Daydream

Daydream
B. SEOUL - 7


__ADS_3

Aku meninggalkan Tokyo. Mempercayakan ragaku kepada Mino yang kuyakin akan menjaganya. Aku terbang menuju Seoul bersama Yuna yang berhasil menemukanku.


Aku kembali masuk ke dalam salon. Mengecat warna rambutku menjadi cokelat tua. Membeli setelan pakaian baru yang sedikit mirip dengan Umji dalam keseharian. Yuna hanya menatapku bingung dengan segala hal yang kulakukan dengan tergesa-gesa. Aku yakin dia ingin bertanya, namun ragu akan mulai darimana.


"Jadi apa Nona akan bertemu Tuan Jun?" tanya Yuna menyetir di sampingku.


Aku menyewa mobil untuk dapat dipakai berpergian. Banyak tempat yang harus kudatangi, salah satunya ke perusahaan penerbitan tempatku bekerja.


"Apa Jun masih di sini?" tanyaku menoleh.


Yuna mengangguk. Ia tetap memandang jalan di depan. "Iya, Tuan Jun baru akan pulang besok."


"Apa yang dia lakukan sebenarnya di Seoul?"


"Kata sekertaris yang meneleponku ketika baru tiba di Tokyo bahwa ada urusan nisnis dan menemui temannya."


"Aku sampai lupa, kau ini bukan orang Amerika bukan? Terlihat dari wajah Asia yang kau miliki," ujarku cukup penasaran dengan asal negara Yuna sebenarnya.


"Aku orang Korea. Pindah sepuluh tahun lalu ke Amerika."


Aku menghela napas lega. "Kenapa aku lama menanyakan?" ujarku dengan bahasa Korea.


Yuna tampak sedikit terkejut, mungkin yang ia ketahui bahwa aku besar sebagai Hana di Amerika dan bahasa Korea ku sangat baik dalam pengucapannya.


"Gunakan bahasa Korea saja jika kita hanya berdua. Jangan pernah lupa sejarah," ujarku beralasan. Meski aku fasih dan sudah merasa terhubung dengan Yuna menggunakan bahasa Inggris, tetapi aku takut jati diriku sebenarnya akan hilang.


Ingat Umji, kau bukan Hana!


Setelah menempuh tiga puluh menit perjalanan, akhirnya aku sampai di depan perusahaan penerbitan. Yuna memarkir di luar bangunan, alih-alih di basement.


"Tunggu sebentar di sini. Ada seseorang yang ingin aku temui," ujarku kemudian keluar dari mobil.


Aku melihat Yuna tidak menaruh curiga tentang kedatanganku ke perusahaan penerbitan. Mungkin karena ini Korea jadi mempertimbangkan bahwa Hana yang juga keturunan orang Korea memang mempunyai urusan penting. Berbeda ketika dia pertama kali melihat penampilanku di Jepang.


Aku berjalan menuju lobi. Ujung bibirku tersenyum mengenali mulai dari satpam dan beberapa pegawai yang berlalu-lalang. Alasanku datang ke tempat ini adalah untuk bertemu Jini. Aku ingin memastikan naskah novel rekomendasi Mino apakah benar-benar seperti kehidupan Hana.


"Anda mau ke mana?" ujar seorang pegawai yang kukenali dari bagian percetakan menghalauku ketika akan masuk ruangan bagian novel atau fiksi. Namanya Taeho


Aku membuka kacamata hitamku. Membuat Taeho tersenyum sekilas.


"Ternyata kau Umji. Aku kira kau sedang di Jepang?" tanyanya berusaha mengingat-ingat.


Aku tersenyum membalas, "Ada urusan mendadak sehingga aku pulang ke sini."


Ucapan Mino kembali kuingat ketika aku akan pergi dari rumah sakit. Mino sengaja merahasiakan kejadian yang menimpaku kepada perusahaan, takut membuat hal itu menjadi masalah bagiku Umji. Di mana aku sebagai Umji berjalan-jalan pada jam kerja. Sungguh Mino sangat baik dan pengertian, namun tetap hatiku tidak bisa menyukainya layaknya wanita kepada pria.

__ADS_1


"Baiklah, aku duluan."


Setelah kepergian Taeho, aku langsung masuk ke dalam. Beberapa pasang mata menatap heran seolah menanyakan hal yang sama seperti Taeho tadi. Namun aku hanya melempar senyum kepada mereka dan segera menuju meja kerja Jini.


"Umji?" ujar Jini terlihat terkejut.


Jini menatapku dari atas hingga bawah. "Kau tampak berbeda," ujarnya tak melepas pandangannya.


Aku menelan ludah. Apakah Jini menyadari sesuatu? Atau dia sudah dengar kabar soal kejadian yang menimpaku di Tokyo?


"Apa maksudmu?" tanyaku berpura-pura tertawa.


"Potongan rambut dan ... gaya berpakaianmu," ujar Jini ikut tertawa. "Tapi aku suka! Eh, kau kenapa ada di sini?"


"Oh itu, ada urusan lain yang menyuruhku kembali ke sini," ujarku dengan nada meyakinkan.


"Sendiri? Tanpa Mino?" tanya Jini menyelidik. Seperti biasa Jini dengan tingkat penasaran tingginya terhadap kabar Mino.


Aku mengangguk keras. "Iya, dan ... aku ingin meminta kembali naskah yang kuberikan dulu."


Alis Jini terangkat mengambil naskah dari lacinya. "Ini? Kau pasti ingin menanyakan hal ini kepada Mino. Bagaimana kalau aku saja?"


