
Aku meminta Nami menurunkanku di Julliar School. Untuk menghindari pelacakan Jun. Aku meninggalkan ponsel pemberiannya pada jok mobil Nami.
Tubuhku masih bergetar mengetahui fakta bahwa Akira, lelaki yang ragaku dan jiwa Hana temui adalah Hansung.
Aku memasuki ruangan tempat loker berada. Namun langkahku yang sedaritadi cepat, berhenti begitu mendapati seseorang berdiri di depan loker Rose 408. Orang itu adalah Hansung.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku mendekat.
Hansung berbalik dan mata kami bertemu. Ia berjalan mendekat sambil menyerukan nama Hana.
"Hana."
"Kau pasti telah mendengarnya dari Nami," ujarnya semakin melangkah mendekat kepadaku.
"Lalu apa? Kau pikir semua akan selesai begitu saja?" ujarku dengan nada meninggi.
Walaupun bukan diriku yang merasakan bagaimana Hansung meninggalkan sosok Hana, tetapi sebagai perempuan tentu saja aku berempati. Apalagi mengetahui bahwa saat itu Hana sedang hamil.
Mata Hansung berbinar. "Aku benar-benar minta maaf Hana."
"Untuk apa kau kembali lagi?" tanyaku dengan nada dingin.
"Merebut segala yang menjadi hakku."
"Apa?"
"Dirimu dan ... menghancurkan Jun."
Aku bergetar mendengar ucapan Hansung. Tanpa sadar aku melangkah mundur dengan sebelah tanganku menutup mulut.
"Apa maksudmu?"
"Aku ke sini untuk membuka lokerku, kau pasti memiliki kuncinya bukan?" ujar Hansung membuat pikiranku bertambah runyam.
"Membuka paksa loker di sini akan menimbulkan kegaduhan. Lagipula aku ingat kita pernah memasang alat penghancur otomatis apabila dibuka secara paksa bukan?" lanjut Hansung.
"Aku tidak tahu," balasku jujur.
Ada banyak hal yang membuat aku belum bisa mengetahui siapa Hansung sebenarnya. Aku memilih berbalik, mundur untuk sejenak. Hubungan Hana dan Hansung entah mengapa terasa aneh bagiku.
"Aku melihatmu datang ke Tokyo," ujar Hansung membuatku terkejut.
Aku kembali berbalik menatapnya. "Apa?"
"Kau menemui perempuan itu bukan? Lee Umji. Perempuan yang mirip denganmu."
Kini lututku terasa lemas. Berarti benar bahwa Hansung adalah Akira. Alasan mengapa lelaki itu menghilang setelah ragaku terjatuh ke dalam sungai adalah menghindari penyelidikan polisi yang bisa mengungkap identitas aslinya?
Itu masuk akal. Jadi selama aku berada di rumah sakit di Tokyo untuk melihat kondisi ragaku dan bertemu Mino di sana, Hansung juga berada di sana mengawasi?
Lalu pertanyaan yang paling membuatku penasaran, kenapa Hansung yang bertindak sebagai Akira seolah mendekati ragaku yang dihuni oleh jiwa Hana? Apakah karena dia mengira aku Hana atau penasaran kenapa wajahku dan Hana bisa mirip?
"Aku tidak mengerti maksud--"
__ADS_1
"Ternyata kau juga penasaran tentang seorang Lee Umji," sebuah suara datang dari arah belakangku.
Suara yang familier. Aku berbalik dan menemukan Jun berdiri beberapa meter dariku. Ia menatapku lekat lalu mulai berjalan mendekat.
Jun meraih pinggangku lalu merangkulnya. Ia kemudian melempar tatapan tajam kepada Hansung.
"Aku pernah bertemu dengan perempuan itu. Lee Umji," ujar Jun melanjutkan.
Aku menelan ludah. Aku mengira selama ini bahwa Jun yang melihatku sewaktu di Seoul akan mengabaikan dan melupakan kejadian itu. Lagipula sekarang banyak orang yang mirip satu sama lain.
Hansung tertawa. "Takdir benar-benar lucu Jun. Kita bertemu dengan Hana dan jatuh cinta kepada dan ... kita juga bertemu dengan Umji."
"Umji hanyalah pegawai perusahaan penerbitan yang sangat berbeda dari Hana," balas Jun melirikku sekilas.
"Tentu saja, aku pernah menemuinya beberapa kali," kata Hansung lalu menyengir.
Aku mendengus. Akira yang kukenal sama sekali berbeda dengan sosok Hansung di depanku saat ini. Dia begitu pandai berakting.
"Hana, jelaskan kepada Jun apa yang kau ketahui tentang Umji," ujar Hansung membuatku tubuh menegang dan dapat kutebak bahwa Jun dapat merasakannya juga.
"Aku ... Umji--"
"Kurasa Hana hanya penasaran soal perempuan yang mirip dengannya," sela Jun membalas ucapan Hansung.
"Aku mengenal Umji melalui media sosial. Awalnya aku terkejut mengetahui ada perempuan yang benar-benar mirip denganku sehingga mulai mengajaknya berkenalan. Kami mengobrol tentang banyak hal," ujar berusaha tenang menjelaskan. Benar, ini adalah kebohongan mutlak.
Tidak mungkin aku bercerita bahwa kami saling mengenal lewat pertukaran raga. Bisa-bisa aku akan dimasukkan rumah sakit jiwa, apalagi melihat bahwa jiwa Hana yang berada dalam ragaku tidak sadar bahwa dia bukanlah 'Umji' tetapi 'Hana'.
