Daydream

Daydream
B. NEW YORK - 19


__ADS_3

Aku membuka mataku perlahan. Telingaku menangkap suara bising dan rambatan udara. Menemukan diriku sudah duduk di kursi pesawat.


Aku melirik ke samping melihat Jun duduk sambil membaca lembaran kertas yang dipegangnya. Dahinya mengernyit seolah membaca berita kabar yang tidak terduga.


"Apa sekarang kita menuju New York?" tanyaku bersuara.


Jun menoleh. "Ya," balasnya singkat.


"Kau mencampur teh hijau tersebut dengan obat bius?" tanyaku menatapnya tajam.


Aku bisa mengingat dengan jelas bahwa diriku kehilangan kesadaran setelah menegak teh hijau setelah brunch bersama Jun.


"Aku harus melakukannya. Karena kau pasti menolak jika kuajak pulang," balas Jun.


"Ini keterlaluan Jun. Bagaimana pun kau bisa membicarakannya dengan baik-baik. Bukan memaksa seperti ini."


Kembalinya aku ke New York akan menyulitkan lagi bagiku untuk berkomunikasi dengan Mino dan menemui ragaku.


Apalagi ketika aku dalam keadaan tidak sadar beberapa waktu lalu. Aku sempat melihat ragaku yang diisi oleh jiwa Kim Hana mulai mencari tahu tentang dirinya sendiri melalui artikel media elektronik. Seolah semakin meyakini bahwa yang mengambil naskah All About You bukanlah dirinya yang disangkanya sebagai Lee Umji.


"Hana," sahut Jun membaut lamunanku tersadar.


"Ada hal mendesak yang harus kau lakukan di New York," lanjut Jun.


"Apa itu?" tanyaku bingung.


"Kau akan tahu setelah kita sampai nanti."


Aku dan Jun tiba di New York ketika hari sudah mulai sore. Yuna dan Yujin telah menyambutku di Bandara, seolah Jun memang telah menghubunginya.


"Kuharap kali ini kau tidak akan mencoba menghalangi pekerjaan Yuna dan Yujin," ujar Jun dengan nada tegas. Ia menatapku tajam.


Aku memalingkan wajah. Sejujurnya aku masih kesal dengan perbuatannya membuatku harus meninggalkan Korea.


"Aku pulang ke rumah Kim Yunsung. Suruh saja Yuna dan Yujin mengikutiku jika kau tidak percaya," balasku dengan nada dingin.


"Baiklah, Yuna akan menemanimu. Yujin harus mengurus sesuatu terkait pengamanan besok," ujar Jun mengungkit salah satu alasan membawaku pulang.

__ADS_1


Akhirnya aku pulang ke rumah Kim Yunsung. Sedangkan Jun kembali ke rumahnya kembali.


Sesampaiku di rumah, Kim Yunsung menyambutku dengan hangat dan bertanya tentang Korea. Kurasa dia tidak tahu kalau Jun menyusulku. Satu-satunya hal yang dia katakan sebelum menyuruhku istirahat adalah bahwa besok aku harus datang ke NH Grup terkait penunjukkan CEO.


Aku rasa ini adalah titik tertinggiku muak sebagai Kim Hana. Aku sama sekali tidak tahu harus bersikap apa terkait kedudukannya dalam perusahaan. Sejujurnya aku merasa bahwa Kim Hana tidaklah terlalu tertarik dengan manajemen perusahaan, tetapi kenapa Nami terlihat begitu takut bahwa Kim Hana akan melawannya.


Keesokan paginya aku sarapan bersama Kim Yunsung. Aku telah memakai setelan jas dan celana kain serta sepatu hak tinggi khas gaya Kim Hana.


"Aku berangkat duluan, ada teman lama yang harus kukunjungi terlebih dahulu," ujar Kim Yunsung meninggalkan meja makan.


Aku mengangguk singkat. Kemudian melirik Yuna yang baru saja datang sendirian. Aku bisa mengira bahwa Yujin sedang sibuk dengan pengawalan terkait penunjukkan CEO NH Grup. Satu-satu hal yang membuatku penasaran adalah fakta bahwa Nami mungkin masih berada di Korea bersama Olen. Apakah dia akan melewatkan acara ini? Kurasa itu tidak mungkin.


Aku meraih buah apel lalu mulai mengupasnya dengan pisau kecil. Yuna menatapku seolah takut pisau ini akan melukai tanganku sendiri.


Aku mengigit bibir bawahku. Pikiranku tiba-tiba teringat akan isi loker Rose 408. Jika salah satu fakta tertulis pada diari yang ditulis oleh Kim Hana bahwa Nami adalah penyuka sesama jenis, tetapi kemudian aku yang mengetahui fakta sebenarnya bahwa ternyata itu salah. Lalu bagaimana dengan hal lainnya?


Aku bisa mrngingat jelas bahwa dalam loker tersebut bukan hanya ada diari saja. Berarti ada hal lain penting yang juga disembunyikan Kim Hana?


"Yuna, kita menuju Julliar School terlebih dahulu," ujarku bangkit. Meletakkan apel yang telah kukupas seluruh kulitnya, namun memilih tidak memakannya.


Mata Yuna membulat lalu menggeleng pelan. "Kita bisa telat Nona, lagipula Jun berpesan agar saya mengantar Nona langsung ke NH Grup."


"Nona!" seru Yuna terkejut.


Begitu darah menetes ke lantai. Tanpa menunggu waktu Yuna langsung mencari kotak pertolongan pertama. Dengan sigap dia mengoleskan semacam betadin lalu menbabatnya dengan perban.


