
Lee Umji membaca lembar demi lembar naskah All About You. Entah mengapa dadanya berkecamuk. Ia kemudian mengambil jaket dan tasnya lalu menuju apartemen Jini.
"Umji, kenapa kau datang pagi-pagi?" tanya Jini terkejut dengan kedatangan Umji tanpa pemberitahuan sebelumnya.
"Aku ingin meminta bantuan," balas Umji dengan tatapan serius.
Park Jini yang biasa datang ke kantor pukul delapan, kini tiga puluh lebih cepat datang bersama Umji. Ia bahkan belum sarapan sehingga merasakan perutnya keroncongan.
"Kenapa sih harus datang pagi--"
Ucapan Jini terhenti begitu melihat bahwa Umji menarik tangannya bukan ke ruangan kerja yang biasanya mereka masuki terlebih dahulu ketika telah sampai di kantor. Tetapi ruangan pengamanan dan pengawasan, di mana CCTV dipantau di sana.
Umji mengetuk pintu dan seorang lelaki memakai seragam pengamanan keluar dengan raut wajah bingung.
Umji langsung memperlihatkan kartu identitasnya sebagai pengawai perusahaan. "Aku bisa minta tolong."
"Apa itu?"
"Aku melupakan berkasku dan sepertinya masih sekitaran dalam kantor. Aku ingin melihat rekam jejakku seharian pada waktu kehilangan," ujar Umji dengan nada sedikit memelas.
Lelaki itu tampak ragu sebentar, sebelum akhirnya mengizinkan Umji dan Jini untuk masuk.
"Aku harus mengecek salah satu CCTV yang mengalami kerusakan pada area parkir. Kau bisa mencarinya di sini," ujar lelaki itu duduk di depan komputer sambil menunjukkan folder-folder yang bernama tanggal perekaman.
"Baiklah, terima kasih," balas Umji menyungging senyum.
"Temanku akan datang setengah jam lagi. Aku pergi dulu."
Setelah lelaki yang bertugas sebagai pegawai bagian keamanan itu pergi. Umji langsung duduk menggantikan posisi lekaki tersebut.
Jini hanya melihat Umji dengan tatapan bingung. Tetapi ia sedikit mengerti maksud Umji membawanya ke mari.
"Jini, kau harus tahu bahwa pada saat aku ke Jepang, aku sempat mengalami koma, karena tenggelam," ujar Umji menoleh sekilas ke arah Jini yang berdiri di sampingnya.
Mata Jini terbelalak. "Apa?"
"Hanya aku, Mino dan temannya yang tahu. Ini rahasia untuk kepentingan perusahaan agar tidak menimbulkan kegaduhan," ujar Umji menjelaskan agar Jini tidak salah paham.
"Berarti kau datang mencari tahu soal naskah yang diambil dariku dan pada saat itu kau masih koma?" terka Jini.
Umji mengangguk. "Ya," jawabnya singkat lalu tangannya mulai bekerja mencari file video CCTV.
"Kalau kupikir-pikir memang aneh, kau datang ke Korea, apalagi untuk naskah itu. Gaya berpakaianmu juga tidak biasa," gumam Jini seolah mengingat kejadian di mana Umji datang ke kantor untuk mengambil naskah novel All About You.
Setelah mencari selama sepuluh menit akhirnya Umji menemukan file video CCTV setelah memperhitungkan tanggal dan waktu dirinya masih koma.
Mata Umji dapat melihat jelas seseorang yang benar-benar mirip dengannya masuk ke lobi untuk kemudian ketika akan amsuk ke ruangan bagian novel seorang lelaki mengajaknya berbincang sebentar.
Umji menoleh mendapati raut wajah Jini yang ikut menegang melihatnya. Kini Umji melihat perempuan itu masuk ke dalam ruangan, langsung menghampiri Jini dan berbicara dengannya. Kamera CCTV dari dekat meja kerja Jini
__ADS_1
"Di sini bukan dia meminta naskah tersebut?" tanya Umji.
