
Aku berjalan dengan napas terengah-engah menuju ruang ICU. Di bagian depan ruang tersebut sudah ada Mino dan Jini duduk dengan tatapan kosong.
Aku melangkah perlahan, lalu berdiri di hadapan mereka berdua. Membuat Mino dan Jini mendongak.
"Umji?" gumam Jini berdiri menatapku dengan mata terbelalak.
Aku tersenyum. "Kita bertemu lagi, Park Jini."
Jini menoleh melihat ke arah Mino yang juga sudah berdiri. "Bagaimana mungkin Umji ada di sini, lalu di dalam kamar ICU?"
"Bukankah kau mendengarnya sebelum kecelakaan terjadi," balas Mino santai lalu tersenyum ke arahku.
"Jini, ceritanya panjang. Aku akan menjelaskannya padamu. Kau bisa pulang istirahat sekarang. Pasti lelah berada di sini seharian," ujarku kemudian memeluk Jini yang terlihat masih bingung.
Dengan dorongan perkataan Mino, maka akhirnya Jini pulang ke rumahnya. Tetapi dia berkata akan kembali besok dan meminta penjelasanku.
Akhirnya tinggallah aku dan Mino yang duduk berdua di depan ruang ICU. Pertama, aku yang menjelaskan tentang segala hal yang kuketahui tentang Kim Hana kepada Mino. Termasuk pemikiranku kenapa aku dan Kim Hana bisa saling bertukar raga hingga Kim Hana mengalami lupa ingatan setelah sadar kembali pada ragaku.
"Jadi dia mencintai suaminya?" tanya Mino ingin memperjelas setelah mendengar ceritaku.
Kurasa apa yang dia tulis dalam naskah juga benar, bahwa Kim Hana juga mencintaimu setelah mengenalmu.
Mino tersenyum miring. "Apa kau sedang menghiburku?"
"Dan kurasa ... akulah yang jatuh cinta kepada Jun."
Mino terperangah mendengar ucapanku. Ia bahkan menatapku seolah tidak percaya.
"Kebersamaan membuat kita nyaman dan akhirnya tanpa sadar membuka pintu hati. Kurasa itulah yang juga Kim Hana rasakan," lanjutku.
"Apa dia dan Hansung tidak pernah tersadar?" tanya beralih menanyakan kondisi keduanya.
"Hansung tidak pernah tersadar, sedangkan Kim Hana kehilangan kesadaran dalam perjalanan. Sebelum Kim Hana menutup matanya, dia sempat menatapku sambil tersenyum. Tatapan yang dia berikan seperti tersadar ragamu dalam koma pertama."
"Aku mendengarnya menyebut nama Hansung sebelum aku terbangun. Kurasa dia sudah mengingatnya kembali," tambahku tidak merasa heran.
"Lalu apa yang akan kau lakukan perihal perbuatan Nami dan Jun?" tanya Mino terkait cerita kehidupan Kim Hana yang kuberitahu tadi.
__ADS_1
Aku menggeleng pelan. "Aku menyerahkan sepenuhnya kepada Jun. Aku selesai dengan mereka."
Mino mengernyit. "Tetapi kau masih berada dalam raga Kim Hana?"
Air mataku jatuh. Sejujurnya aku lelah dengan semua ini, namun tidak tahu jalan keluarnya. "Aku sudah muak dengan segalanya. Kenyataan kehidupan Hana begitu menyiksa batinku," ujarku tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Nami terlibat dengan kematian ibu Kim Hana, juga bagaimana Jun yang menyebabkan Hansung kecelakaan.
Mino menepuk bahuku. "Lalu apa rencanamu? Aku bisa mencoba membuatnya kembali seperti sediakala," ujarnya.
Aku bingung. Kuseka air mata dipipiku. "Apa?"
"Kau dan Kim Hana memiliki wajah dan bahkan bentuk tubuh yang sama. Jini juga telah percaya bahwa kau adalah Lee Umji."
Alisku terangkat masih tidak mengerti. "Kemudian?"
Mino melirik pintu kamar ICU. "Perempuan yang kini berbaring di samping Hansung adalah Kim Hana, bukan Lee Umji."
"Apa?"
"Aku bahkan melarang Jini menghubungi keluargamu atau memberitahu pegawai lain di perusahaan bahwa kau mengalami kecelakaan. Aku menunggumu datang terlebih dahulu," ujar Mino membuat dadaku berdetak lebih cepat. Ide gila apa ini?
"Tetapi bagaimana itu bisa?"
Ucapan Mino membuatku merasa pusing. Aku merasakan tubuhku bergetar seolah menolak mempercayai perkataan Mino.
"Kau bisa memutuskannya besok. Sekarang pulanglah ke apartemen, kau pasti lelah," ujar Mino menyarankan.
