Daydream

Daydream
B. NEW YORK - 5


__ADS_3

Aku masih mengingat pertanyaan Jun yang menanyakan mengenai Hana, apakah wanita itu mencintainya? Untung saja waktu itu teleponnya berbunyi dan dia segera bergegas ke kantor. Aku pulang bersama Yuna. Meninggalkan loker Rose 408 yang juga menjadi tanya terbesarku.


Aku sekarang sedang duduk menikmati makan siang. Yuna memberitahu kalau Jun sudah pergi ke kantor pagi-pagi bahkan sebelum aku bangun.


Aku menduga bahwa terlambatnya aku bangun pagi, karena lelah akibat perjalanan Seoul ke Tokyo. Namun setelah kupikir sekarang aku berada di raga Hana.


"Hari ini apakah aku ada jadwal?"


Pertanyaan itu seolah menjadi rutinitasku setiap bertemu dengan Yuna.


"Kim Yunsung mengajak Nona untuk ke rumahnya, tepatnya rumah Nona dulu tinggal," ujar Yuna.


Benar. Selama ini aku hanya tinggal di rumah Jun sebagai istrinya. Bagaimana Hana dulu? Bukankah semua itu akan terjawab jika aku berkunjung ke rumah Kim Yunsung.


Aku segera menghabiskan makan siangku. Kemudian berganti pakaian. Yuna menyarankanku untuk memakai gaun tanpa penutup bagian bahunya. Tetapi ketika aku membuka lemari. Aku menemukan setelan yang menarik.


Atas blazer dipadupadankan dnegan celana kain hitam dan sepatu tinggi hitam. Entah mengapa aku lebih suka melihat Hana berdandan seperti yang kupakai sekarang.


Sepanjang perjalanan ingatanku mengudara ke Tokyo. Aku mengernyit begitu kilas gambar diriku yang terlihat bingung menatap foto-foto dalam instragram. Aku melirik ke samping, Yuna sedang sibuk membaca sesuatu di table pc hang dipegangnya.


Perlahan aku mengeluarkan ponsel. Awalnya aku ingin membuka kembali profil instagramku. Tetapi aku malah mengetikkan nama Kim Hana NH Grup pada kotak pencarian. Tidak lama kemudian sejumlah data muncul. Ada beberapa judul artikel lama.


Kim Hana putri kedua pemilik NH Grup siuman dari koma.


Kim Hana dan Moon Jun Hi menggelar pesta mewah atas penikahan mereka.


Skandal Kim Hana memiliki pria lain.


Saham NH Grup naik setelah kabar Kim Hana akan hadir dalam rapat pemegang saham utama.


Kim Hana bukan kecelakaan, melainkan bunuh diri?


Aku tersentak begitu membaca artikel yang diterbitkan lebih dari tiga tahun lalu. Artinya sebelum Hana sadar dan aku sebagai Umji juga sadar.


"Nona kita sudah sampai," ujar Yuna membuyarkan pikiranku.


Aku melihat sebuah halaman luas terbentang. Ada tiga bangunan di sana. Dan yang paling besar terdapat di depanku.


Yuna menuntunku masuk. Begitu melewati pintu utama, terlihat beberapa orang seperti pengawal da pelayan yang berdiri berjejeran lalu membungkuk ketika aku lewat.


Aku terpana bagaimana tingginya posisi seorang Kim Hana. Tetapi jika Hana memiliki segalanya mulai dari suami yang sangat mencintainya, orangtua kaya dan pendidikan cemerlang. Apakah mungkin  ada alasan lain bagi Kim Hana mencoba bunuh diri? Skandal pria lain, dia berselingkuh?


"Silakan duduk dulu di sini. Tuan Kim Yunsung dalam perjalanan dari perusahaan sekarang," ujar seorang pelayan menunjukkan kursi sofa di ruang tamu.


"Aku ingin berjalan-jalan dulu," ujarku lalu beranjak pergi.


Tidak jauh berbeda dengan rumah Jun yang layaknya rumah konglomerat. Namun ketika kakiku menuju tangga yang terbentang luas, Yuna menghadangku.


"Kalau Nona ingin ke kamar, maka itu belum dibersihkan," ujar Yuna dengan raut wajah sedikit gelisah.


Aku mendorongnya sedikit. "Apa pelayan di sini terlalu malas melakukan?" ujarku tetap melangkah naik.


Aku kemudian melihat ada dua pintu besar yang satu sama lainnya saling berhadapan. Anehnya keempat pintu tersebut seperti tidak berpenghuni. Aku mendekati pintu pertama dan ketika terbuka, foto Nami sambil tersenyum langsung kutemukan. Aku berasumsi ini kamar Nami, namun di dalamnya berdebu dan sama sekali tidak terawat.


Aku berbalik menatap Yuna. "Apa Nami eonnie tidak tinggal di sini?"

__ADS_1


"Ya, dia tinggal di apartemen."


"Oh begitu."


Aku kemudian menuju kamar satunya. Namun begitu memutar pegangan pintu, tidak bisa terbuka.


"Buka ini. Coba tanya pelayan mana kuncinya," ujarku pada Yuna.


Yuna menatapku tak bergeming.


"Ini perintah, bukan permintaan."


Akhirnya Yuna datang bersama seorang pelayan membawa kotak yang berisi kunci. Aku mengambil kunci itu lalu memasukkannya. Tanganku terulur memutar pegang pintu.


Klek. Terbuka.


"Hana!"


Seruan seseorang membuatku berbalik sebelum membuka pintu secara betul. Kulihat Jun berdiri di dekat tangga lalu berjalan mendekatiku. Raut wajahnya gelisah, persis seperti Yuna. Kenapa mereka berdua seolah khawatir jika aku membuka kamar ini?


