
Aku menarik napas dalam merasakan mobil sudah berhenti di depan NH Grup yang juga sering dibalik namanya menjadi HN Grup. Aku menoleh lalu mendapati Jun tersenyum ke arahku.
Jujur saja perkataan Nami sampai sekarang masih berbekas dalam ingatanku. Apakah benar Jun menerima Hana, karena kasihan dan alasan bisnis?
"Aku mendengar kau menemui Nami kemarin," ujar Jun masih menatapku.
"Kami hanya sedikit mengobrol," balasku seadanya.
Tidak mungkin aku menanyakan pada Jun, bahwa apakah dia tidak mau berhubungan intim denganku atas nama Hana, karena mengetahui bahwa Hana sudah tidak bisa hamil. Itu sangat kasar dan tidak berperikemanusiaan.
"Baiklah, ayo kita turun sekarang."
Jun selalu menggandeng tangan sampai di depan pintu ruangan yang akan diadakan rapat pemegang saham. Tenyata bagian depan sudah ramai oleh para pegawai yang memiliki jabatan tinggi bahkan Nami telah berdiri dengan setelan begitu memukau.
Setiap orang yang melihat Nami sudah pasti menduga bahwa wanita itu adalah wanita karir yang sukses. Dia berjalan ke arahku lalu melirik Jun sekilas sambil tersenyum miring.
"Kau benar-benar suami yang setia," ujar Nami ditujukan kepada Jun.
Jun sendiri membuang muka tidak berniat menanggapi. Aku pikir bahwa Jun belum mengetahui tentang orientasi seksual Nami. Jun bersikap layaknya lelaki yang bertemu dengan mantannya, tetapi enggan menganggap mantannya itu ada.
"Kalian sudah datang semua."
Kim Yunsung baru saja tiba dan dia tersenyum ke arahku. Entah mengapa aku berpikir bahwa dia ingin Hana yang menjadi CEO, bukan Nami.
Pintu ruangan dibuka bersamaan dari kedua sisinya. Orang-orang mulai masuk, tetapi Jun yang kini memegang tanganku, tetap diam ditempat.
"Hana, tidakkah kau berpikir pantas menduduki jabatan CEO."
Aku menoleh sekilas ke arahnya lalu membasahi bibir bawahku. "Bukan aku yang bisa memutuskan begitu saja."
"Baiklah."
Jun menuntunku masuk ke dalam ruangan. Aku duduk di sebelah kiri, dekat dengan Kim Yunsung lalu sebelah kanan terdapat Nami yang sudah menatapku tajam. Seolah menagih janjiku padanya. Ada satu kursi yang kosong di antara aku dan Kim Yunsung.
"Karena semua pemegang saham sudah hadir. Maka rapat bisa dimulai," ujar pemandu yang kukenali sebagai sekertaris Kim Yunsung. Dia berdiri di atas mimbar yang mana terdapat komputer tanam yang bisa mengontrol proyektor menampilkan slide power point.
"Sesuai kesepakatan minggu lalu bahwa CEO sementara tetaplah Lee Nami, karena Lee Hana tidak hadir."
"Untuk itu, hari ini adalah keputusan tetap apakah Lee Nami akan tetap menjadi CEO NH Grup atau akan berpindah ke tangan Lee Hana," lanjut pemandu menjelaskan.
__ADS_1
Tampak para pejabat dan mungkin pemegang saham lain hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Aku melirik Kim Yunsung yang menaikkan alisnya lalu tersenyum tipis ke arahku.
"Ini adalah presentasi pemegang saham sementara."
Aku bisa melihat Kim Yunsung mempunyai 40%, Lee Nami 18%, Lee Hana 15%, Jun 5%, Hansung 5% dan sisanya terbagi kecil atas beberapa nama sebanyak 17%.
"Saat ini yang mendukung Lee Nami yaitu sebagian saham Kim Yunsung yaitu 5% dan 7% lainnya ditambah sahamnya 18% sehingga menjadi 30% sekarang."
"Sedangkan Lee Hana yaitu sebagian saham Kim Yunsung 5% dan 5% saham milik Jun, 7% saham lainnya ditambah sahamnya 15% sehingga menjadi 32%."
"Dan apabila saham milik Hansung sesuai wasiat ditambahkan maka saham milik Hana adalah sebesar 37%."
"Jadinya Kim Yunsung akan menjadi Direktur utama dengan 33%, Lee Hana 37% sebagai CEO dan Lee Nami 30% sebagai wakil CEO."
Aku menarik napas mendengar penjelasan demi penjelasan mengenai pembagian saham yang begitu asing di telingaku. Aku melihat Nami yang wajahnya telah menegang dan pucat.