"Kurasa sekarang kita punya alasan kenapa telat ke perusahaan," ujarku kepada Yuna sambil mengangkat tanganku yang telah diperban.


Yuna menatapku dengan mata tidak percaya. Namun ia hanya mengangguk setuju. Mungkin takut bahwa aku akan memiliki ide gila lainnya.


Akhirnya aku menuju Julliar School terlebih dahulu diantar oleh supir. Bahkan aku harus menyuap sang supir yang bekerja untuk Jun agar menghapus data perjalanan pada GPS mobil.


Aku masuk bersama Yuna. Sebelum membuka loker Rose 408, aku melirik Yuna sekilas.


Tidak ada yang berubah dari isi loker. Sebuah kota yang berisi barang-barang Kim Hana, aku berencana membongkar isinya setelah kembali dari NH Grup. Namun sebuah kunci penarik perhatianku, kunci tersebut bertuliskan Daisy 129.


Mataku membulat menyadari bahwa kunci tersebut milik loker milik Hansung. Tanganku gugup meraih kunci tersebut. Namun perlahan kau mendekati loker milik Hansung itu dan mencoba membukanya dengan kunci yang kupegang.

__ADS_1


Pasti ada alasan mengapa Kim Hana menyimpan kunci loker Hansung. Dan benar saja, loker tersebut tidak kosong. Terdapat sebuah amplop cokelat. Hal yang membuatku tercengang adalah tulisan depan amplop tersebut, yaitu sebuah pemintaan maaf dari Kim Hana.


"Nona, Tuan Jun telah menelepon," ujar Yuna membuatku tidak jadi membuka isi amplop tersebut. Namun ketika aku memegangnya, dapat kurasakan bahwa isinya cukup berat.


"Bawa isi pulang ke kamarku di rumah Ayahku. Aku akan pergi sendirian ke perusahaan," ujarku kepada Yuna memberinya kardus milik Kim Hana dan amplop cokelat dari dalam loker Hansung.


Awalnya Yuna tampak ragu. Tetapi aku meyakinkannya bahwa Jun akan menjadi urusanku apabila dia bertanya kenapa aku datang sendirian.


Ketika aku sampai di perusahaan, ruang rapat hampir terisi penuh. Namun tidak ada Nami atau Hansung. Ini aneh. Daripada duduk di sebelah Jun, aku memilih duduk di dekat kursi Nami yang kosong. Berlawanan arah dengan Jun.


"Selamat pagi semua, perkenalkan nama saya Danhee, pengacara sekaligus perwakilan dari Kim Nami. Ini adalah surat pernyataan dari Hansung yang menyatakan dukungannya terhadap Nona Nami untuk menjadi CEO," ujar Danhee berdiri memperkenalkan dirinya. Berarti benar Nami dan Hansung tidak akan hadir.


Kulihat Kim Yunsung yang semula bersandar kini menegakkan tubuhnya. "Baiklah, jika semua telah hadir. Maka akan saya sampaikan maksud pertemuan ini, seperti yang telah saya jelaskan pada rapat-rapat sebelumnya tentang rencana pemindahan perusahaan utama NH Grup ke Korea Selatan."


Aku terkejut dengan pernyataan Kim Yunsung. Tetapi ketika aku melihat ke arah Jun, dia tampak biasa saja seolah telah mengetahuinya.


Kurasa aku mulai mengerti mengapa Nami memutuskan untuk membuat Olen tinggal di Korea sebelum NH Grup benar-benar pindah. Dia akan menjadikan Olen pewarisnya setelah menjadi pemilik perusahaan ini.


"Tetapi walaupun Nami telah mendapat dukungan lebih besar dari Hana, aku ingin dia tetap bekerja di New York. Sedangkan Hana akan memimpin di Seoul," lanjut Kim Yunsung melirikku sekilas.


Hatiku tidak bisa tidak bersorak kegirangan. Namun baru saja aku tersenyum, tiba-tiba Jun bangkit dari tempat duduknya. Raut wajahnya jelas tidak menyetujui hal tersebut.


"Mohon maaf Tuan Kim Yunsung. Aku di sini mengawali Nona Nami. Perusahaan di Korea Selatan akan menjadi pusat yang tentu saja Nona Nami lebih berhak memimpinnya sebagai pemegang saham terbesar kedua saat ini setelah anda," sela Danhee mendahului Jun berbicara.


"Benar, aku juga setuju dengan hal itu. Biarkan Kim Hana tetap di New York untuk mengurus manajemen cabang NH Grup," tambah Jun kini bersuara.


Aku menatapnya tajam. Namun Jun memilih memaling wajahnya. Untuk pertama kalinya, aku ingin menampar wajahnya.


"Tetapi aku memutuskan bahwa Kim Hana yang akan mengelola di Korea Selatan!" ujar Kim Yunsung bersikeras.


Kulihat Danhee bangkit dari kursinya lalu menuju mimbar yang bisa menampilkan sesuatu di layar pantulan proyektor.


Mataku terbelalak begitu aku menyadari Danhee memperlihatkan sebuah lembaran. Bukan lembaran sembarang, melainkan hasil dari sebuah tes DNA.


"Seperti yang anda lihat semua. Kim Hana bukanlah anak kandung dari Tuan Kim Yunsung. Sedangkan Nami terbukti adalah anak kandung dari Tuan Kim Yunsung," jelas Danhee sambil memperlihatkan hasil tes dari Kim Hana lalu berganti ke milik Kim Nami.


Aku tercengang sekaligus kaget. Ini di luar imajinasi dan mungkinkah Kim Hana sendiri telah mengetahui kebenarannya?

__ADS_1


***


__ADS_2