Hansung menyungging senyuman miring seolah tidak mempercayaiku. Aku juga melirik sekilas Jun yang mengangkat sebelah alisnya, seolah meragukan perkataanku.
"Terakhir kami berhubungan ketika Umji akan ke Jepang untuk urusan pekerjaan," kataku menatap Hansung yang sedikit terkejut, seolah apa yang kukatakan sesuai fakta yang ada. Padahal memang begitulah kenyataannya.
"Umji ... dia pernah mengalami kecelakaan dan koma," kataku harus memberikan salah satu fakta penting agar ketika Jun atau Hansung mencari tahu maka ucapanku akan dipercayainya.
Namun mataku menangkap tangan Hansung terkepal dan tubuhnya menegang setelah kalimat terakhirku soal Umji yang pernah mengalami kecelakaan. Kenapa?
"Kurasa semua sudah jelas. Ayo kita pergi," ujar Jun lalu menarik tanganku agar ikut dengannya. Meninggalkan Hansung dengan raut wajah yang bisa kukatakan terkejut sehingga tidak berkata apapun lagi.
Jun membawaku masuk ke dalam mobil. Meskipun begitu ia menyuruh sekertaris dan supirnya untuk keluar dari mobil.
"Jelaskan padaku kenapa kau bisa berakhir di sini," kata Jun menoleh menatapku.
"Kau sendiri? Bagaimana bisa tahu aku di sini?"
Jun menarik napas panjang. "Aku melacak ponselmu ketika aku meneleponmu dan kau tidak mengangkatnya," katanya lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.
Sebuah ponsel yang kuyakini adalah milikku.
"Jadi aku menyuruh Yujin menuju lokasi GPS ponselmu dan menemukan ini. Tergeletak sendirian tanpa ada kau atau Nami."
"Kemudian aku menebak bahwa mungkin kau berada di sini," lanjut Jun menjelaskan.
Jun mencondongkan badannya ke arahku. Aku menahan napas begitu sebelah tangannya memegang wajahku.
__ADS_1
"Kau tahu begitu khawatirnya aku melihatmu bersama Hansung tadi," kata Jun dengan nada berbisik.
Sedetik kemudian Jun mencium bibirku. Namun ini bukan sekadar mengecup, jika bisa kukatakan ciumannya tergolong kasar.
Aku mendorong tubuhnya. "Tenanglah Jun, aku hanya ... hanya sedikit bingung dengan situasinya."
Jun mencibir. Ia memundurkan badannya, masih menatapku. "Kau tiba-tiba merasakan dadamu bergemuruh melihat Hansung kembali?"
Aku terdiam. Apakah Jun secemburu itu? Entah mengapa dadaku terasa sesak. Ada apa ini? Sesak karena melihat mata sayu Jun yang kini menatapku atau sesak mengetahui fakta bahwa ... Jun cemburu kepada Hansung, karena mendekati Hana-nya kembali?
Jun langsung membawaku kembali ke rumah. Ia bahkan memerintahkan Yuna dan Yujin mengawasiku di rumah. Sedangkan ia sendiri kembali ke kantor.
Kini aku berdiam diri di dalam kamar. Aku menyuruh Yuna dan Yujin melakukan apa yang disukanya di luar kamar. Aku tidak peduli.
Aku menatap ponsel yang dikembalikan oleh Jun. Namun ponsel yang kubeli ketika di Jepang berbunyi. Ponsel tersebut aku simpan di bawah lemari pakaian dalam yang akan jauh dari jangkauan pelayan yang membersihkan kamar ini setiap hari.
Mataku terbelalak ketika melihat nomor Mino masuk memanggil. Aku segera masuk ke dalam kamar mandi. Kunyalakan air keran sebagai pencegahan apabila ada yang semacam penyadapan dalam kamarku. Kurasa Jun setelah melihat kembalinya Hansung sanggup melakukannya.
"Halo," seru memakai bahasa Inggris.
"Kim Hana?"
Suara Mino yang sangat kekenali berseru jauh dari seberang sana. Aku terlonjak senang akhirnya mendapat kabar setelah menunggu beberapa hari.
"Di mana Umji?" tanyaku pelan.
"Apa kau benar-benar Kim Hana?" Mino juga membalas dengan bahasa Inggris.
"Kau meragukannya bukan?"
"Apa maksudmu?"
"Sekarang jelaskan padaku soal naskah novel tersebut, kenapa kehidupan Song Byul sangat mirip dengan Kim Hana," kataku tanpa mengulur waktu.
Kudengar Mino menghela napas panjang. "Kau ... bukan Kim Hana."
Mataku terbelalak ketika mendengar tebakan Mino yang sungguh benar.
"Apa maksudmu?"
"Jika kau Kim Hana, maka kau tidak akan menanyakan pertanyaan yang jawabannya sudah pasti diketahui oleh Kim Hana sendiri."
Aku mencoba mencerna perkataan Mino. Kemudian aku tersenyum mengerti.
"Karena apabila aku adalah Kim Hana maka yang menulis naskah novel tersebut adalah diriku sendiri bukan?"
Tidak ada jawaban. Aku mengigit bibir bawahku yang dibaluti oleh rasa penasaran atas reaksi Mino.
"Benar," jawab Mino membuat aku semakin yakin bahwa ragaku dihuni oleh Kim Hana.
"Lalu siapa kau?" tanya Mino yang mungkin hal paling utama yang ingin diketahuinya.
"Apa kabar Mino oppa? Ini aku ... Lee Umji," ujarku memakai bahasa Korea.
__ADS_1
***