Kurasa jabatan CEO benar-benar akan membuatnya gila jika kurebut darinya. Namun tiba-tiba tasku bergetar. Aku membukanya dan menemukan ponselku mendapat pesan baru. Ponsel yang kugunakan hanya untuk mengirim pesan kepada Mino.
Perlahan tanganku meraihnya sambil melirik Jun yang terlihat sibuk memerhatikan layar pembagian saham. Aku segera mengintip isi pesan tersebut.
- Umji telah sadar.
Aku tidak bisa menyembunyikan raut wajah terkejut membaca pesan tersebut. Kabar tersebut semakin meyakinkan bahwa ada jiwa lain yang berada dalam ragaku. Maksudku bagaimana bisa jiwaku ada di sini sedangkan ragaku sedang berjalan kembali ke Seoul.
"Aku mendapat hasil bahwa tidak akan ada perubahan dalam penempatan saham baik untuk Lee Nami dan Lee Hana. Artinya berdasarkan jumlah saham terbanyak maka Lee Hana--"
"Tunggu," sela Nami membuat lamunanku buyar.
"Bagaimana soal keputusan ini," ujar Nami berdiri lalu memperlihatkan beberapa lembar kertas. "Berdasarkan peraturan, Lee Hana tidak berhak menjadi wali Hansung karena dia masih berstatus istri orang lain yang dalam hal ini Jun."
Nami melirikku tajam seolah menyuruhku untuk memberi reaksi yang tentunya penolakan atas jabatan CEO yang mungkin akan tersemat pada Hana.
Tetapi baru saja kakiku akan berdiri tegak. Suara pintu terbuka, aku menoleh bersamaan dengan isi ruangan ini.
Mataku membulat. Aku tanpa sadar menggenggam tangan Jun di sampingku. Ada apa ini? Kulihat Akira, ya Akira sedang berjalan masuk dengan elegan.
Walaupun setelan jas dan bentuk rambut yang berbeda, tetapi itu jelas Akira! Belum sempat aku menenangkan pikiranku, kini sosok yang kukenali sebagai Akira duduk di sebelahku. Menjadi penengah antara aku dan Kim Yunsung.
"Kau?" tunjuk tanpa sadar menatap Akira.
__ADS_1
Apa mungkin ada orang lain yang mirip dengan Akira? Sama halnya aku dengan Hana?
Aku beralih menatap seisi ruangan yang mukanya tidak kalah terkejut denganku. Mereka seolah melihat hantu bahkan Nami yang tadinya berdiri kini terduduk dengan napas tersengal.
Aku menoleh dan mendapati Jun menatapku sendu. Ada apa ini? Maksudku Akira....
"Kenapa kalian terkejut?"
Aku langsung beralih ke sumber suara yang adalah sosok Akira berbicara. Dia kemudian berdiri dengan sekilas melirikku.
"Baiklah, kurasa hampir lima tahun kita tidak pernah bertemu. Izinkan aku memperkenalkan diriku sebagai Hansung, pemilik MJ Grup dan lima persen saham NH Grup," ujar Akira yang kukenali memperkenalkan diri sebagai Hansung lalu membungkuk usai mengatakannya.
Lelucon macam apa ini? Bagaimana mungkin Akira yang kuketahui hanya editor keturunan Jepang adalah Hansung yang seorang pemilik perusahaan?
Akira, lelaki yang meninggalkan Umji ketika tenggelam.
Hansung, lelaki yang meninggalkan Hana ketika hamil.
Tidak terasa mataku terasa panas dan mulai berair. Aku sungguh merasa begitu miris dalam segala sisi raga.
Jun berdiri lalu menarik tanganku. "Kita pergi," ujarnya membuatku reflek berdiri.
Kulihat Kim Yunsung malah langsung meninggalkan ruangan tanpa berkata apapun.
Tetapi Jun yang akan menuju pintu kemudian Hansung bangkit dan menghalanginya.
"Minggir," ujar Jun dingin.
Aku bisa melihat tatapan Hansung yang berbinar ke arahku. Bukan tatapan lembut Akira yang mengajak ragaku jalan-jalan di Jepang.
Apa dia memang Hansung? Bukan Akira?
Jadi yang kulihat di pesta kemarin adalah benar bahwa orang itu Hansung yang kukira Akira?
"Hana, aku merindukanmu," ucap Hansung sambil menatapku dan aku bisa merasakan genggaman tangan Jun makin erat.
Jadi begini rasanya diperebutkan dua lelaki tampan dan kaya?
***
__ADS_1