"Apa benar itu bukan dirimu?" tanya Jini terbata-bata.
"Tentu saja bukan," ujar Umji yakin. Kini ia melihat setelah perempuan itu mendapatkan naskahnya, dia bersiap untuk pergi, namun berbalik begitu sepergi seseorang memanggilnya.
Umji lalu beralih mencari sudut lain kamera CCTV berada, yaitu di depan pintu. Ia bisa melihat perempuan itu dipanggil oleh Pak Ryeol di mana telah ada dua lelaki lainnya, satunya dikenali Umji sebagai Pak Jangyuk, orang yang menceritakan tentang seorang Kim Hana yang mirip dengannya.
Namun ketika lelaki satunya tidak sengaja menatap ke arah pintu dan melihat sekilas ke arah CCTV, napas Umji seoalh menjadi tertahan.
"Oh tunggu, kau pernah--bukan maksudku perempuan ini berkenalan dengan teman Pak Janghyuk, kalau tidak salah namanya Jun?" ujar Jini berusaha mengingat-ingat.
Umji terperanjat. "Jadi lelaki ini bernama Jun, suami dari Kim Hana?"
"Kim Hana?" ujar Jini terlihat tidak mengerti.
Umji kini menatap lekat Jini. "Kim Hana, Pak Janghyuk pernah berkata bahwa seorang perempuan pernah dilihatnya mirip denganku, dialah perempuan itu, Kim Hana."
Jini terkekeh seolah tidak percaya. "Bagaimana bisa?"
"Pak Janghyuk sendiri katanya pernah melihat fotonya dari lelaki yang kau bilang bernama Jun tadi!"
Kini raut wajah Jini berubah menjadi serius. "Benarkah? Tetapi untuk apa dia mengambil naskah tersebut? Dan bagaimana dia bisa tahu tempat kerjamu?"
"Aku sudah mengecek CCTV di depan pintu kamar apartemenku tadi malam, sesuai tanggal CCTV perusahaan yang sedang kita lihat," ujar Umji bercerita.
"Lalu?"
Jini terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Seolah tidak mempercayai apa yang baru saja didengarnya dari Umji. Seolah pikirannya berkata bahwa yang ada di video CCTV adalah Umji sendiri dan mengarang soal koma.
"Kau tidak percaya bukan? Mari kita ke Mino Oppa," ujar Umji menyadari tatapan ketidakpercayaan Jini. Ia lalu bangkit meninggalkan ruangan pengamanan.
Umji berjalan secara cepat. Ia berhenti ketika berada di lobi perusahaan, melihat sekilas ke arah jam tangan yang dipakainya lalu berbalik menatap Jini.
"Kurasa Mino Oppa masih di apartemennya," ujar Umji membuat mata Jini terbelalak.
"Kau ingin ke apartemennya?"
Umji mengangguk tanpa bersuara. Ia segera berjalan cepat keluar dari lobi dengan Jini masih mengikutinya dari belakang. Namun ia berhenti begitu melihat Mino baru keluar dari taksi di pinggir saja.
Umji langsung menghampiri Mino. "Aku ingin kau mengkonfirmasi kepada Jini bahwa aku benar-benar mengalami koma beberapa hari di Jepang."
Mata Mino membulat, tidak mempercayai apa yang baru saja ia dengar. Matanya kemudian beralih menatap Umji dan Jini bergantian.
"Ada apa ini?"
"Aku sudah melihat rekaman CCTV di apartemen dan kantor. Mengingat ucapan Pak Ryeol sewaktu kami bertemu di supermarket yang mengatakan bahwa aku pulang ke Korea untuk sebuah urusan bahkan bertemu Jini yang kini kuketahui alasan mengapa naskah tersebut ada di apartemenku," ujar Umji menjelaskan.
"Mino Oppa apakah benar Umji koma di Jepang?" tanya Jini seolah meminta kejelasan.
