empat tahun yang lalu," ujar Nami pelan.
__ADS_1
Berarti Hana mengetahuinya empat tahun yang lalu. Tetapi alasan itu tidak cukup kuat untuk membuat seorang Hana melawan Nami dalam memperebutkan posisi CEO, apalagi mengingat waktu itu Hana sibuk dengan hilangnya Hansung yang berujung dirinya bunuh diri.
"Olen adalah anak kandungku. Ayah menentang hubunganku dengan seorang pria berkebangsaan Inggris yang berakhir pada hancurnya bisnis pria itu yang kemudian memilih bunuh diri," ujar Nami membuatku kaget.
Mata Nami mulai berkaca seolah mengingat masa lalu. "Ketika kau memutuskan bunuh diri, kurasa itu balasan untuk Ayah atas perlakuannya dulu."
"Tetapi aku selamat," ujarku.
Nami tersenyum, tetapi bukan senyuman miris seperti sebelum-sebelumnya. Bisa kukatakan sedikit tulus.
"Kurasa Tuhan masih menginginkanmu hidup untuk sebuah alasan," balas Nami.
Benar, Tuhan membiarkan Hana hidup lalu bertukar kehidupan denganku. Kenapa?
"Apa Ayah tahu soal Olen?" tanyaku menyipitkan mata.
Nami menggeleng tanpa ragu. "Setelah aku melahirkan Olen, dia langsung membawanya ke panti asuhan di kota terpencil jauh di bagian Nevada. Aku diam-diam menukar Olen dengan bayi lain lalu menyembunyikannya sampai sekarang."
"Lalu kenapa harus di New York? Bukankah Ayah akan mudah melacaknya," ujarku bingung.
"Keep your friends close and your enemies closer. Akan semakin mencurigakan jika aku sering ke luar negeri hanya untuk menemui Olen," balas Nami membuatku paham.
Lagipula jika Nami berkeliaran di New York maka itu tidak akan terlalu menarik perhatian Kim Yunsung yang menganggap hal lumrah.
"Setelah aku berhasil mendapatkan Olen, aku mulai merencanakan agar terlihat seperti penyuka sesama jenis dan menolak setiap perjodohan," lanjut Nami bercerita. Jadi sepenuhnya Kim Yunsung tidak berbohong kepadaku, tetapi dia hanya tertipu oleh sandiwara Nami.
Hana selama ini tidak tahu. Jika itu kurang lebih delapan tahun lalu bisa saja ia masih sibuk kuliah.
"Lalu kenapa kau memberitahu soal rahasia terbesarmu kepadaku?" tanyaku pada hal krusial, di mana Nami bukannya harus berbohong mengingat aku adalah lawannya dalam memperebutkan posisi CEO.
"Katakan dulu maksudmu datang ke sini," kata Nami balik bertanya.
"Aku butuh bantuanmu untuk pergi ke Korea minggu depan. Aku ingin Ayah dan Jun tidak mengawasiku," ujarku jujur.
Nami mengulas senyum. "Kurasa semesta benar-benar bekerja. Aku punya rekan terpercaya di Korea, dia akan membantumu selama di sana. Aku tidak peduli urusanmu di Korea."
"Lalu kau sendiri?"
"Aku tentu saja ingin agar Olen tetap dirahasiakan dari siapapun, termasuk Jun. Dan ... aku ingin kau membawa Olen pergi bersamamu ke Korea," ujar Nami membuat mataku terbelalak.
"Apa?"
Nami lalu memperlihatkan sebuah pesan yang masuk ke ponselnya.
Kim Yunsung : Apakah Hana bersamamu? Kata Jun, dia menghilang dari perusahaannya.
"Kurasa urusanmu cukup penting sehingga harus diam-diam meminta bantuanku," kata Nami kembali dengan senyuman miring.
"Dan kurasa urusanku terbantu oleh kehadiran Olen," balasku ikut tersenyum.
__ADS_1
***