Aku menggeleng. "Bagaimana jika Kim Hana tersadar dan ingatannya belum kembali lalu bersikeras bahwa dirinya adalah Lee Umji?"
"Aku bahkan tidak tahu apa golongan darahnya," tambahku sambil membuka telapak tangan, memikirkan kemungkinan tersebut dan Kim Hana akan meminta tes darah atau semacamnya.
"Lalu kau akan terus hidup sebagai Kim Hana?" tanya Mino menatapku lekat.
"Jikapun aku memakai raga Kim Hana maka aku tidak akan pernah bisa jadi Ibu," ujarku mengingat bahwa tubuh Kim Hana tidak bisa lagi hamil.
"Apa?" Mino tampak terkejut dengan pernyataanku.
"Setelah keguguran, rahim Kim Hana bermasalah dan dokter mengatakan bahwa sulit bahkan mungkin dia tidak akan bisa hamil lagi," ujarku memberi kenyataan pahit.
__ADS_1
Mino tampak begitu syok mendengar hal tersebut. Tatapannya menyiratkan rasa simpati sekaligus prihatin terhadap kehidupan Kim Hana.
"Tetapi bukankah lebih baik hidup dan sadar menjalani, daripada terbaring seperti dia?"
Aku terdiam mendengar ucapan Mino. Sedikit membenarkan perkataannya. Tetapi tetap saja sebagai wanita itu sulit untuk kuterima. Belum lagi konsekuensi di mana Kim Yunsung, Jun, dan Nami akan terus mengejarku.
"Hana, aku ingin kau pulang berpikir terlebih dahulu. Aku akan di sini dan meminta Jini untuk bergantian menjaganya."
Akhirnya dengan segala bujukan Mino, aku menyetujui usulannya. Aku kini di dalam taksi merenungi nasib dan sisa ingatan soal kehidupan Kim Hana yang penuh lika-liku.
Namun aku menyuruh taksi berhenti begitu melihat toko apotik. Aku membeli obat tidur sebelum kembali ke apartemenku. Kurasa aku akan sulit beristirahat tanpa bantuan obat tidur.
Ponselku berdering entah keberapa kalinya. Mulai dari panggilan dari Kim Yunsung, Jun atau Nami. Aku memejamkan mata frustasi kemudian memasukkan ponsel pemberian Jun ke dalam sebuah mangkuk besar, kemudian mengisinya dengan air penuh.
Aku telah menegak tiga pil obat tidur. Tetapi otakku masih terus berpikir, memaksa segala hal agar bisa terselesaikan. Aku bahkan mencoba duduk di depan sofa lalu menyalakan televisi. Berharap rasa kantuk akan mendatangiku.
Aku memencet remote televisi. Berganti chanel berulang kali, hingga mataku berhenti pada sebuah tayangan berita.
"Jun, seorang pengusaha sekaligus menantu pemilik NH Grup menyerah diri sebagai penyebab kecelakaan seorang pria bernama Hansung," ujar narasi pembawa berita.
Aku tersentak lalu mulai menangis melihat video Jun memasuki kepolisian yang ada di New York.
"Selanjutnya Jun juga melaporkan terkait kasus pembunuhan yang melibatkan kakak iparnya, sekaligus anak dari pemilik NH Grup yang baru beberapa hari lalu disahkan menjadi CEO."
Ada perasaan campur aduk menonton berita tersebut. Senang, karena pilihan yang diambil oleh Jun. Sedih, mengingat lelaki itu akan mendekam dibalik jeruji besi. Tetapi bukankah ini yang terbaik?
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel satuku. Siapa lagi kalau bukan dari Mino yang memberiku kabar.
"Hansung telah sadar, tetapi Kim Hana belum," gumamku membaca isi pesan Mino.
Aku tersenyum senang mengetahui bahwa Hansung akhirnya sadar. Bagaimana pun lelaki tersebut mencoba menyelamatkan ragaku.
Aku kembali menatap botol berisi pil obat tidur. Jika ragaku kembali koma, karena kecelakaan, apakah ... apakah yang akan terjadi jika sejarah kembali terulang terhadap raga milik Kim Hana.
"Apa aku sudah gila?" ujarku menatap pil obat tidur yang kini ada di telapak tanganku. Jumlahnya kini tidak terhitung.
Aku menarik napas dalam, lalu memasukkan pil obat tidur tersebut ke dalam mulut. Aku segera menegak segela penuh air mineral, sehingga bisa tertelan semuanya.
__ADS_1
Aku berbaring di atas tempat tidur. Menatap langit-langit apartemen. Mataku semakin berat, tubuhku terasa melayang dan dadaku terasa melambat sekaligus napasku menjadi teratur dan kini semuanya menjadi gelap.
***