__ADS_1
Mino terdiam beberapa saat. Ia kemudian mengambil napas panjang. "Itu benar."
Jini terperanjat. Napasnya menjadi berat. Mengetahui bahwa perempuan yang pernah ia temui yang dikiranya Umji ternyata bukan.
"Tetapi apa alasannya dia kemari? Maksudku berpura-pura menjadi aku?" ujar Umji kini dengan nada sedikit tinggi.
Mino mendekati Umji selangkah. "Bagaimana jika ternyata perempuan itulah Lee Umji?"
Mata Jini membulat penuh lalu terkekeh pelan, meski terdengar mencoba menepis ucapan Mino. "Bagaimana bisa Oppa?"
Mino kini memegang pundak Umji. "Tidakkah kau penasaran kenapa aku memberi naskah tersebut padamu? Itu karena naskah All About You berisi perjalanan hidup dari seorang Kim Hana, dalam naskah kau kenal sebagai Song Byul."
"Song Byul yang tinggal di New York akhirnya jiwanya berteleportasi ke tubuh seorang perempuan yang bekerja di perusahaan penerbitan."
Jini mengernyit. "Maksudnya jiwa dalam tubuh Umji adalah Song-- bukan Kim Hana?" ujarnya menebak.
Mata Umji menatap tajam Mino. "Bagaimana itu terjadi, aku adalah Lee Umji."
"Kau pernah koma setahun lalu sadar bukan?"
Umji menggeleng pelan. "Aku koma dua tahun setelah kecelakaan."
"Dua tahun Umji," timpal Jini.
"Ketika kau sadar, waktu itulah raga Umji diisi oleh jiwa Kim Hana dan menuliskan cerita tentang Song Byul," balas Mino membuat Umji kini menggelengkan kepalanya.
"Itu tidak mungkin, bagaimana mungkin aku Kim Hana?" tunjuk Umji pada dirinya sendiri.
"Setelah kau sadar dan koma lalu sadar kembali. Aku menyadari bahwa dirimu lupa ingatan," ujar Mino membuat Umji tercengang.
"Kau sadar bahwa aku lupa ingatan?" ujar Umji mengakui dirinya.
"Dan bukti paling penting. Aku sudah pernah bertemu jiwa Umji dalam tubuh seorang Kim Hana. Hari di mana aku bertemu dengan Akira, yang dikenal Kim Hana sebagai Hansung," ujar Mino dengan nada lugas.
Umji merasakan kakinya melemas. Ia melepas tangan Mino dari pundaknya. Tanpa sadar kakinya melangkah mundur. "Apa? Berarti Lee Umji dan Kim Hana jiwanya tertukar dari raga satu sama lain?"
Mino mengangguk pelan. "Itu benar," ujarnya menatap sendu ke arah Umji.
Umji memegang kepalanya dengan kepala menggeleng ke kanan-kiri. Napasnya menjadi berat dan kilasan tentang kehidupannya di Seoul setelah koma mulai muncul dalam kepalanya.
"Itu tidak mungkin. Aku adalah Lee Umji!" seru Umji berteriak. Ia kemudian berbalik lalu berusaha menjauh dari Mino. Kakinya bahkan langsung berlari begitu memunggungi lelaki itu.
Namun baru saja Umji berlari beberapa langsung sebelum seseorang memeluknya dan sepersekian detik kemudian ia merasakan tubuh terpental bersama dengan tangan seseorang yang masih memeluknya.
Mata Umji menjadi berat. Ia bisa merasakan posisinya sekarang terbaring di atas jalan sambil suara Mino dan Jini mulai terdengar, dilihatnya hanya ada langit pagi yang cerah. Kepalanya juga terasa sangat sakit dan ketika mencoba menggerakan untuk melihat sekitarnya.
Dengan sisa kesadarannya Umji bisa melihat jelas lengan yang tadi membengkapnya. Akira, lelaki itu terbaring tak berdaya, tidak jauh darinya dengan mata yang sudah tertutup.
"Hansung?"
__ADS_1
***