
Aku tersentak dalam keadaan penuh keringat. Napasku berburu seiring dengan ingatan jelas tentang penglihatan yang kusaksikan tengah terjadi di Seoul. Tanpa sadar air mataku turun. Aku terisak pelan yang kemudian menangis kencang.
Suara ketukan pintu dan suara pelayan tidak kuhiraukan. Wajah Akira yang sendu dengan mata terpejam dapat kulihat dan pemandangan itu familier seperti kejadian dua tahun lalu.
Aku yang tertidur pada sore hari sehingga terbangun pada malam hari. Perlahan aku meraih ponselku lalu menelepon Mino. Setelah tiga kali percobaan, barulah lelaki itu mengangkatnya.
"Lee Umji--"
"Bagaimana keadaan mereka?" tanyaku pelan.
"Kau melihatnya?" tanya Mino balik.
Aku terisak, tidak dapat kubendung. "Mereka berdua tergeletak di jalan bukan?"
"Aku menceritakan semuanya...," ujar Mino terdengar menyesal.
"Aku tahu. Aku mengerti, Kim Hana pasti sulit menerimanya."
"Aku tidak menyangka Akira--maksudku Hansung akan datang tepat pada kejadian tersebut," balas Mino lirih.
"Mino Oppa."
"Ya?"
"Kurasa aku tahu mengapa Hansung berada di sekitar ragaku sebagai Akira," ujarku pelan.
"Apa itu?"
"Kecelakaan dua tahun lalu. Sebisa mungkin aku mencoba untuk melupakan hal tersebut. Hal gila yang kulakukan demi menyelamatkan hal lainnya."
"Jadi kau menambrak tebing bukan karena mengantuk?" ujar Mino mengungkit tentang penyebab kecelakaan yang mungkin ia ketahui dari kepolisian.
"Ketika melihat wajah Akira tergeletak di jalan dengan mata tertutupi, aku mulai ingat wajah dan mata yang sama berdiri di depan mobilku dua tahun lalu."
Ingatanku lalu kembali pada kejadian dua tahun lalu. Di mana aku mengalami kecelakaan dalam perjalanan malam, aku yang memang telah cukup lelah setelah seharian beraktivitas kemudian menyetir sendiri. Dalam sunyi dan dinginnya malam, aku merenungi perihal hidup yang kujalani.
Tanpa sadar aku mulai melamun dan seorang laki-laki tiba-tiba datang, seolah ingin menyeberang. Namun anenhya, tepat di tengah jalan dia berhenti. Aku panik, sehingga seharusnya menginjak rem malah menancap gas. Menyadari hal tersebut tanpa menunggu lagi, aku membanting stir sampai titik di mana akhirnya aku menabrak tebing di bagian sisi kanan. Jika aku membating stir ke arah kiri, mungkin aku akan berakhir di laut.
"Lalu kenapa kau berbohong?" tanya Mino pelan.
__ADS_1
"Entahlah. Aku merasa bahwa laki-laki yang berhenti di tengah jalan itu, seperti ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Aku rasa tetap diriku yang salah, karena melamun dan akhirnya menjadi panik."
"Dan kau Lee Umji, aku mendengar dari kepolisian dulu bahwa seorang laki-laki lah yang mengabari mereka perihal kecelakaan tersebut dengan telepon umum sehingga tidak terlacak," ujar Mino membuatku tahu fakta baru dalam kecelakaanku.
"Baiklah Mino Oppa. Aku akan berusaha kembali ke Korea dan memberitahu sesuatu tentang Kim Hana," balasku sebelum menutup telepon.
Aku keluar dari kamar, tepat saat itu Jun juga baru datang. Tak sengaja mataku menatap jendela yang terbuka, aku berjalan ke bagian belakang. Menemukan salju pertama yang turun pada musim dingin tahun ini.
"Hana," seru Jun dapat kulihat berdiri di sebelahku.
"Aku telah mengetahui perjanjian yang kau buat dengan Nami," ujarku tidak ingin berbahasa basi lagi.
Aku berbalik dan mendapati Jun telah tercengang. Menguatkan bukti bahwa hal tersebut benar adanya.
"Kenapa kau melakukannya?"
"Karena aku mencintaimu," jawab Jun cepat tanpa jeda.
Aku merasa dadaku menjadi sesak. Fakta bahwa Kim Hana dan Jun saling mencintai adalah hal yang berada di luar bayanganku.
Aku tersenyum tipis. "Dan kau memilih menyembunyikan perihal perbuatan Nami atas Ibuku."