Jini mengangkat naskah itu dengan senyum semringah seolah mendapat ide agar dapat menjalin komunikasi kembali dengan Mino.


Jini tampak cemberut sekaligus kesal menatapku. Seolah pikirannya mungkin membenarkan bahwa aku juga menyukai Mino.


"Oh ya, Mino bertanya apakah kau mau ole-ole," ujarku berbohong. Tidak baik mengkonfrontasi Jini sekarang. Aku butuh beberapa informasi terkait ucapannya yang mengatakan bahwa aku koma selama setahun lalu bangun dan koma lagi. Padahal ingatanku hanyalah bahwa aku koma selama dua tahun.


Mata Jini terbelalak. "Benarkah? Beritahu apa saja yang menurutnya spesial," ujarnya girang.


Mino bukanlah tipe yang mengajak bermusuhan dengan mantan kekasihnya. Meski dirinya telah putus dengan Jini, tetapi untuk urusan pekerjaan, lelaki itu tak segan menjalin komunikasi dengan Jini.


Sedangkan Jini enggan, dengan alasan harga diri. Dasar wanita dengan segala gengsinya, padahal juga rindu.


"Baiklah, aku harus menuju ke tempat lain," ujarku berusaha meninggalkan Jini tanpa kecurigaan. Di tanganku telah ada naskah dan siap kubaca.


Jini mengangguk singkat. Tubuhku perlahan berbalik dengan raut wajah penuh kemenangan, namun itu tidak berlangsung lama.


Aku terperanjat begitu melihat Jun. Lelaki itu baru saja masuk ke dalam ruangan ini, tidak sendiri, dia bersama CEO perusahaan penerbitan ini. Lebih tepatnya bersama anak pemilik perusahaan penerbitan ini.


Aku segera kembali berbalik lalu mendapat tatapan bingung oleh Jini. Namun itu hanya sebentar sebelum Jini tampak terpesona oleh ketampanan Jun.


"Siapa lelaki bersama Pak Janghyuk?" ujar Jini menyebut nama CEO perusahaan penerbit.


Aku mengabaikan ucapan Jini. Sibuk mencari jalan lain agar keluar dari ruangan ini. Tetapi akan sulit, karena Jun dan Janghyuk berdiri di dekat pintu masuk.

__ADS_1


Namun karena aku telah lama bekerja di sini, maka aku mencoba lewat gudang penyimpanan naskah yang terhubung dengan bagian majalah yang memiliki pintu keluar yang berada dekat lift.


Aku berjalan pelan sambil melirik Jini yang sudah mendekati Jun melalui mengekor terhadap Pak Ryeol yang telah berjalan keluar dari ruangannya.


"Apa itu kau Umji?" seru Pak Ryeol yang suaranya sangat kukenali.


Padahal tinggal sepuluh langkah lagi menuju gudang. Terpaksa aku memutar badan dengan mata terpejam sekilas.


Mataku langsung menangkap sosok Jun yang ikut menoleh. Wajahnya memucat seperti dugaanku. Tentu saja dia kaget melihat wajahku yang dikenali seisi ruangan ini sebagai Umji, namun olehnya adalah Hana.


"Ke mari lah," lanjut Pak Ryeol dengan aba-aba tangan agar mendekat.


Aku mengigit bibir bawahku mulai berjalan mendekat. Berdiri tepat di samping Jun yang masih melihatku dengan mata terkejutnya.


"Bukankah kau pergi ke Jepang bersama Mino?" tanya Pak Ryeol.


"Dia ada urusan di sini," jawab Jini sukarela lalu mengedipkan mata sebelah, tanda bahwa dia menolongku.


"Oh tim yang berangkat bersama tim produksi film?" timpal Janghyuk.


Pak Ryeol mengangguk singkat. "Benar, Umji salah satunya."


"Apa benar perempuan ini bekerja di sini?" tanya Jun dengan bahasa Korea.


Wah, pertama kalinya aku mendengar Jun berbahasa Korea, meski kuakui logatnya sangat Amerika.


"Benar, dia sudah lama bekerja di sini. Sekitar empat tahun," jawab Pak Ryeol tanpa ragu.


Aku bisa bernapas lega untuk sekarang. Tetapi aku akan menjadi gila apabila setelah ini Jun akan mencari tahu tentang keberadaan Hana yang menurut Yuna telah Jun ketahui bahwa aku sudah meninggalkan Amerika. Belum lagi apabila mencari tahu tentang diriku, Lee Umji.


Aku melirik Jun sekilas. Lalu tersenyum sopan. Berusaha menampilkan raut wajah bahwa aku benar-benar baru pertama kali melihatnya.


"Oh Pak Ryeol, kenalkan dia adalah Jun, teman kuliahku sewaktu di Amerika," ujar Janghyuk membuatku tahu bahwa teman yang dimaksud Yuna adalah Janghyuk.


"Baiklah, aku permisi dulu," ujarku hati-hati.


Kulihat Pak Ryeol telah mengangguk, tanda memperbolehkanku pergi sekarang. Namun begitu berbalik, sebuah tangan menarikku bertahan.


Aku menoleh mendapati tatapan tajam Jun yang masih tidak percaya apa yang dilihatnya saat ini. Istrinya Hana, berada di sampingnya sebagai Umji.


"Siapa namamu lagi?" tanyanya dengan mata menyipit.


"Lee Umji," jawabku tanpa ragu, menatapnya lekat.


***

__ADS_1


__ADS_2