Daydream

Daydream
B. NEW YORK - 11


__ADS_3

Aku tersentak mendengar seseorang berseru. Mataku terbuka mendapati Jun berdiri di samping tempat tidur, menatapku dengan lekat.


Aku bangun lalu terduduk di atas tempat tidur. Kuputar leherku beberapa derajat mendapati matahari sudah tenggelam.


"Kau harus makan," ujar Jun membuatku sadar bahwa perutku sudah begitu keroncongan, akibat tidak makan seharian ini.


Aku hanya menganggukkan kepala. Jun mengulurkan tangannya lalu aku menerima dengan tangan yang sudah gemetaran akibat kelaparan yang mendera.


Jun membawaku ke meja makan yang di atasnya sudah siap berbagai jenis makanan yang ada. Tanpa menunggu waktu aku segera mengambil setiap jenis makanan.


"Pelan-pelan saja," ujar Jun lalu kudengar helaan napas keluar dari mulutnya.


Aku hanya menyengir lalu mulai makan secara pelan. Namun di tengah kunyahan, aku bisa mengingat bagaimana keadaan di Seoul. Aku yakin jiwaku tidak pernah berpindah ke ragaku bahkan saat tertidur.


Pasalnya aku tidak mengingat sama sekali soal bagaimana ragaku datang bersama Mini dari Jepang. Artinya pada saat itu aku sedang tidak terlelap sehingga aku tidak memiliki gambaran penglihatan soal kehidupan di Seoul.


"Kau mimpi buruk?" tanya Jun membuyarkan lamunanku.


Aku menoleh mendapati Jun belum menyentuh makanan di depannya. "Kau makan juga. Kenapa kau berpikiran begitu?"


"Aku sudah mengawasimu sejak tadi selama tertidur dan ... keringat memenuhi pelipismu. Seolah kau melihat sesuatu yang mengejutkan dalam mimpi," jelas Jun bercerita.


Aku menelan ludah. Segera aku mengambil segelas jus yang ada. Hawa dingin langsunf menyeruak masuk ke dalam tenggorakanku. Kilasan ingatan soal bagaimana ragaku yang kuyakini jiwa Hana ada di dalam, bisa kuperhatikan dia bingung dan merasa linglung setelah bertemu Pak Ryeol dan mendengar ucapan Pak Janghyuk.


Benar, berdasarkan pernyataan Pak Janghyuk bahwa Jun menunjukkan foto Hana kepadanya dan kemudian memberitahu hal tersebut kepada Hana dan Mino di area kantin. Aku bisa melihat bagaimana terkejutnya Mino, tetapi tidak dengan Hana. Bagaimana ragaku kemudian mencari-cari Jini juga.


Kurasa aku tahu. Mata ragu yang dipakai Hana di Seoul adalah mata tempatku bisa melihat segala kejadian di sekitarnya. Itulag ketika ragaku kembali koma maka hanya kegelapan yang kuduga sebelumnya hanya tidur tanpa mimpi yang sebenarnya adalah kegelapan.

__ADS_1


"Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Jun menyadari aku tidak membalas ucapannya.


"Aku penasaran sejak beberapa hari lalu, apa urusanmu di Korea? Apa sebatas bisnis?"


Jun mengernyit. "Kenapa baru menanyakannya? Benar, urusan bisnis dan bertemu teman kuliah yang Ayahnya memiliki perusahaan penerbitan," katanya lalu menatapku serius.


Aku dapat melihat mata Jun seolah memerhatikan setiap fitur yang ada di wajahku. Mereka-reka tentang bagaimana wajah yang dia temui sewaktu di Seoul yang sebenarnya bukan ragaku sebagai Umji, tetapi raga yang kini ditatapnya sekarang, Hana.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanyaku lalu tersenyum tipis. Aku mengalihkan pandangan, ada rasa takut bahwa Jun menyadari bahwa akulah yang mengaku padanya sebagai Umji sewaktu di Seoul.


Jun menggeleng. "Habiskan makananmu, kau juga harus bangun pagi untuk ikut aku ke kantor," ujarnya sepertinya mencoba tidak memikirkan bagaimana mungkin ada wanita yang mirip dengan Hana.