"Itu egois Jun!" teriakku mulai berurai air mata tidak bisa menahan emosi.
Aku menarik tangan Jun kembali ke kamar lalu mengambil amplop berisi bukti penjanjian dirinya dengan Nami serta amplop berisi tes DNA Hansung.
"Apa ini?" tanya Jun terkejut.
"Aku selesai denganmu hari ini," ujarku lalu berbalik, berniat keluar namun Jun menahan tanganku.
Jun bahkan bersimpuh sambil memegang tanganku. Air matanya telah turun, membuatku dadaku bertambah sesak. "Jangan pergi Hana."
"Keputusan ada di tanganmu Jun. Kau akan selalu mendapat pilihan, dulu atau sekarang," ujarku kemudian menarik tangan dengan keras sehingga terlepas dari tangan Jun.
"Kim Hana!" seru Jun berteriak dapat kudengar meski kini aku berjalan menuju pintu depan.
Yuna menghampiriku. "Tuan Kim Yunsung sedang keluar."
Aku tersenyum tipis. "Baguslah, aku akan bandara sekarang. Berikan aku kunci mobil."
__ADS_1
Mata Yuna terbelalak. "Nona jalanan pasti licin, karena salju telah turun."
"Tenanglah, aku pernah merasakan yang lebih buruk," ujarku teringat pada kecelakaanku tahun lalu.
"Apa?"
"Berikan saja Yuna," balasku memberi penekanan ketika menyebut nama Yuna.
Yuna akhirnya memberikan kunci mobil padaku. Aku menuju garasi masih diikuti oleh Yuna.
"Kau bisa mengambilnya kembali di bandara," ujarku lalu menekan tombol kunci sehingga salah satu mobil berbunyi diiringi lampu depan menyala.
Aku berjalan menuju mobil berjenis sedan tersebut, sebelum aku benar-benar masuk sebuah tangan menghalangi pintu mobil tertutup.
"Kau mau ke mana?" tanya Jun membuatku menoleh menatapnya.
"Korea Selatan."
Alis Jun terangkat. Ia juga memperlihatkan bukti tes DNA Hansung. "Apa kau sedang mempermainkanku?"
Aku tersenyum miring. "Itu adalah kebenaran Jun. Aku, Hansung dan Nami telah mengetahuinya dan kurasa waktunya dirimu untuk tahu."
Jun tampak tercengang. "Lalu ini?" ujarnya memperlihatkan surat yang ditulis Kim Hana untuk Hansung.
"Itu adalah kebenaran lain. Lihatlah Jun, kau berusaha menyingkirkan Hansung, menghalangiku bertemu dengannya, karena takut aku akan memberitahunya. Tetapi kau tahu? Alasan mengapa diriku melakukan percobaan bunuh diri, seperti yang tertulis pada surat tersebut."
Aku menarik napas melanjutkan, "Aku mencintaimu sejak kau datang dengan tangan terbuka menerimaku kembali. Setelah aku mengetahui fakta sebenarnya, itu membuatku hilang akal. Apalagi kau menyembunyikan perihal keterlibatan Nami dalam kematian Ibuku. Aku sakit hati Jun, tetapi aku tidak bisa membencimu. Karena aku mrncintaimu."
Aku mengatakannya. Kurasa Kim Hana akan mengatakan hal yang sama dengan apa yang kukatakan baru ke Jun. Dan sekarang bisa mengerti, mengapa Kim Hana berusaha pergi dari hidupnya, serta mungkin mengapa aku dan dia berteleportasi. Saling bertukar raga.
Jun melepas tangannya dengan wajah terkejut bercampur sedih. Aku akhirnya masuk ke dalam mobil dan langsung menjalankannya.
Kim Hana mencoba meninggalkan dunia ini. Namun semesta belum mengizinkan. Aku yang terbaring koma kemudian setahun kembali sadar, jiwa Kim Hana mengisinya. Tetapi Kim Hana lupa bahwa itu hanya sementara. Di saat aku kembali koma dan terbangun kembali.
Aku berpikir bahwa Kim Hana lah yang menyebabkan dirinya sendiri lupa ingatan. Ia ingin terus hidup sebagai Lee Umji, melupakan lara dan duka dalam hidupnya.
Dan di sinilah aku sekarang. Mengungkap fakta kehidupan Kim Hana. Menjawab lamunan sebelum aku mengalami kecelakaan perihal kehidupan, yaitu apa tujuan aku hidup?
***
__ADS_1