"Bagaimana kau di sini?" tanyaku.


"Yuna memberitahuku."


Aku kemudian beralih menatap Yuna yang membungkuk tanda meminta maaf. Namun aku kembali menghadap pintu lalu tanganku mendorongnya.


Terpampanglah sebuah kamar yang luas dan strukturnya sama seperti kamar sebelumnya, milik Nami. Yang membedakan adalah warna dan suasananya.


Aku berjalan masuk yang diikuti oleh Jun. Dia bahkan memegang tanganku, membuatku menoleh bingung menatapnya.


"Ayo kita keluar saja," ujarnya dengan wajah menegang.


Aku mendekati kotak itu. Membungkuk sedikit lalu membukanya dan mataku membulat begitu melihat isinya.


Senapan laras panjang dan sebuah botol entah apa isinya.


Apa ini? Benar-benar gila!


Aku merasakan seseorang memelukku dari belakang. Tanpa perlu kutebak, sudah jelas bahwa orang itu adalah Jun.


"Jangan pernah berpikir menuntaskannya,"bisiknya tepat di telingaku.


Aku menggeliat kemudian melepas diri. Aku segera memegang senapan laras panjang itu membuat Yuna bahkan Jun terkejut.


Kuarahkan senapan itu ke cermin besar yang ada di kamar.


"Bukan ini, tidak ada luka luar," gumamku dalam hati.


Aku beralih mengambil botol yang langsung direbut oleh Jun dan meletakkannya di atas kepala. Namun aku tadi bisa merasakan bahwa sepertinya botol itu kosong.


Aku menatap Jun saksama. "Apa aku meminum racun?"


"Hana," seru seseorang lainnya.


Aku bisa melihat Kim Yunsung yang telah datang. Dia tidak bisa menyembunyikan raut wajah khawatirnya. Segera dia mendekat dan langsung memelukku.

__ADS_1


"Ini salahku menyuruhmu ke tempat terkutuk ini. Harusnya kau tidak pernah ke sini lagi," ujar Kim Yunsung terdengar sudah menangis.


Ternyata benar bahwa Hana mencoba membunuh dirinya. Tetapi kenapa? Aku bahkan tidak punya waktu mencari tahu karena jiwaku akan kembali ke ragaku sebagai Umji.


Kim Yunsung melepas pelukannya. "Aku tidak pernah membuka kamar ini lagi setelah kejadian itu."


Aku benar-benar diliputi rasa penasaran kenapa Hana bisa mencoba bunuh diri. Namun aku menahan diri, memikirkan cara mencari tahu tanpa ketahuan.


"Aku baik-baik saja, Ayah tidak usah khawatir."


Kim Yunsung membawaku ke ruang tamu semula. Jun duduk di sampingku sambil menggenggam tangaku seolah menguatkan.


"Hana, aku ingin bertemu denganmu di sini karena satu-satunya tempat ini tidak diawasi lagi oleh Nami," ujar Kim Yunsung membuatku bingung. Untuk apa kami sembunyi dari Nami?


"Katakan padaku Hana, kenapa empat tahun lalu sebelum kejadian itu, kau memutuskan melawan Nami agar para pemegang saham memilihmu sebagai CEO?" tanya Kim Yunsung menatapku serius.


Aku menelan ludah. Perbincangan bisnis apa ini? Bagaimana aku tahu?


"Bukankah jelas bahwa Nami memberitahu Hansung bahwa kami akan menikah sehingga membuat Hana marah?" ujar Jun yang menjawab.


"Hansung ... apa kau masih merindukannya?" tanya Kim Yunsung tanpa mengalihkan pandangannya.


"Ayah mertua!" seru Jun mengeratkan genggamannya.


"Diamlah Jun! Kau bukannya juga merasa kecewa oleh perbuatan Hana di masa lalu?" ujar Kim Yunsung dengan suara keras.


Aku tersentak dengan pernyataan dalan setiap percakapan mereka berdua. "Apa alasanku mencoba melenyapkan diri?" tanyaku tidak bisa menahannya lagi.


"Bukankah sudah jelas, kau ingin menyusul Hansung?" ujar Kim Yunsung ragu.


"Dan Hansung pergi ...." suaraku melemah tidak tahu alasan Hansung meninggal.


"Pergi setelah merasa bersalah menanam benih dalam dirimu setelah menculikmu. Sehari setelah pernikahan kita," ujar Jun melanjutkan.


Mataku terbelalak terkejut. Hana hamil anak Hansung?


"Dan anak itu?"


"Benar, anak itu gugur setelah percobaanmu mengakhiri hidup," lanjut Jun memberi jawaban.


Kulihat Kim Yunsung beranjak pergi. Meninggalkan aku dan Jun yang kini saling menatap.


"Dan kenapa kau masih menginginkanku? Aku berselingkuh darimu," ujarku tanpa ragu.


"Karena aku mencintaimu."


"Aku ragu," ujarku bangkit berdiri. Pikiranku kini mengambang dan menjadi liar.


"Apa?"


"Pertanyaanmu tempo hari. Aku jawab bahwa aku ragu mencintaimu."


"Jika kau mencintai Hana, maka berjuanglah. Jangan membuat orang lain merebutnya," ujarku terbawa perasaan. Aku bahkan mengucapkan Hana sebagai orang lain seolah Jun bisa memahami bahwa yang ada di dekatnya saat ini adalah Umji.


Setelah keluar dari rumah Kim Yunsung. Pikiranku mengingat sesuatu terkait bunuh diri yang seolah tidak asing. Kisah Kim Hana seperti telah familier bagiku.

__ADS_1


Bunuh diri ... Song Byul?


***


__ADS_2