Setelah makan malam, aku kembali ke kamar. Tetapi bukan untuk tidur, mataku tidak bisa lagi terpejam. Aku menarik napas panjang, mengetahui bahwa Jun akan membawaku ke kantornya. Padahal rencanaku setelah mengetahui bahwa jiwa Hana berada di ragaku adalah bisa bertemu dengan Mino lebih cepat.


Aku ingin menjawab segala teka-teki yang ada. Belum lagi kehadiran Hansung yang ingin aku pastikan apakah dia adalah bukan Akira.


Pintu terbuka ketika aku berdiri di depan jendela. Aku yang mendengar pintu kembali ditutup, langsung berbalik badan dan menemukan Jun berdiri di sana.


"Kau belum tidur?" tanyanya masih menatapku lekat.


"Kau lihat tadi bahwa aku sudah tidur siang hingga menjelang petang. Kurasa mataku sekarang ingin tetap terjaga," ujarku memberi alasan.


Jun tidak membalas ucapanku. Sebaliknya kini dia menarik tanganku, aku hanya mengikuti langkah kakinya yang keluar dari kamar.


Bisa kulihat bahwa Jun membawaku ke halaman belakang. Mataku membulat menyadari bahwa halaman belakang sangat indah ketika malam hari. Ada lampu-lampu yang kerlap-kerlip. Suara air yang mengalir dan ketika menengadah ke atas, langit sedang bertabur bintang.


Baru saja aku akan mengatakan sesuatu, sebelum sebuah tangan melingkar sari belakang. Jun memelukku dari arah belakang dengan lingkaran penuh! Aku menahan napas, karena dagu Jun bersandar pada bahuku. Sedikit geli, belum lagi hembusan napasnya yang menerpa sebagian pipiku.

__ADS_1


Kolam yang ada di depanku membuat bayanganku dan Jun terpantul di dalam air.


"Aku harap kau tidak akan mencari tahu tentang Hansung lagi," bisik Jun tepat di sebelah telingaku.


Aku bergidik ngeri sekaligus merinding. Dinginnya angin malam ditambah cara Jun mengucapkannya tanpa sengaja membuat dadaku berdegup kencang.


Jun membalikkan badanku menghadapnya. Dia menatapku langsung ke manik mataku.


"Tentang bagaimana dia selama ini, bagaimana dia bisa bersembunyi dan muncul ... aku akan mencari tahu. Tidak perlu kau," lanjut Jun.


Aku mengangguk pelan. Setidaknya menuruti perkataannya tidak akan menambah beban pikiranku. Lagipula dengan kembalinya Hansung, bukan berarti aku akan kembali kepada lelaki itu. Kurasa Hana juga akan melakukan hal yang sama.


Jun menangkup kedua sisi wajahku. Dia mendekatkan wajahnya, harusnya aku mendorong atau paling tidak memundurkan badan sendiri. Tetapi kenapa sepertinya aku tidak berniat melakukannya sama sekali.


Aku bisa merasakan bagaimana bibir Jun menngecupku dengan begitu manis. Berbeda dengan sebelumnya secara tiba-tiba dan liar. Dia melepas ciumannya lalu menatapku.


"Aku akan berbaring di sebelahmu malam ini," ujarnya membuat mukaku benar-benar terasa panas sekarang.


Aku dan Jun satu tempat tidur. Alih-alih tidur di kamarku sebelumnya, dia mengajakku tidur di kamarnya. Kami berbaring dalam posisi saling menghadap satu sama lain.


Mata Jun melihatku dengan tatapan sendunya. Sebelah tangannya menggenggam tanganku. Aku sebagai wanita benar-benar sulit untuk tidak terbawa perasaan dan suasana dalam posisi seperti ini.


"Aku mencintaimu," ujar Jun lalu mencium tangan yang dipegangnya.


Mata Jun lalu terpejam setelah mengulas senyum tipis. Aku menarik napas pelan, perasaanku sungguh tidak karuan saat ini. Namun mataku ikut terpejam dengan tangan Jun masih menyatu dengan tanganku.


Aku sungguh tidak berharap akan memberi perhatian dan bersikap romantis. Ingin aku memberi tahunya bahwa aku bukanlah wanitanya. Meski dia dapat menyentuh raganya, tetapi bukan jiwa itu yang dicari dan dicintainya.

__ADS_1


Aku hanya berharap bahwa semuanya dapat terpecahkan dan kembali seperti semula. Aku takut pada perasaan dan hatiku akan menginginkan sesuatu yang bukan hakku.


***


__ADS_2